
“Siapa sekretarisnya ?” “Mira Buk,” jawab satu kelas kompak kecuali Ileana yang masih berkutat dengan bukunya. “Yang biasa nulis siapa ?” tanya Bu Diana lagi. “Ileana Buk.” “Sekretarisnya Mira kok yang sering nulis Ileana ?” tanya Buk Diana bingung. “Kesayangan guru Buk.”
Ileana masih asik menulis sampai suara Bu Diana terdengar, “Na, tolong kamu tuliskan dulu di papan tulis.” Ileana menoleh, “Iya Buk ?” tanya Ileana cepat masih terkejut. “Tuliskan di papan tulis,” ucap Bu Diana memperjelas. Ileana langsung bangkit dan mengambil buku yang disodorkan Bu Diana.
Sepanjang Ileana menulis dirinya tidak bisa fokus, Dewa selalu memandangi dirinya walaupun dirinya tidak terlalu yakin. Ileana melirik sekilas ke arah Dewa, pria itu masih saja menatapnya bahkan pria itu tidak menulis sama sekali.
Ileana kembali duduk setelah selesai menulis, “Ren, gue kayaknya udah gila deh,” ucap Ileana sambil mengguncang tubuh Rena. “Lo kenapa sih ?” tanya Rena melanjutkan menulis. “Gue gak tau tapi kayaknya gue bener-bener gila deh, masa iya gue ngerasa Dewa liatin gue.”
🧶🧶🧶
“Jadi rumus yang kita gunakan yaitu sin cos cos sin, nilainya-“ bel berbunyi, gue bersorak senang di kursi. Pelajaran mtk sebenernya gue suka, kalo gurunya gak gini. Gimana gak membosankan coba, jelasin contoh cepat amat kayak ngerap.
Gue membaringkan kepala gue dan memilih tidur, kantuk gue datang selalu saat guru ini datang. Biarkan gue menjemput mimpi gue bentar, jangan bangunin gue dulu.
Gue mencoba mengumpulkan kesadaran, samar-samar gue bisa denger orang manggil gue. “Ileana.” gue tersentak dan langsung bangun, semua temen-temen gue ketawa.
Gue dengan kepolosan gue hanya menatap semua orang bingung, dan gue udah melihat Bu Aci duduk sambil tertawa liatin gue. Gak, gue gak masalah diketawain temen sekelas gue tapi Dewa! Cowok itu tersenyum kecil di kursinya.
Aish, malu banget gue. Bel istirahat bunyi, gue nyamberin Indy dan duduk di sebelahnya. “Dy, gue pengen nanya.” Indy noleh liat gue, “Nanya apa Na ?” “Tadi, pas gue tidur. Kalian kok pada ketawa ?” tanya gue masih bingung sama yang terjadi tadi, Rena juga gak tau karena dia tidur.
__ADS_1
“Oh, itu tadi Bu Aci nanya soal ke juara 10 besar.” gue mengernyit bingung, terus kenapa mereka ketawa ? “Terus kalian kok pada ketawa ?” Indy tertawa lepas, “Karena juara 10 besar semuanya tidur, dan lo yang terakhir ditanya eh malah lo tidur juga jadi semuanya pada ketawa,” jelas Indy masih sambil tertawa puas. Gue kira bahas apaan, untunglah bahas itu doang.
🧶🧶🧶
“Untuk pensi nanti, siapa yang pengen ikut tari ?” tanya Bu Aci sambil memegang kertas dan pena untuk mencatat. “Ileana ikut kan.” gue langung mendongak, “kayaknya gak lah Buk,” tolak gue, karena gue emang males ikut tari inti walaupun dulu waktu SMP gue suka. “Oke, yang lain ?”
Gue kembali fokus dan biarin yang lain bahas masalah pensi, gue udah males ngurus yang namanya pensi, udah berpengalaman gue ikut pensi dan itu gak asik sama sekali. “Siapa yang bisa pdato bahasa Inggris ?” “Rena Buk,” ucap yang lain, gue langsung menoleh dan menatap Rena, gue tau betul kalo Rena gak mau ikut yang beginian.
Iih Buk, jangan saya dong Buk. Kan disini ada yang les bahasa Inggris, dia aja lah Buk,” tolak Rena menatap memelas pada Bu Aci, Bu Aci menulis sesuatu di kertasnya, “Oke, pidato bahasa Inggris Rena, pidato bahasa Indonesia siapa ?”
“Ileana Buk,” kompor temen sekelas gue sambil natap gue. “Buk, saya gak bisa pidato Buk,” tolak gue lagi. “Gak Buk, Ileana kan penullis, pasti bisa.” Gue menatap tajam orang yang bilang itu, terkutuk lo.
🧶🧶🧶
Seminggu berlalu, hari ini kami mulai latihan untuk persiapan pensi. Gue, Rena, sama Dea duduk bareng, nyiapin naskah kami masing-masing, Dea bertanggung jawab sama puisi. Dari sudut mata gue gue bisa liat Dewa yang mandang gue terus, pria itu bahkan gak fokus sama gerakan yang diajarin pelatih kami.
“Na, menuru lo bagus gak ?” tanya Dea sambil nyodorin puisi yang dia buat. Gue mulai membaca, mata gue seketika sakit. “Ini, ini, sama ini. Coba lo ganti sama kata-kata yang lebih bagus sama baku.”
Dea mengangguk dan mulai ngerjain puisinya lagi, sedangkan gue ... baru ada beberapa kata yang gue tulis dan itupun baru kata pembuka. Gue masih tetep gak fokus karena Dewa yang terus liatin gue bahkan waktu istirahat.
__ADS_1
Dewa nyamperin gue, gue masih diam sampe Dewa duduk di samping gue. “Na, ini nomor gue.” Gue mengernyit bingung waktu Dewa nyodorin ponselnya ke gue. “Simpen nomor gue, oh ya terus masukin gue ke grup kelas, yang lain bilang cuma lo adminnya.”
Gue megangguk dan mengambil ponsel Dewa, huh gue terlalu berharap. Gue ambil ponsel gue dan masukin Dewa ke grup kelas dan balikin ponselnya. “Udah,” ucap gue, Dewa tersenyum dan bangkit. Tunggu, dia senyum sama gue ?
🧶🧶🧶
Hari ini datang, hari kami pensi. Semuanya pada sibuk menyiapkan peralatan, kecuali gue. Gue Cuma duduk dan liatin yang lain siap-siap karena gue udah siap daritadi. Dewa tiba-tiba duduk di samping gue, gue hanya diam tanpa berniat pergi. “Gimana kabar lo ?” tanya Dewa sambil memegangi topi yang ada di tangannya.
“Kabar gue ? baik-baik aja,” jawab gue, Dewa menoleh, “Waktu gue pergi.” Seketika gue terdiam, apa maksud pertanyaan Dewa barusan ? “Destroyed,” ucap gue pelan sambil menunduk, iya itu kata yang pernah diucapkan sama Dewa dulu. Dan setelah gue mecari artinya gue akhirnya paham, artinya adalah hancur, iya hancur ... kaya perasaan gue saat dia gak ada di deket gue.
Gue bahkan gak tau kenapa gue bilang gitu ke Dewa sekarang, pasti dia anggap gue gamon. “Oke siap-siap semuanya, kita akan mulai.” gue langsung bangkit mendengar suara Bu Aci, meninggalkan Dewa yang masih duduk di kursinya.
🧶🧶🧶
Pensi selesai, kami semua berkumpul dan berfoto bersama. Setelahnya semua bubar, berfoto dengan geng mereka masing-masing. Gue ? gue Cuma duduk mandangin yang lain foto-foto, bukan ... gue hanya mandangin Dewa yang terus menolak temen-temen cewek gue yang ngajak dia foto, gue tersenyum sekilas, dia gak pernah berubah.
Dewa natap gue, dan berjalan mendekat ke arah gue. Gue beranikan diri masih mandang dia sampe dia berdiri di hadapan gue. “Foto yuk,” ajaknya yang tentu saja buat gue terkejut. Rena yang ada di samping gue tersenyum bahagia dan narik tangan gue buat bangkit. “Ayo, ide bagus, siniin hp lo,” ucap Rena dorong gue ke arah Dewa sambil ngambil ponsel gue.
“Deketan lagi dong,” ucap Rena terus memaksa gue mendekat, “Oke 1, 2-“ gue menatap Dewa dari samping dan dibalas Dewa dengan natap gue juga. “3.” Pipi gue memanas, Dewa masih natap gue dengan tatapannya yang sulit gue artikan. Gue memilih kabur sebelum Dewa liat pipi gue yang mulai merah.
__ADS_1