Gadis Bayaran Untuk Tuan Muda

Gadis Bayaran Untuk Tuan Muda
Ekspresi Mematikan


__ADS_3

Mobil putih Toyota Rush kini memasuki Kabupaten Ponorogo. Terlihat jalanan mulai naik turun, pepohonan mengiring perjalanan, berjajar di samping kanan kiri.


Leandra dengan lincah mengatur laju kendaraan. Dia mampu membuat penumpang di belakang bisa memejamkan mata. Padahal medannya mulai menanjak.


Sembari diiringi alunan musik, sesekali dia sengaja menoleh pada Laras. Tiap kali lelaki itu coba melihatnya, Laras mengalihkan pandangan. Leandra secara terang-terangan ingin menunjukkan keahliannya berkendara. Hal tersebut ditangkap oleh Laras. Supaya tidak makin ngelunjak, Laras menunjukkan ekspresi tidak tertarik.


"Aku rasa ... um ... aku mengenalmu," suara Leandra memecah suasana. Laras terbelalak mendengar apa yang disampaikan Leandra.


"Apa kau penjaga minimarket?" lanjut Leandra. Laras menatapnya seakan meminta Leandra meneruskan ucapannya.


"Maksudku ... B Mart? Betul?" sekali lagi Leandra meliriknya. Laras mengerutkan keningnya, mengingat yang telah terjadi. Tidak ada sepatah kata pun yang ingin diucapkannya. Laras merasa telah ikhlas, usai, dan sudah memaafkan. Sayangnya, kerutan di kening itu ditangkap berbeda oleh Leandra.


"Aku merasa ikat rambut itu … tidak salah lagi, kamu benar penjaga B Mart!" Leandra melempar pandangan meminta jawaban, tapi nihil.


"Ikat rambut unik itu, tidak akan ada duanya," pancing Leandra menggelitik. Ikat rambut warna pink buatan tangan, bermotif buah ceri yang agak pudar karena telah lama digunakan.


"Iya, kamu benar, sekarang mau apa?" jawab Laras menyerah dengan desakan Leandra. Leandra tampak tidak terkejut. Minimarket yang dapat dijangkau dengan jalan kaki dari rumahnya itu langganannya setiap saat apalagi malam hari. Ketika suasana  hatinya sedang buruk, dia akan membeli beberapa makanan dan minuman ringan, lalu duduk di pelataran  minimarket yang didesain untuk bersantai. Dengan ragu, lelaki itu melempar senyuman.


"A ... aku minta maaf, saat itu aku sangat kacau. Hari pertama aku melarikan diri dari rumah. Semua teman-temanku tak bisa aku hubungi karena kondisiku. Aku tidak tahu bagaimana caraku menggantinya, sebab semua kartu kreditku diblokir," Leandra memberanikan diri menjelaskan dengan terbata bata. Laras hanya membalas dengan raut wajah datar.


"Kau tahu aku tak sengaja, ‘kan? Aku kecapekan, lalu alat itu terdorong tubuhku tanpa sadar dan terjatuh," Leandra melanjutkan, Laras bergeming.


"Ayolah!" Laki-laki yang mulai jengkel karena diabaikan dengan sengaja mendecitkan (menginjak rem mobil sesaat tanpa alasan) kendaraan yang dikemudikan supaya Laras berekspresi. Sontak teman-teman yang di belakang terkejut.


"Ada apa?" Nana bertanya.


"Ah, hanya sedikit kurang fokus," jawab Leandra sekenanya.


"Sebaiknya kita istirahat sebentar," Rio menyarankan.


Akhirnya mereka memilih berhenti di masjid terdekat.

__ADS_1


Sejak keluar dari mobil, Leandra terus memasang tatapannya pada Laras. Dia mencoba mencari waktu paling tepat agar bisa benar-benar bicara dengan si penjaga minimarket.


Masjid tempat mereka istirahat cukup luas. Terlihat beberapa pemudik membaringkan tubuhnya di lantai untuk melepas lelah. Sama halnya dengan yang mereka lakukan.


Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu Leandra datang, Laras berjalan sendirian. Perempuan itu menyusuri serambi masjid dan sesaat kemudian memasuki lorong menuju toilet dan tempat wudu perempuan. Sebelum sampai di tempat yg dituju, seseorang dengan tangan besarnya lebih dulu menarik lengan Laras. Gadis itu spontan menoleh ke belakang. Ya, sudah diduga. Leandra-lah pelakunya.


"Kau ingin aku bersujud supaya dimaafkan?" Leandra mendesak Laras.


"Lepaskan aku!" Laras menarik tangannya.


"Aku sudah memaafkanmu, aku juga sudah ikhlaskan semuanya. Jadi, aku tidak berminat membahasnya," Laras menjawab dengan santai tanpa memandang Leandra.


"Hai! Tatap aku! Aku benar-benar tulus minta maaf. Kau mengabaikanku seolah-olah aku seorang pengecut," Leandra kembali menghentikan langkah kaki Laras. Dia berdiri di depan Laras. Memblokade jalan Laras. Sejujurnya Laras tidak berminat menatapnya hanya karena dia perlu mendongak ke atas. Leandra bertubuh tinggi, lebih sulit melihat wajahnya dari jarak dekat.


Laras membuka mulutnya seakan-akan ingin membalas dengan hujan umpatan atau semacamnya. Ternyata perempuan itu memilih menghela napas panjang. Dia menyadari, apalah artinya menumpahkan alat pembuat kopi bagi seseorang dengan latar belakang seperti Leandra, dibanding dirinya yang hancur berkeping-keping karena kehilangan pekerjaan paruh waktu.


"Mundurlah sedikit agar aku mudah melihat wajahmu," pinta Laras. Leandra menurutinya.


"Dengarkan baik-baik, TUAN MUDA! Aku sudah memaafkanmu dengan sangat tulus." Laras melemparkan ucapan itu bersamaan dengan senyum palsu yang dibuat-buat. Serta dibumbui adegan memberi hormat ala princess Disney di akhir ucapannya. Siapa saja yang melihat adegan itu pasti sadar, bahwa perempuan itu sedang meledek lawan bicaranya.


Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya Laras meninggalkan Leandra. Laki-laki itu masih berdiri termenung, tak jelas. Hatinya berdesir, sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Perempuan itu melenggang pergi, sambil dengan sengaja menabrakkan sedikit bahunya pada Leandra sebagai bentuk kejengkelan. Laras menyisakan kibasan rambut pada bahu Leandra dan aroma harum tubuhnya.


Leandra menggelengkan kepala. Berusaha mengumpulkan kesadarannya. Melangkah perlahan. Mengais-ngais ingatan tentang kasir Bee Mart misterius favoritnya.


Kasir yang selalu mengenakan masker wajah, berjaga di shift malam, dan memiliki karakter tenang. Beberapa kali Leandra menggodanya. Sekadar iseng mengeluarkan uang dalam waktu lama atau menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah si mbak kasir. Biasanya wajah perempuan akan merah padam jika dia melakukan itu. Namun ternyata ekspresi itu masih sama. Tatapan datar mematikan. Membuat pelaku keisengan merasa tidak berhasil.


Lalu hari ini, si mbak kasir itu, Selaras, runtuh dari ekspresi datarnya. Melemparkan emosinya pada Leandra. Rasa terhinanya karena diledek tenggelam oleh rasa kemenangan yang tidak masuk akal.


***


Setelah lebih dari beberapa jam perjalanan, mobil putih Toyota Rush mulai meninggalkan Kabupaten Ponorogo. Pemandangan di sekitar perlahan berubah pepohonan. Mereka sempat berhenti untuk beristirahat dan menunaikan salat. Martin dan Rio sempat menawarkan diri mengganti Leandra mengemudi, tapi tawaran itu tidak diambil. Raut mukanya malah menunjukkan semangat membara. Entah apa yang dipikirkan pria berkuncir ini.

__ADS_1


Senyum tipis ditunjukkannya spesial untuk Laras. Perempuan itu hampir terkejut saat mendapatkan ekspresi aneh itu, "Ya Tuhan, apa isi otak anak ini?" gumam Selaras mengabaikan semua polah tingkah lelaki yang duduk di kursi pengemudi.


"Laras, lihat! Kita masuk Trenggalek," Nana menangkap gapura perbatasan wilayah Ponorogo dan Trenggalek, "apa rumahmu sudah dekat?" celetukan Nana membangunkan yang lain.


"Sebentar lagi," senyum Selaras menoleh kebelakang, gadis itu menyapa penumpang yang duduk di kursi belakang.


"Udaranya sejuk, coba buka jendelanya," Leandra memberi saran.


.


(Mmm ... kabarnya mereka akan menginap di rumah Selaras? Di sebuah pedesaan kota kecil, seperti apa jadinya, ya?)


.


.


_______________________


Hello sahabat, bantu saya dengan memberi komentar terbaik anda


Masukan pada perpustakaan


Peringatan! Jika buku ini berhenti update DM saya di Instagram


Sampai jumpa di hari yang indah


Nama Pena: dewisetyaningrat


IG & FB: @bluehadyan


Discord: bluehadyan#7481

__ADS_1


__ADS_2