
Mari diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim..
Pernah diperjuangkan lalu disia-siakan? Pernah berjuang bersama lalu akhirnya tersakiti? Iya, ini yang sedang ku hadapi saat ini. Mungkin beberapa orang diluar sana pernah mengalaminya.
Hari ini hujan turun dengan derasnya. Butiran air ajaib itu seakan mewakili kesedihanku. Aku berdiri di dekat jendela. Menatap ke arah bawah berharap suamiku cepat kembali. Akhir-akhir ini ia jarang pulang. Ia juga selalu bersikap biasa saja terhadapku. Seakan tidak ada kerinduan dikala ia pulang. Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan semuanya. Karena yang aku tahu dia pasti lelah dengan pekerjaannya. Namun, setelah aku menerima beberapa kabar tak enak. Aku dihantui rasa curiga. Mungkinkah suamiku berpaling? Ah ku hapus bayangan mengerikan itu dengan hal-hal positif. Dhani mencintaiku, dan dia tidak mungkin mengkhianatiku. Tapi, dengan sikapnya yang sekarang aku tidak bisa menepis semua kecurigaan ku. Teror pun mulai berdatangan. Dari mulai foto keluarga yang sedang makan malam. Sampai foto berdua memasuki ruangan dokter kandungan. Ada apa ini? Adakah sesuatu yang tidak aku ketahui?
Percuma terus menangis, tidak akan ada hasilnya. Mungkin aku harus bersabar dan lebih sabar lagi. Mengembalikannya seperti dulu. Tidak semudah membalikan telapak tangan. Sedikit ku ceritakan tentang kami.
Aku dipertemukan dengan Dhani saat aku bekerja di salah satu cabang perusahaan Furniture milik keluarganya. Disana aku menjadi seorang sales force. Aku hanyalah gadis biasa yang tinggal dipinggiran sungai kota Jakarta. Kehidupanku sangatlah sulit. Berbeda dengan Dhani yang terlahir dari keluarga berada. Mendiang ayahnya seorang pengusaha Furniture yang terkenal bahkan sampai ke penjuru negeri, bahkan sampai ASIA. Dan ia menuruni bisnis Mendiang ayahnya itu. Ia juga tinggal di perumahan elit kota Jakarta. Komplek para pengusaha dan artis. Dhani adalah anak laki-laki pertama satu-satunya. Dia memiliki seorang adik perempuan yang kuliah di Amerika.
Dari latar belakang saja, kami jelas berbeda. Dhani orang kaya dan berpendidikan tinggi. Lalu siapa diriku? Gadis yang hanya lulusan SMA. Untung lulus juga, dengan keadaan ekonomi yang sulit. Beasiswa menjadi penolongku. Aku adalah gadis beruntung yang di cintai sosok lelaki seperti Dhani.
Ku dengar deruman mobil memasuki garasi rumah. Aku bergegas keluar untuk melihat. Benar saja, suamiku pulang. Aku bahagia. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan.
"Kak, sini aku bawa tasnya." Ia menyerahkannya kepadaku. Ku cium tangannya tanda baktiku padanya.
__ADS_1
"Kamu pasti lelah."
"Tentu saja." Dhani masuk ke dalam rumah tanpa mencium keningku. Hal yang tidak pernah ia lewatkan selama ini.
Aku mengusap dadaku pelan. Sabar, hanya itu yang bisa ku katakan dalam hati. Mungkin dia lelah.
"Ambilkan aku air minum." Aku mengangguk. Menyimpan tas kerjanya terlebih dahulu. Lalu, mengambil air minum sesuai permintaanya.
Tahukah? Saat ini hatiku resah dan gelisah memikirkan sikapnya yang mulai berubah.
"Fathiya?" Panggilnya dengan keras.
Astagfirullahaladziim.. Terlalu banyak memikirkan hal yang tidak jelas. Sampai tidak sadar kalau gelasnya penuh terisi air. Segera aku mengganti gelasnya.
"Ini kak." Ia teguk air itu sampai habis.
__ADS_1
"Kak, kenapa tidak mengabari ku?"
"Fathiya tolong, aku lelah." Ia beranjak dari tempat duduknya menuju kamar yang memang terletak di lantai atas.
Melihat sikapnya yang mengacuhkanku aku merasa ada sesuatu hal yang entah apa itu.
Allah, sabarkan hatiku.. Hilangkan kecurigaan ini.. Biarlah dia beristirahat..
*****
MasyaAllah.. Menulis tidak semudah membaca.
Semoga kalian suka.
Salam dari penulis pemula. 🥰
__ADS_1