Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor Bab 21


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.


Vira langsung turun dari mobilnya dan membiarkan supirnya memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.


Vira berdiri menunggu, Indah dan Feri turun dari mobil mereka.


"Ayo masuk!" Vira berjalan lebih dulu dengan diikuti oleh Indah dan Feri di belakangnya.


Feri masuk ke dalam rumah yang dulu pernah itu sambil terus mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.


"Indah, Ibu pasti ada di dalam kamarnya. Ayo kita temui dia," ucap Vira saat mereka sudah berada di dalam rumah.


Indah langsung mengikuti langkah, Vira! Feri juga ikut mengekor di belakang, Indah!


"Kamu gak usah ikut," ucap Vira kepada Feri.


"Kenapa? Saya juga ingin melihat keadaan, Ibu Vina," sahut Feri.


"Ibu gak mau ketemu sama kamu. Ibu maunya ketemu sama, Indah."


Vira berucap dengan nada bicaranya yang tinggi.


Feri menghentikan langkahnya dan membiarkan, Vira dan Indah pergi menemui, Vina.


"Baiklah. Pastikan, Indah baik-baik saja kalau tidak, kamu dan Ibumu orang pertama yang akan aku cari," ucap Feri.


Feri tak ingin membuat keributan di rumah itu akhirnya dirinya memilih pergi untuk melihat sekitaran desa!


"Ayo, Indah!" Vira menarik tangan, Indah dan membawanya masuk ke dalam kamar Ibunya.


Di luar rumah, Vina.


Feri berjalan melihat-lihat keadaan di sekitar rumah itu.


"Kang Asep," ucap Feri sembari berjalan menghampiri Kang Asep yang sedang duduk di depan rumahnya.


Asep menatap, Feri tanpa berkedip. Dirinya tak begitu mengingat pemuda yang barusan memanggil namanya.


"Kang, apa kabar?" tanya Feri dengan senyum ramah.


Feri segera menyalami laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu.


"Saya baik-baik saja. Aa siapa ya?" ucap Asep penuh kebingungan.


Sudah sangat lama sejak, Feri meninggalkan rumah orang tua angkatnya itu tapi dirinya tidak pernah lupa dengan orang-orang yang baik kepadanya. Salah satunya adalah, Kang Asep dulu Kang Asep selalu baik dan perhatian terhadap dirinya namun sepertinya karena terlalu lama tidak bertemu laki-laki yang sudah mulai tua itu lupa kepada sosok, Feri yang dulu sering bermain dengannya.


"Ini, Feri Kang. Akang lupa ya sama anak kecil yang suka merengek minta dibuatkan layang-layang?" ucap Feri.


Kang Asep tertawa kecil lalu mengusap punggung, Feri.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Sekarang anak nakal ini sudah tumbuh jadi pemuda dewasa yang ganteng," ucap Kang Asep.


"Akang bisa saja." Feri tersenyum ke arah, Kang Asep.


"Sini, Nak duduk di sini kita ngobrol-ngobrol."


Feri segera duduk di samping, Kang Asep tanpa sedikitpun penolakan!


*******


Di dalam rumah, Vina.


Vina langsung menjambak rambut, Indah dengan keras saat, Indah tiba di kamarnya.


"Heh anak gak tahu diri. Kamu itu mau membuat saya dipenjarakan ya? Kamu mau saya kehilangan uang yang begitu banyak ya?" ucap Vina sembari terus mencengkram rambut panjang milik, Indah.


"Aw, sakit, Bu." Indah meringis kesakitan sambil memegangi tangan Ibu tirinya yang mencengkram rambutnya dengan kuat.


Vira hanya berdiri menatap kejadian itu kedua tangannya dia lipat di dadanya dan senyum jahat terus terukir di bibir gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu kabur dari tempat itu, bodoh? Setidaknya lakukan satu kali saja agar saya tidak teru-terusan dikejar-kejar sama anak buahnya, Pak Rudi!"


Vina mendorong, Indah hingga membuat gadis itu tersungkur ke lantai.


Vira berjalan mendekati, Indah! Dia berjongkok di hadapan, Indah yang kini masih meringkuk di lantai.


"Indah, lain kali jangan main-main sama, Ibu kalau kamu mau hidupmu selamat," ucapnya sambil mencengkram dagu, Indah.


Indah menangis, menahan sakit di kepalanya saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dia tidak pernah melawan setiap perlakuan, Vina dan Vira kepadanya.


"Bu, bukankah harta peninggalan, Ayahku sangat banyak. Kenapa, Ibu tidak menghabiskannya dulu? Ibu tidak harus menjual diriku karena aku bukanlah barang dagangan," ucap Indah.


Plak!


Vina menampar pipi kiri, Indah hingga pipinya berwarna kemerahan.


Indah tak berucap lagi, dia memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan, Vina. Air mata terus mengalir di pipinya.


Indah baru tiba di rumahnya setelah hampir satu bulan dia tidak pulang namun, baru juga dia menginjakkan kaki di rumahnya dia langsung mendapatkan perlakuan yang menyakitkan dari Ibu tirinya dan kakak tirinya.


"Kamu ini anak yang gak tahu diri. Saya sudah mengurus kamu dari kamu masih bayi tapi kamu tidak mau melakukan satu hal pun untuk saya."


"Indah, pokoknya kamu harus mau sama, Pak Rudi itu. Lagian cuma satu kali kok, palingan satu malam," ucap Vira.


"Nggak, Teh. Indah gak akan menyerahkan kehormatan, Indah sama laki-laki itu," ucap Indah sembari menggeleng-geleng kan kepalanya.


Plak!


Tanpa basa-basi, Vira menampar pipi kanan, Indah dengan sangat keras sehingga Indah mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.


"Aaa, sakit. Kenapa kalian begitu membenciku, apa salah aku pada kalian?" Indah menangis deras saat setelah mendapat tamparan dari kakak tirinya itu.


*******


Di ibu kota.


"Feri kemana kok dia gak ada di ruangannya?" tanya Firman kepada Rendi.


"Feri pergi ke Bogor, Pa," ucap Rendi.


"Ke Bogor, ngapain?"


"Nemenin, Indah."


"Jadi, Vira berhasil menemukan, Tiara?"


"Iya dan sekarang mungkin mereka sudah tiba di Bogor."


"Bagus itu. Besok pagi kita susul mereka untuk membicarakan tentang pernikahan kamu dengan, Tiara."


"Memang seharusnya kita lakukan itu. Baiklah, Pa besok aku akan bersiap untuk menjemput calon istriku."


Firman tersenyum lalu pergi dari ruangan Rendi tanpa kata!


Di ruangannya.


Firman meraih ponselnya yang dia letakan di atas meja lalu menelpon, Vina untuk mengabarkan bahwa dia akan ke Bogor besok pagi.


*******


Drrt!


Drrt!


Drrt!


Baru, Vina ingin menjambak rambut, Indah lagi ponselnya bergetar tanda adanya telpon masuk. Vina pun mengurungkan niatnya untuk menyiksa, Indah lagi dirinya lebih mementingkan menerima telpon dari, Firman itu.


["Halo, Mas,"] ucap Vina setelah dia menerima telpon dari, Firman itu.

__ADS_1


Vina mengibaskan telapak tangannya beberapa kali mengisyaratkan agar, Vira dan Indah keluar dari kamarnya.


Vina yang mengerti dengan keinginan, Ibunya langsung mencengkram lengan, Indah dan membawanya ke ruangan lain di rumahnya!


["Iya, Mas ada apa? Maaf aku kurang fokus karena aku sedang tidak enak badan,"] ucap, Vina.


["Besok saya dan Surya mau ke Bogor untuk menjenguk kamu dan sekalian untuk membicarakan tentang pernikahan, Surya dan Tiara."] ucap Firman dari sebrang telpon.


["Tapi, Tiara ...."] Vina menggantung ucapannya dia berpikir sesuatu.


["I_iya, Mas kalian datang saja kebetulan, Tiara sedang ada di rumah,"] sambung Vina.


Tadinya, Vina ingin mengatakan bahwa, Indah tidak ada di rumah namun niatnya dia urungkan karena, Firman pasti tahu bahwa sekarang, Indah sedang berada di rumah karena sebelumnya, Vira mengatakan kalau dia akan mencari, Indah.


["Baiklah, sampai bertemu besok."]


Vina menarik sambungan telponnya lalu segera keluar dari kamarnya untuk bicara pada, Vira dan Indah!


*******


"Kang, suasana di kampung enaknya," ucap Feri.


"Ya enak gak enak sih. Kadang, Akang sendiri ingin pergi ke Jakarta untuk berlibur karena bosan setiap hari mainnya di sawah terus," sahut, Kang Asep.


"Kenapa gak ke sana, Kang?"


Kang Asep tertawa kecil, "saya takut nyasar," ucap, Kang Asep.


Feri tertawa saat mendengar perkataan, Kang Asep barusan.


"Kenapa diketawain atuh? Selama ini, Akang kan belum pernah ke Jakarta."


"Maaf-maaf, Kang. Ya udah kalau gitu nanti aku ajak, Akang keliling Jakarta ya."


"Beneran?" Asep terlihat sangat bahagia saat, Feri mengatakan akan membawanya berkeliling Jakarta.


"Iya, Kang. Nanti kalau udah ada waktunya, saya akan ajak, Akang ke Jakarta."


"Wah, terimakasih atuh, Nak."


*******


Vina melemparkan saputangan kepada, Indah!


"Ambil ini dan bersihkan lukamu," ucap, Vina kepada, Indah.


Indah langsung mengambil saputangan yang tergeletak di lantai sedangkan, Vira menatap sang Ibu dengan penuh tanya.


Indah langsung pergi ke dapur untuk membersihkan lukanya!


"Ibu sedang tidak mabuk kan?" tanya Vira.


"Tentu saja tidak. Besok, Om Firman akan datang ke sini untuk membicarakan tentang pernikahan, Indah dan anaknya," jelas Vina.


"Kenapa dibiarkan ke sini, Bu. Aku suka sama, Surya pokoknya aku yang harus menikah dengan anaknya, Om Firman."


"Ibu tidak bisa berkata apa-apa. On Firman tahu kalau sekarang, Indah ada di rumah. Kamu sendiri yang memberitahu mereka."


Vira terdiam, memang dirinya lah yang memberitahu, Firman kalau dia akan membawa, Indah pulang.


"Sudahlah, Ibu mau pergi dulu, Ibu mau menemui anak buah, Ibu."


"Kenapa tidak telpon mereka saja? Ibu tidak perlu capek-capek nyamperin mereka."


"Kamu pikir mereka pilunya wi_fi? Kamu tahu kan di kampung kita ini tidak ada sinyal?"


Vira tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal!


"Aku lupa kalau ternyata kita bisa menggunakan internet dengan menggunakan wi_fi."

__ADS_1


Vina langsung pergi dari hadapan, Vira! Tanpa berkata sesuatu apapun terhadap, putrinya itu! Dia harus membatalkan rencana yang sudah dia buat bersama, Sukri, Basri dan Deni.


Bersambung


__ADS_2