
Tingtong.. Bel berbunyi.
Aku berpikir suamiku kembali. Saking bahagianya, aku sedikit berlari karena ingin segera membuka pintu.
Sayang,
Yang datang bukanlah orang yang diharapkan. Senyumku pudar begitu saja. Hatiku tiba-tiba merasa tidak nyaman.
Seorang wanita dengan usia 20 tahun lebih muda dari usianya. Bahkan mengalahkan ku yang usianya masih cukup muda. Dengan tas branded di tentengnya. Kacamata besar yang tak lepas dari matanya. Sepatu hak tinggi yang terdengar jelas. Juga gaun hasil desainer ternama yang dipakainya. Semua serba wah.. Aku selalu tidak percaya diri saat berhadapan dengannya.
"Mama."
"Kenapa melihatku seperti itu. Kamu gak suka mama kesini?" Astagfirullah.. siapa yang bilang seperti itu sih?
"Nggak ma. Aku seneng mama kesini. Masuk ma." Aku mempersilahkannya untuk masuk.
"Tanpa di suruh, aku akan masuk. Lagian ini rumah anakku." Dengan ketusnya.
Memang, aku selalu salah di hadapan mama mertuaku ini. Sejak aku menikah dengan Dhani, mama lah yang selalu menentang pernikahan kami. Tak jarang ia mengingatkan statusku yang memang tidak pantas bersanding dengan anaknya. Hidup satu rumah dengannya bagaikan hidup di neraka (Kata orang, karena aku tidak tahu rasanya hidup di neraka). Tiap hari aku selalu merasakan hawa panas. Entah itu hati, otak bahkan kuping.
Sabar, bahkan hatiku sudah sekuat baja. Beruntung Allah memberikanku hati yang lapang. Menerima keadaan walau sebenarnya tak tahan.
Saat itu, papa mertuaku masih ada. Karena beliau yang paling tahu bagaimana sikap istrinya. Beliau menyarankan Dhani untuk membawaku pindah rumah. Dan berselang beberapa hari aku menempati rumah yang saat ini aku tinggali. Sayang, orang baik seperti papa harus di panggil lebih dulu. Hingga sekarang, aku tak lagi punya seorang pembela.
"Mama mau minum apa?"
__ADS_1
"Gak usah. Gimana? Udah ada perkembangan belum? mama ini udah mau gendong cucu." Selalu itu. Dulu, dia selalu memintaku untuk bisa melakukan ini itu. Sekarang, ia meminta cucu. Yang memang hanya Allah yang tahu kapan aku akan dititipkan malaikat kecil itu.
Aku menggeleng pelan. "Maaf ma."
"Haduh, kamu ini gimana sih? Suami kamu gak betah di rumah kalau kamu belum ngasih keturunan. Dia juga ingin ada suara anak dirumah. Yang bisa bikin dia semangat. Kamu dari dulu emang gak berguna."
Deg, Sakit sekali. Seperti di sayat pisau yang tajam. Di tusuk ribuan duri. Mama selalu memperlihatkan kelemahan ku. Ketidak sempurnaanku.
"Gak usah cengeng. Ini tuh waktunya kamu berusaha."
"Ma, aku sudah berusaha sebisaku. Lalu, apalagi? Aku hanya menyerahkan semuanya pada Allah."
"Serahkan.. serahkan.. serahkan.. Susah ngomong sama orang yang gak tahu apa-apa. Nyesel kesini." Mama mertuaku pergi begitu saja dengan umpatan-umpatannya yang menyakitkan.
"Waalaikumsalam.." Lirihku.
Tik... Air mata ini tak sanggup lagi aku tahan..
Ketika aku beruntung mendapatkan lelaki sebaik Dhani. Bisakah aku mengatakan Aku tidak beruntung memiliki mertua seperti mama Yura? Ah, ini sulit..
Aku jadi teringat bapak. Aku ingin berkeluh kesah padanya. Aku mengeluarkan ponselku.
"Hallo Assalamu'alaikum nak?" Suara bapak ku di sebrang sana.
"Bapak. Apakabar?"
__ADS_1
"Bapak baik-baik saja. Ada sesuatu? Apa yang terjadi?" Bapak paling ngeuh kalau anaknya lagi ada masalah.
"Nggak pak. Kangen aja pengen denger suara bapak."
"Sudah jangang bohong. Bapak tahu kamu dari kecil. Jika itu menyangkut suamimu. Bapak, hanya bisa mendoakan semoga kalian selalu di lindungi Allah."
"Aku sama kak Dhani baik-baik aja kok pak, Alhamdulillah."
"Apa mertuamu lagi?" Aku terdiam.
"Thiya, hidup itu tidak akan selamanya bahagia. Tidak akan semua orang suka. Jika mama mertua mu masih tidak menyukaimu. Bersabarlah, Allah akan tunjukan jalan terbaik-Nya untuk kerumitan yang kamu hadapi."
"Sekarang, dia selalu memintaku untuk segera memiliki anak." Air mataku jatuh kembali. Siapa yang tidak menginginkan itu? Aku juga sama. sangat menginginkannya.
"Thiya,lebih bersabarlah. Karena Allah akan selalu ada untuk orang-orang yang sabar."
"Terimakasih pak. kalau begitu Thiya tutup telponnya ya?"
"Iya nak."
"Assalamu'alaikum?"
"Waalaikumsalam."
Begitulah bapakku. Orangtuaku satu-satunya yang ku miliki. Meski miskin akan harta, tapi dia sangat kaya akan hatinya. Semoga Allah selalu sehatkan beliau. Hanya bapak yang bisa ku ajak bicara, mencurahkan keluh kesah ku. Allah, masalahku semakin hari semakin rumit. Tapi, setidaknya aku lega dengan berbicara dengan bapak. Bapak yang bijaksana.
__ADS_1
*****
Sampai sini dulu ya? Masih kurang asyik ya ceritanya? Tenang InsyaAllah author akan belajar dan belajar lagi. Tetap dukung yaa? 🤗