FOOTBALL : GOLD GENERATION 2

FOOTBALL : GOLD GENERATION 2
Tidak Berguna


__ADS_3

Berhasil menjadi juara di turnamen Kota, serta berhasil mengalahkan pemain terkuat Chandra. SMA 48 berhak mewakili Kota Batam untuk melaju ke tingkat provinsi.


Tingkat Provinsi adalah turnamen yang di atas tingkat Kota. Masing-masing Kota mengirim setidaknya 1 sekolah untuk mengikuti turnamen ini. Biasanya sekolah yang menjadi juara di tingkat Kota yang akan maju ke tingkat Provinsi.


Sekolah yang mengikuti turnamen tingkat provinsi hanyalah berjumlah 8 sekolah. Setiap sekolah akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menjadi juara agar mengikuti turnamen tingkat nasional dan di lirik pencari bakat timnas Indonesia ataupun pencari bakat klub-klub liga 1 Indonesia.


Ini adalah turnamen pertama Ferza dan pemain SMA 48 lainnya. Mampukah Ferza membuat keajaiban kembali dan membawa sekolahnya menjadi juara dan lolos ke tingkat Nasional?


"Provinsi lalu Nasional lalu kita semua di lirik pencari bakat Timnas ataupun klub liga 1. Harus main bagus-bagus ini setidaknya aku ingin di lirik klub besar liga 1." Ucap Dio. Dio adalah kapten SMA 48 saat itu, kelas 3, memiliki tinggi badan 168CM. Walaupun kecil Dio di kenal sebagai winger lincah di sekolahnya.


"Gak usah berharap deh Bang paling di tim kita yang di lirik cuma Ferza. Dah mending belajar sana dari pada gak lulus nantinya." Ucap Ferdi. Calon kapten SMA 48, kelas 2, memiliki tinggi badan 172CM. Dia di gadang-gadang akan menjadi kapten setelah Dio tamat nantinya. Memiliki wajah yang tampan sehingga menjadi idola bagi cewek-cewek di sekolah.


"Cih setidaknya kau dukung aku kek, kau itu selain di mata cewek kau masih di bawah aku." Sahut Dio.


"Dah dah berisik sekali kalian. Turnamen tingkat Provinsi peserta lebih sedikit jadi lebih cepat, tetapi level mereka lebih hebat. Jadi jangan lengah dan buktikan bahwa kemarin kita juara tidak hanya mengandalkan Ferza...." Ucap Pak Deden yang memberikan intruksi kepada anak asuhnya.


Angga yang duduk dengan melipat kedua kakinya sambil mendengar perkataan Pak Deden, tiba-tiba hatinya tersentak, dia tampak menyadari bahwa perkataan Pak Deden ada benarnya.


Tim ini hebat karena Ferza. Awalnya aku gak terima orang-orang berkata seperti itu. Tapi sekarang aku menyadarinya bahwa itu benar, 80% gol kami di turnamen Kota itu semuanya Ferza yang cetak. Dulu aku mengira kami juga hebat karena bisa mensupport Ferza. Tetapi Ferza lah yang mensupport kami, dia bisa mencetak gol dimana saja dan dalam keadaan apa saja.


Batin Angga. Diapun menggerakan kepalanya menatap Ferza yang tengah fokus mendengar intruksi Pak Deden.

__ADS_1


Ferza Irawan, dari SD kita berteman tetapi baru sekarang aku menyadari bahwa dirimu adalah seorang monster sepak bola.


Batin Angga.


......................


Angga POV


Turnamen pada akhirnya di mulai.


8 besar.


Kedua babak ini berhasil kami lewati dengan mudah. Lagi-lagi Ferza menjadi andalan kami. Dalam dua pertandingan ini dia berhasil mencetak masing-masing 2 gol.


Ujian terberat kami tiba di saat partai final. Ketika kami harus menghadapi sekolah terbaik di provinsi dan merupakan sekolah langganan kejuaraan nasional. Bahkan sekolah ini sekarang kedatangan murid asal Belanda.


SMA Alexandria bersama dengan Nick Leonard yang merupakan striker asal Belanda akan menjadi lawan kami di babak Final ini.


Melihat performa Ferza di dua pertandingan terakhir, kami optimis bahwa kami akan menjadi juara nantinya.


"Ferza nanti jangan lupa selebrasi siuu ya pas cetak gol haha." Dio sangat yakin bahwa Ferza nantinya mencetak gol.

__ADS_1


Tidak hanya Bang Dio, kami semua juga yakin bahwa Ferza akan mencetak gol nantinya.


Pertandingan berlangsung sengit saat itu. Sesuai dengan perkiraan kami, Ferza mencetak gol hari ini. Bahkan dia berhasil mencetak 4 gol di babak final ini, dua kali lebih banyak dibanding gol sebelumnya.


Namun walaupun mencetak 4 gol, Ferza tidak bahagia, ini untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang mencetak 4 gol tidak bahagia.


Tentu saja, karena kami kalah walaupun Ferza mencetak 4 gol. Lawan kami bersama Nick berhasil mengobok-obok pertahanan kami hingga mencetak 5 gol.


Ferza merupakan satu-satunya pemain di tim kami yang bermain bagus di final ini. Sedangkan kami bersepuluh hanya membebani dia saja dan tidak bisa membantunya meraih kemenangan, dan juga performa Nick Leonard yang sangat memukau mematikan pertahanan kami.


Ferza tampak kelelahan wajahnya penuh dengan keringat yang bercucuran nafasnya terengah-engah saking lelahnya. Aku sempat melihat ke arah matanya apakah dia menangis ataupun tidak tetapi keringat yang penuh di wajahnya seakan menutupi air matanya yang berjatuhan.


Saat di ruang ganti aku tidak melihat Ferza dimanapun. Aku pun berinisiatif untuk mencarinya keluar. Tibalah aku di sebuah toilet stadion, aku mendengar suara tangisan yang berasal dari dalam toilet. Aku memberanikan diri untuk melihat itu, dan aku tidak menyangka bahwa Ferzalah yang menangis saat itu.


Aku tidak menyangka monster sepertinya bisa menangis saat dikalahkan. Aku mencoba mendatanginya untuk menyemangatinya. Akan tetapi langkah ku terhenti ketika aku mendengar omongan yang keluar dari mulutnya.


"Maafkan aku Ayah aku belum bisa mewujudkan mimpimu, aku sudah berjuang semampuku tetapi mereka tidak bisa apa-apa mereka semua tidak berguna." Ucap Ferza sambil menahan sesak tangisannya.


'Tim yang digendong Ferza' awalnya aku membenci kata ini tetapi sekarang aku sadar bahwa itu salah, ini bukanlah tim, melainkan kami ibaratkan lawan tambahan bagi Ferza di lapangan.


Semenjak saat itu Ferza sering mengajak Chandra untuk masuk ke sekolah kami agar bisa membantunya untuk mewujudkan mimpinya dan mimpi ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2