Gadis Cantik Penghuni Bangku Kosong

Gadis Cantik Penghuni Bangku Kosong
BAB 2#GADIS_CANTIK_PENGHUNI_BANGKU_KOSONG


__ADS_3

'Kenapa cewek itu tidak mau duduk di bangku depannya yah?' batin Andi menatap horor ke arah bangku yang ada disampingnya, lebih tepatnya bangku yang tidak mau di duduki oleh Mely.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali Mely menatap kursi yang ada didepannya setelah selesai berkenalan dengan Sely, betapa terkejutnya ia bahwa gadis yang di ajak kenalan itupun seketika hilang bak ditelan bumi.


'Kemana gadis itu?' batin Mely yang mulai merasakan ketakutan, tetapi ia bisa menyembunyikan ketakutannya dengan cara meremas roknya dengan sangat kuat.


"Disinihh ...," suara halus seseorang yang terdengar jelas ditelinga kanan Mely, yang membuat tubuhnya seketika merasakan kaku.


Mely dengan cepat menggelengkan kepalanya mengarah kesamping kanannya, ia tidak mendapati siapapun selain Sely yang fokus memainkan gawainya.


Seketika darah dingin mengalir dipembulu darahnya, badan yang tadinya segar kini mendadak kaku ditempat disebabkan suara bisikan tadi.


"Mungkin cuma perasaan Saya aja," gumam Mely yang didengar langsung oleh Yusuf.


"Kamu kenapa?" tanya Yusuf kepada Mely.


"Apa Kamu tadi yang membisik Saya?" bukannya menjawab Mely malah bertanya kembali yang membuat Yusuf jadi kebingungan.


"Saya aja gak pernah pindah," jawab Yusuf yang masih setia menatap Mely dengan tatapan cengong.


'Cewek itu kesetanan atau kerasukan?' batin Andi bertanya pada dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seketika bulu kuduk Mely berdiri dengan tatapan kosong kedepan menatap papan tulis yang dipenuhi coretan tinta dari spion merah, sontak Mely langsung membuka suara dan bertanya kepada Sely.


"Sely, papan tulisnya kenapa gak di bersihkan, sebentar lagi akan bell lho," tanya Mely kepada Sely.


Sejenak Sely langsung mengangkat alisnya bingung sembari menatap Mely dengan tatapan heran, setelah itu Sely beralih menatap papan tulis.


Disana Sely tidak mendapati tulisan apapun, ia hanya melihat latar putih bersih, bahkan satu garispun tidak ia temukan. Yang membuat Sely bingung adalah tingkah laku Mely sedari tadi.


"Disana tidak ada corena apapun, tadi Saya sudah menghapusnya sebelum Kamu masuk," jawab Sely sembari tersenyum hambar.


Seketika manik mata Mely tertuju kembali ke papan tulis, yang benar saja disana memang bersih.

__ADS_1


'Lalu yang tadi Saya lihat apa?' batin Mely.


'Perasaan tadi Saya melihat coretan yang begitu banyak di atas sana, kok mendadak tiba-tiba bersih gitu,' batin Mely yang masih menatap setiap inci dari papan tulis itu tanpa sisa.


Seketika seorang guru memasuki kelasnya, sedangkan tadi bell belum berbunyi sama sekali, sontak mata Mely kembali menatap guru itu yang berambut panjang sembari menggendong bayi yang tengah menangis keras.


"Buk, anaknya kenapa nangis gitu?" tanya Mely kepada sang Guru yang hanya menatap anaknya dengan tatapan kosong, bahkan ia tidak berniat untuk menenangkan anaknya.


Semua siswa yang tadinya fokus membaca sebuah buku maupun novel melalui media pun kini tersontak kaget kalau suara Mely cukup keras dan jelas.


"Heii, Kamu bicara sama siapa?" tanya Herlin kepada Mely.


"Anaknya Ibu itu dari tadi menangis," jawab Mely.


Sontak semua orang menatap Mely dengan tatapan horor, sedangkan Andi sedari tadi mengamati wajah Mely yang terlihat dari manik matanya terdapat wanita yang berpakaian putih sembari menggendong anak.


Sedangkan di atas sana tidak ada seorang Guru, tetapi Andi melihat di manik mata coklat milik Mely bahwa ada sosok wanita yang tengah berdiri di depan papan tulis.


"Gak usah ngaco deh Mell, Kamu diam saja, disana itu tidak ada seorang pun yang berdiri," lanjut Herlin.


Herlin Bramata, Herlin adalah sosok pria yang dikenal akan sifat dinginnya, ia adalah kaptenk basket di SMA Bakti Abadi lebih tepatnya SMA yang ditempati oleh Mely.


"Gak usah ngawur ...," timpal Nia.


Marnila Agaskara, sebut saja namanya Nia. Ia memiliki Kakak yang bernama Marlina tetapi ia beda sekolah dengannya,Nia bersifat badgirl serta tutur katanya yang bisa membuat siapa saja bersahabat dengannya.


"Dari tadi Kamu bicara yang gak jelas Mell, emang Kamu lihat apa diatas sana?" tutur Sely terdengar lembut.


"Benerr, emang Kamu tadi lihat apa?" tanya balik Yusuf.


"Ibu yang te--" ucapan Mely terpotong kala Andi langsung mencekal tangannya dan beralih menuntunnya untuk keluar.


"Ikut Saya sekarang ...," beo Andi.


"Apa sih?" tanya Mely yang berusaha melepaskan tangannya dari cekalan keras Andi.


Kini mereka berdua berjalan dengan langkah cepat, mereka melewati koridor sekolah, semua mata menatap Mely dengan tatapan tak suka dan benci.

__ADS_1


Sedangkan Mely tidak memperdulikan itu melainkan matanya hanya fokus ke arah siswi yang ia lihat tadi, yakni siswi yang duduk di bangku tengah barisan ketiga itu.


'Itukan cewek yang tadi?' batin Mely.


'Kenapa Dia bisa ada disini?' lanjutnya lagi.


Andi hanya sibuk menarik tangan Mely tanpa mempedulikan apakah itu sakit atau tidak, intinya Andi hanya ingin membawa Mely kesuatu tempat.


"Saya mau dibawa kemana?" gumam Mely yang masih bisa didengar oleh Andi.


"Ikut Saya saja, gak usah ngebantah," jawab Andi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini sampailah kedua remaja itu tadi ditempat yang terbilang cukup indah, yang tidak lain taman belakang sekolah.


"Apa yang akan Kita lakukan disini?" tanya Mely kepada Andi.


"Saya ingin mengatakan sesuatu," jawabnya.


"Selagi Saya bisa menjawab, silahkan bertanya sepuasnya," lanjut Mely.


"Gini ...," ucap Andi yang menggantung ucapannya, sedangkan Mely hanya memperbaiki posisinya untuk menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Andi.


"Gini apa?" tanya Mely.


"Itu, tadi ... Ta--tadi," gugup Andi, pasalnya ia baru pertama kali berbicara beruda dengan lawan jenisnya.


Andi jarang sekali bertukar kata kepada lawan jenisnya, sehingga Nadia and the genk mengagumi akan sifat perkasa dari Andi, Andi juga dikenal akan kehebatannya dalam bermain basket, tak sedikit orang yang menyukai Andi.


Dan secara terang-terangan siswi mengungkapkan perasaannya kepada Andi, namun Andi hanya berdehem ketika menanggapi ucapan orang-orang, berbeda dengan Mely.


Entah kenapa Andi merasa gugup ketika bersama Mely, bahkan baru kali ini Andi menyentuh secara langsung oleh orang yang belum ia kenali sama sekali.


"Kanapa?" beo Mely.


"Soal itu, tadi," ucap Andi yang masih gugup.

__ADS_1


#AccMinBaik


Kayaknya cerita ini gak akan horor, soalnya agak susah.


__ADS_2