Finger Gaze With You

Finger Gaze With You
5. Mengingat Wajahmu


__ADS_3

Ileana


“Ren, temenin gue yuk,” ajak gue menatap Rena yang sedang menulis, “Kemana ?” tanyanya masih sambil nulis. “Hehe, panggilan alam.” Rena hanya melongos dan bangkit dari duduknya, gue senyum-senyum sambil ngejar Rena yang udah keluar kelas duluan. Sungguh kalo udah panggilan alam gini gak bisa gue tahan walau semenit.


“Gimana kabar lo sama Dewa ?” tanya Rena sambil terus berjalan menuju kelas, “Gimana apanya ?” Rena berdecak sambil liat gue. “Lo masih chatingan sama dia kan ? gimana kabarnya ?”


“Ya, gitu deh. Gue rasa dia masih belum kenal gue walaupun rata-rata temen sekelas dia tau gue. Percuma juga kan, kami cuma dekat lewat chatingan tapi dalam kehidupan nyatanya enggak, miris emang,” ucap gue sambil memandang kedepan dan setelahnya gue terpaku.

__ADS_1


****** gue, gak mungkin gue balik arah. Rena menatap gue khawatir, oke gue bisa, gue pasti bisa. Gue berjalan melewati Dewa yang juga berjalan ke arah gue, gak ! gue gak bisa ! akhirnya gue malingin muka dan gak berani liat Dewa.


🧶🧶🧶


Ileana masuk Ke kamarnya setelah mengambil air, Ileana menoleh ke ponselnya yang berbunyi. Ileana mengambil ponselnya dan menatap nama seseorang yang tertera, ‘Pria Termometer’


“Halo,” ucap Ileana, “Lo lagi apa ?” tanya Dewa yang ada di seberang telepon, Ileana duduk di meja belajarnya sambil membuka bukunya. “Lagi mau belajar.” Dewa tertawa kecil di seberang telepon. “Lo gak pernah berubah ya dari dulu.” Ileana mengernyit bingung. “Berubah apanya ?”

__ADS_1


“Lo tadi kok malingin muka ?” tanya Dewa yang berhasil membuat Ileana membeku, “Malingin muka ? kapan ?” tanya Ileana. “Tadi, waktu lo sama Rena mau ke kelas.” Ileana tersenyum senang, ternyata Dewa mengingat wajahnya. “Emm, itu. Gue malu aja tatapan sama lo,” ucap Ileana malu-malu. Di seberang telepon Dewa tersenyum kecil, Ileana sangat manis.


Ileana bersiap di dalam kelas, hari ini mereka akan menampilkan tarian berhubung hari ini adalah hari guru.


Setelah semuanya bersiap mereka pergi melewati kelas Dewa, karena hanya ini jalan satu-satunya menuju belakang pentas. Ileana tidak berani menatap Dewa yang sedang duduk bersama teman-temannya, entah mengapa dirinya merasa Dewa menatapnya walaupun dia hanya menatap dari ujung matanya.


🧶🧶🧶

__ADS_1


Dewa menatap Ileana yang berjalan melewati kelasnya, dirinya tersenyum melihat Ileana sangat cantik menggunakan make up, bahkan tanpa make up gadis itu tetap manis. Dewa menatap Ileana yang sedang menampilkan tarian, ya walaupun tidak melihat secara langsung tapi dia masih bisa melihat Ileana dengan sangat jelas.


“Lo mau ikut cabut gak ? bosen gue disini,” aja Nando, Dewa menoleh. Disini memang membosankan, tapi jika dirinya melihat Ileana maka rasa bosannya akan hilang. “Tunggu sampe Ileana siap nari.”


__ADS_2