
Ferza tampak senang mendengar hal itu, jelas karena selain dia bisa membantu ekonomi keluarganya dengan sekolah secara gratis dan bisa mewujudkan mimpinya, dia juga kemungkinan membuat Angga yang tadinya ingin masuk ke SMA Trisatya untuk masukĀ ke SMA 48 dan satu sekolah lagi dengannya.
Tidak peduli hujan angin disertai petir menerjang Ferza tetap berlari ke rumah Angga sembari memegang medalinya untuk menyampaikan hal penting ini.
Tampak raut wajah bahagia terlukis di wajah Ferza yang di basahi oleh air hujan.
Sesampainya dirumah Angga Ferza langsung cepat mengetuk pintu rumah Angga.
*tok tok tok.
"Assalamualaikum Angga? Angga kau ada dirumah gak?" Ucap Ferza saking semangatnya.
Angga yang masih bersedih atas kekalahannya timnya kaget mendengar hal itu dia langsung bergegas membuka pintu rumahnya.
Setelah membuka pintu alangkah kagetnya Angga melihat Ferza yang basah kuyup dengan senyuman di wajahnya dan mendali Angga yang ia pegang di tangan kanannya.
"Oi Fer ngapain kau hujan-hujan ke sini." Angga menanyai alasan Ferza datang ke rumahnya saat hujan.
Ferza menghela nafasnya terlebih dahulu.
"Aku akan masuk ke tim sepak bola SMA 48. Maka dari itu kau harus masuk ke SMA 48 dan mengurungkan niatmu untuk masuk ke Trisatya. Aku akan membantumu membalaskan dendam ke Chandra."
"Oi ka-kau se-serius?" Angga tidak percaya dengan yang di omongi oleh Ferza.
"Ya, tadi aku ketemu guru olahraga SMA 48 dan aku di tawari sekolah secara gratis selama setahun jika aku masuk ke dalam timnya, dan juga aku di tawari sekolah tanpa biaya selama 3 tahun jika berhasil membawa SMA 48 juara turnamen bergengsi." Jelas Ferza.
__ADS_1
3 tahun? Tidak seperti yang ku bayangkan.
Batin Angga
"Selamat, kalo gitu aku akan masuk ke SMA 48. Ayo bersama-sama kita kalahkan Chandra Fer." Ucap Angga sembari memegang pundak Ferza.
"Ngomong-ngomong gak masuk dulu kau dah basah kuyup itu." Angga menawarkan Ferza untuk masuk kedalam rumahnya karena melihat kondisi Ferza yang sudah basah terguyur air hujan.
"Gak usah aku juga mau pulang. Medali ini akan menjadi saksi perjuangan kita. Aku akan terima usulan mu untuk tidak kembalikan medali ini sebelum kita juara tahun depan."
"Macam iya aja kita juara hahaha."
"Cih kau meragukan ku? Liat saja akan ku kalahkan si Chandra itu nanti."
"Yasudah simpan saja medali itu sampai kita juara nanti. Dah balek kau, mau ku pinjamin payung?"
"Sa ae lu tong."
"Dah balek dulu aku."
"Ya hati-hati." Angga tampak tersenyum setelah mendengar itu. Rasa puas tampak menyertai dirinya dan tampak dia sudah melupakan rasa kesalnya atas kekalahannya timnya di final tadi.
*****
Keesokan harinya Angga tampak bertemu dengan pria tua yang kemarin menemui Ferza di lapangan.
__ADS_1
"Pak Deden, terima kasih atas bantuan Bapak." Ucap Angga dia tampak berterima kasih kepada pria tua itu yang ternyata bernama Deden, tapi buat apa Angga mengucapkan terima kasih kepada pria tua tersebut?
"Seharusnya saya yang berterima kasih kepada kamu. Berkat kamu saya bisa merekrut pemain seperti dia, ya walaupun duit saya juga terkuras untuk membiayainya sekolah." Sahut pria tua itu.
"Bapak tenang aja saya jamin uang bapak tidak akan terbuang sia-sia karena dia. Ferza adalah pemain berbakat yang terbatasi oleh ekonomi keluarganya. Saya yakin dengan adanya dia di tim kita, saya bisa balas dendam ke Chandra atas kekalahan kemarin." Tatapan mata Angga serius ketika berbicara, tampaknya Angga masih menyimpan dendam dengan Chandra.
"Haha tenang saja kamu. Uang yang saya keluarkan tidak sepadan dengan mimpi seseorang. Sebagai orang dewasa bukannya kewajiban ku untuk membantu anak muda mewujudkan mimpinya?" Ucap Pak Deden dengan sedikit tertawa. Walaupun tertawa tetapi matanya tampak tidak tertawa sedikitpun, dia serius ingin membantu anak-anak muda untuk menggapai mimpinya.
"Hei Angga apakah kamu tau bahwa generasi kamu ini adalah generasi emas?" Tambah Pak Deden ia menanyakan pertanyaan aneh kepada Angga.
"Generasi emas?" Tanya Angga dengan ekspresi bingung.
"2045 ketika negara ini berumur 100 tahun generasi kalianlah yang memegang negeri ini. Generasi kalianlah yang akan menjadi presiden yang akan menjadi gubernur menjadi seorang jenderal dan lain sebagainya yang bisa memajukan negeri ini."
Angga tampak tidak mengerti dengan perkataan dari Pak Deden, dia hanya terdiam memandangi wajah Pak Deden yang sedang menatap langit biru.
"Itu adalah generasi emas Indonesia. Tapi saya ingin melihat generasi emas sepak bola Indonesia. Dimana generasi emas ini yang berhasil membawa Indonesia ke panggung piala dunia untuk pertama kalinya. Harapan saya sebelum saya mati saya ingin mendengar lagu Indonesia raya berkumandang di panggung piala dunia. Walaupun hanya sekali saya ingin melihat itu." Pak Deden berbicara dengan suara yang lantang. Jelas dia sangat ingin bahwa sepak bola Indonesia memiliki generasi emas nantinya.
Bulu kuduk Angga merinding mendengar itu. Dia baru saja mengenal Pak Deden tetapi Angga sudah terpukau oleh pribadi Pak Deden.
"Ferza adalah pemain berbakat, jika melihat tendangannya tadi saya merasa di selevel dengan Chandra. Mereka berdua itu saya rasa sudah seperti selevel pemain akademi klub sepak bola. Saya hanya mengulurkan tangan saya dari atas untuknya, masalah dia bisa naik atau tidak itu urusan dia, yang penting saya sudah berusaha membantunya. Jika suatu saat dia memakai baju timnas dengan bernomor punggung 9 saya akan bangga berkata 'dia adalah murid saya' " Tambah Pak Deden.
"Saya hanyalah pemain midfielder biasa yang dikalahkan 4-0 di final. Tetapi, saya yakin Ferza berbeda dia adalah pemain berbakat yang masih tertidur. Dunia harus tau bakat Ferza agar dia bisa menjadi pemain timnas nantinya!" Ada rasa membuncah ketika melihat Ferza. Perasaan yang sulit dijelaskan, rasanya mata tak ingin beralih ketika Ferza sudah menggiring bola.
Tidak bisa dipungkiri terkadang ada rasa iri ketika Angga melihat Ferza, bukankah itu manusiawi? Sedikit iri saat melihat orang lain jauh lebih baik, di bidang yang kamu yakini sebagai bakat mu? Pun dengan Angga. Meski begitu tak membuat ia membenci Ferza. Ferza adalah patokan dinding yang selalu ingin Angga lewati, entah hari ini, esok, lusa, atau suatu hari nanti.
__ADS_1
Tapi itu nanti, karna sekarang Angga ingin bekerja sama dengan anak berbakat itu untuk membalas kekalahannya pada Chandra kala itu.
Tunggu saja! Aku akan mengalahkan mu Chandra! Mungkin jika sendiri aku kalah, tapi sepak bola soal tim. Dan aku yakin tim ku kuat!