Gadis Yang Terjamah

Gadis Yang Terjamah
hari yang kelam


__ADS_3

GADIS YANG TERJAMAH


Part1


Marlina mempercepat langkahnya ketika mendengar deru sepeda motor semakin mendekat. Sepeda motor kini sejajar berjalan disampingnya.


“Hai adik manis, kok cepet banget jalannya.”


“Ikutan naik motor bareng yuk.”


Dua kakak kelasnya itu tertawa tebahak-bahak, Marlina acuh sambil mengeratkan tali tas punggungnya didada.


Dengan berlari kecil Marlina berusaha menjauh dari sepeda motor itu.


Marlina kini sekolah di SMA yang letaknya sangat jauh dari kampungnya. Banyak orang dikampungnya yang tidak menyelesaikan sekolah SMA karena letaknya yang sangat jauh, selain itu akses jalan umum harus memutar ke arah kecamatan. Rute terdekat hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki karena harus menyebrangi sungai.


Marlina hanya seorang diri ketika berangkat dan pulang sekolah, melewati berkilo-kilo kebun karet dan sungai, ia tak gentar. Namun nyali Marlina sangat ciut kali ini. Dua pemuda itu menatapnya dengan penuh napsu. Beberapa langkah lagi Marlina menyeberangi sungai.


Celakanya Marlina justru terpeleset sehingga seluruh tubuhnya tercebur ke air. Ketika Marlina berdiri, tampak baju basahnya melekat keseluruh tubuh.


“Ha ... ha ... ha … pemandangan yang bagus sekali.”


Dua pemuda itu segera turun dari motor dan mendekati Marlina. Marlina berusaha berlari untuk menghindari kedua pemuda itu, tapi dia malah terpeleset lagi. Marlina menangis sambil merintih, ternyata kakinya berdarah akibat tergores batu disungai.


Kedua pemuda itu berebut menjamah tubuh Marlina. Marlina hanya bisa menangis sambil memukul-mukul tangan kedua orang itu, tapi tenaga keduanya lebih besar daripada pukulan Marlina.


Tiba-tiba terdengar bunyi petir menyambar diiringin dengan hujan yang sangat deras.


Gunawan salah satu dari pemuda itu melihat ke arah langit dan merasa ketakutan.


“Jat, ayo pergi! Petir ini peringatan dari yang di Atas.”


“Kamu takut? Pergi aja duluan, tanggung nih.”


Gunawan berlari menjauh lalu menaiki sepeda motornya dan mejauh. Tinggallah Marlina yang sudah koyak bajunya dengan Jatmiko. Dengan ganas Jamiko menikmati tubuh Marlina yang sudah melemah. Hujan deras menjadi saksi kebejatan kakak kelas Marlina. Darah mengalir dari kedua pahanya terbawa air hujan. Tak seorangpun mendengarkan rintihan ditengah kebun karet.

__ADS_1


Jatmiko mengatur napasnya lalu terlentang menghadap ke langit, merasakan tetesan air ke tubuhnya. Sebelum Marlina bangun dari posisinya, Jatmiko terlebih dulu mengenakan pakaiannya dan berlalu meninggalkan Marlina seorang diri ditengah kebun karet.Marlina tak kuasa bergerak, tubuhnya terasa sakit semua, terlebih hatinya yang hancur berkeping-keping.


Marlina teringat nasehat kedua orang tuanya yang melarang sekolah di kecamatan karena jalannya jauh dan sepi, hal ini lah yang paling ditakutin kedua orang tuanya.


Ayah dan ibunya hanya memiliki seorang anak yaitu Marlina, harapan keduanya berujung pada Marlina, namun kejadian ini membuat Marlina malu, takut dan kecewa untuk pulang ke rumahnya. Marlina takut kalau ayah dan ibunya marah atau bahkan sedih mengetahui keadaannya saat ini.


Marlina merasa benar-benar hancur, sekujur badannya terasa sakit. Dia berharap mati untuk menutup segala peristiwa kelam hari ini. Matanya tertutup bersama gelegar petir yang tak kunjung henti, seakan langit marah dan menghukumnya. Hari semakin gelap ketika Marlina tersadar bahwa hujan telah berhenti mencurahkan kemarahan langit. Marlina tidak dapat menemukan dimana bajunya, dia menangis dan berusaha membenturkan kepalanya ke batu besar. Dari kejauhan tampak sorotan lampu senter.


“Hei, siapa kamu?” ucap orang itu mendeketi Marlina.


“Aku ga suci lagi, biarkan aku mati” isak Marlina.


“Ya Allah nduk, mana bajumu?” tanya orang kedua sambal menyenteri sekelilingnya, tak ada baju disekitarnya, mungkin sudah hanyut terbawa air sungai.


“Ini, pake sarung saya dulu” tawar bapak tadi sambal melepas sarungnya dan memakaikannya ke Marlina.


Marlina hanya bisa pasrah dililitkan sarung ke badannya, lalu dituntun menjauhi sungai.


“Cari ikannya nanti aja pak, bawa anak ini pulang dulu, kasian. Kayanya dari tadi dia kehujanan.” orang kedua itu berjalan pelan sambal menuntun Marlina.


Ketiganya berjalan pelan kearah kampung.


“Hah, siapa ini pak?”


“Tadi kami menemukan dia di sungai sebelum nyari ikan, mau bunuh diri, ga pake baju,jadi aku pinjami sarungku.”


“Ya Allah kasian, sini Nduk sama ibu.” Ibu itu menggiring Marlina ke kamar, “Kamu pakai ini ya, Ibu buatkan teh anget dulu,” ucap ibu itu lalu berlalu ke dapur.


Setelah mengganti pakaiannya, Marlina duduk dipinggir dipan sambil menangis lagi.


“Minum ini dulu ya Nduk,” ibu itu menyodorkan segelas teh hangat dan sepiring nasi dan telor goreng. Marlina makan sambil menangis terharu, masih ada orang baik disini yang melindunginya.


Marlina kembali teringat kedua orang tuanya, bila dia pulang kerumahnya, apa kedua orang tuanya menyambut hangat seperti ini, atau bahkan membuang dan mengucilkannya. Tangis Marlina semakin kencang mendapati ibu itu mendekap tubuhnya dengan kasih sayang, seorang ibu yang baru dikenalnya memberikan kasih sayang setelah tubuh dan hatinya hancur.


Setelah agak mereda tangis Marlina, ibu itu perlahan menyuapi Marlina sedikit demi sedikit. Perut Marlina kini telah kenyang, kantukpun menyerang. Dia merebahkan tubuhnya diatas dipan dan menutup matanya kelelahan.

__ADS_1


Sinar Mentari menerobos dicelah-celah jendela, Marlina merasakan asap dari kayu bakar di dapur. Lalu dia keluar kamar dan mendekati ibu itu, “Bu, terima kasih semua.”


“Owalah, dah bangun Nduk? Kamu mau ke kamar mandi dulu? Itu diluar pintunya.”


Marlina mengangguk pelan, rasa nyeri dikemaluannya membuat Marlina kembali meneteskan air matanya. Aku telah rusak, aku sudah tidak suci lagi, ucap Marlina sambal menangis. Seringai wajah kakak kelasnya membuatnya bergidik.


“Nduk, sudah mandinya?” suara ibu itu menyadarkan Marlina. Marlina segera menyelesaikan mandinya lalu keluar dari kamar mandi.


Ibu pemilik rumah menepuk dipan kayu di sebelahnya mengajak Marlina duduk dan menikmati sarapan. Marlina menyantap dengan lahap nasi goreng yang masih mengepul itu.


Setelah menyelesaikan sarapannya, ibu itu membelai kepalanya dengan lembut.


“Namamu siapa?”


“Marlina.” jawabnya pelan.


“ibu anter kamu pulang ya?”


Marlina menggeleng pelan, lalu menitikkan air mata kembali.


“Bu…, ibu dimana?” Teriak dari arah depan.


“Aku di dapur pak!”


Muncul bapak yang semalam diikuti ayah dibelakangnya.


Ayah segera berlari dan mendekap dan mencium Marlina dengan penuh kasih sayang, tak lama kemudian ibu dan nenek mendekat dan ikut memeluk Marlina.


“Maafkan ayah Mar, Ayah ga bisa menjaga kamu”


Pelukan ibu melemah dan kemudian ambruk ditengah-tengah kami.


“Bu…ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” ayah mengoyang-goyangkan tubuh ibu.


Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan memborehkannya di kening ibu, ibu tak bergeming.

__ADS_1


“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada disitu.


Lanjut ga ya?


__ADS_2