
"Taa--" ucapan Mely terpotong kala Andi langsung meraih tangannya.
"Sudah diam saja," bentak Andi sembari menatap wajah Mely.
Sedangkan Mely hanya bisa menundukkan pandangannya, sungguh Mely benar-benar malu disebabkan ia menjadi pusat perhatian seluruh penghuni koridor. (Tolong ingatkan Andi bahwa Mely saat ini tengah tersipu malu didalam tundukannya)
Kini Mely bersusah payah untuk terlepas dari cekalan Andi, sedangkan Andi hanya bisa mengusap lembut tangan putih milik Mely.
Setelah dirasa puas, kini tangan Mely diletakkan di atas rambutnya sembari memberikan kode, bahwa ia mau elusin.
'Apaan sih nih orang ...,' batin Mely bingung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain tepatnya ruang kepala sekolah.
Didalam sudah terdapat siswi baru dan pak Kepala Sekolah yang duduk di bangku masing-masing, sedangkan siswi itu matanya hanya tertuju kepada salah satu dokumen yang ada di atas meja Pak Kepala Sekolah itu.
"Siapa nama Mu, Nak?" beo Pak Kepsek.
"Marlina Agaskara!" jawabnya dengan nada dingin.
'Siswi yang satu ini mirip banget sama anak Saya,' batin Pak Kepsek sembari mengingat wajah anaknya.
"Saya pindahan dari Amerika," lanjutnya lagi yang masih setia dengan nada dingin.
Mendengar kata Agaskara sontak Pak Kepsek langsung memeriksa dokumen yang menjadi pusat perhatian Marlina tadi.
__ADS_1
'Mau diapakan dokumen itu?' batin Marlina.
Satu persatu Pak Kepsek membuka lembaran dokumen itu, setelah sampai dilembaran ke delapan Pak Kepsek mulai berhenti dan membuka suara.
"Saudarinya Marnila?" beo Pak Kepsek.
"Iya Pak ...," jawab Marlina.
Sedangkan Pak Kepsek hanya menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia mengerti akan perkataan siswi baru ini.
"Mari Saya antar ke kelas Kamu," jawab Pak Kepsek.
Kini Pak Kepsek mulai berdiri dari duduknya dan menuju ke arah pintu, di ikuti oleh Marlina yang juga ikutan berdiri dari tempatnya.
Belum sempat keluar dari ruangan, manik mata Marlina kembali menatap salah satu buku yang tiba-tiba jatuh dari raknya, sedangkan di ruangan itu tidak ada hewan apapun, bahkan tidak ada pergerakan tikus.
Buku itu terbuka pas pada tengahnya, disana terdapat foto seorang gadis yang hampir seumuran dengannya.
Marlina melangkah ke arah buku yang sempat terjatuh itu, tetapi dengan suara cepat seseorang memanggilnya.
"Nak ikut mereka saja, mereka akan mengantar Mu ke kelas!" panggil Pak Kepsek kepada Marlina.
Sebut saja namanya Pak Ruslan, Pak Ruslan bersifat ramah dan bijaksana, ia lebih mementingkan para siswa dan siswinya dan mengenyampingkan tugas-tugasnya, kecuali tugas yang ia miliki begitu penting.
"Sebentar Pak!" lanjut Marlina.
Untuk menghilangkan rasa keponya, ia berjalan ke arah buku yang jatuh itu dan mengambil foto yang tertera disana. Perhatiannya kembali teralihkan disebkan ada seseorang yang mengintip dibalik tirai merah itu, penghubung antara jendela dan pemandangan luar.
__ADS_1
Manik mata Marlina tak lepas memandangi tirai yang cukup panjang itu sehingga ia melupakan foto yang ada didalam buku, sontak ia berjalan ke arah tirai yang terbilang cukup panjang dan lebar itu. Sedangkan Pak Ruslan hanya sibuk berbicara dengan Andi.
Kembali mata coklat milik Mely melihat sosok Wanita cantik yang ada dibelakang Pak Ruslan, Wanita itu hampir seumuran dengan Pak Ruslan. Sedangkan Marlina yang ada didalam hanya disibukkan oleh sosok yang tengah mengintip dibalik jendela itu.
Langkah demi langkah akhirnya Marlina sampai tepat didepan tirai dan mulai mengangkat tangannya ke udara dengan perlahan, setelah menggenggam ujung tirai itu, ia mulai membukanya dengan kuat dan cepat, sontak Pak Ruslan, Andi dan Mely ikutan kaget.
Manik mata mereka kini teralihkan masuk kedalam disebabkan suara gelang tirai tadi yang ikutan berbunyi ketika tirai itu digerakkan. Marlina kini mencari sosok seseorang namun nihil, ia tak menemukan siapapun yang berdiri disana.
"Apa yang Kamu lakukan Nak?" tanya Pak Ruslan kepada Marlina.
"Ah iya Pak? Gak ada hehe ...," jawab Marlina sembari nyengir kuda dan memperlihatkan gigi rapinya itu.
"Saya membuka jendelanya biar angin dan cahaya masuk Pak, mayan buat kesegaran Bapak sendiri," lanjutnya lagi yang hanya di angguki oleh Pak Ruslan.
"Ya sudah Kamu ikut mereka saja yah!" beo Pak Ruslan.
"Iya Pak!" jawabnya.
Sebelum melangkahkan kakinya menghampiri ketiga orang yang tengah menunggunya di ambang pintu, Marlina sempat menatap kembali ke luar jendela, untuk memastikan apakah benaran ada orang atau hanya perasaanya saja.
'Mungkin Gue habis ngehalu yah tadi, sehingga kebawa sampai dunia nyata,' batin Marlina dan mulai menggerakkan kakinya dengan langkah kontai menghampiri Pak Ruslan, Andi dan Mely.
Matanya kembali teralihkan yang dimana ia tadi melihat ada buku yang terjatuh lengkap dengan foto seseorang yang juga tertempel disana.
Yang lebih mengherankan lagi, buku itu sudah tidak ada disana. (Tolong katakan sama Marlina, apakah benaran ia melihat buku atau tidak?)
"Kemana perginya buku itu, kan gak mungkin kalau buku itu akan berjalan kembali ke raknya," gumam Marlina yang hanya bisa didengar sendirinya.
__ADS_1
#AccMinBaik
maaf kalo gj y😄