
Nenek Sholihati dan Marlina berlari menuju kamar ayahnya, dia melihat pak Maryono tergeletak di lantai.
“Eerr….” Pak Maryono seakan ingin mengucapkan kata-kata, namun tidak terdengar dengan jelas.
Nenek Sholihati dan Marlina berusaha mengangkat pak Maryono kembali ke atas kasur. Pak Maryono mengalami stroke yang mengakibatkan tubuhnya sebelah kanan tidak dapat digerakkan. Mulutnya juga miring ke kanan sehingga tidak bisa berbicara dengan jelas.
Marlina memberi minum ayahnya, tapi air minum itu tumpah, tak bisa masuk ke dalam mulut pak Maryono yang miring. Pak Maryono menangis sangat keras membuat mertua dan anaknya ikut menangis. Pak Maryono memukul kepalanya dengan tangan kiri yang masih bisa digerakkan, seolah tidak terima dengan keadaan stroke yang menimpanya.
Seluruh penghuni rumah itu tak ada yang berani keluar. Mereka tak ingin mendengar gunjingan tetangga lagi, mereka berusaha menutupi sakit yang diderita pak Maryono. Beberapa hari di dalam rumah. Persedian makanan semakin sedikit memaksa nenek Sholihati keluar rumah untuk bekerja sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan di rumah.
Nenek Sholihati mencabut singkong di kebun untuk dimakan. Lalu nenek Sholihati memetik sayuran di kebun, lalu diikat dan ditukar beberapa bahan makanan. Tetangga yang melihat nenek ada yang menjauh, menyindir, bahkan ada yang terang-terangan menghina. Nenek Sholihati berusaha tenang dan pura-pura tidak dengar, kemudian kembali ke rumah lagi.
Di dalam rumah Marlina sedang membersihkan kotoran ayahnya. Aroma busuk dari kotoran menantunya membuat nenek Sholihati urung untuk masuk ke dalam rumah. Setelah selesai membersihkan ayahnya, Marlina menuju kamar mandi. Disana Marlina mengeluarkan isi perutnya, mungkin dia kebauan juga. Nenek Sholihati geleng-geleng seraya meletakkan barang-barang yang tadi dibelinya. Di kamar, pak Maryono menitikkan air mata, menyesali kenapa dia merepotkan anaknya.
Sehari-harinya Marlina tekun mengurus ayahnya, meski sering mual dan muntah setelahnya. Nenek Sholihati melihat perubahan bentuk fisik cucunya itu, namun tidak berani mengungkapkan, takut jika benar-benar apa yang ia pikirkan itu jadi kenyataan. Saat ini Marlina sedikit sekali makannya, badannya menjadi kurus, tetapi dadanya semakin berisi. Nenek ingin sekali bertanya pada cucunya, kapan terakhir Marlina menstruasi.
***
POV Marlina
Ayah sudah sebulan ini sakit. Aku semakin tak dapat menguasai rasa mualku setiap hari. Ayah bau sekali. Tak bisa menyingkirkan rasa mual ini. Apakah ini benar-benar mual karena bau dari ayah? Aku takut jika bukan, apa aku hamil? Sudah dua bulan lebih aku tidak menstruasi. Apa ini yang disebut hamil? Aku tak berani bertanya pada nenek. Bagaimana jika aku benar-benar hamil. Tak terasa pipiku basah, Ayah, Ibu, maafkan aku.
Jika dulu aku menuruti nasehat kalian untuk tidak meneruskan sekolah di kota, mungkin hal ini tak terjadi. Aku masih bisa berkebun bersama ibu dan nenek. Banyak juga anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah, keluarganya tenang damai, kehidupan berlanjut. Dengan aku sekolah, aku malah kehilangan ibu, ayah sakit stroke.
__ADS_1
Malam ini aku mengadu pada Rabb ku. Diatas sajadah ini aku menangis dan bersujud.
Ya Allah, ampunilah dosaku. Dengan kesalahanku, semua orang merasakan apa yang telah kuperbuat. Ibu, aku bersumpah untuk menjaga dan merawat ayah sampai akhir hayatku. Nenek yang tidak tau apa-apa kini kena juga menanggung malu.
Ya Allah, ampunilah dosaku. Semoga tebakanku salah, aku tak ingin hamil. Tuhan, jangan tambah bebanku, jangan engkau menambah berat beban ayah dan nenek.
Aku sesegukan diantara doaku.
Ya Allah, berilah petunjukMu pada hamba. Aku sungguh tahu hamil seperti apa, jangan buat aku hamil Ya Allah, aku malu.
Di akhir doaku, nenek membelaiku dari belakang. Aku berbalik ke arah nenek, memeluknya dan menumpahkan tangisku.
“Nek, maafkan aku. Karena aku semua jadi seperti ini. Aku yang berbuat, nenek, ayah dan ibu ikut menanggungnya.”
Pagi ini kepalaku sangat pusing, untuk masuk ke kamar ayah saja rasanya berat sekali, namun tetap aku paksakan. Sambil berjalan aku memegang tembok untuk menyanggah tubuhku. Kamar ayah sangat bau, mungkin ompolnya semalam sangat banyak, aroma pesing membuatku mual. Aku mengelap seluruh tubuh ayah dengan handuk dan air hangat, menggantikan pakaiannya. Tubuh ayah berat, mungkin karena kurang gerak, badan ayah tambah gemuk sehingga aku sulit untuk menggerakkannya. Untuk membalikkan badan ayah saja, rasanya lelah sekali. Tidak seperti awal-awal ayah kena stroke dulu.
Setiap selesai membersihkan ayah, aku membuang seluruh isi perutku di kamar mandi. Bukan karena jijik, tapi memang mual yang tak dapat tertahan. Mual yang kurasakan berlangsung sampai matahari tepat diatas kepala. Selepas siang, aku sehat kembali. Kekuatanku datang lagi. Sementara badanku yang masih kuat ini, aku membantu nenek dikebun. Ketika berjongkok untuk mencabut rumput, perutku terasa mengganjal. Nenek memperhatikanku, tapi aku pura-pura tidak tahu.
Nenek mengantar makanan ke kamar ayah, aku mendengar sepertinya ayah sedang berbicara dengan nenek.
“Apa?” tanya nenek.
“Eerrr,” ayah mengencangkan ucapannya sambil menunjuk ke arah ku.
__ADS_1
“Marlina? Minta dipanggil kesini?” tanya nenek lagi.
Ayah menggeleng, aku masuk ke kamar, “Apa Yah?” tanyaku sambil mendekatinya.
Ayah mengelus perutnya, “Ayah lapar? Sini Mar suapi ya!” aku menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke mulut ayah. Ayah menggeleng dan kembali mengelus perutnya.
“Perutmu sakit?” tanya nenek penasaran juga.
Lagi-lagi ayah menggeleng, aku mendekatinya lagi, “Ayah kenapa?” tanyaku pelan. Tangan ayah berupaya menggapai tubuhku. Aku memegang tangan kiri ayah, “Ayah ingin apa?”
Tangan ayah berusaha menyentuh perutku, “aku belum lapar, aku suapin ayah dulu ya. Nanti kalau ayah sudah kenyang baru aku makan,” ucapku setengah berbisik di dekat telinga ayah.
“Eeerrr….” Ayah kembali berucap yang tidak kami ketahui.
Aku mendekatkan telingaku ke mulut ayah. “Hamil….” Kata pelan yang kudengar dari mulut ayah sontak membuatku bergetar, tak terasa mata ini berembun. Apakah ayah merasa jika aku sedang hamil?
“Ayahmu ngomong apa?” tanya nenek lagi, aku hanya menggelengkan kepala sambil terus menangis. Tangisku semakin menjadi, demikian pula dengan ayah. Aku menangis dan mencium tangannya. “Mar gak tau, Pak.” Bisikku pelan.
Nenek masih penasaran apa yang aku dan ayah bicarakan, aku meninggalkan kamar ayah dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
Aku mendengar nenek mengencangkan ucapannya, tapi akhirnya bersuara pelan. Hening, hingga nenek masuk ke kamarku lalu mendekapku dalam pelukannya.
“Nenek berharap kamu tidak hamil. Namun, jika itu benar, maka nenek akan selalu bersamamu menjaga kandunganmu.”
__ADS_1