Gadis Tampan (Bulan)

Gadis Tampan (Bulan)
1. Pertemuan pertama


__ADS_3

Bug! Bug! Bug!.


Suara tendangan dan pukulan terdengar sangat jelas. Terlihat seorang berjaket dengan hoody terlungkup dikepala sedang berkelahi dengan tiga preman. Meski beberapa kali dia bisa menangkis dan melawan balik preman preman itu, namun ia sangat kewalahan. Ya jelas lah kewalahan. Seorang cewek lawan tiga preman. Sungguh perkelahian yang tak seimbang.


“Hey,,!!.. kalau berani jangan main keroyok”. Januar datang bak pahlawan.


“Siapa lu?” hardik salah seorang preman, diikuti pandangan tidak bersahabat kedua preman lainnya.


Januar menjulurkan tangannya, membantu Agustina berdiri.


“ Kau masih bisa melawan mereka?” tanya Januar.


“Tentu”


Hyaaaa


Perkelahian pun berlanjut. Dua lawan tiga. Mendapat tambahan bantuan, Agustina pun semakin bersemangat meski sudah babak belur.


Salah seorang preman mendekati seorang perempuan, yang merupakan korban perampokan itu. Preman itu pasti hendak menjadikannya sebagai sandera agar Agus dan Januar mau menyerah. Namun sayang nya Agus dapat membaca rencana itu. Agus berlari menghajar preman itu dan membiarkan Januar melawan dua preman lainnya.


Bug!!. Preman terjatuh.


“Ini tas mu.. cepat pergi dari sini.”

__ADS_1


“Joni, ajak ibu ini ke tempat yang aman disini terlalu berbahaya.” Perintah Agustin kepada anak yang sedari tadi didekat perempuan itu.


“Baik kak Agus”. Tanpa banyak kata perempuan itu dan Joni pergi menjauh.


Tiga preman yang tenaganya sudah sedikit terkuras itu akhirnya menyerah dan memilih kabur. Januar yang tidak pandai berkelahi itu babak belur. Ada banyak bekas pukulan di wajahnya.


Agus mendekati Januar yang masih meringis menahan sakit.


“Thanks, saudah bantu aku.” Ucap Agus.


“Sama-sama”


“Kak Agus!!” teriak Joni yang kembali ke tempat kejadian.


“Sudah pergi kak. Dia baik baik saja kok.”jawab Joni sambil menunduk.


“Ini kak, dia tadi memberi ini” Joni menyodorkan beberapa uang.


“Apa ini..??!! Kamu nolongin orang minta bayaran??!!” terlihat Agus marah. “Berapa kali sudah ku bilang, nolong orang lain jangan pamrih!!”


“Maaf kak,, tapi aku nggak minta”


“Lalu??”

__ADS_1


“Dia memaksa aku untuk menerima ini”


“Ya sudah kamu boleh ambil”


“Ini buat kakak dan ini buat abang itu” Joni menyodorkan lagi uang itu dan menggerakan kepalanya mengarah ke Januar. “Dia tadi menyuruh untuk membaginya “


“Aku nggak butuh uang itu. Buat kamu saja sama dia” Agus menoleh ke arah Januar.


Agus memungut tasnya yang terjatuh di tanah dan berlalu meninggalkan Joni dan Januar yang masih memegangi lebam di pipinya sambil meringis menahan sakit.


“Bang ini,,,”


“Ga usah,, buat kamu saja”ucap Januar memotong perkataan Joni. Matanya masih menatap kepergian Agus dengan penuh tanda tanya.


Januar yang menganggap Agus adalah seorang lelaki itu merasa aneh denganya. Masa sih ada cowok tasnya berwarna pink. Itu kan girly banget. Atau sebenarnya dia banci.


Begitu banyak asumsi tentang Agus di pikiran Januar. Dia terus memandanginya sampai Agus dan motornya menghilang di belokan depan.


Januar bejalan santai mendekati mobilnya.


Langkahnya terhenti ketika dia melihat sebuah gantungan kunci berbentuk boneka doraemon kecil tegeletak di atas aspal. Januar pun memungutnya. Januar kembali kedalam mobilnya dan meletakan boneka doraemon itu di atas dashboard.


Milik siapa ini?? Punya dia(perempuan yang di tolong)?? Atau punya bocah laki-laki itu. Namun rasanya tak mungkin milik kedua orang itu. Atau punya cowok bertas pink itu (tepatnya cewek yang dianggap cowok oleh Januar). Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2