Gadis Bayaran Untuk Tuan Muda

Gadis Bayaran Untuk Tuan Muda
Siapa Dia?


__ADS_3

"Hentikan makanmu!" Nana merebut burger di tangan Leandra.


"Kau tidak puasa?" Nana memarahi Leandra.


"Musafir tidak harus," jawab Leandra.


"Ya Tuhan, aku tak ingat kalian masih puasa, bagaimana ini? Aku benar-benar minta maaf," Martin memang nonmuslim dan dia tak sengaja.


"Tak apa, Martin, kamu sangat tepat. Waktu Magrib sepertinya kita masih di jalur tol," Rio menenangkan.


"Nana, aku tak sahur tadi," Leandra membujuk.


"Tapi tadi kau puasa, ‘kan?" tegas Nana.


"Iya sih, aku kan enggak punya uang," Leandra memelas.


"Tahan, tidak ada dua jam," Nana semakin galak.


Percakapan Leandra dan Nana menenggelamkan kecanggungan Martin.


***


Di lain pihak, masih melalui kaca spion, Laras terus memperhatikan Leandra. "Iya, orang itu! Tidak salah lagi, benar itu orangnya!" gumamnya meyakinkan diri, bahwa Leandra adalah orang yang merusak alat pemanas air untuk membuat mie instan atau kopi di Bee Mart saat jam kerjanya. Parahnya, orang itu melarikan diri begitu saja, sehingga sang manajer dengan sangat terpaksa harus memberhentikan Laras. Manajer itu sebenarnya sangat baik, sudah berusaha membantu. Namun mas Anam tidak bisa berbuat apa-apa karena dari pihak HRD pusat memutuskan demikian. Terlebih Laras hanya pekerja paruh waktu, bukan karyawan resmi seperti yang lain.


***


Orang yang menghancurkan dunia sederhananya tiga bulan yang lalu ada di sini. Apa yang harus dia lakukan? Apa sekarang dia perlu minta pertanggungjawaban? Sebaiknya bagaimana? Setelah bertemu sang biang kerok pun dia tak tahu harus bagaimana. Huuh, benar-benar payah! Bahkan dia kini menumpang di mobil sahabat sang pembawa sial itu.


***


"Kau baik-baik saja?" Rio menyapa gadis yang belum ditemukan definisinya itu.


"Oh, Iya," Laras langsung tersenyum melihat Rio, mengalihkan fokusnya dari si sialan. Pasti Rio menganggap dirinya aneh atau lebih parah lagi karena mungkin Rio memergoki dirinya melirik Leandra sedari tadi. Atau bisa jadi Rio mengira Laras tertarik pada laki-laki berwajah Belanda-Jawa itu. Walau rambutnya tampak panjang berantakan dan sedikit berewok tak beraturan, dengan penampilan semacam itu, tidak akan ada yang dapat mengatakan dia tidak menarik. Hidungnya, bibirnya, bahkan daya tarik dari tubuhnya yang tinggi, tegap, dan atletis tidak bisa dihindari.


"Sebentar lagi Magrib, boleh minta tolong bantu aku mencari rest area?" Rio sangat sopan. Sebenarnya Rio sedang mengkhawatirkan Laras. Perempuan ini tadi menangis.


***


Akhirnya kelimanya turun dari mobil, duduk dalam dua lingkaran meja tak beraturan. Tepat sesaat sebelum kumandang azan Magrib.


Rio berdiri menuju pintu minimarket Alf*mart di belakang mereka.


"Kau mau ke mana?" tanya Martin.


"Aku akan beli kurma, kenapa? Mau aku belikan sesuatu?" Rio balik bertanya.


"Sudah kubilang semua kebutuhan perjalanan aku yang menanggung, jadi kalian tinggal bilang saja," jelas Martin. Rio mengerutkan keningnya tidak setuju.


"Kita sudah bahas ini dari awal. Kalian menemaniku membawa mobil ini ke rumah kakakku, termasuk gantian mengemudikannya, dan aku yang menanggung semua akomodasinya," lanjut Martin.

__ADS_1


"Itu berlebihan," Rio pasrah, melihat Martin seperti orang berambisi.


"Oppa dermawan, kau terbaik! Belikan aku jus!" Nana menyahut.


"Oh, iya, boleh aku minta pencukur kumis sekalian?" Semua yang melihat Leandra karena permintaan anehnya itu, terdiam. Dia memang membutuhkannya.


***


"Aku tahu kau meliriknya," Nana tersenyum. "Aku yakin kau menganggapnya orang aneh, berantakan, dan bla bla bla …," Nana terus bercerita tentang Leandra. Sejujurnya bagi Laras bukan aneh, tapi sialan.


"Dia itu buronan," Nana berkata santai. Laras membelalakkan matanya. Mata itu seperti berkata, "Apa kita membawa penjahat di mobil?".


"Tunggu ... tunggu ... bukan buronan semacam itu," Nana menenangkan, "dia buronan keluarganya," jelasnya. Laras semakin bingung saja. "Memang kau benar-benar tak mengenalnya? Dia? Anak UI yang populer?" Penjelasan Nana hanya berakhir dengan geleng kepala Laras. "Oh, ya Tuhan, pasti kamu anak rajin di kampus. Jarang main, jarang hang out, dan semacamnya ... BLA BLA BLA …." Nana berputar-putar kembali menjelaskan tentang siapa Leandra.


Intinya, Leandra adalah orang popular didukung latar belakang keluarga yang terpandang, dan saat ini dia sedang melarikan diri dari keluarganya. Sudah memasuki bulan ke-3 sejak dia tidak pulang ke rumahnya, bahkan ke kampus saja tak berani. Karena setiap saat bisa ditemukan, makanya dia ikut dalam perjalanan ini. Satu-satunya teman yang masih bisa dia percaya hanya Martin.


Cerita Nana semakin membuat Laras pening.


***


Aktivitas berbuka telah usai. Mereka semua juga sudah selesai salat, maupun membersihkan diri di rest area. Martin menanti dengan sabar.


Ada sedikit perbedaan dengan penampilan salah satu dari mereka. Itu adalah Leandra, ternyata pemuda berantakan itu sudah ganti baju. Tentu saja dengan baju Martin. Dapat ditebak dari style dan ukuran yang sedikit kesempitan, membuat beberapa mata dengan sengaja menatap ke arahnya. Celana yang dikenakan tampaknya milik sendiri karena pas sekali. Yang paling berubah adalah wajahnya yang kini bersih dari berewok tipis tak beraturan. Rambutnya pun sudah dikuncir rapi. Kini dia 100% menjadi orang berbeda, kecuali sikapnya, sepertinya masih sama saja.


***


"Rio kau butuh diganti?" Martin melirik Leandra.


"Baik, berarti besok giliranmu," Martin meminta Nana duduk di depan bersamanya. Laras kebingungan. Rio sudah duduk di dalam dan Leandra tidak tampak ingin masuk duluan. Dengan kepala yang semakin pening, Laras mengumpulkan keberanian untuk duduk di antara kedua laki-laki yang bahkan belum 24 jam dia kenal.


Kepalanya seperti tidak bisa diajak kompromi. Dia mencoba terjaga dan sia-sia. Kepalanya meminta untuk segera tidur.


***


"Nana, kau jangan tidur!" Martin mengguncang tubuh Nana, memintanya menemani mengemudi.


"Musikmu terlalu merdu," sahut Nana.


Di belakang terlihat dua anak manusia saling bersanding. Sepertinya  kepala Laras bersandar di bahu Leandra. Leandra pun tertidur pulas meringkuk di kepala Laras. Rio beberapa kali mencoba mengusir kepala Leandra agar meringkuk ke sisi lain.


Citttttt!


Decit rem mobil membuat semuanya tersentak. Agar tidak oleng, Martin segera memutar setir dan berusaha menghindarinya. Untung di belakang tidak ada kendaraan lain. Martin segera kembali ke jalur dan berkendara dengan pelan.


"Wah, gila! Bagaimana bisa mobil itu parkir santai di situ!" Martin hampir mengumpat, tapi menahannya.


Nana terperanjat tak bisa berkata-kata. Dia memegangi sabuk pengaman, dan mengumpulkan kesadarannya. “Untung aku memakainya, kalau tidak, mau jadi apa tadi?” gumam Nana.


Di belakang, Rio dengan spontan merangkul tubuh Laras yang terbanting ke depan, menahan dengan lengannya. Kini, sejujurnya Rio-lah yang punggung tangannya terasa sakit. Leandra yang juga terperosok ke depan langsung terbangun, untungnya tidak ada yang terluka.

__ADS_1


"Kalian baik-baik saja?" Martin memastikan penumpangnya selamat.


"Kita tidak apa-apa," Rio berusaha merapikan tubuh Laras di posisi yang tepat.


"Tunggu, bagaimana bisa dia tak bangun?" Leandra berusaha memeriksanya.


"Dia panas sekali," tambah Leandra.


"Benarkah?" Rio panik, turut memeriksa.


"Apa dia pingsan?" Leandra menggoyang tubuh kecil itu. Seperti boneka, tak memberi respons.


"Tenang … tenang …," Martin menghentikan mobilnya, lalu meminta Leandra keluar dan dia segera memeriksa Laras. Martin adalah anak kedokteran. Dia tampak lihai memeriksa denyut nadi Laras. Leandra diminta mengambilkan kotak obatnya di bagasi, lalu sesaat kemudian Laras siuman.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Martin.


"Maaf ... tak perlu khawatir, aku hanya sedikit pusing," suara itu lirih hampir tak terdengar. Belum sepenuhnya sadar.


"Apa kita masih punya minum?" Martin meminta. Sesaat, yang lain sibuk menyodorkan minuman.


"Wah, tidak ada yang hangat. Dia butuh yang hangat," Martin tampak bingung. Leandra duduk di bangku pengemudi.


"Kita harus segera keluar dari tol. Cari tempat istirahat!" seru Leandra mengajak yang lain bergegas. Nana pun mundur ke belakang, mencoba membuat teman perempuannya itu nyaman di pangkuannya. Mobil melaju kencang.


***


"Sebaiknya kita mencari penginapan di sekitar sini," Rio beberapa kali mencoba mencari penginapan lewat aplikasi, sayangnya gagal. Hampir semuanya penuh.


"Kita perhatikan sisi kanan kiri," tambahnya.


"Yang ini, bagaimana? Kita coba?" Leandra menepikan mobil, berbelok memasuki rumah yang bertuliskan ‘homestay’. Ini adalah tempat ketiga mereka berhenti.


Leandra bergegas keluar. Sesaat kemudian datang kembali dan mengetuk pintu mobil.


.


.


_______________________


Hello sahabat, bantu saya dengan memberi komentar terbaik anda


Masukan pada perpustakaan


Peringatan! Jika buku ini berhenti update DM saya di Instagram


Sampai jumpa di hari yang indah


Nama Pena: dewisetyaningrat

__ADS_1


IG & FB: @bluehadyan


Discord: bluehadyan#7481


__ADS_2