
Setelah delapan bulan dari kejadian kelam itu, perutku semakin membesar. Nenek dan ayah sudah mulai menerima kenyataan ini. Nenek memberiku asupan makanan lebih banyak dari sebelumnya. Makanku kini juga lebih lahap, ketika aku mematut diri di depan kaca, pipiku bertambah tebal, begitu dengan dada dan perutku.
Nenek sering menggantikanku untuk mengurusi ayah. Kadang ayah sengaja mengusirku dan meminta nenek mengurusinya. Mungkin ayah kasihan denganku, tak apalah yang penting ayah dan nenek sepertinya sudah mulai menerima kehamilanku.
Aku juga berusaha menerima kehamilan ini meski terkadang menyesali nasib ini.
“Bersabarlah, karena Allah bersama orang yang sabar. Sabar dalam menerima cobaan ini. Nanti akan ada jalan keluar yang terbaik untuk kita semua. Saat ini yang terpenting adalah menjaga kesehatanmu, badanmu ada dua sekarang. Apa yang kamu lakukan sekarang berakibat pada si jabang bayi yang ada di dalam perutmu. Kamu tidak sendirian, ada Nenek yang selalu berada di pihakmu, yang selalu menjaga dan menyayangimu.” Nenek tak pernah berhenti menasehatiku.
“Iya, Nek.” Aku mengusap kedua mataku yang berair.
Malam ini aku merasa nyeri di perut, rasanya mau pecah perut ini. Ingin berteriak tapi tak sanggup, tenggorokan kering. Aku berusaha meraih sebuah gelas, tapi gelas itu terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara pecahan kaca. Nenek yang mendengar suara pecahan gelas masuk ke kamarku, “ada apa Mar? Kamu kenapa?” tanya nenek sambil mengelus perutku yang semakin membesar.
“Sakit, Nek!”
“Istighfar, Mar. Astaghfirullahal adzim….”
“Haus, Nek.” Suaraku tercekat.
Nenek keluar kamar lalu kembali lagi dengan membawa segelas air, aku menenggaknya sampai habis. Tenggorokan kini menjadi basah, tapi rasa sakit tidak berkurang sedikitpun. Aku berguling-guling dikasur, perutku mengeras, “Aaaaahh….” aku berteriak sekuat mungkin.
Owek … owek ….
Tangis bayi menggema, aku melahirkan seorang bayi. Nenek kaget melihat apa yang terjadi, lalu membersihkan bayi itu. Untung ada nenek yang bisa membantuku mengurus bayi itu dengan penuh kasih sayang. Aku terharu, kini aku sudah menjadi ibu muda dengan satu anak dan tanpa suami.
“Anakmu laki-laki yang tampan, coba lihatlah!” Nenek menyerahkan bayi yang sudah terbungkus selimut rapat padaku. Aku menerimanya, air mata ini mengalir deras. Maafkan ibu, Nak. Kamu lahir tanpa ayah, bahkan ibu tak kenal siapa ayahmu. Selama di kandungan, ibu selalu beruraian air mata dan penuh tekanan. Semoga hidupmu kelak diliputi kebahagiaan. Jangan tiru ibumu yang hina ini, meski kau terlahir dari keluarga yang tak punya ini, ucapku dalam hati pada bayi yang tak berdosa ini.
Aku mencium bayi mungil itu, meraba raut wajahnya yang lembut. Wajahnya yang kecil, mata masih menutup, kulitnya halus, hidungnya mancung, bibirnya merah, kukecup bibir merahnya yang indah itu. Bayi itu menggeliat sesaat lalu menangis. Nenek menepuk-nepuk pelan. “Sayang, jadilah anak yang baik, jangan menangis.”
“Cup… cup…. Sayang….” ucapku menimang pelan bayi itu.
“Mungkin dia haus, Mar!” nenek menebak-nebak.
“Aku harus bagaimana Nek?” tanyaku bingung.
“Susui bayi itu!”
“Aku gak tau caranya, bagaimana? Apa aku punya susu untuk bayi ini?” aku semakin gugup.
“Kalau sudah melahirkan pasti bisa keluar susu. Buka bajumu, susui bayimu.” Nenek membantu membuka bajuku lalu mendekatkan mulut bayiku ke ******, bayi itu masih menangis. Mulut bayi itu mencari ****** yang belum ada ujungnya. Tangis bayi itu semakin keras. Aku semakin bingung, tangis bayi ini membuatku stress. Apa yang harus kulakukan. Dengan sabar nenek mengajari bayi itu untuk mengemut putingku. Sempat beberapa kali mulutnya menghisap putingku, tapi lepas lagi. Putingku belum ada, makanya mulut bayi itu terlepas lagi dari isapannya.
__ADS_1
“Pelan-pelan, Mar. Kamu yang tenang, bayi itu diciptakan Tuhan untuk menyusu pada ibunya!” Nenek berkata lagi dengan pelan.
Aku berusaha lagi agar mulut bayi kecil itu menghisap ujung putingku. Tidak kena lagi, tangis bayi itu semakin keras. Nenek mengambil alih bayi itu, lalu menimang-nimang penuh kasih sayang hingga tangisnya mereda. Aku yang belum bisa bangun dari tempat tidur hanya pasrah bayiku digendong hingga tertidur lagi oleh nenek.
Setelah bayi itu tertidur lagi, nenek mengembalikan bayi itu ke pangkuanku. Aku menerimanya, lalu menimangnya pelan-pelan. Ternyata timanganku pada bayi itu membuatnya kembali menangis. Menangis keras, nenek mengelus kepala bayi dalam timanganku.
Bayi itu tak berhenti menangis, justru tangisnya semakin kencang. Aku memperhatikan raut wajahnya yang tadi mungil seolah berubah menjadi menyeramkan, air matanya berubah menjadi darah. Darah dari air matanya membasahi wajahnya, pipinya semua berwarna merah. “Nek, kenapa bayi ini? Air matanya jadi darah!” tanyaku semakin panik.
“Dia marah padamu karena dia tidak kamu susui. Dia menuntutmu untuk bertanggung jawab merawat dan memberi susu. Cepat susui bayi itu!” Nenek berteriak.
“Tapi aku gak bisa Nek, bayi ini gak mau nyusu sama aku, aku juga gak keluar susunya.”
“Jangan sampai darahnya semakin banyak keluar, Mar! Atau bayi itu akan mati kehabisan darah!”
“Tidak, jangan sampai bayi ini mati, bantu aku Nek!”
Aku mendekatkan mulut bayi itu ke putingku, tapi bayi itu menjauhkan mulutnya. Tangis bayi itu semakin mengeras, bahkan air mata darahnya muncrat mengenai wajahku.
“Aah, Nenek. Tolong aku!” aku berteriak, lalu duduk. Keringat memenuhi peluh.
“Apa Mar?” Nenek mengusap keringatku di kening.
Ternyata aku hanya mimpi, aku mengelus perutku yang semakin buncit. Aku belum melahirkan, nafasku masih menderu lalu aku mengatur nafas pelan.
Aku mengikuti saran nenek, setelah bertahajud aku bertanya pada nenek, “Nek, kalau aku melahirkan nanti, aku harus bagaimana? Bisakan nenek membantuku saat melahirkan nanti?”
“Nenek gak bisa, sudah lupa waktu ibumu melahirkanmu. Mintalah bantuan bidan untuk membantu persalinanmu.”
“Tapi apa aku diterima oleh bidan itu? Aku takut nek!” aku menangis di pelukan nenek.
“Nenek akan selalu mendampingi dan membantumu. Tak ada yang boleh menyakitimu!”
“Kalau Nenek menemaniku, siapa yang menjaga ayah?”
Nenek menghembuskan napas kasar. “Mintalah petunjuk dan pertolongan pada Allah, semoga diberikan kemudahan dalam segala urusan kita. Serahkan semua pada Allah.”
Aku mengangguk pelan dan mengusap air mata ini.
Aku terus memikirkan persalinan nanti, kapan hari itu akan datang. Apa yang harus aku lakukan, bagaimana nanti nenek menghadapi orang-orang sekitar sini, jika nenek membantuku ke bidan, siapa yang menjaga ayah. Semua pertanyaan berkecamuk di dada.
__ADS_1
Lama aku memikirkannya lagi, seandainya saja aku tidak melanjutkan sekolah di kota, mungkin semua ini tak akan terjadi. Penyesalan ini tak ada gunanya.
Pikiranku kembali melayang ketika di sekolah dulu, indah tapi semu. Tiba-tiba aku ingat sebuah klinik bersalin di jalan yang dulu sering aku lalui ketika berangkat dan pulang sekolah.
Ya, kurasa klinik itu tepat untuk aku bersalin, jauh dari daerah sini. Jika aku melahirkan disana, orang-orang desa ini pasti tak ada yang tahu. Baiklah, tekadku bulat. Aku akan melahirkan disana saja. Aku akan berangkat kesana bila malam tiba agar tak ada satu orangpun yang tahu. Aku tak mau merepotkan nenek, biar nenek menunggui ayah dirumah.
Tapi biayanya berapa, pasti tidak sedikit. Terus nanti bayiku pakai pakaian apa? Aku sama sekali belum ada bayangan untuk peralatan dan baju bayi.
Aku teringat pada celengan bambu yang sengaja tak kubuka sejak jaman SD dulu. Aku membelahnya, lalu menghitung duitnya. Ada satu juta lebih, kurasa cukup untuk membeli baju bayi dan biaya melahirkan. Ah, akhirnya satu masalah terlewati.
Malam ini aku mengutarakan niatku pada nenek. “Nek, nanti kalau aku mau melahirkan, aku mau ke kota malam hari agar tak ada orang yang melihatku. Dulu dijalan yang sering aku lalui ketika sekolah ada sebuah klinik bersalin. Aku mau melahirkan disana. Nenek dirumah saja menjaga ayah. Kalau sudah melahirkan, aku akan kembali lagi kesini.
Nenek tersenyum lalu mengelus kepalaku penuh kasih sayang, “tidak semudah itu orang melahirkan Mar! Orang yang mau melahirkan belum tentu sanggup berjalan sejauh itu. Bagaimana kalau kamu melahirkan di jalan, apalagi malam hari, itu sangat berbahaya. Tetaplah di rumah, nanti akan nenek panggilkan bidan untuk membantumu bersalin.
Aku menggeleng, “aku tidak mau melahirkan disini. Aku yakin aku bisa berjalan sampai ke klinik itu sampai waktunya tepat untuk melahirkan.”
“Jangan gegabah Mar, melahirkan itu perkara sulit. Sama saja bertaruh nyawa. Jangan sia-siakan nyawamu saat melahirkan nanti!”
Tiba-tiba perutku mengeras, aku merasakan bayi dalam perut ini bergerak sangat aktif. “Sakit Nek,” lirihku.
Nenek mengelus-ngelus perutku. Mulutnya komat-kamit mengucapkan doa ke arah perutku. Aku merasakan kemaluanku mengeluarkan sesuatu, saat rasa sakit itu menghilang aku melihat bercak lendir dan darah di celana dalamku, “Nek, ini apa?” tanyaku.
Nenek melihat lendir dan darah di celana yang aku tunjukkan padanya. “Waduh, ini tanda Mar!” ucapnya panik.
“Tanda apa Nek?”
“Sebentar lagi kamu mau melahirkan! Nenek mau panggil bidan dulu ya!”
“Nggak Nek, Mar mau pergi aja, malam ini malam yang tepat. Mar mau pergi sendiri ke klinik itu. Nenek disini aja tungguin ayah!”
Rasa sakit itu kembali menyerang, aku menahan rasa sakit sambil berjongkok.
“Sudahlah mar, jangan pergi. Biar nenek yang pergi memanggil bidan ke sini. Aku menggeleng pelan, sakit ini luar biasa, aku meneteskan air mata dan berdoa. Nenek menggenggam tanganku.
Rasa itu menghilang lagi, aku mengatur nafas lalu masuk ke kamar mengambil uang tabungan bersama beberapa pakaian yang telah aku siapkan. Nenek menangis mencegahku pergi, “Tolong, jangan biarkan aku pergi Nek! Setelah melahirkan nanti aku akan kembali lagi. Aku berjanji, jangan beritahu ayah kalau aku pergi. Aku akan baik-baik saja!” Aku melepas tangan nenek dari tubuhku. “Percayalah!”
Malam itu juga aku meninggalkan rumah membawa kepedihan. Dulu ketika sekolah aku biasa melalui jalan ini dengan cepat, tapi kini aku berjalan dengan pelan sambil menikmati rasa sakit yang kadang datang kadang pergi. Ketika sakit yang sangat aku berhenti, berjongkok merasakan sakit yang amat sangat.
Tiba di seberang kali, tempat dimana aku kehilangan keperawananku dulu, air mataku mengalir. Disinilah kejadiannya, aku takkan pernah melupakan kejadian kelam hari itu.
__ADS_1
Pelan-pelan aku menyusuri sungai hingga ke seberang. Perjalanan tak jauh lagi, kontraksi di perut ini semakin sering. Aku menghentikan langkah, malam gelap hanya bercahayakan bintang yang samar. Haus, itu yang paling terasi di tenggorokan. Aku berjalan tertatih menuju cahaya terang di ujung jalan. Ya, sebentar lagi aku akan sampai di kota. Dari ujung jalan ini, klinik kira-kira berjarak dua ratus meter. Tak jauh lagi, tapi perutku seperti diremas, sakit sekali. Aku berlutut dengan kedua tangan juga berada tanah, sakiiittt….
Air mata yang keluar kuseka dengan kasar, aku tak boleh cengeng. Aku mencoba berjalan lagi, aahhh… sakit itu kembali datang, aku ambruk lagi di jalan. Malam ini sudah larut, tak ada orang yang lewat, tak ada yang dapat membantuku.