Gadis Cantik Penghuni Bangku Kosong

Gadis Cantik Penghuni Bangku Kosong
BAB 1# GADIS_CANTIK_PENGHUNI_BANGKU_KOSONG


__ADS_3

Kicauan burung terdengar dipagi hari yang membuat gadis berlangga cupu itu terbangun dari tidurnya.


Hari ini adalah hari pertama ia masuk disekolah menengah atas, gadis itu pindahan dari Sulawesi disebabkan ia terpaksa menuruti keinginan sang Ayah demi kelancaran perusahaannya.


Gadis itu tinggal disebuah Apartemen dekat gedung sekolahnya yang konon katanya sering terdengar suara tangisan dimalam hari, bukan hanya tangisan melainkan nyanyian dan bunyi-bunyi lainnya yang sering terdengar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini Mely akhirnya sampai di gerbang sekolah, ia merasakan aura yang cukup dalam sehingga membuat bulu kuduknya pun ikut berdiri merasakan aura yang ada di gedung sekolah itu.


Perlahan Mely memasuki area sekolahnya, terdengar dari cibiran siswa maupun siswi mengenai penampilan Mely yang terlihat cupu.


Datanglah tiga orang gadis dengan pakaian ketat lengkap dengan make'up nya yang terbilang cukup menor, mereka dikenal sebagai bullying. Banyak yang tidak berani melawan ketiga gadis tadi, disebabkan salah satu di antara mereka adalah anak dari Donatur sekolah itu.


Sebut saja namanya Nadia, Riska dan Fatma, mereka adalah ratu bullying di sekolah itu.


"Dasar cupu, pasti masuk kesekolah ini karena bantuan beasiswa ...," cibir Nadia.


Tidak peduli dengan cibiran pedas dari Nadia, kini Mely memutuskan keruangan Pak Kepsek untuk menanyakan dimana letak kelasnya.


Sekitar tiga menit Mely berjalan, akhirnya ia juga sampai, Mely mengetok pintu yang berbahan kayu itu dan terdengarlah suara beban seseorang dari dalam sana.


Kini Mely beralih memegang knop pintunya dan mulai menekennya kebawah setelah itu Mely mendorong pelan masuk pintu itu.


Terdapat Pak Kepsek yang tengah duduk di kursi kekuasaannya sembari membaca semua buku tebal, tetapi Mely tidaklah fokus ke arah Pak Kepsek melainkan fokus ke ke arah rak buku yang dimana terdapat seseorang yang tengah berdiri dengan wajah yang tidak terlalu jelas.


'Siapa dia?' batin Mely menatap wanita yang berambut panjang dan hitam itu.


'Haku Tynahh...,' terdengar suara wanita tadi yang membalas ucapan batin Mely.


"Kenapa dia bisa mendengar ku?" gumam Mely yang masih bisa didengar oleh Pak Kepsek.


Wajah Mely kini nampak pucat setelah melihat ke arah sudut ruangan itu, terdapat gadis yang berseragam putih abu-abu yang tengah duduk dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


"Pak, Dia siapa?" tanya Mely kepada pak Kepsek sembari menunjuk ke arah siswa yang berseragam sama sepertinya.


Pak Kepsek pun langsung menengok kebelakang dan tidak mendapati siapapun, sejenak Pak Kepsek menatap wajah Mely dengan bingung.


"Tidak ada orang lho Nak, ya sudah Kamu ikut Bapak untuk mengantarkanmu ke kelas Mu yah," tutur Pak Kepsek dan mulai berdiri dari kursi kekuasaannya.


Setelah keluar dari ruangan, Pak Kepsek langsung menuntun Mely untuk keruang kelasanya bertujuan untuk memperkenalkan kepada teman-temannya sebelum memulai pelajaran baru.


"Haii teman-teman, perkenalkan nama Saya Melyanda, pindahan dari Sulbar dan panggil Saya aja dengan sebutan Mel atau Mely, semoga kita bisa berteman dengan baik." kata Mely memperkenalkan dirinya, tetapi matanya hanya fokus kepada kursi tengah barisan ketiga.


Mely melihat Siswi tadi di kursi itu, tapi dengan tampilan beda, tadinya ia terlihat pucat pasi sekarang ia terlihat segar bugar lengkap dengan make'up tipis dan rambut terurai, ia terlihat seperti putri dari kerjaan dimasa kuno.


"Haii ...," sorak sapa seluruh temannya.


"Nak, sekarang kamu duduk disana saja yah!" beo Pak Kepsek sembari menunjuk bangku kosong dibagian tengah barisan ketiga.


Sontak Mely langsung bingung dibuatnya, bagaimana mungkin Pak Kepsek ini menyuruhnya untuk duduk di bangku itu, sedangkan jelas jelas bangku itu sudah ada yang menempati.


"Kenapa?" tanya Pak Kepsek.


"Bangku itu sudah ada pemiliknya, nanti Dia akan duduk dimana kalau Saya duduk disana?" jawab Mely.


Semua orang hanya menatap bingung Mely, bahkan pak Kepsek pun juga ikutan bingung, pasalnya Mely mengatakan bahwa bangku itu ada yang nempatin, tapi faktanya bangku itu tidak ada seorangpun, lebih tepatnya disebut dengan bangku kosong.


"Bapak tidak melihatnya?" tanya Mely.


"Jangan ngawur deh, coba Kamu lihat sendiri bangku ini kosong, tidak ada orang sama sekali," tutur Andi.


Andi Reyhan, ia adalah pemimpin kelas yang biasa disebut dengan kata ketua kelas, Andi bersifat ramah kepada siapapun sehingga kelasnya dicap Guru sebagai kelas terpopuler kala siswa maupun siswi yang ada didalamnya tidak membeda-bedakan antar sesama.


"Ada ...," bantah Mely dengan nada yang terbilang sopan.


Mely kini melangkahkan kakinya menghampiri gadis yang duduk dibangku tengah barisan ketiga.

__ADS_1


"Haii ... Apa Kamu mau jadi teman Saya?" sapa Mely kepada gadis itu.


Semua siswa kini makin dibuat heran dengan tingkah laku Mely, kalau Mely menyodorkan tangannya pertanda ia ingin kenalan.


Yang makin membuat mereka heran adalah Mely berkenalan dengan bangku yang tak berpenghuni itu, sedikit orang yang sudah berpikiran bahwa Mely saat ini sudah gila.


"Apa Kamu mau?" tanya balik Mely kepada gadis itu.


"HaHaHa ...," kini ruangan itu dipenuhi dengan tawaan kencang bahkan Pak Kepsek pun ikutan tertawa meskipun tidak kedengaran.


"Mell, Kamu gak usah ngawur, itu bangku kosong. Mana ada orang disana, Kamu kalau mau kenalan gak usah sama angin, mending sama Saya aja kenalannya." tutur Yusuf.


Yusuf Andirga, ia dikenal dengan ketampanannya yang membuat semua cewek ikut mengejarnya, sedangkan Yusuf hanya dikenal dengan sifat kefakboyannya.


"Tapi benaran lho ini, disini ada orang," jawab Mely yang masih tegap diatas kebenaran.


"Duduk saja Nak, lagian disana juga kosong," beo Pak Kepsek.


"Pak, Saya duduk dibelakang cewek ini saja yah Pak," jawab Mely.


"Sesuai dengan keterangan Kamu saja Nak," lanjut Pak Kepsek dan mulai keluar meninggal kelas itu.


Akhirnya Mely memilih untuk duduk di bangku belakang, tepatnya baku tengah barisan keempat.


"Haii ... Kenalin nama Saya, Sely panggil aja Sely atau Lili!" ucap Sely dan menyodorkan tangannya ke arah Mely, Mely pun membalasnya dengan senyuman sembari menetuma uluran tangan Sely.


"Mely!" jawab Mely.


Serlyanha, Sely dikenal dengan kepintarannya yang membuat sekolahnya terkenal, tak jarang Sely kalah dalam ikut lomba, Sely senantiasa membawa piagam perlombaan kesekolahnya itu. Tak cukup sampai disitu Sely juga dikenal akan kebaikan dan kesederhanaannya dalam bertutur kata.


#AccMinBaik


Semoga suka🙏

__ADS_1


__ADS_2