
"Kemana perginya buku itu, kan gak mungkin kalau buku itu akan berjalan kembali ke raknya," gumam Marlina yang hanya bisa didengar sendirinya.
"Nak ...," panggil balik Pak Ruslan.
"Iya Pak, Saya kesana sekarang," balas Marlina dan mulai melangkahkan kakinya menghampiri ketiga manusia yang ada didepan pintu itu.
Setelah sampai didepan pintu, Marlina melempar senyum manis ke arah Mely yang langsung dibalas senyum tak kalah manisnya dari Mely.
Andi yang melihat itupun hanya menahan kegemesan ketika melihat senyum dari Mely.
"Ayok Kita sekarang ke kelas, sebentar lagi bell akan berbunyi," beo Andi.
"Hmmm ...," deheman Marlina.
Mely yang mendengar deheman dari Marlina kini kembali ke posisi awalnya, yakni bermuka datar.
'Kok Saya gak suka yah kalau cewek ini dingin,' batin Mely.
Tak cukup waktu lama mereka berbincang, kini bell yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi.
Kriing.
Kriing.
Kriing.
Suara bell terdengar nyaring ditelinga pada siswa maupun siswi, sontak semua orang berlarian kesana kemari untuk masuk kedalam kelas masing-masing.
Begitupun dengan ketiga orang itu, ia berjalan berdampingan dengan Mely yang ada ditengah, mereka menelusuri koridor sekolah dengan tujuan untuk kekelas masing-masing.
***
Setibanya didepan pintu kelas, mereka langsung disambut dengan wali kelasnya, sebut saja namnya pak Bara.
__ADS_1
Pak Bara bersifat profesional dan tegas, tetapi ia juga ramah ketika berhubungan sang anak wali, ia pandai dalam segala bidang, dan Pak Bara lah yang melati anak muridnya bermain basket.
"Selamat pagi Pak," sapa Andi sembari membukukan badannya pertanda ia menghormati yang lebih tua darinya.
"Darimana saja Nak?" tanya Pak Bara.
"Ini Pak, Andi bawa kedua murid baru yang disuruhkan sama Pak Ruslan," jawab Andi.
"Silahkan masuk ...," pinta Pak Bara.
Mendengar penuturan kata Pak Bara yang mempersilakan masuk ketiga orang itu, Andi langsung berjalan ke arah bangkunya, sedangkan Mely dan Marlina berjalan ke arah depan untuk memperkenalkan diri masing-masing.
Pak Bara juga sangat kagum akan kedua siswi baru ini, mereka tidak dimintai untuk kedepan. Berbeda dengan kelas lainnya yang malu-malu untuk memperkenalkan dirinya sendiri.
"Silahkan Nak ...," beo Pak Bara.
Mely berjalan selangkah kedepan dan mulai membuka suaranya.
"Haii!" kompak seluruh siswa maupun siswi.
Setelah selesai berkenalan, Mely kembali memundurkan dirinya satu langkah kebelakang dan sejajar dengan Marlina.
Marlina juga melakukan hal yang sama, ia maju kedepan dan mulai membuka suaranya.
"Marlina Agaskara!" ucap Marlina langsung pada intinya.
Semua orang melonggo tidak percaya, pasalnya siswi satu ini terdengar sangat dingin dan datar, selain itu wajahnya hanya memasang muka yang ketus.
Hal itu mengundang semua orang bergidik ngeri mendengar cara pengenalan Marlina, jujur baru pertama kali ada seorang siswi yang memperkenalkan dirinya hanya dengan menyebut nama.
Marnila hanya memijat pelipisnya, pasalnya saudarinya ini sangatlah terdengar dingin, ia beda jauh darinya.
'Gak pernah berubah Lo, Mar ...,' batin Nia.
__ADS_1
Marlina hanya menatap datar orang-orang, hal itu membuat Herlin bergidik ngeri melihatnya, pasalnya manik matanya begitu tajam memandangi satu persatu orang yang ada di kelasnya.
Setelah dirasa puas memandangi para kentang dan ubi jalar, kini manik matanya menangkap sosok berjubah di depan kelasnya yang telah berlalu lalang sedari tadi.
'Siapa dia?' batin Marlina.
Sosok itu kembali menampakkan dirinya tepat di sudut kelas, namun Marlina tidak melihatnya tetapi mata Mely bisa menangkap itu.
"Sosok berjubah?" tanya Mely pada dirinya sendiri, namun masih bisa didengar oleh Marlina.
'Hah? Apa Mely juga melihat sosok itu?' batin Marlina.
'Tapi kenapa semua orang tidak melihatnya ... Argghh da*ar gak guna!' lanjut Marlina dengan nada jengkel di akhir kalimatnya.
"Silahkan duduk Nak!" pinta Pak Bara.
Mendapatkan izin dari Pak Bara bahwa mereka bisa duduk, kini kedua gadis itupun melangkahkan kakinya untuk ke kursi kosong yang ada di bagian tengah.
Mely duduk tepat dibelakang bangku kosong tadi, sedangkan Marlina duduk tepat di bangku yang berpenghuni makhluk astral tepat di depan Mely dan disamping Andi.
Sebelum duduk, Marlina sempat mengalihakan perhatiannya tepat di samping kiri Andi, disana ada seseorang yang berpakaian sama sepertinya, rambut yang terurai, bibi* yang tipis dan mulu mata yang lentik, ia terlihat seperti seorang putri dari kerajaan kuno, bahkan ia memakai mahkota yang cukup berkilau di kepalanya.
'Siapa gadis itu?' batin Marlina.
"Haakuu Tynahhh ...," suara halus terdengar ditelinga Mely dan Marlina yang membuat bulu kuduk mereka seketika berdiri.
Mely celingak-celinguk mencari asal suara itu, namun ia tidak menemukan apa-apa, selain peserta didalam ruang kelas itu.
"Sii--" ucapan Marlina terpotong kala seseorang menariknya.
#AccMinBaik
Versi horor kagak ada yang minati 🤧
__ADS_1