
Hari ini keluarga Rendi tengah bersiap untuk pergi ke kampung. Minggu lalu Indah bercerita pada Rendi, kalau ia menangis karena merindukan kedua orang tuanya. Rendi adalah suami yang baik dan perhatian pada istrinya, makanya ia meluangkan waktu ditengah kesibukannya untuk mengantar Indah berziarah ke makam ayahnya.
"Pa, kita udah siap nih. Ayo, nanti keburu siang," ucap Rendi pada Firman.
"Iya, Nak. Oya, Feri mana?" ucap Firman.
"Emang, "A Feri ikut juga?" tanya Indah.
"Feri juga ikut. Soalnya nanti kita juga akan ngecek lahan yang mau, Papa beli," jawab Firman.
Setelah mengetahui bahwa, Firman adalah, Papa kandungnya. Feri tetap bekerja seperti biasanya, mereka hubungan mereka tetap baik seperti sebelumnya. Saat ini, Rendi belum tahu tentang siapa sebenarnya, Feri karena, Firman belum memberitahunya.
Entah akan bagaimana hubungan mereka setelah, Rendi tahu yang sebenarnya. Feri sendiri belum siap untuk menerima kemungkinan terburuk setelah, Rendi tahu semuanya.
"Tuh, orangnya udah nongol. Baru juga di omongin," ucap Rendi.
"Assalamu'alaikum. Udah pada nunggu ya?" ucap Feri.
"Fer, kamu udah sarapan, belum? kalau udah kita langsung aja yuk!" ucap Rendi.
"Udah, tadi. Oke ayo berangkat!" ucap Feri sembari berjalan menuju mobil.
Mereka segera berangkat ke tempat yang akan dituju!
Selama perjalanan, Feri tak bersuara sana sekali. Dia terus membayangkan bagaimana jika nanti semuanya sudah terbongkar, dirinya takut di benci oleh sahabatnya sekaligus Bosnya itu.
*******
Saat ini, Tari tinggal bersama dengan, Feri di rumah milik, Feri. Sebenarnya dia sendiri punya rumah namun, Feri menolak untuk tinggal di rumahnya dengan alasan rumahnya berjarak lebih jauh dari kantornya.
"Tari, apa suamimu sudah membicarakan tentang ini kepada putranya?" tanya, Bu Salma.
Tari dan Salma memang sudah bersahabat sejak lama, mereka berdua sering membagi keluh-kesah masing-masing.
"Katanya sudah tapi dia belum memberitahu bahwa, Feri lah anak yang selama ini dia cari," sahut, Tari.
"Kenapa? Jangan ditunda-tunda sebelum dia tahu dari orang lain."
"Karena selama ini, Feri adalah asisten pribadinya, Rendi, anaknya, Mas Firman."
"Apa, jadi mereka sudah saling kenal sejak lama?"
"Iya, Mas Firman khawatir kalau nantinya hubungan mereka akan rusak."
"Bicarakan pelan-pelan, aku yakin anaknya, Mas Firman bisa menerima kalian."
"Aku tidak berharap bisa kembali bersama, Mas Firman lagi, Sal. Yang terpenting buatku adalah, Feri. Jika anak itu tidak mau menerima ku, aku tidak masalah yang penting dia menerima, Feri sebagai adiknya."
*******
Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka tiba di tempat pemakaman, Ayahnya, Indah.
Saat ini, mereka sudah berada di samping makam ayahnya, Indah.
Indah duduk sambil memeluk nisan yang bertuliskan nama Ayahnya itu.
"Ayah, aku rindu," lirih Indah didalam hati kecilnya.
Sementara Indah menghapus rindunya, Rendi, Feri dan Firman berdoa untuk ayahnya Indah.
__ADS_1
Dua puluh menit mereka menunggu Indah. Akhirnya Indah beranjak dari tempat duduknya!
"Udah selesai, 'Ndah?" tanya Feri.
Indah mengangguk! "Maaf, membuat kalian menunggu lama," lirih Indah.
"Gak apa-apa. Sekarang, kamu mau ikut gak, ngecek lahannya?" tanya Rendi.
"Ikut aja. Lagian kalau gak ikut, mau sama siapa di sini?" ucap Firman.
"Ayo, kita berangkat! tempatnya masih jauh loh, dari sini," ucap Feri.
Indah segera menghapus air matanya yang membasahi pipinya dengan telapak tangannya.
Mereka segera bergegas menuju tempat yang akan mereka tuju!
Feri melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati, karena kondisi jalan yang rusak parah dan terjal.
"Masih jauh, Fer?" tanya Firman.
"Masih, om. Kan kemarin aku udah bilang, tempatnya jauh dari pedesaan," sahut Feri.
*******
Ditengah hutan lebat, seorang wanita paruh baya itu tengah terbaring lemas di gubuknya.
Sudah satu minggu, Sari sakit dan dia tidak bisa melakukan aktivitasnya. Dia hanya bisa berdiam diri sambil berdoa semoga saja ada yang menolongnya dari penjara penuh siksaan itu.
Sebenarnya, Sari sudah meminta tolong pada orang yang bertugas menjaga, Sari di sana namun orang itu mengabaikan permintaannya padahal dirinya hanya meminta obat tanpa harus dirinya dibawa ke rumah sakit.
Saat ini tak ada makanan atau minuman yang tersedia di tempatnya, karena sudah seminggu ia sakit dan persediaan makanan dan minumannya sudah habis.
*******
Setelah melewati jalanan yang rusak dan licin akhirnya mereka sampai juga. Feri memarkirkan mobilnya lalu mereka semua segera turun dari mobil!
"Akhirnya, sampai juga," ucap Rendi.
Indah mengedarkan pandangannya ke semua arah!
"Ini kan, tempat ... "
"Kenapa, Indah?" tanya Feri.
"Ng_nggk, gak apa-apa kok, 'A," sahut Indah.
"Ayo, kita keliling tempat ini," ucap Firman.
Mereka berkeliling bersama, menyusuri setiap sudut hutan yang akan Firman beli.
"Pa, ini hutan. Buat apa dibeli?" ucap Rendi.
"Iya, Om. Kita cari tempat lain aja, buat bangun pabriknya," sambung Feri.
"Kita, liat-liat aja dulu, siapa tahu cocok buat bangun villa disini," sahut Firman tanpa menghentikan langkahnya.
"Mas, aku takut," ucap Indah pada Rendi.
"Takut apa? jangan takut kan ada aku," sahut Rendi sembari merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
"Lihat, ternyata ada danau juga," ucap Firman.
"Danau itu, tidak termasuk ke tempat yang akan di jual, Om," ucap Feri.
"Yah, sayang banget. Padahal kalau kita bangun villa disini pasti menyenangkan, karena ada danaunya juga," ucap Firman.
"Ya udah, kita pulang yuk!" ajak Rendi.
"Hhhh, yasudah. Ayo, kita pulang," sahut Firman.
Mereka pun segera bergegas untuk pulang! namun baru beberapa langkah Feri melihat ada sebuah gubuk ditengah hutan yang lebat seperti ini.
"Tunggu-tunggu!" ucap Feri sembari menghentikan langkahnya.
"Ada, apa?" tanya Indah.
"Lihat, disana!" ucap Feri sembari menunjuk ke arah gubuk itu.
Firman, Indah dan Rendi menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Feri!
"Ada, apa?" tanya Firman.
"Itu, Om, ada gubuk yang berdiri disebelah sana!" ucap feri.
"Terus kenapa, kamu mau apa?" ucap Rendi.
"Aku kebelet. Kita ke sana yuk! bentar aja," ucap Feri.
"Nggak-nggak. Kita gak tahu ya, gubuk itu ada penghuninya atau nggak, jangan-jangan ada setannya lagi," ucap Rendi.
"Ish, kamu ini. Jangan bicara sembarangan," ucap Indah.
Karena gak mau mendengar percekcokan mereka akhirnya Firman mengiyakan keinginan Feri, dan sebenarnya ia juga penasaran mengapa ditengah hutan seperti ini ada sebuah gubuk.
Mereka pun segera berjalan menuju gubuk itu!
Setelah sampai di tempat itu mereka merasa heran karena tempatnya rapi dan bersih seperti ada orang yang menempati gubuk itu.
"Tempatnya bersih. Mungkin gak ya, ada orang yang tinggal di gubuk ini?" ucap, Rendi.
"Iya, meski bangunannya sudah tua tapi terurus. Mungkin saja gubuk ini memang ada yang menempati," sambung, Indah.
"Mana ada orang yang mau tinggal sendirian di tengah hutan seperti ini. Kamu jangan ngaco deh, 'Ndah," ucap, Feri.
Firman mencoba mengetuk pintu yang tertutup rapat itu namun berkali-kali mencoba mengetuk tidak ada respon dari orang yang ada didalam bangunan tua itu.
"Permisi!" seru, Firman sembari melipir ke samping bangun!
"Gak ada orang kayaknya deh."
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Judul: Cintai Aku Istriku
Karya: Mom Al
Jangan lupa mampir ya, Teman-teman. Ceritanya pasti seru dan gak ngebosenin dibacanya.
__ADS_1