FOOTBALL : GOLD GENERATION 2

FOOTBALL : GOLD GENERATION 2
Yang sudah mempersiapkan


__ADS_3

Hari kedua 16 tim di bagi bermain di 2 stadion. Stadion B ada SMA Wismaraja dan SMA 70 yang akan bertanding. Setelah Wismaraja memainkan pertandingan pembuka di stadion B. Kini sudah memasuki pertandingan ketiga. SMA 70 akan kembali berjuang untuk meraih mimpi mereka menjadi juara Kota.


Namun tidak ada mimpi yang instan dan mudah di lakukan. Mereka harus menghadapi rintangan yang sudah menanti mereka di depan sana. Saat ini SMA 70 akan menghadapi SMA 99 yang akan menjadi lawan mereka di babak 16 besar kali ini.


SMA 70 mulai melakukan persiapan di ruang ganti. Tak lupa sebagai pelatih Pak Danang memberikan strategi dan intruksi kepada anak asuhnya.


"Baiklah jangan gugup mereka sama seperti kita. Mereka bukanlah tim unggulan, nanti kalo berjalan lancar babak 8 besar semi final dan final kita akan menghadapi tim-tim unggulan. Jadi sebelum menghadapi mereka, kita dulu lawan kita hari ini." Ucap Pak Danang memotivasi anak asuhnya.


"Baiklah kalian dengar itu? Sekarang kita habisi mereka!" Tak lupa Ridwan sebagai kapten menyemangati rekan setimnya.


"Yahhh!!" Sontak seluruh pemain berteriak.


*****


Sementara di ruang ganti SMA 99 ekspresi takut dan gugup menghiasi wajah pemain. Pelatih mereka yang bernama Pak Aziz mencoba memotivasi anak asuhnya.


"Kenapa kalian tampak loyo gitu?" Tanya Pak Aziz.


Juna anak kelas 11 yang merupakan pemain paling lemes menjawab pertanyaan Pak Aziz.


"Bapak taukan lawan kita kali ini SMA 70 yang berhasil ngalahin Trisatya dan Wismaraja." Ucap Juna dengan suara pelan karena gugup.


"Ya terus?" Sahut Pak Aziz.


"Tahun lalu kita di kalahkan Wismaraja kan? Dan sekarang kita menghadapi sekolah yang berhasil ngalahin mereka 2 bulan yang lalu." Ucap Juna.


"Keluar." Pak Aziz menjawab omongan Juna dengan singkat dan jelas.

__ADS_1


"..."


Juna tidak bisa berbicara apa-apa karena tidak mengerti maksud dari perkataan Pak Aziz.


"Pemain yang mentalnya tempe silahkan keluar, kalian tidak layak menjadi atlit. Lawan kita bukanlah alien monster atau pemain kelas dunia. Lawan kita hanyalah anak SMA biasa yang sama-sama makan nasi sama seperti kalian! Belum main saja sudah ciut mentalnya. Kalian itu laki-laki atau tidak!" Ucap Pak Aziz dengan nada tinggi.


"Kalian tau bola itu bulat apapun bisa terjadi. Okelah mereka ngalahin Trisatya dan Wismaraja dan menjadi sekolah tin tamu pertama yang juara di tuenamen mini antar dua sekolah itu. Tapi bisa saja itu kebetulan bukan? Ingat sehebat-hebatnya bakat seseorang akan kalah dengan tim yang punya keberuntungan. Satu lagi, jika kita bisa ngalahin SMA 70 itu artinya bukankah kita lebih hebat dari Wismaraja yang di kalahkan SMA 70?" Ucap Pak Aziz sembari tersenyum.


Aziz tersentuh, ekspresi gugup yang tadi seakan hilang dan tampak dia kembali semangat kembali.


"Oke sekarang pergi ke sana dan kalahkan mereka. Ingat jaga pemain bernomor 8 itu tendangan trivelanya sangat berbahaya."


Kesebelasan SMA 99 berjalan menuju lorong pemain. Disana terlihat kesebelasan SMA 70 yang sudah standby duluan disana.


Ini dia lawannya.


Batin Al. Dia menatap lawannya dengan tatapan yang tajam.


"Anu." Ucap Juna.


"Apa ada yang ingat motivasi dari Pak Aziz tadi? Aku jadi gugup lagi nih." Tambah Juna.


"Woi bukannya kau tadi sudah tidak gugup lagi kau menatap mereka dengan tajam tadi." Ucap kapten mereka Fauzi.


"Aku cuma diam aja agar tidak kelihatan gugupnya." Sahut Juna.


"Tolol Juna Tolol."

__ADS_1


"Itu dia kiper SMA 70 yang berhasil menepis tendangan Chandra Wilson di pertandingan. Lalu pemain andalan mereka Eril yang merupakan salah satu winger terbaik di Kota ini. Si nomor 8 pemilik trivela terbaik, Doni juga tampak menakutkan. Lalu kapten mereka tampak besar dan tinggi dan otot-ototnya juga terlihat kekar. Andai kapten kita gitu juga." Ucap Juna lalu berbisik kepada rekannya agar tidak terdengar oleh Fauzi.


"Berisik! Aku dengar itu." Walaupun berbisik Fauzi tetap medengar apa yang di katakan oleh Juna.


"Pemain bernomor 11 itu tidak menyebutkan namaku sebagai daftar pemain menakutkan di SMA 70." Gumam Riski, dia tampak iri namanya tidak di sebut Juna sebagai pemain berbahaya di SMA 70.


"Ha tadi kau ngomong apa Ki?" Ucap Eril seperti mendengarkan sesuatu dari mulut Riski.


"Itu dia iri karena namanya gak disebut si nomor 11 sebagai pemain berbahaya di tim kita." Ucap Doni memberitahukan apa yang di katakan Riski sebelumnya.


"Berisik sok tau kau Don."


Para pemain mulai memasuki lapangan pertandingan.


Pertandingan pun di mulai.


Pertandingan tidak berimbang. Dari awal SMA 70 sudah menguasai pertandingan. Perbedaan teknik fisik permainan dan lainnya sangat mencolok di pertandingan kali ini.


SMA 70 berhasil membantai lawannya dengan skor 5-0 tanpa balas. Riski mencetak 2 gol Eril dan Bara mencetak 1 gol dan Doni lagi-lagi mencetak gol dengan trivelanya. SMA 70 benar-benar menghancurkan lawannya.


"Yoshaa itulah kalian tidak menanggap ku sebagai pemain berbahaya makan itu 2 gol dari ku hahaha." Ucap Riski dengan tertawa jahat atas kekalahan lawannya.


*puk


Ridwan memukul pundak Riski yang lagi tengah tertawa.


"Respect Ki respect." Sebagai kapten Ridwan memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan rekannya agar bertindak respect ke lawan.

__ADS_1


"Haha sudah jelaskan kalian menang, tertawalah sepuas kalian aku tidak peduli karena dari awal aku sudah menyangka bahwa kami akan kalah. Kita memang sama-sama anak SMA, tapi kalian merupakan anak SMA istimewa yang sudah mempersiapkan semuanya demi ini. Tidak peduli bahwa kita sama-sama makan nasi, pada akhirnya di sebuah pertandingan yang kuatlah yang akan menang. Aku jadi penasaran nasi apa yang kalian makan sehingga bisa buat kalian hebat seperti itu." Juna berbicara seperti itu sampai-sampai air matanya menetes sendiri. Walaupun dari mulut orang itu berkata tidak peduli, tetapi bisa saja hatinya berkata lain.


SMA 70 LOLOS KE 8 BESAR.


__ADS_2