
3 Tahun Kemudian
Seorang gadis cantik baru saja pulang dari luar. diusia nya yang baru menginjak delapan belas tahun dia bekerja sebagai pedagang kue keliling untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Nama nya Alin Renjani, diusia yang sekarang sudah tamat sekolah dia harus bekerja sebagai penjual kue keliling. Setelah Ayah Alin meninggal dunia dia selalu berusaha untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Alin duduk dikursi depan rumah dia beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah. Tubuh Alin bercucuran keringat karena terik matahari yang cukup panas, Rasanya Alin ingin sekali tidur saat itu juga namun ia urungi ketika seorang ibu parubaya menjewer telinga Alin sangat kuat.
"Sini kamu Alin! enak saja baru pulang kamu malah duduk manis disini" Sentaknya sembari menjewer telinga Alin.
"Akhh,..i-ibu lepasin bu sakit.." Ucap Alin kesakitan.
"Oh sakit haa, iya sakit? " Semakin kuat menjewer telinga Alin sampai telinga itu memerah.
Meliat Alin yang semakin kesakitan karena jeweran, Ibu Vanya pun menghempas kasar telinga Alin. Entah mengapa ibu Vanya sangat membenci Alin.
Alin yang terhempas mengusap-usap telinganya yang perih. ia menunduk takut dan tidak berani menatap ibu Vanya yang menatap diri nya tajam.
"Jam berapa ini haa? kau baru pulang! mana setoran hari ini!" Ucap ibu Vanya menanyakan hasil dagangan hari ini karena dia meliat ranjang kue ny yang sudah habis tanpa tersisa sedikitpun, ia mengira jika kue nya laku besar.
Mendengar hal itu dari mulut Ibu Vanya, Alin terdiam ia semakin menunduk takut bahkan kedua tangan nya meremas ujung pakaian. "Kenapa kau diam saja haa! sekali lagi mana setoran hari ini!" Sentak bu Vanya.
__ADS_1
"M--maaf bu...tadi dijalan Alin diganggu sama preman pasar, semua uang hasil dagangan diambil, bahkan kue yang sisa nya dilempar ke jalanan" Jelas Alin tanpa menunduk.
'Plakkk'
Satu tamparan mengenai pipi mulus Alin, Bu Vanya menampar Alin dia marah mendengar penjelasan dari Alin yang dimana hasil kue nya diambil oleh preman. "Bodoh kamu! dasar anak tidak berguna!" Sentak bu Vanya. " Hari ini kamu tidak boleh makan apapun!" Kembali menyentak.
"Tapi bu..Alin laper dari pagi Alin belum makan apapun" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "
'Brukkk-'
"Akhhh " Pekik Alin.
Vanya mendorong Alin dia masih marah dengan anak sambungnya itu bisa-bisanya uang hasil dagangan nya dirampas preman. Setelah itu Vanya memilih masuk kedalam rumah meninggalkan Alin dengan rasa kesal dan marah.
β’
β’
β’
Hari mulai sore terlihat Alin tengah mengerjakan tugas rumah. Sebenarnya Alin sudah lelah apa lagi perut dia masih kosong belum makan nasi sedikitpun. Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak dikerjakan bu Vanya akan marah dan mengomelinya.
__ADS_1
"Ehh tol*l cuciin dong sepatu gue" Ucap Rio, selaku adik tiri Alin dia menyuruh Alin dengan menoyor kepala Alin.
Alin menatap lantai yang baru ia kepel kembali kotor, sepatu Rio yang kotor itu mengotori lantai. "Rio sopan sedikit sama kaka, bagaimana pun aku ini kaka kamu" Mendengus kesal.
"Yaleah lo itu cuma kaka tiri gue, mau sampai kapan pun gue gak akan nganggep lo kaka!" Seru Rio. "Lo itu pantes jadi babu" Tembalnya kembali.
"Rio!" Umpat Alin.
"Apaa gak suka? lo lama-lama ngeselin ya gue aduin ke Ibu" Menendang sepatu kotor kehadapan Alin.
"Ada apa ini ribut-ribu haa" Bu Vanya datang mendekati kedua anak-anaknya.
"Tau nih si babu gak mau nyuciin sepatu Rio" Adunya ke Vanya.
"Apa benar Alin?" Menatap Alin tajam.
"B--bukan bu, bukan gitu maksud Alin" Ucap Alin.
"Ck, sekarang cuci sepatu Rio! gitu aja ribet!" Bentak Vanya ke Alin.
Alin hanya pasrah ia berusaha untuk tegar menghadapi ibu Vanya dan Adiknya yang sama sekali tidak menyukai dirinya. Alin Sudah terbiasa dijadikan bahan babu oleh Rio sang Adiknya. dia juga sama sekali tidak memiliki pembelaan selain diri nya sendiri.
__ADS_1
Terimakasih kak, jangan lupa tekan tombol Like nyaπ
Maaf jika ada kekurang boleh di kritik secara baik-baik ya.π₯°