Gadis Bayaran Untuk Tuan Muda

Gadis Bayaran Untuk Tuan Muda
Rumah Joglo


__ADS_3

Pada langkah mereka kembali memasuki mobil, Leandra terhenti seketika. Membuat tubuh ramping Selaras yang sibuk memastikan bawaannya tidak tumpah, tak sengaja menubruk punggung pria berpostur tinggi kokoh, Leandra. Tubrukan sederhana itu mengakibatkan dua buah pisang jatuh dari pelukan Selaras.


"Hai! Kau?" protes gadis berambut panjang.


Sejenak kemudian, dia penasaran apa yang mengakibatkan mata Leandra begitu berbinar. Ternyata pria ini dan tiga teman barunya kedapatan tak lagi mengambil foto diri -swafoto-.. Melainkan sibuk mengamati dan menangkap kerumunan anak-anak kampung yang berbaris sekenanya, berkeliling sambil membawa oncor[1].


Mereka kian takjub, setelah sepaket gamelan walau tidak selengkap pertunjukan wayang, akan tetapi suaranya sudah lebih dari kata menakjubkan, melintasi empat muda mudi asing dari kota metropolitan. Alat musik tradisional tersebut diarak berjejer dengan menggunakan becak, gerobak, dan komponen yang lebih lengkap dinaikkan di atas Chevrolet[2].


Selaras memaklumi mereka, mereda keinginannya untuk mendebat Leandra, dia memilih segera kembali memasuki mobil. Lama dirinya menunggu teman-teman barunya itu mau melepaskan pengamatan yang terlihat seru.


Dengan gerak enggan, akhirnya mobil Rush melaju. Membawa mereka kembali menyusuri jalanan yang makin lama makin sepi saja. Hingga sebuah gang dengan lebar tak lebih dari satu mobil diminta pemandunya untuk melintasi.


Jalan berguncang sebab bukan lagi beralaskan aspal, mengusik penghuni mobil mencari-cari ke mana laju mobil ini akan menepi. Benar saja, akhirnya setelah belokan ketiga, mobil berhenti.


Rumah Joglo dengan konsep sederhana yang terkesan tua, menghadirkan dua perempuan yang tak kalah tua, bahkan satunya duduk di atas kursi roda usang.


Si perempuan yang di awal perjalanan sempat ditemukan Rio meneteskan air mata, kini berlari dengan air mata yang sama. Tampaknya kali ini agak berbeda, bukan duka atau resah. Rio yang keluar paling awal setelah meraih tasnya, turut membuntuti Selaras. Berdiri di belakang punggung gadis yang kini mencium tangan dua perempuan lalu memeluknya berulang.


"Monggo ... monggo ... saestu mlebet mawon[3]," seorang ibu Jawa dengan gelungan di kepala mempersilakan mereka masuk menggunakan bahasa yang sesungguhnya tak dimengerti. Hanya sebatas dipahami bahwa ekspresi dan gerak mimik yang diusung adalah  sopan santun khas pedesaan Jawa Timuran.


"Ngapunten, omahe Selaras sae sanget ngantos bingung minarakaken mas mbak niki teng pundi[4]," kembali perempuan ramah itu berceloteh dengan bahasa yang tak mampu mereka cerna. Senyam-senyum adalah cara terbaik untuk mengimbanginya.


.


Di sisi lain, Leandra masih mencoba membenarkan posisi parkir mobil yang setia menemani perjalanan panjang Jakarta ⎼ Trenggalek. Dia yang keluar paling akhir masih mendapati kasir Bee Mart setia di posisi yang sama. Bersama tas yang terjatuh di permukaan tanah, ditekuk kakinya untuk menyejajarkan dengan perempuan sepuh yang berada di atas kursi roda.


Sambil berulang kali menghapus air mata, Selaras mengusung senyum janggal dipaksakan. Dia sepertinya sedang bertukar cerita dengan perempuan yang umurnya mungkin lebih dari 80 tahun, dugaan Leandra, si ringkih itu neneknya.


Gadis ini tak se-jutek atau sedingin dugaan yang sempat terpatri pada kepala pemuda berwajah semi-Belanda ini. Leandra ikut tertegun, berdiri mematung menatap dua anggota keluarga saling bersua.


Pemuda yang jadi buronan keluarganya sendiri, mengingat sejenak tiap-tiap anggota keluarga yang  dia hindari hingga berlari sampai pada tempat nan jauh ini.

__ADS_1


Mencukupkan dan menamatkan pandangan pada adegan yang demikian mengharukan sambil menerka-nerka kemungkinan. Apakah dalam keluarganya akan ada adegan serupa?


Bukan karena mahalnya berdamai atau apalah, yang pasti dalam kamus tradisi keluarga Baz, tidak akan dan tidak mungkin ditemukan peluk memeluk atau haru biru seperti yang tertangkap pandangan matanya saat ini. Sebab keluarga Leandra tidak memiliki sosok perempuan di dalamnya. Hanya kakak perempuan yang sejenis dengannya, 'sama tak jelasnya' .


Pegangan hidup dalam keluarga lelaki yang kini merenungi keadaannya sendiri hanya dua orang laki-laki yang terdefinisi sebagai kakek dan ayah.


Sayangnya, sang ayah mengundurkan diri dari dunianya, dengan alasan ingin melanjutkan hidup setelah lima belas tahun mengabdi pada keluarga sang istri yang telah lama berpulang. Leandra tidak terima, dia tak ingin semua tanggung jawab yang belum sepenuhnya dipahami dilimpahkan kepadanya begitu saja. Sejujurnya pemuda buronan keluarga ini sedang kecewa, harusnya sang ayah memberi tahu alasan mendasar kepergiannya.


Perjalanan menuju Surabaya bukan sekadar untuk melarikan diri semata, dia punya tujuan primer, yakni mencari pria bernama Hiyugo Pratama, sang ayah yang pergi sepihak begitu saja, bulan Syawal bahkan sudah jadi bulan ke lima kepergiannya.


Pemuda berambut panjang masih sibuk dengan perenungan, belum mau beranjak ketika Selaras mendorong roda dari kursi yang menopang neneknya. Dia menamatkan rumah sederhana yang belum tampak sosok laki-lakinya.


Selain itu, pemuda yang memiliki bulu mata lentik mirip noni-noni VOC ini ternyata sedang tergelitik dengan rumah Joglo berbentuk kotak presisi yang memiliki atap menjulang seirama bangun trapesium. Tempat tinggal di depannya tertangkap terlalu asing. Dinding bagian muka berbahan kayu penuh dari atas hingga dasar. Sedangkan bagian sisi kiri yang kini tertangkap matanya lebih unik lagi, separuh berbahan batu bata, separuh lagi kayu dengan pelitur mirip sisi muka.


Leandra terlalu menikmati pengamatan, tak menyadari pemilik rumah kembali mendekat, memintanya masuk dengan gerak-gerik sopan tak mirip lagak sebelumnya yang galak campur menawan.


Gadis berambut hitam pekat yang ditekuk sembarangan sempat menggerakkan dua jemarinya menyisihkan helai rambut yang berserabut acak menutupi daun telinga. Gerakan Selaras menghasilkan senyuman si pemuda, "Aku tak melihat ayahmu?" Leandra memang demikian orangnya. Berpikir belakangan, bertanya duluan. Dia tipe orang yang penasaran sejak jadi bocah yang usianya masih satu digit angka. Jadi, jangan heran kalau dia terkesan resek.


.


Baru saja memasuki rumah kotak presisi, ternyata ruang tamunya juga kotak dengan luas yang sulit diterka. Lebih lebar dari dugaan. Tak ada mirip-miripnya dengan ruang tamu standar kota metropolitan. Ruang ini seolah terbagi dua secara kasat mata karena memang tidak ada partisi sama sekali. Akan tetapi, jelas pada sisi kiri terdapat lingkaran kursi dari anyaman rotan yang biasa di sebut kursi 'menjalin', tentu saja dilengkapi dengan meja kayu kuno di tengah-tengahnya. Bahkan lampu di atasnya juga kuno, lampu gantung klasik unik yang sering dijumpai di toko-toko yang berjajar di Jalan Ir. H. Juanda, Ciputat.


Leandra seperti anak laki-laki kosong yang sedang memainkan matanya, dia melakukan pengamatan dengan lamat-lamat. Bisa jadi karena dunia pemuda ini jauh berbeda, atau dia merasa terdampar masuk ke dalam film kolosal.


Nana nyengir melihatnya, "Hai, sini! Atau kita habiskan saja makanannya?" gadis semi-Arab berseru.


Leandra baru sadar teman-teman yang lain sedang makan dengan raut muka bahagia, duduk di atas tikar lebar warna-warni dengan mangkuk dan piring tergeletak berisi sayuran, lauk pauk, dan kolak pisang bercampur mutiara pink yang menawan. Belum lagi gerakan tangan mereka tanpa sendok yang kelihatan rakus sekali. Buru-buru pemuda ini berlari tidak mau lengah setelah tiga bulan terakhir hidupnya kekurangan makan dan uang.


"Gila! Ini enak sekali!"


Lupa di luar sana ada suara takbir pertama bersahut-sahutan, tanda Idulfitri telah datang dan siap disambut esok pagi.

__ADS_1


.


.


.


[1] Oncor merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti "Obor", sehingga "Festival Oncor" artinya acara berkeliling kampung untuk memperingati hari-hari tertentu yang menggunakan obor.


[2] Chevrolet kata generalisasi dari jenis mobil pick up. Atau Metonimia adalah sebuah majas yang menggunakan sepatah-dua patah kata yang merupakan merek, macam, atau lainnya yang merupakan satu kesatuan dari sebuah kata. Contoh: Rokok diganti Djarum atau Gudang Garam. Untuk masyarakat Jawa Timur bagian 'Kulonan', mobil pick up diganti Chevrolet.


[3] Bahasa Jawa Timur 'Kulonan' : "Silakan, silakan ... sungguh dipersilakan masuk saja,"


[4] "Mohon maaf rumahnya Selaras terlalu bagus, sampai bingung mau mempersilakan kakak-kakak di mana,"


.


.


_______________________


Hello sahabat, bantu saya dengan memberi komentar terbaik anda


Masukan pada perpustakaan


Peringatan! Jika buku ini berhenti update DM saya di Instagram


Sampai jumpa di hari yang indah


Nama Pena: dewisetyaningrat


IG & FB: @bluehadyan

__ADS_1


Discord: bluehadyan#7481


__ADS_2