Finger Gaze With You

Finger Gaze With You
9. Protect You


__ADS_3

Gue senyum-senyum sendiri sambil meluk jaket Dewa, bahkan jaket dia yang udah gue cuci masih aja wangi parfum Dewa. Wangi parfum Dewa adalah wangi parfum yang paling gue inget diantara temen cowo gue yang lain.


Pintu kamar gue terbuka, dan tampaklah abang gue yang paling terkutuk. “Lo dipanggil Papa,” ucap Bang Galen lalu keluar dari kamar gue. Gue menyumpah serapah Bang Galen lalu turun nemuin Papa di ruang kelurga.


🧶🧶🧶


“Abang kamu bilang kemaren kamu diantar cowok, siapa dia ?” gue langsung menatap Bang Galen tapi dia cuma ngedikkan bahu. “Jujur Ileana.” Oke, gue mulai takut dengan tatapan tajam Papa gue. Dan ini juga sebabnya gue gak mau dulu waktu diajak jalan sama Dewa, Papa gue terlalu over kalo tentang gue deket sama cowok walau teman sekalipun.


“Dia, temen aku Pa,” ucap gue pelan gak berani natap Papa. “Liat Papa kalo Papa lagi nanya-“ gue memberanikan diri natap mata Papa. “Temen kok bisa sampe ngantar pulang ?” gue kembali terdiam.


“Kenapa Papa selalu gini sih sama Ileana ? Dia cuma temen aku, dia ngantar aku karena Bang Galen gak jemput aku, aku udah nunggu 2 jam lebih, untungnya ada dia yang nawarin aku boncengan. Kalo gak aku pasti gak dijemput-“ gue menghela napas kasar.


“ Lagian kenapa Papa terus melarang aku deket sama cowok ? Aku udah besar Pa, aku tau yang terbaik buat aku. Waktu SMP oke, aku terima karena aku masih kecil tapi aku udah besar Pa, gak bisakah Papa kasih aku kebebasan ?” ucap gue menahan air mata yang hampir jatuh.


“Hah, Papa emang gak pernah ngertiin aku.” Gue dengan cepat berlari menuju kamar dan ngunci diri, air mata yang daritadi gue tahan akhirnya jatuh juga.

__ADS_1


🧶🧶🧶


Acara 17 Agustus dimulai, gue ikut lomba voli dan beberapa lomba ringan lainnya. Hari ini adalah hari terakhir acara lomba voli dan futsal, Dewa ikut dua-duanya dan mereka masuk ke babap final, kami yang cewek juga berhasil masuk ke final.


Gue dan yang lainnya duduk di pinggir lapangan sambil liat Dewa main voli, eh maksudnya cowok kelas kami. Sorak-sorai terdengar saat giliran Dewa service, Dewa gak menanggapi mereka tapi dia liatin gue. Dewa melakukan service dan berhasil memasuki daerah lawan, yang lainnya kembali berteriak saat Dewa berhasil mensmash bola ke lawan dan mencetak poin.


🧶🧶🧶


Gue mengambil bola dan menuju ke belakang untuk melakukan service, sekilas gue liat Dewa tersenyum ke arah gue dan mengepalkan tangannya memberi semangat. Gue mengangguk dan langsung melakukan service, permainan berlangsung dan dimenangkan oleh kami di babak pertama.


Gue mendekati Dewa. Jangan salah paham, gue cuma pengen ngambil tas gue yang ada di deket Dewa.


“Boleh.” Gue mengangguk dan meminumnya, “Makasih,” ucap gue dan diangguki Dewa, gue kembali ke lapangan karena istirahat sudah selesai.


🧶🧶🧶

__ADS_1


Pertandingan selesai dan dimenangkan oleh kami. Dan sekarang kami masih di sini mendiskusikan tentang rencana kami. Kami akan pergi ke Curug Cinulang, tapi dengan menggunakan motor. “Yaudah siapa aja yang pasti ikut ?” tanya Reza, huh padahal gue pengen ikut tapi gue gak ada boncengan.


“Na, lo ikut kan ?” tanya Reza menatap gue. “Gue pengen, tapi gue sama siapa ?” tanya gue pasrah kalau emag gue gak bisa ikut. “Ileana sama gue.” Gue menoleh cepat menatap Dewa, apa katanya barusan ? “Oke Ileana sama Dewa, kita pergi sekarang ?"


Dan perjalanan kami dimulai, yang lain bersenang-senang kecuali gue yang maish menahan canggung dengan Dewa. Cuaca yang terik membuat kami cepat-cepat megendarai tapi Dewa memberhentikan motornya, “Lo ada bawa jaket gak ?” tanya Dewa natap gue, “Ada tapi hoodie,” ucap gue mengeluarkan hoodie dari tas gue dan ngasih ke Dewa.


🧶🧶🧶


Sampai di tempat kami memilih ke kios dan makan siang di sana. Selesai makan siang, kami mulai berpencar berdasarkan kelompok dan berkeliling. Gue berjalan perlahan karena batu-batuan amat licin, dan gue salah mengambil langkah.


Gue terpeleset, gue menatap bebatuan di bawah gue, aaa plis gue gak mau mati disini, mamaaaa aku masih muda aku gak mau mati disini huaaa ...


Gue membuka mata gue saat gue gak merasa terjatuh, Dewa nangkep gue woy! Gue mengedipkan mata beberapa kali, jantung gue bahkan berpacu lebih cepat daripada saat gue ngerasa hampir jatuh tadi.


Pipi gue memanas, langsung melepaskan tangan Dewa yang ada di pinggang gue. Gue berdehem, “Makasih.” Dewa mengangguk dan menatap gue cemas.

__ADS_1


“Gue kayaknya harus ikut sama lo buat jagain lo.” Gue mematung di tempat, ada apa dengan Dewa? Tapi gue merasa senang banget woyy. Dan benar saja, kemanapun gue pergi Dewa pasti selalu ngikutin gue ... kami juga beberapa kali berfoto di tempat yang mempunyai spot bagus.


“Makasih, udah mau ada di samping gue,” ucap gue terseyum menatap Dewa yang ada di sampig gue, “Gue juga makasih, udah hadir di hidup gue.”


__ADS_2