
🌺VOTE🌺
Dalam kebimbangan yang Agus alami, tiba- tiba saja pintu terbuka. Febrian masuk tanpa permisi. Dia mengira hanya agus yang ada di dalam.
Agus semakin bingung dan panik, semua bercampur jadi satu.
Huh,, kenapa si songong ini datang kesini. Apa mungkin adik yang dimaksudkan pak dosen adalah si songong ini.
“Siapa kamu??” tanya pak Oktan. “Apa kamu mahasiswa yang berkelahi dengan Bulan??”
Bulan ya Bulan, pak Oktan selalu memanggil anaknya dengan nama Bulan, bukan Agus.
Agus menatap Febrian dalam-dalam. Seakan ia mengatakan sesuatu. Kepalanya menggeleng pelan. Berharap Febrian mengerti akan kode yang iya kirimkan lewat bahasa tubuhnya.
“Tentu”
Oh tidak. Agus hanya bisa pasrah. Harusnya Agus tidak boleh beharap kepada si songong. Sudah pasti dia tidak akan membantunya.
“Tentu saja bukan. Dia ,,, dia yang menolongku” lanjut Fe sambil menunjuk Agus.
Fyuuuh. Agus membuang nafas lega.
“Menolong mu??” tanya pak Oktan ragu. Melihat tingkah laku Febrian sepertinya Agus tidak akan pernah menolong orang soperti dia. Namun pak Oktan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Febrian hanya diam. Semakin melihatkan ke sombongannya.
“Saya ada perlu dengan dia” tangannya menunjuk Agus. “Bisakah anda keluar sekarang”
__ADS_1
Pak Oktan , merasa jengah dengan sikap Febrian yang tidak sopan itu. Bisa-bisanya Febrian mengusir pak Oktan yang notabennya adalah orangtua Agus.
“Baik lah.. saya juga mau pergi” ucap pak Oktan. Ia mendaratkan kecupan di kening Agus. “Baik-baik sayang”
Agus hanya mengangguk. Sikap lembut pak Oktan menunjukan bahwa ia sudah tidak marah lagi kepada putrinya itu.
Febrian yang masih berdiri di ruangan yang sama , menjadi saksi kemesraan orngtua dan anak. Sayangnya Febrian tak mengetahui jika pak Oktan adalah orangtua Agus. Dia mengira ,Agus adalah wanita simpanan pak Oktan.
“Hebat juga kamu ya, bisa membuat om-om terpikat” ucap Febrian setelah pak Oktan keluar ruangan.
“Hah..!!” Agus kaget dengan pernyataan Febrian yang seolah menganggapnya wanita pengikat om-om hidung belang.
“ Jangan sembarangan bicara kamu. Dia Daddy ku”. Sejak kecil Agus sudah memanggil ayahnya dengan sebutan Daddy.
“Hahahahahaha,,, Daddy??? Lo pikir gue percaya??.. Atau sugar daddy maksud lo”
“Hey,,, masih berani lo ngatain gue songgong.” Ucap Febrian lembut namun penuh ancaman. Satu tangannya mencengkeram kedua pipi Agus.
Ia memajukan wajahnya hingga menyisahkan jarak yang cukup dekat dengan wajah Agus. Tatapan mata yang membunuh, menjurus kepada Agus. Namun Agus tak kalah berani, ia membalas tatapan itu dengan bola mata yang melotot.
Satu,, dua,, tiga,, empat,, lima. Sampai hitungan kelima pun mereka masih saling menatap. Tak ada satu dari mereka yang mau mengalah. Hingga akhirnya Agus menangkis tangan Febrian yang masih melekat di wajahnya.
“Lepasin ....!! Aku gak takut sama kamu,,!!!” geram Agus. “Lagi pula ngapain kamu ke sini”
“Ya,,ya,,ya,, gue hampir lupa,, gue cuma mau mastiin kalau lo masih bernapas,, itu aja,,”
“Apa maksud mu??!!,, kamu pikir aku sudah mati.. kamu senang kalau aku sudah mati.. jadi gak akan ada yang ngatain kamu songong lagi..”
__ADS_1
“Lo pikir gue senang kalau lo mati??,, nggak ,, nggak,, nggak,, jutru gue sedih..”
“Sedih,,???”
“Ya sebenarnya lo mau hidup atau mati gue juga nggak senang sih,, tapi gue lebih senang kalau lo masih hidup,,”
“Ya iya lah,, dunia pun nggak bakal rela ditinggal orang sebaik aku,,”
“Jangan ge-er deh lo, gue masih berharap lo hidup karena lo asih harus bayar hutang ke gue,,,”
“HUTANG!!!!”
Sejak kapan Agus punya hutang kepada Febrian...
BERSAMBUNG..
JANGAN LUPA ..
VOTE
LIKE
KOMENTAR
LOPE U PREENN
^^^Isna Has^^^
__ADS_1