FOOTBALL : GOLD GENERATION 2

FOOTBALL : GOLD GENERATION 2
Harta Karun Yang tersembunyi


__ADS_3

Kekalahan yang memalukan. Mungkin itu adalah kata yang sesuai bagi Angga dan rekan-rekannya yang mengalami kekalahan memalukan hari ini.


Skor 4-0 bukanlah skor yang tipis terutama di babak final yang dimana dua tim kuat beradu demi mendapatkan gelar juara. Tetapi mereka kalah bagaikan tim lemah berhadapan dengan tim kuat.


Setelah pembagiaan hadiah selesai. Ferza mendatangi temannya Angga untuk memberikan semangat kepada temannya.


"Selamat atas juara 2 nya Angga." Ucap Ferza mencoba menghibur Angga yang tampak bersedih.


"Selamat? Kami kalah kau berikan selamat kepada kami?" Sahut Angga yang tampak masih berkecil hati atas kekalahannya.


"Juara 2 itu sudah lumayan bagi sekolah kita. Tidak usah berkecil hati kalian sudah bermain cukup baik."


"Kalah ya kalah, juara 2 itu artinya kalah tidak perlu di ucapkan selamat, mendali yang kami terima ini bagiku seperti sebuah penghinaan bagi kami." Angga dengan reflek membuang mendalinya ke lantai karena merasa tidak layak menerima mendali ini.


"Itu bentuk apresiasi kepada kalian karena berhasil menjadi juara 2 kenapa di buang." Melihat temannya membuang mendalinya ke lantai Ferza langsung memungutnya untuk memberikannya kembali kepada Angga.


"Gak perlu apresiasi buat tim yang kalah 4-0 di Final. Oh ya Ferza sepertinya aku gak jadi masuk ke SMA 48."


"Kenapa?"


"Aku ingin masuk SMA Trisatya, aku ingin balas dendam ke Chandra. Menurutku yang bisa membantuku untuk mengalahkannya hanyalah kau. Tapi melihat kondisimu sekarang aku tidak yakin kau bisa masuk ke dalam ekskul sepak bola. Aku berharap ada seseorang dari SMA Trisatya yang bisa membantu ku untuk mengalahkan Chandra. Oh iya aku akan masuk ke sekolah yang kau pilih jika kau masuk ke dalam eskul sepak bola itu." Angga pergi meninggalkan Ferza dan mendali yang ia buang di tempat itu.


"Oi medali mu ketinggalan." Ferza memanggil Angga memberitahukan bahwa dia meninggalkan mendali yang dia jatuhkan.


"Simpan saja buatmu dan berikan kembali kepada ku jika aku berhasil mengalahkan Chandra di SMA nanti." Angga akhirnya pergi meninggalkan Ferza dan mendalinya.


Sepulang dari nonton turnamen Ferza pulang ke rumahnya dia mampir terlebih dahulu ke lapangan untuk menenangkan pikirannya.

__ADS_1


Saat itu lapangan sedang kosong kondisi sedang mendung tetapi Ferza tetap duduk di lapangan untuk meringankan pikirannya. Dia sangat ingin ikut ekskul sepak bola tetapi karena kondisi dia harus merelakan keinginannya itu.


Tidak lama kemudian Ferza didatangi sama seseorang pria tua yang tampak sudah berumur 30 tahunan.


"Sudah mau hujan kenapa kamu masih duduk disini?" Ucap pria tua itu guna membuka obrolan dengan Ferza.


"Gapapa cuma ingin bersantai aja." Sahut Ferza dengan suara pelan.


"Santai mah dirumah dilapangan main bola namanya."


"Iya juga sih, cuma saya gada bola."


Pria tua itu reflek melihat mendali yang di pegang oleh Ferza. Dia mengira Ferza baru saja menjadi juara di salah satu turnamen sepak bola.


"Kamu suka main bola?" Tanya pria tua itu setelah melihat medali yang di pegang oleh Ferza.


"Kalo gitu ayo kita main bola." Pria tua ternyata membawa bola dan dia melempar bola itu kepada Ferza.


"Posisi apa kamu nak?" Tanya pria tua itu kepada Ferza.


"St-striker." Sahut Ferza dengan sedikit gugup.


"Woah striker kalo gitu saya jadi kiper kamu tendang bolanya jika gol kamu hebat." Pria tua itu menawarkan dirinya menjadi kiper sedangkan Ferza menendang bola ke arah gawangnya.


"Hm oke."


Dari tengah lapangan Ferza menggiring bola ke arah gawang. Ketika sudah mencapai jarak 27 meter Ferza melakukan ancang-ancang untuk menshooting bola. Ferza tampak ingin menendang bola menggunakan kaki kirinya. Pria tua itu sontak kaget melihat itu.

__ADS_1


"Kidal?" Gumam pria tua itu.


Dengan kaki kirinya dari jarak 27 meter Ferza melakukan shootingan keras ke arah gawang. Pria tua itu tidak bisa apa-apa melihat tendangan roket yang di lakukan Ferza. Dia sangat terpukau sampai-sampai dia mulai tersenyum dengan sendirinya seperti mendapatkan sebuah harta karun yang tersembunyi.


Anak ini tendangannya benar-benar dahsyat dia sangat cocok untuk masuk ke dalam timku.


Batin pria tua itu.


"Oi siapa namamu?" Tanya pria tua itu.


"Ferza."


"Kamu masih SMP kan?"


"Ya kelas 3 SMP."


"Apakah kamu ingin masuk ke SMA Wismaraja atau Trisatya untuk karir sepak bola mu?"


"Gak. Aku gakan sanggup buat masuk sekolah swasta. Bahkan sekolah negeri sekalipun aku tidak tau bisa membayar uang sekolahnya."


"Gini aku merupakan guru olahraga dari SMA 48 sekaligus pelatih ekskul sepak bola. Jika kamu mau masuk ke SMA 48 dan ikut ekskul sepak bola. Aku akan membiayai uang sekolah mu selama 1 tahun, dan jika kamu bisa membawa sekolah ini menjadi juara di salah satu turnamen aku akan membiayainya hingga kamu lulus. Jadi kamu gak perlu pusing mikirin uang sekolah." Pria tua itu memberikan penawaran untuk Ferza.


Ferza tidak bisa berkata-kata. Mulutnya bergetar hingga tidak bisa berbicara. Dia mendapatkan peluang yang menguntungkannya bisa masuk ke ekskul sepak bola dan bisa bersekolah dengan gratis. Ferza ingin menangis tetapi dia menahannya karena tidak ingin terlihat cengeng di depan orang, walaupun terlihat dari matanya sudah berkaca-kaca.


Sedangkan pria tua itu bagaikan mendapatkan harta karun tersembunyi. Dia yakin dengan adanya Ferza di timnya bisa membuat SMA 48 lebih maju di bidang sepak bola. SMA 48 hanyalah sekolah biasa-biasa saja yang tidak unggul dalam sepak bola. Tetapi pertemuan dua pria ini bagaikan memberikan angin sejuk di persepakbolaan SMA 48.


"Ya aku mau." Setelah terdiam cukup lama akhirnya Ferza menerima tawaran yang diberikan oleh pria tua itu.

__ADS_1


__ADS_2