
Pelukan ibu melemah dan kemudian ambruk ditengah-tengah kami.
“Bu…ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” ayah mengoyang-goyangkan tubuh ibu.
Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan memborehkannya di kening ibu, ibu tak bergeming.
“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada disitu.
“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” teriak bapak sambal memeluk tubuh ibu.
Semua orang hanya membisu melihat ibu terkulai lemas. Marlina tak kuasa menahan tangis, dia merasa bahwa dialah penyebab kematian sang ibu.
Orang kampung bersama-sama membawa jenazah ibu ke rumah Pak Maryono. Sepanjang jalan Marlina menjadi bahan pembicaraan orang, baik dari kampungnya maupun warga kampung sekitarnya.
Siang itu ibu segera dimakamkan, tangis haru mengiringi pemakaman ibu. Hampir semua mata pelayat menatap jijik ke arah Marlina, nenek merasa risih lalu menarik tangan Marlina ke kamar.
“Gendhuk (panggilan untuk anak perempuan) disini saja ya, ga usah keluar kamar dulu.” belai nenek didahi Marlina. Marlina hanya bisa mengangguk pelan sambil menitikkan air mata. Ketika nenek beranjak keluar kamar, Marlina menarik tangan nenek, “Mar pengen nganter ibu ke makam nek.” “Nanti saja kalo ibu sudah dimakamkan, kita ziarah yang lama ya sayang. Sekarang kamu dikamar dulu dan jangan keluar, demi kebaikanmu.” ucap nenek sambil melenggang menjauhi kamar.
Suara keramaian menjauh, menandakan para pelayat ikut turut mengantar jenazah ibu ke makam. Marlina hanya bisa menangisi nasibnya yang telah kehilangan masa depan terlebih kehilangan ibu tercinta.
Setelah pemakaman, nenek kembali kerumah bersama ayah. Nenek langsung menutup pintu agar tidak ada lagi pelayat atau tamu yang datang. Nenek masuk ke kamar Marlina kemudian memeluk erat cucu tunggalnya. “Kita harus kuat menjalani cobaan ini sayang, jangan biarkan pengorbanan ibunya menjadi sia-sia. Kamu harus bangkit, tunjukkan ke warga sini bahwa kamu tetep kuat dengan melanjutkan sekolah di SMA sana”
“Tidak.. tidaaak nek, Mar ga mau sekolah lagi. Mar sekolah justru kehilangan ibu. Mar ga mau kehilangan lagi. Mar telah hancur. Mar mau dirumah aja sama Nenek” isak Marlina.
Nenek Sholihati hanya mengelus pipi cucunya kemudian tersenyum mengangguk tanda setuju.
Malam ini kami duduk diam bertiga diruang sempit bercahayakan lampu tempel yang redup. Makanan dimeja tak tersentuh, tak ada rasa lapar, hanya ada rasa sedih, kecewa dan marah dalam hati. Sejak pemakaman ibu tadi, tak ada sepatah kata keluar dari mulut ayah. Hanya nenek yang tetap sabar melayani Marlina.
Sudah beberapa hari ayah tidak pergi ke kebun, masih meratapi kepergian separuh jiwanya.
Pagi ini nenek mengajak Marlina keluar ke depan untuk berbelanja sayur pada pedagang sayur keliling.
“Eh, ada Marlina. Mau cari sayur apa?” sapa pedagang sayur ramah.
__ADS_1
“Mau cari masalah ada ga bang?” tanya bu gembrot dengan acuh, kang sayur hanya tersenyum menjawab pertanyaan bu gembrot.
“Lah iya, anak perempuan kok sengaja banget cari masalah sekolah jauh-jauh. Diganggu orang baru tau rasa dia” timpal bu Gendis tak mau kalah.
“Gitu caranya ngebunuh orang tua pelan-pelan”
“Liat tuh bapaknya sampe ga berani keluar rumah karena malu menanggung aib anaknya yang sok kepinteran sekolah SMA”
“Pak Kuncoro bos karet itu aja sekolahnya cuma SD lho, kalo sekolah sampe tinggi bisa jadi bos apa?”
“Memang kalo sudah sekolah yang tinggi, bisa langsung jadi presiden ya?”
“Bu Maryono itu kan dari dulu ga bisa dikagetin, gampang pingsan. Anaknya malah sengaja bikin ibunya cepet mati”
“Mungkin dia sengaja uji nyali, berangkat sekolah yang jauh biar jadi jagoan ya, akhirnya ilang deh tu keperawanan”
“Cari yang gratis lho, menu singkat, padat dan enak diair-airan”
Gelak tawa ibu-ibu yang mengelilingi kang sayur membuat dada Marlina sesak.
Nenek Sholihati menjauh sambil menarik tangan cucunya.
Ternyata dari rumah ayah mendengar apa yang ibu-ibu bicarakan tentang anak dan istrinya hanya bisa meneteskan air mata. Gagal sudah niatan untuk menjaga martabat keluarganya.
Nenek Sholihati tak kuasa melihat menantunya yang besar itu kini tampak rapuh setelah kepergian tulang rusuknya. Terlebih Marlina yang sudah berusaha menata hatinya kembali hancur akibat gunjingan tetangga.
Saudara dan tetangga yang dulu akrab kini satu per satu menjauh. Tidak ada empati sama sekali dengan keluarga Pak Maryono. Marlina menutup diri dari lingkungan. Hanya nenek Sholihati yang memberanikan diri keluar rumah bekerja agar kebutuhan isi perut orang serumah tercukupi.
Pak Maryono lebih banyak diam dan cenderung menjauh ketika diajak bicara oleh nenek. Nenek Sholihati sangat memahami keterpurukan menantu dan cucu kesayangannya.
Suatu pagi Pak Maryono bersiap-siap ke kebun untuk menderes batang karet milik bos Kuncoro. Nenek Sholihati merasa terharu atas perubahan menantunya, semoga ini menjadi awal yang baik untuk seterusnya. Meski enggan mendekati putrinya, pak Maryono tetap menyalami tangan keriput mertuanya dengan takzim.
Marlina merasa dosa yang dia lakukan tidak dimaafkan ayahnya. Ayahnya hanya diam bila diajak bicara olehnya, sedikit bicara jika ditanya nenek Sholihati.
__ADS_1
Matahari belum tinggi, pak Maryono telah kembali kerumah. Dia menaruh peralatannya, menenggak segelas air putih lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun.
Nenek Sholihati dan Marlina hanya saling berpandangan melihat tingkah laku pak Maryono. Pasti ada sesuatu dikebun yang menyebabkan pak Maryono kembali kerumah dengan cepat.
Tak lama berselang, Sodikin seorang pegawai bos kuncoro datang kerumah mengantarkan beberapa rupiah sebagai upah pak Maryono yang tak diambil dari sebelum peristiwa kematian sang istri.
“Tadi ayahnya Marlina ke kebun, kenapa tidak diserahkan langsung padanya?” tanya nenek Sholihati.
“Dia langsung kabur waktu diajak bicara sama pak bos, tersinggungan sih dia” jawab Sodikin sambil tertawa keras.
“Kamu bilang apa sama pak bos tentang menantuku?” cecar nenek Sholihati.
“Ya aku bilang, kalo pak bos mau nambah istri, ambil aja tuh si Marlina, jadi ga mahal, tapi pak bos ga mau sama yang seken, mau yang orisinil aja biar kerasa kinyis-kinyis, malah si Maryono langsung kabur, aku deh yang kebagian nganter uang ini, sekalian cuci mata liar si Marlina, boleh kan Nek?” beber Sodikin.
Nenek Sholihati hanya diam sambil memandang tajam ke arah Sodikin, merasa tersudut akhirnya Sodikin pamit undur diri.
Marlina hanya diam dari balik dinding mendengar obrolan itu, hatinya teriris jadi bahan ejekan bos tempat ayahnya bekerja.
Sore ini Bu bos Kuncoro datang kerumah membawa beberapa kantong plastik besar ke rumah Nenek Sholihati. “Nek, ini bahan makanan untuk nenek sekeluarga” ucap bu bos seraya menaruh kantong plastik tersebut. “Terima kasih bu, semoga ibu dilimpahkan rezeki yang lebih banyak dan lebih berkah”, Nenek Sholihati terharu sambil menitikkan air mata karena kebaikan bu bos.
“Saya minta tolong jauhkan cucu nenek dari suami saya, saya tidak rela dimadu apalagi dengan anak yang sudah tidak suci lagi. Saya harap nenek mengerti maksud dan tujuan saya datang kesini!”
Nenek Sholihati langsung terkejut dengan ucapan bu bos tadi, “cucuku tidak serendah itu, meski dibeli dengan berjuta-juta, tak akan keserahkan cucuku itu pada siapapun!”
“Tidak rendah tapi kok kesucian diumbar kemana-mana.”
“Baiklah, terima kasih atas bingkisannya. Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silahkan keluar”!
“Satu pesanku, jaga cucumu agar bau busuknya tidak mengganggu pernapasan orang lain.” Bu bos melenggang angkuh ke luar rumah.
Bruuuk, suara benda besar jatuh di kamar. Nenek Sholihati segera masuk ke dalam kamar dan melihat menantunya terjatuh dilantai, “Kamu kenapa?”
Marlina berlari menuju kamar ayahnya, dia melihat ayahnya tergeletak dilantai.
__ADS_1
Ada apa dengan Pak Maryono?