
"Gila! Ini enak sekali!"
Lupa di luar sana ada suara takbir pertama bersahut-sahutan, tanda Idulfitri sudah datang dan siap disambut esok pagi.
Sekelompok anak muda ini berlarian, penasaran dengan genderang tabuhan unik yang sebelumnya sempat mereka dengar.
"Kalau mau melihat lebih jelas sebaiknya berjalan keluar gang, di depan sana ada tanah lapang biasanya akan ada yang menyalakan kembang api dan mercon di sana," Selaras memberi tahu ketiganya, tiga anak kota yang penasaran tersebut adalah Rio, Nana, dan tentu saja Martin.
Kenapa hanya tiga? Sebab yang satu masih duduk mengamati mangkuk-mangkuk makan yang memang belum sepenuhnya habis. Entah apa yang membuat Leandra mengamati mangkuk-mangkuk tersebut? Pada gerakan Laras yang mulai menelusuri wadah bekas-bekas yang berserakan, ibu gadis ini datang.
"Laras," dalam suara sopan namun terdapat patahan tanda perintah.
"Injeh, Buk,"[1] Laras buru-buru berjalan menyambut panggilan ibunya.
"Tidak sopan membersihkan wadah makanan ketika masih ada tamu yang makan," sebenarnya kalimat ini berbahasa Jawa. Laras mengangguk mengiyakan ibunya, dalam aturan tidak tertulis tradisi masyarakat Jawa ‘tamu adalah raja’, dan tidak diperkenankan ada tindakan yang seolah membuat para tamu tidak nyaman.
"Sampean sakniki ibu kongkon neng omahe Lik Manto, kancamu akeh lanange. Ora apik, neng omah iki ora ono tiang jaler seng ngewangi nunggoni,"
(Kamu sekarang ibu mintain tolong ke rumahnya Paman Manto, temanmu mayoritas laki-laki, tak baik, di rumah ini tidak ada seorang pria yang membantu menjaga,)
"Sampun madol Pak RT tho, Buk?"
(Sudah memberi tahu pak RT –kah, Bu?)
"Sampun. Oh, ojo nganti kelalen, nyilih selimut,"
(Sudah. Oh, jangan sampai lupa, pinjamkan selimut sekalian,)
"Njih, Buk," gadis ini beranjak dari tempat berdirinya, melewati Leandra yang masih bertingkah aneh mengamati mangkuk demi mangkuk sama seperti tadi.
.
__ADS_1
.
Ibu Selaras akhirnya tidak tahan, bagaimana bisa pemuda itu masih melakukan hal yang sama sejak tadi? Mungkin dua puluh menit telah terlewati. Akhirnya ibu berbaju sederhana, rok di bawah lutut, hem seadanya, dan rambut digelung ini mendekati pemuda tertegun.
"Oh, Gusti," gumamnya dalam hati, baru menyadari apa yang dibingungkan pemuda ini.
Dulu, ketika almarhum bapak Selaras masih ada, hal yang sama terjadi pada beliau, sebab jari bapak Selaras tidak lengkap. Kelingkingnya terpotong tanpa sengaja karena sabitan celuritnya sendiri ketika mencari rumput. Jadi, beliau kesulitan makan menggunakan tangan.
Dari awal berebut makanan, Leandra makan paling lambat sebab pria tinggi tegap ini tidak mampu menggenggam dengan benar, dia menjimpit dengan ibu jari dan dua jari lain yaitu telunjuk serta jari tengah. Bisa dibayangkan betapa kikuk dan kesulitannya dia menjimpit sesuap makanan.
Ibu Laras buru-buru lari ke dapur, perempuan yang terkesan berusia lebih dari 40 tahun ini meraih tangan Leandra dan tanpa bicara meletakkan sendok pada telapak tangannya.
Ada senyum terbit di wajah Bu Sumi, nama ibu Selaras. Agaknya perempuan ini tahu, Leandra sedari tadi mengamati mangkuk lamat-lamat karena ingin merasakan sayuran berkuah, akan tetapi dia tidak tahu cara makan dengan tangan ketika makanan tersebut berkuah. Leandra tak seahli yang lain, yang mampu menyuap makanan dengan kelima jari mereka.
Leandra terlihat canggung dan malu sekali.
"Ayo diterusno makannya," campuran bahasa Jawa dan Indonesia yang terdengar sangat halus. Entah apa yang terjadi, membuat getaran dalam hati Leandra.
"Oh, sampean preso-," ibu Laras mengerutkan keningnya mencari kata yang lain, "Kamu tahu ini sayur apa?" bahasanya sudah standar Indonesia tapi logatnya konsisten Jawa Timur Kulonan.
Otomatis Leandra menggeleng, mana mungkin Leandra tahu apa itu sayur lodeh lompong talas. Kuah berwarna putih seperti sayur kuah untuk anak balita yang tidak suka pedas, tapi ketika kuah tersebut menyentuh lidahnya, terasa ada rasa pedas, gurih santan, dan rempah unik, meluber bersama batang yang empuk lumer berbentuk tabung.
"Ini unik, tapi enak," Leandra memuji hasil karya ibu Selaras. Perempuan yang dipuji tersenyum anggun, walau penampilannya demikian sederhana. Lagi-lagi sesuatu di dalam hati Leandra ikut bergetar, tersentuh oleh keramahan ibu Laras.
Perempuan Jawa ini buru-buru menawarkan jenis sayuran lain, "Sampean, Oh-," menyadari salah ucap, ibu Selaras mengganti dengan kata lain, "Kamu tidak ingin mencoba yang ini?"
"Itu cabai besar? Aku tidak bisa makan pedas," tutur Leandra.
"Dicoba saja," ibu Selaras meletakkan oseng kulit melinjo di atas piring Leandra,
"Hee ... tidak pedas," katanya sambil berbinar memasukkan sesuap nasi lagi pada mulutnya.
__ADS_1
"Apa namanya?" berawal dari makanan seorang Ibu Sumi, wanita kampung yang minim kemampuan berbahasa Indonesia dan seorang pemuda metropolitan yang kesulitan memahami logat bahasa Jawa menjadi akrab seketika. Mereka bertukar komunikasi dengan bahasa se-mengertinya dan sepahamnya, akan tetapi lebih dari hangat untuk saling menanggapi.
"Boleh saya membantu, um ... membereskan ini?" Leandra menawarkan diri.
"Mboten usah," penolakan Bu Sumi tak berarti, Lendra bangkit dari duduknya dan membuntuti ibu Selaras dengan membawa bekas-bekas piring termasuk mangkuk sisa makanan.
Bahkan pria ini turut serta duduk di tepian timba besar dikelilingi dua bak, alat pencuci piring sederhana.
Leandra mengamati dengan takjub, timba besar itu diletakkan di atas batu bata merah yang dilapisi semen ala kadarnya, di mana pada ujungnya terdapat keran air dari plastik yang merupakan modifikasi sendiri. Ketika keran diputar, maka air akan mengalir layaknya keran wastafel meluncurkan air, sehingga wadah bak di bawahnya akan menjelma sebagai cekungan wastafel itu sendiri.
"Kau ingin membantu, Le? (Thole/nak/anak)" mendengar ucapan Bu Sumi, Leandra yang sedang duduk pada dingklik kecil asyik mengamati kearifan lokal menakjubkan ini, mengangguk.
"Nyalakan saklar itu, lalu timba-kan air untuk ibu,"
Leandra berdiri, ternyata setelah saklar ditekan, lampu yang tadinya temaram kuning, kini ditambah lampu lain sehingga terasa menyala lebih terang. Tak jauh di hadapannya terdapat sumur berbentuk lingkaran dengan pembatas setinggi pinggang. Leandra mendekat, lebih dekat lagi dia mengintip, lalu dengan berhati-hati meraih timba di atasnya, kemilau air yang dasarnya hitam terpancar, "Bu," suara itu terdengar mirip keluhan anak manja, "Apa di bawah tidak akan ada hantunya?"
Ibu Selaras tidak bisa menahan tawa, perempuan sederhana ini berucap dengan kalimat berbahasa Jawa, "Enten, rambut-ipun panjang saestu, ananging tasik ngedeni nesune ngendukku, Selaras,"
(Ada, rambutnya panjang, sungguh, akan tetapi lebih menakutkan marahnya putriku, Selaras,)
Karena Leandra tak paham, dia berpikir kata 'enten' adalah 'entah', maka pemuda ini percaya diri saja, menurunkan timba dan menariknya ke atas, sejalan kemudian mengisi timba besar yang dia sebut wastafel portabel.
***
"Hai, mau ke mana?" Langkah lari pemuda bernama Rio mengiringi jalan ringan Selaras menuju ke rumah tetangganya yang biasa dia panggil Lik Manto.
"Boleh aku ikut?" Rio baru saja bermain dengan anak-anak kampung bersama Nana dan Martin. Tanah lapang dekat mushola perkampungan demikian indah. Bukan karena hiasan, tapi tawa anak-anak yang berkumpul jadi satu memainkan kembang api dan bambu-bambu hijau yang bisa mengeluarkan bunyi keras sekali mirip bom molotov.
"Ayo!" Laras mengiyakan dan Rio menganggukkan kepala.
[1] Injeh : Iya
__ADS_1