Gadis penghilang Trauma Ceo

Gadis penghilang Trauma Ceo
kedatangan


__ADS_3

pagi yang cerah.Diandra sangat semangaat pagi ini.ia bersenandung kecil di dapur sambil memasak.


tok tokkk


"Hmm siapa ya pagi-pagi begini."lirih Diandra kemudian pergi kedepan hendak membuka pintu.


"ehh om.silahkan masuk om." ujar Diandra ramah melihat bapak yang lemas dirumahnya beberapa hari yang lalu kini tengah tersenyum menyapa padanya.


"terimakasih nak." Ujar bapak yang ternyata Ayah Austino itu.permintaannya untuk kembali mengunjungi kediaman keluarga Diandra akhirnya disetujui oleh anaknya.


"apa kalian tidak ingin duduk juga." tanya Diandra yang bingung melihat para bodyguard yang berdiri di depan pintu.ayah Austino tersenyum menanggapi hal itu." gadis yang berbeda" gumamnya dalam hati.


"apa kabar om.sehat?" tanya Diandra sambil tersenyum ramah.


"hmm om baik nak." jawab ayah Austino.


"eh maaf pak.saya dan istri saya baru selesai berdoa." ujar pak Hartono,ayah Diandra yang datang setelah mendengar ada yang berbicara di ruangan depan rumahnya.


"tidak apa-apa.senang bertemu dengan bapak lagi." Jawab Ayah Austino.


ehemmmmm


pria tegap berwajah dingin dan tampan masuk kerumah Diandra. siapa lagi ,kalau bukan Austino.


"hei Austin jaga sikapmu"ujar Ayah Austino kesal akan sikap anaknya yang tidak sopan.


"hehe tidak apa-apa pak.biasa kalau anak muda" gumam Ayah Diandra santai.


Sementara itu Diandra sudah pergi ke dapur untuk membuatkan teh dibantu oleh ibunya.


setelah selesai Diandra pun membawa teh itu menuju ke depan


Austino yang sibuk memainkan handphonenya tidak melihat Diandra yang datang dengan membawa nampan berisi teh untuk orang-orang dirumahnya.


"siapa pria yang memainkan Handphone itu." gumam Diandra dalam hati.


"terimakasih nak." ujar Ayah Austino.


Austino pun penasaran kepada siapa ayahnya mengucapkan terimakasih tersebut.


"hah kamu." ujar Austino kesal.


'ternyata ini rumah wanita murahan itu.' gumam Austino dalam hati.


"ii iyaa pak." ujar Diandra tak Kalah kaget.

__ADS_1


"kalian saling kenal." tanya ayah Austino.


"wanita ini cleaning servis di kantor." jawab Austino Dingin.


"ooo jadi begitu yaa.kita belum sempat berkenalan sebelumnya pak. perkenalkan saya Mahendra Hagana." ujar ayah Austino ramah sambil menjabat tangan ayah Diandra.


"oohh ia pak.saya Hartono." jawab ayah Diandra ramah membalas jabatan tangan pak Mahendra.


"hei Austin perkenalkan dirimu." Ayah Austin kesal dengan Anaknya yang hanya sibuk memainkan handphonenya.


"hmm saya Austino." ujar Austino Dingin.


"maafkan kelancangan anak saya pak." ujar pak Mahendra yang tida enak akan sikap Austino.


"kita tidak perlu banyak basa-basi lagi.Brapa yang anda mau." ujar Austino tiba-tiba kepada ayah Diandra.


"mm maksud nak Austin?" tanya pak Hartono mengerutkan keningnya.


"bukankah bapak ingin imbalan atas bantuan bapak kepada ayah saya." gumam Austin dingin tanpa Ekspresi apapun.


"tidaak sama sekali nak.saya ikhlas ingin membantu ayah nak Austin." Ujar ayah Diandra yang merasa sedikit tak enak karena dianggap membutuhkan imbalan.


"ohh terserah bapak saja.nanti juga bapak memintanya." jawab Austin datar.


"Austin jaga sikapmu." bentak pak Mahendra sedikit keras karena sudah sangat kesal akan sikap putranya itu.


"tidak masalah kok pak.mungkin nak Austin salah menanggapi." ujar pak Hartono yang berusaha tetap ramah.


"hei nak.kita belum sempat berkenalan."ujar pak Mahendra memecah kecanggungannya kepada Diandra yang dari tadi duduk di kursi.meski kesal akan sikap Austino kepada ayahnya itu ia berusaha tetap ramah.


"eh iaa om.saya Diandra." ujar Diandra mengulurkan tangannya.


"saya pak Mahendra,ayah Austino" ujar pak Mahendra membalas uluran tangan Diandra.


"anak pak Hartono sangat sopan yaa.sangat berbeda dengan putra saya." ujar pak Mahendra sambil menyindir Austino yang duduk disampingnya sambil memainkan handphonenya.


"huhh yang ada situ cuman pencitraan." Jawab Austino santai.


"semua orang mempunyai cara yang berbeda-beda pak." ujar pak Hartono yang berpura-pura tak mendengar yang diucapkan oleh Austin.


"huhh Austin tunggu ayah didepan" ujar Austin.ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ayahnya dan yang lainnya hendak keluar dari rumah itu.


"maafkan putra saya pak."ujar pak Mahendra yang tidak tahu lagi akan cara berpikir anaknya itu.


"tidak masalah pak." ujar pak Hartono.

__ADS_1


perbincaraan mereka akhirnya semakin dalam.kini ibu Diandra yang sebelumnya berada di dapur juga ikut bercakap-cakap dengan mereka.sesekali Diandra membalas pertanyaan yang dilontarkan pak Mahendra padanya.'baik dan ramah' hal itu lah yang ditangkap dari Diandra saat bertemu dan saling mengenal dengan pak Mahendra sangat berbeda dengan anaknya, Austino.


Diandra melihat Jam sederhana yang melingkar di pergelangan tangannya 'aduh hampir saja aku lupa waktu'ujar Diandra yang terlalu asik mendengarkan percakapan orang-orang di rumahnya.


"kalau begitu,Diandra pamit kebelakang dulu ya om.Diandra ingin siap-siap untuk berangkat ke kantor."pamit Diandra sopan.


"oo iaa nak.nanti biar berangkatnya bersama Austino saja." ujar pak Mahendra sambil menyeruput teh yang tadinya disediakan Diandra.


"eh tidak usah pak.tidak perlu repot-repot Diandra berangkat sendiri saja." ujar Diandra tak enak akan tawaran pak Mahendra.


"tidak repot sama sekali nak.kan kalian satu kantor. tidak masalah kan kalau berangkat bersama." ujar pak Mahendra yang tahu akan jalan pikiran Diandra hingga ia menolak tawarannya.


"mm terimakasih sebelumnya pak.semoga tuan Austino mengijinkannya." jawab Diandra yang menduga kalau permintaan pak Mahendra pasti akan Ditolak Austino."


sepeninggalan Diandra untuk bersiap-siap,pak Mahendra menyuruh salah satu bodyguard nya yang setia duduk menemaninya dari tadi agar memanggil Austino kembali ke rumah.


"ada apa pa?" tanya Austino datar.


"hmm kamu berangkat ke kantor bersama Diandra ya." jawab pak Mahendra


"hah tidak tidak.Austino tidak mau.enak sekali dia." jawab Austino kesal akan permintaan ayahnya.


"pokoknya kalian pergi bersama.tidak ada penolakan." ujar pak Mahendra tegas


"sudahlah pak.Kalau nak Austin tidak ingin tidak perlu dipaksakan.Diandra juga biasanya berangkat sendiri kok." ujar pak Hartono yang tidak ingin mendengar pertikaian antara ayah dan anak itu.


"itu dengar.bapaknya aja bilang begitu." ujar Austino Dingin.


"pergi bersama titik." perintah pak Mahendra yang ternyata tetap pada pendiriannya.


"yasudah suruh saja supir ayah yang mengantarnya." ujar Austino.


pak Mahendra bersama Austino tadinya datang ke rumah Diandra dengan menggunakan dua mobil mewah mereka. mobil pak Mahendra dikendarai oleh supir pribadinya sedangkan Austino memilih untuk menyetir mobilnya sendiri.


"apa bedanya supir dengan Austin kan sama-sama bisa mengantar wanita murahan itu kekantor." ujar Austino kesal.


"Austin jaga ucapanmu.apa pernah ayah mengajarkanmu berbicara seperti itu.gunakan sedikit otakmu." bentak pak Mahendra murka.


ayah dan ibu Diandra juga yang mendengar perkataan Austin merasa sakit hati karena hal itu sama saja dengan merendahkan harga diri putri semata wayang mereka.mereka hanya bisa menunduk mendengar perkataan Austino itu.


"Antar Diandra cepat."bentak pak Mahendra.ia merasa sangat malu akan sikap anaknya itu.


"hmm menyusahkan."


***mohon maaf jika banyak typo atau apapun yang menggangu karena disini author masih belajar

__ADS_1


mohon dukungannya***


__ADS_2