
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan lama, Rendi tiba di rumah, Sari. Di sana masih ada, Feri yang baru akan masuk ke dalam mobilnya setelah dia mengotori rumah itu.
Feri menatap, Rendi yang sedang turun dari mobilnya lalu dia menghampiri, Rendi.
"Ngapain lo ke sini lagi?" tanya, Feri.
"Gue gak bisa membiarkan lo sendirian melawan mereka," sahut, Rendi.
"Gue tidak melawan mereka. Gue hanya melakukan apa yang seharusnya gue lakukan."
Rendi hanya diam dalam posisi berdiri di tempat semula, sebenarnya dia khawatir terhadap, Feri karena biar bagaimana pun juga, Feri adalah orang terdekatnya sebelum dirinya mengetahui bahwa ternyata, Feri adalah adiknya.
"Mereka akan tiba di sini sebentar lagi. Ayo kita pergi dari sini," ucap, Feri karena, Rendi hanya diam dalam seribu bahasa.
"Lo duluan, gue ikuti lo dari belakang," ucap, Rendi.
Feri pun langsung masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya ke suatu tempat. Rendi mengikuti kemana arah mobil, Feri melaju, dia tak ingin membiarkan, Feri pergi sendirian.
Setelah tiba di tempat yang tak jauh dari rumah, Sari. Feri memarkirkan mobilnya dan dia turun dari mobilnya!
"Mau kemana lo?" tanya, Rendi yang masih duduk di kursi mobilnya.
"Gue mau nangkap penjahatnya lah, mau ngapain lagi."
"Gue ikut!" Rendi turun dari mobilnya lalu berjalan menghampiri, Feri.
"Lo yakin?"
"Iya, yakin lah. Masa bercanda."
Feri tak menjawab lagi perkataan, Rendi, dia berjalan me tempat dimana dia bisa melihat orang-orang suruhannya, Vina itu datang ke rumah, Ibunya Indah!
Rendi tak membuka suaranya lagi, dia terus berjalan mengikuti, Feri!
Tak lama setelah, Feri dan Rendi tiba di tempat persembunyiannya. Orang-orang suruhannya, Vina itu tiba di depan pintu gerbang rumah, Sari, mereka mendobrak gerbang itu dengan menabraknya dengan menggunakan mobil mereka.
Mereka memasuki rumah itu dan mencari, Sari di setiap ruangan!
"Sepertinya rumah ini memang kosong," ucap, Sukri.
"Iya, lihat saja rumah ini kotor dan tidak terawat," Timpal, Deni.
"Mungkin, Sari memang sudah mati."
"Siapa yang sudah membawa wanita itu dari hutan? Jika dia adalah orang yang membunuh, Sari, untuk apa dia membawa, Sari ke kota terlebih dahulu," ucap laki-laki yang bertugas menjaga, Sari di hutan itu.
"Kita coba cari dia ke rumah, Pak Firman. Bu Vina mengatakan bahwa, Sari sangat dekat dengan laki-laki yang bernama, Firman itu," ucap, Basri.
__ADS_1
Di tempat persembunyian, Feri dan Rendi.
"Lo yakin mau menangkap mereka?" tanya, Rendi sembari terus memperhatikan orang-orang itu.
"Yakin. Gue sangat yakin," sahut, Feri.
"Mereka ada lima orang sedangkan kita hanya berdua."
"Kenapa, lo takut?"
Selama ada lo, gue gak pernah takut."
"Itu artinya lo siap melumpuhkan mereka."
Rendi menganggukkan kepalanya dengan mantap. Selama ini, Feri memang selalu menjadi andalannya dalam situasi apapun termasuk dalam situasi terburuk sekalipun.
*******
Di kediaman, Firman.
"Rendi dan Feri tidak bisa dihubungi, Indah," ucap, Firman pada, Indah yang dari tadi sudah menangis karena khawatir terhadap, Rendi.
Firman juga tak kalah khawatirnya dari, Indah. Karena kedua anaknya itu sama-sama tak bisa dihubungi, Firman berpikir mungkin mereka berdua sedang berduel karena sama-sama tak ingin mengalah.
"Di mana mereka?" gumam, Firman.
"Jangan dulu, kita tidak tahu dari kapan, Rendi menghilang. Mungkin saja baru tadi subuh dia pergi dari rumah."
"Aku sangat khawatir, perasaanku tidak enak."
"Kamu sabar, ya. Jangan menangis terus, Rendi itu laki-laki dia pasti bisa membuat jaga dirinya sendiri."
Indah terus menangis meski, Firman sudah membujuknya untuk tidak menangis.
Firman kembali menelpon, namun kini dia tidak menelpon, Rendi ataupun, Feri. Saat itu, Firman menelpon, Tari untuk menanyakan apakah, Feri ada di rumah atau tidak.
[Halo, Mas,] ucap, Tari dari sebrang telpon.
[Tari, aku mau tanya. Feri ada di rumah atau tidak?] tanya, Firman.
[Tidak, Mas. Bukannya,Feri ke Bogor ya, katanya tugas kantor. Dia baru akan pulang sore ini.]
"Tugas kantor? Tapi tidak ada tugas luar kota untuk dia dan lagi tidak ada bekerja di hari minggu seperti sekarang ini."
"Apa! Lalu anakku pergi ke mana dan mau apa dia pergi?" Tari mulai khawatir saat tahu tidak ada tugas luar kota untuk putranya.
"Kamu jangan khawatir, aku akan menanyakannya pada, Rendi mungkin, Rendi yang memberikan tugas itu." Firman berpura-pura tenang padahal dirinya juga khawatir apalagi setelah tahu bahwa, Feri juga tidak ada di rumahnya.
__ADS_1
"Kalau ada kabar, tolong hubungi aku ya, Mas."
"Iya, kamu tenang saja ya." Firman mematikan sambungan telponnya setelah selesai bicara dengan, Tari.
Sedari tadi, Indah terus memperhatikan, Firman yang sedang menelpon itu, Firman pun tidak sembunyi-sembunyi lagi dari, Indah saat menelpon, Tari.
*******
"Fer, kalau gue kenapa-kenapa tolong maafkan gue ya," ucap, Rendi.
"Lo ngomong apa sih? Kita harus berhasil menangkap setidaknya satu dari mereka, agar kita bisa mencari bukti kuat untuk menjebloskan, Bu Vina ke penjara. Lo dan gue harus pulang selamat karena lo punya, Indah dan Om Firman yang sayang sama lo dan gue juga gak mau pulang tinggal mayat karena, Mama gue masih butuh gue."
Rendi menatap, Feri dengan tatapan penuh arti, tidak ada sedikitpun kebencian dimata, Feri terhadap dirinya tapi dirinya sudah salah menilai, Feri dan juga Mamanya, dirinya sudah membenci mereka.
"Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Pegang ini," ucap, Feri lalu memberikan sebuah pisau kecil kepada, Rendi.
"Apa ini?"
"Dasar bodoh, itu senjata buat lo. Mereka pasti membawa senjata karena mereka memang sudah menyiapkan segalanya. Lo gunakan ini sebagai senjata lo untuk melindungi diri lo dari serangan mereka."
"Terus, lo?"
Feri tersenyum ke arah, Rendi.
"Gue gak butuh itu. Ayo kita jalankan tugas kita dengan baik."
Feri mulai melangkahkan kakinya menghampiri para preman itu yang sedang mengobrak-abrik rumah, Sari.
Rendi berjalan di samping, Feri! Mereka berdua terlihat akur disaat hubungan diantara mereka sedang tidak baik-baik saja. Rasa sayang terhadap orang terdekatnya membuat mereka mengesampingkan urusan pribadi dan bekerjasama untuk memberantas para penjahat yang mencoba ingin membawa, Ibunya Indah pergi dari rumahnya.
Bersambung
Rekomendasi novel yang luar biasa yang bisa kalian baca. Teman-teman yuk mampir ke karya temanku.
Judul: Perjuangan Seorang Anak
Karya: Lenni Masliana Nasti
Blurb:
Dia didera oleh penyakit yang membuat dia harus berjuang keras di tengah ekonomi keluarga yang yang serba kekurangan.
Mengharap keajaiban dari sang Maha Pencipta mengharap mentari bersinar di tengah mendung.
Akankah dia memperoleh kesembuhan?
Akankah mentari kembali bersinar?
__ADS_1