
Keesokkan harinya...
Tangis pilu seorang pria di pemakaman sang istrinya yang baru saja dimakamkan. Reno tengah mengantarkan Meylan beristirahat kepada sang pencipta. Hati dia begitu hancur berkeping-keping ditinggal sang istri tercinta untuk selamanya.
Sungguh berat bagi Reno menerima kenyataan pait jika sang istri meninggalkan dirinya dan anaknya. Reno menangis sesegukkan sembari memeluk batu nisan sang istri.
"Hiks...hiks..Sayang kenapa secepat ini kamu pergi dariku?" Isak tangisan penuh pilu.
"Kenapa kamu tega meninggalkan aku dan Baby Anya, Dia masih membutuhkan kamu sayang. dia masih bayi hikss...diusia nya yang masih bayi dia harus kehilangan sosok ibunda nya.." Memang benar Meylan secepat itu meninggalkan Bayinya yang baru saja dia lahirkan kemaren.
Mereka yang ada dipemakaman tersebut ikut sedih kehilangan sosok Meylan. Wanita yang bersipat periang, ceria, rendah hati kini harus pergi untuk selama-lamanya, mereka tidak akan bertemu kembali dengan sosok Meylan yang baik hati.
Satu persatu para pengantar Meylan pulang dari pemakaman tersebut meninggalkan Reno dan Devan yang masih setia berada dimakam Meylan. Reno memeluk erat batu nisan itu.
"Ayok pulang, Hari mulai mendung sebentar lagi akan turun hujan!" Ajaknya kepada Reno yang masih terdiam didekat makam Meylan.
Benar kata Devan padahal hari masih siang tapi sudah mau hujan, langit-langit sudah mulai gelap. Mngkin semesta juga ikut bersedih atas kepergian Meylan.
"Aku gak mau pulang, kasihan Meylan disini sendirian. Aku mau menamaninya" Lirih Reno dengan tatapan kosong.
"Ohh ayolah Ren, jangan egois! Meylan udah tenang disana kamu jangan seperti ini" Menepuk bahu Reno.
Mendengar perkataan itu, Reno menatap tajam kearah Devan membuat si pria itu menelan slivanya susah payah karena tidak biasanya Reno menatap devan dengan tatapan Tajam.
"Kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan Devan! Aku kehilangan istriku, kehilangan sosok belahan jiwaku!" Teriak Reno penuh amarah ke Devan.
__ADS_1
"Aku tau betul perasaan mu saat ini, kami juga sama kehilangan Meylan, Tapi.. hari mulai mendung Ren"
"Apa kamu tidak kasihan sama Anya?" Ucapnya kembali menyadarkan Reno. "kamu bisa berkunjung lagi lain waktu, sekarang pentingkan dulu baby Anya, Anakmu."
Mendengar kata Anya Reno pun terdiam, dia baru ingat dengan anaknya yang baru saja dilahirkan kedunia. Reno berpikir sejenak sampai akhirnya ia memutuskan untuk pulang dari pemakaman tersebut. Reno dan Devan pun akhirnya pulang dari pemakaman.
•
•
•
Setelah menempuh perjalanan Kurang lebih dari tiga puluh lima menit. Devan memarkirkan mobilnya diparkiran lalu Reno turun dari mobil tersebut dan berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Rumah ini tampak sepi setelah kamu pergi, sayang." Lirihnya dengan mata kembali berkaca-kaca.
Devan meliati Reno yang masih mematung disana ia pun mendekati Reno, "Iklaskan, dan sabar Ren"
'Oekkk--oekkkk'
'Oekkkk---'
Suara tangisan bayi sangat terdengar jelas ditelinga Reno, Dengan rasa khawatir Reno berjalan keasal suara tangisan Anya yang ada didalam kamar.
'Ceklekkk...'
__ADS_1
Pintu kamar terbuka Reno berjalan kearah box bayi dan meliat anaknya yang menangis digendongan sang pelayan. "Kenapa dia menangis?" Tanyanya kepada pelayan yang saat ini mengendong Anya.
"Sepertinya Nona Kecil kelaparan Tuan Reno" Ucap pelayan.
Reno memejamkan matanya dan menghela nafas lega ia merasa tenang jika bayinya hanya lapar, "Buatkan susu formula," Titahnya.
"Biarkan Anya sama saya"
"Baik tuan, saya akan buatkan dulu susu formula untuk nona Anya" Ucap pelayan sembari memberikan Anya ke gendongan Reno.
Pelayan tersebut pergi kedapur membiarkan Reno yang mengendong Anya. Reno menatap wajah putri kecilnya yang cantik nan imut.
"Papah tidak akan membuat kamu kesepian, papah akan melindungi kamu Anya" Lirihnya menatap Anya yang tenang dipangkuan nya.
"Papah sayang sama kamu, jadilah anak pintar dan mengemaskan ya," Mencium pipi Anya.
•
•
Papah muda sekaligus duda anak satu🤭
Makasih banyak sudah mau mampir kak, jangan lupa teken tombol favorit dan like nya🤗
__ADS_1