
"Kita bisa menginap di sini, namun hanya tersedia dormitory[1] bagaimana? Kita ambil?" tanya Leandra.
"Tidak ada pilihan lain. Ambil saja!" Martin menyahut.
Sesaat kemudian, Rio keluar dari mobil berpikir akan menggendong tubuh Laras. Ternyata di sisi lain, Leandra telah lebih dulu berusaha memindahkan tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya dari pangkuan Nana. Leandra tak nampak kesusahan, tubuh Laras kurus seperti boneka terkulai lemas. Dia berjalan santai di belakang Martin yang tergesa-gesa mengurus administrasi, kemudian salah satu pelayan berlari menunjukkan jalan dan membukakan pintu kamar.
Tidak butuh waktu lama hingga Leandra membaringkan tubuh itu perlahan di atas tempat tidur bercorak bunga anyelir putih, sepertinya kondisi agak kikuk ini membuat wajah Leandra memerah.
"Bisa bantu mencari teh hangat atau semacamnya?"
Martin baru saja memasuki kamar, meletakkan beberapa barang, kemudian membuka tas persediaan obat-obatan, mendekati Laras untuk memeriksa. Dia benar-benar calon dokter teladan. Dikeluarkannya alat tensi, lalu dengan cekatan diperiksanya kondisi Laras.
Ketika Rio datang sembari membawa teh hangat dan beberapa camilan, dia mendapati perempuan yang dikhawatirkan sedang duduk dikelilingi teman-temannya.
"Maafkan aku," Laras menyadari dirinya telah merepotkan yang lain.
Gadis itu mencoba tersenyum, menunjukkan dia baik-baik saja. Dengan perlahan sembari minum teh hangat, penuh kesabaran, Martin memintanya menjawab beberapa pertanyaan prosedural layaknya ‘dokter’ kepada ‘pasien’.
Satu per satu, yang lain bersiap-siap untuk istirahat.
"Besok kau harus sembuh. Aku tidur di dekatmu. Kalau ada apa-apa bangunkan aku!" Nana tersenyum menyemangati, tidur di ranjang tepat di sisi kanan Laras.
Dormitory itu berisi 8 tempat tidur, dengan 4 ranjang berada sejajar dengan ranjang Laras dan 4 lainnya berjajar di depan Laras. Hanya ada mereka berlima di dalamnya. Mereka memilih formasi tidur seakan sedang mengelilingi Laras.
Leandra di sisi kiri, Martin dan Rio beriringan di depannya. Malam yang melelahkan. Semua segera terlelap dalam mimpi masing-masing.
***
Satu per satu terbangun oleh aroma harum dalam ruangan. Aroma itu berasal dari secangkir kopi yang tersusun rapi pada tiap-tiap nakas (meja kecil samping tempat tidur) yang berpenghuni. Kopi harum ditemani roti bakar, menggugah selera untuk langsung menyantapnya. Rio terbangun terlebih dahulu.
"Bagaimana? Sudah sehat?" dia menyapa Laras.
Pagi ini, terlihat pemandangan yang berbeda. Laras tampaknya sudah lebih segar. Gadis itu bangun paling awal. Pemandangan di sekitar menunjukkan yang lain masih tidur. Sepertinya dia juga yang menyiapkan penggugah selera pagi ini pada nakas teman-temannya. Dormitory tidak mungkin ada pelayanan semacam ini.
Anggukan kecil Laras, menghantarkan Rio memasuki kamar mandi. Laras melanjutkan aktivitasnya menyisir rambut. Nana mulai bergerak dan langsung menyeruput kopi di sampingnya. Setengah sadar mengabaikan yang lain.
Sebelum Nana, sebenarnya Leandra telah lama membuka mata. Pemuda itu terbangun menatap Laras di depannya. Melihat cara gadis itu merapikan rambut lalu mulai mengikatnya. Ikatan kuncir kuda. Rambutnya bukan hitam, lebat, dan lurus, sama sekali bukan. Tampak bergelombang kecil alami berserakan, namun menarik.
__ADS_1
Deg ... deg ... deg ...
Seolah mendengar suara detak jantungnya sendiri, Leandra spontan menggerakkan tangannya memegang dada.
“Tunggu, bukankah dia gadis minimarket?” tanyanya pada diri sendiri.
Leandra tidak pernah benar-benar menatap penjaga minimarket langganannya di malam hari yang berakhir 3 bulan lalu karena kebodohannya sendiri. Penjaga itu selalu mengenakan masker wajah dan hanya sedikit bicara. Tapi, dia hafal betul bentuk ikatan rambut termasuk pita rambutnya, sama persis. Pemuda itu beranjak ingin memastikan.
"Hai, setelah ini giliranku!" seruan Nana mengagetkan, membuyarkan niat Leandra.
Baru saja Rio keluar, Nana bergegas lari ke kamar mandi. Pasti Nana berpikir Leandra bangun untuk menyela kamar mandi. Teriakan Nana sekaligus membuat Martin terbangun. Martin protes dan suasana mulai ramai oleh omelan Martin kepada Nana dan sebaliknya. Sebenarnya saat ini adalah waktu sahur. Bukan waktu bangun untuk Martin.
***
Penampilan Laras tampak segar. Hampir tidak ada yang mengira bahwa semalam dia tak sadarkan diri. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Sehabis sahur tadi mereka kembali tidur dan baru berkumpul di lobi setelah beberapa saat menunggu Martin sarapan pagi.
Seakan sudah terkomando, mereka memasuki mobil Martin dan menempati posisinya masing-masing. Kali ini giliran Leandra yang sudah siap di kursi pengemudi. Spontan Laras duduk di kursi depan menemani Leandra. Yang lain mencoba memastikan apa Laras tidak masalah dengan pilihannya. Laras meyakinkan bahwa dia sudah baikan. Mobil putih itu melaju dengan santai ditemani Just the Way You Are, milik Bruno Mars.
"Kita berhenti di Lawang Sewu! Kalian setuju?" seru Nana. Semua setuju. Sayangnya, rencana itu tidak terealisasikan. Karena pertimbangan waktu, mereka memilih meneruskan perjalanan.
"Terserah, yang pasti aku turun di terminal Bungurasih, supaya mudah cari bus Malang," jawab Rio.
Rio berasal dari Malang. Pemuda itu memiliki kakak laki-laki di Jakarta, seorang publik figur yang menikah dengan kalangan artis. Itu sebabnya follower Instagram Rio tidak bisa diabaikan. Padahal hanya ada 5 foto yang menunjukkan dirinya di laman IG tersebut. Selebihnya adalah gambar arsitektur karyanya atau interior favoritnya. Kadang dia membuat perkakas unik hasil tangannya dan di-posting di IG.
Wajah tampan khas Indonesia, postur tubuh tinggi, bermata coklat, dengan garis tegas pada dagunya, membuat Rio tak kurang sedikit pun. Hidungnya mancung mirip sekali dengan kakak laki-lakinya yang wira-wiri di stasiun TV. Pemuda ini kabarnya juga telah menerima tawaran memainkan film romansa tanpa audisi. Seperti masa muda kakaknya yang bersinar di film sejenis. Sayangnya, semua tawaran itu dia tolak bahkan dihindari jauh-jauh.
'Aku bukan aktor, jika butuh aktor silakan hubungi kakakku' jawaban itu menjadi rumor yang beredar di kampus UI. Bahkan rumor itu semakin hangat setelah situs berita online memberitakan dirinya dengan judul 'Arsitek Tampan, Adik dari Aktor Nik**as, Telah Menolak Tawaran Menjadi Pemeran Utama bla bla bla'.
Artikel itu terkesan dilebih-lebihkan. Itu sebabnya, Rio benar-benar tidak ingin menjadi seperti kakaknya yang tidak memiliki privasi hidup. Damai, tenang, walau dari kebahagiaan kecil adalah harga yang mahal untuk kakaknya di mata Rio. Alasan dikejar-kejar rekan kakaknya membuat dirinya memutuskan untuk tinggal di apartemen sendiri, menghindar dari semuanya.
***
"Laras kamu turun mana?" tanya Martin.
"Aku dari Trenggalek, jadi di Bungurasih aja," Laras menjawab.
"Atau kita lewat Trenggalek saja?" seru Nana.
__ADS_1
"Iya sih, kalau lihat di map, mau ke Surabaya atau ke Trenggalek waktu tempuhnya sama," ucap Leandra.
"Dari Surabaya berarti kamu akan naik bus lagi, ya?" tanya Rio.
"Iya," jawab Laras.
"Menuju Trenggalek dari Surabaya itu 5 jam," jelas Rio. "Kalau tidak keberatan sebaiknya lewat Trenggalek saja, sekalian mengantar Laras. Aku juga bisa ke Malang naik kereta atau bus dari Tulungagung," lanjut Rio.
"Sayangnya, jalannya agak rawan untuk wilayah Ponorogo. Pegunungan dan perbukitan," Laras menyahut.
"Aku sudah terbiasa dengan itu, jangan khawatir!" Leandra meyakinkan.
Saat itu pula mereka memutuskan untuk mengantar Laras sampai rumah. Laras segera memberi kabar pada ibunya. Dia mengatakan mungkin teman-temannya akan menginap semalam di sana. Itu artinya mereka akan salat Ied di Trenggalek, kampung Laras.
Laras meyakinkan apakah pilihan mereka tidak masalah. Nana sempat mempertimbangkannya, tapi tujuannya ke Surabaya adalah menuju rumah induk kakek neneknya, keluarga kampung Arab yang mudah ditebak tradisi Lebarannya. Jadi, mencoba hal baru, kenapa tidak?
[1] Dormitory adalah salah satu tipe kamar yang disediakan guest house atau hostel. Penghuni dormitory diisi beberapa orang yang belum saling mengenal sebelumnya. Biasanya, dormitory diisi 4 sampai 10 orang yang tidur dalam ruangan yang sama. Penghuni dormitory dituntut toleransi yang sangat tinggi, seperti tidak merokok atau berisik di dalam ruangan. Dormitory sangat populer di kalangan backpacker karena tarifnya lebih murah.
.
.
_______________________
Hello sahabat, bantu saya dengan memberi komentar terbaik anda
Masukan pada perpustakaan
Peringatan! Jika buku ini berhenti update DM saya di Instagram
Sampai jumpa di hari yang indah
Nama Pena: dewisetyaningrat
IG & FB: @bluehadyan
Discord: bluehadyan#7481
__ADS_1