
Aku tak kuat lagi berdiri, rasanya seperti ingin kencing, seperti ingin buang air besar tapi tak bisa. Klinik itu belum terlihat dari posisiku berada saat ini. Aku harus sampai ke sana belum bayi ini lahir. Aku terpaksa berjalan merangkak, pelan, sesekali berhenti meringkuk di jalan. Puluh di seluruh tubuh meski malam ini dingin. Aku tertidur saat rasa sakit itu hilang, lalu terbangun lagi saat rasa sakit itu datang lagi.
Aku menggeliat di jalan sendiri, aku berharap ada orang yang lewat dan membantuku. Tapi tak ada satupun orang yang lewat. Dengan segenap kekuatan yang ada aku mencoba berdiri dan berjalan. Tas yang kubawa kudekap kencang, lalu berlari pelan.
Dari kejauhan aku melihat neon box bertuliskan ‘Bidan Delima” terlihat. Semangatku datang lagi, kupercepat langkah menuju klinik tersebut.
Rasa sakit ini datang lagi, tak berhenti membuatku ambruk lagi. Aku merasakan sesuatu yang lengket di kedua pahaku.
Pagar klinik sudah sangat dekat, tapi aku kesulitan untuk sampai kesitu. Aku mengatur nafas di tengah-tengah kontraksi perut ini, aku pasti bisa. Kembali mengumpulkan tenaga lalu berjalan cepat hingga menggapai pintu pagar yang bertuliskan ‘ada bidan’.
Aku menggerak-gerakkan pintu pagar yang terkunci, tak ada balasan dari dalam. Aku mengguncangkan pintu pagar lagi sambil berteriak, “Bu Bidan, tolong aku mau melahirkan!”
Masih tak ada jawaban, aku bergetar meremas pintu pagar lalu menunduk dan menangis kencang, masih tak ada jawaban dari dalam.
Sekilas aku melihat tulisan ‘pencet bel’ di pinggir pagar. Ah, kenapa aku tak melihatnya dari tadi. Aku langsung memencet bel itu berulang kali.
Dari dalam kulihat hordeng jendela tersingkap. Melihat kedatanganku, orang yang berada di dalam membuka pintu klinik dan mendekatiku. “Siapa?” tanyanya meneliti wajahku dari balik pagar.
“Tolong aku, aku mau melahirkan!” aku memperlihatkan dasterku yang sudah mulai basah di bagian bawah.
“Oh, iya. Sini masuk!” wanita itu membukakan pintu gerbang.
Wanita itu menuntunku ke sebuah ruangan di dalam klinik itu. Memeriksaku dengan seksama. Aku mengeluarkan uang dari dalam tas lalu memberikan pada wanita itu, “saya hanya punya ini, tak ada yang lain. Tolong bantu saya!” pintaku sambil menggenggam tangannya, menyerahkan semua uang tabungan yang kumiliki.
“Simpan ini dulu ya. Saya akan menolongmu. Saat ini sudah pembukaan delapan, tak lama lagi bayi utun itu akan keluar, tenangkan diri ibu ya!” ucapnya lembut, lalu memasukkan kembali uang yang kuberikan ke dalam tasku.
Selama perjalanan tadi aku berkali-kali berguling dijalan, wajahku mungkin kotor sekali. Bu bidan itu membersihkan wajah dan tanganku dengan handuk basah, lalu memberi minum teh manis hangat. Saat teh hangat itu menyentuh tenggorokanku, aku merasa lebih tenang dan rileks. Menikmati rasa sakit yang datang dan pergi dengan tenang sambil mengucap istighfar berulang kali.
“Jangan mengejan dulu ya sayang, kalau sakit ditahan aja dulu. Atur nafas, santai, tenang. Ibu aman disini.” Aku mengikuti saran bu bidan, dia memanggilku ibu. Setiap yang melahirkan itu dipanggil ibu, meski tak pantas sepertiku yang tak bersuami.
Tiba saatnya bu bidan menyuruhku untuk mengejan, dengan dua kali tarikan nafas, akhirnya bayi itu lahir. Tak pernah ku merasakan kelegaan seperti ini sebelumnya, sangat lega.
Bayi itu menangis kencang, aku melihatnya bahagia.
__ADS_1
“Selamat ya, anak ibu perempuan cantik.”
Bu bidan memandikan bayi itu dengan cekatan, lalu memakaikan pakaian yang layak dan membungkusnya. Bayi yang sudah rapi itu diletakkan di box bayi yang berada tak jauh dariku.
Bu bidan kembali padaku, membersihkan darah dan kotoran di perut dan kakiku.
Setelah semuanya selesai, bu bidan menaikkan kasur di bagian kepala sehingga aku setengah duduk. Kemudian memberikan bayi kecil itu padaku.
Teringat lagi mimpi malam itu, bayi yang mengeluarkan air mata darah. Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ibu belum siap? Baiklah, sekarang istirahat dulu ya. Ibu pasti sangat lelah.”
Ketika aku menarik kedua tangan dari wajah, bu bidan telah meletakkan bayi itu dalam box bayi kembali.
“Kita istirahat di dalam ya. Saya bantu turun dari sini ya, Hati-hati!”
Bu bidan menuntunku ke sebuah kamar dan membaringkanku di atas kasur beralaskan sprei putih. “Mau minum lagi?” aku mengangguk, lalu dia meninggalkan ruangan ini.
“Ibu hebat sekali. Kontraksi sebentar sekali, bayinya mudah keluar, saya juga tidak sulit membantu mengurusnya,” puji bu bidan dengan mengacungkan dua jempolnya.
Aku membalas dengan senyuman.
“Sekarang istirahat dulu ya, hari sudah hampir subuh. Saya mau shalat dulu.”
Langit telah terang saat aku membuka mata, suara alunan musik sendu terdengar. Mataku memindai setiap sudut ruangan ini. Lama baru aku tersadar bahwa aku sudah melahirkan semalam. Malam penuh perjuangan telah aku lalui. Aku melahirkan dibantu oleh bu bidan yang sangat baik. Lalu dimana bayiku? Aku ingat lagi wajah bayi yang menangis darah dalam mimpiku. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, berharap mimpi itu tak lagi hadir.
Aku ingin ke kamar mandi, mencoba bangit dari kasur sendiri. Berjalan terseok melewati ruang persalinan semalam. Di box bayi tak ada penghuninya, dimana bayiku?
“Sudah bangun Bu? Mau sarapan dulu?” tanya bu bidan santun.
Aku menggeleng, “aku mau ke kamar mandi dulu!”
Bu bidan menyerahkan tas yang semalam kubawa. “Ini tas ibu. Kamar mandi ada disitu.” Bu bidan menunjuk ke sebuah pintu. Aku meraihnya dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Setelah mandi dan sarapan, bu bidan mendekatiku. Bertanya semua tentangku, aku menceritakan kenapa aku hamil, kenapa aku nekat malam-malam kesini sendiri. Bu bidan menangis mendengar ceritaku, "jika kamu belum siap punya anak gapapa, itu hakmu. Tapi setidaknya sayangi bayi tak berdosa itu walau sebentar. Biarkan bayi itu mendapatkan kasih sayang dari ibu."
"Bagaimana caranya? Saya gak bisa apa-apa."
Bu bidan keluar ruangan meninggalkanku. Tak lama kemudian, bu bidan kembali lagi dengan membawa bayi itu.
"Saya bersedia merawat bayi ini sampai besar. Tapi setidaknya, gendonglah! Peluk dan cium dia. Bayi ini tidak berdosa."
Aku menerima bayi itu, menggendongnya, tapi aku tak berani menciumnya. Aku takut bayi itu bangun, lalu menangis darah seperti mimpi yang kemarin.
"Tadi dia minum sedikit, banyak tidur. Sekarang waktunya dia minum susu lg. Kamu bersedia menyusuinya kan?"
Aku mengangguk ragu, "bagaimana caranya?"
Bu bidan mengajariku cara menyusui yang baik, ternyata aku bisa menyusui bayi ini. Ada rasa senang, nyeri, bahagia, semua bercampur jadi satu.
Bu bidan mengajari cara merawat bayi dengan sabar dan telaten meski aku masih ada trauma ketika melihat wajah bayi. Aku diperbolehkan tinggal di kliniknya sampai sehat dan pulih baik fisik maupun mental.
Tepat tujuh hari setelah aku melahirkan, bu bidan bertanya lagi padaku, “Marlina, apakah kamu mau menjaga dan merawat bayi ini?”
Aku terdiam dan menunduk. Sebenarnya aku malu membawa bayi ini pulang, apa kata tetangga, tapi alangkah teganya aku meninggalkan bayi ini disini.
“Ini bayimu, jika keberatan untuk merawatnya, saya bisa menolong untuk merawatnya. Tapi kalau kamu mau merawatnya sendiri ya silahkan. Asimu tidak banyak, konsekuensinya adalah membelikan susu formula sebagai pengganti asi secara rutin sesuai kebutuhan bayi.”
Perih di hati, air mata mengalir deras.
“Saya akan merawat dengan baik, saya pastikan bayi ini tidak kekurangan sesuatu apapun. Saya akan merawatnya seperti merawat anak kandung sendiri.” Bu bidan mencium bayi cantik itu. Dengan berat hati aku mengangguk pelan.
“Saya titip ya, Zahra namanya,” ucapku beruraian air mata.
“Nama yang bagus, terima kasih Ibu!” bu bidan mengarahkan wajah bayi itu padaku.
Aku melambaikan tangan, sangat berat meninggalkan bayi yang selama sembilan bulan dalam kandungan. Selamat tinggal Zahra, bayiku sayang.
__ADS_1