
Malam ini Aku, Ayah,dan Ibu sedang merayakan kelulusanku dari universitas. Aku menamatkan kuliahku hingga S2 karena beasiswa yang diberikan oleh pemerintah.Aku bisa melihat betapa bahagianya kedua orang tuaku setelah aku lulus dengan nilai yang bagus.
" Fifi sayang kemarilah, kita makan bersama malam ini. " Panggil Ibu dengan penuh kasih sayang dari meja makan.
Dengan langkah pelan aku pun berjalan menghampiri Ayah dan Ibu yang telah menungguku untuk makan bersama.
" Fifi bagaimana rencana kamu kedepan sayang? " Tanya Ayah yang menatapku dengan serius.
" Ayah bisakah kita makan dulu baru membicarakan tentang itu?, Aku sangat lapar sekarang. " Aku sambil tersenyum dengan tangan yang memegangi perutku karena lapar. Ibu yang melihatku hanya tertawa sambil mengambilkan beberapa lauk favoritku dan Ayah.
" Ayahnya Fifi apa kau tidak lihat betapa laparnya putri kita?!, biarkan dia menghabiskan makanannya dulu baru setelah itu kita berbincang kembali. " Kata Ibu sambil menepuk pundak Ayah. Kami pun melanjutkan makan bersama malam ini.
Setelah selesai makan malam bersama, kami duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang tentang rencanaku untuk bekerja.
" Bagaimana menurut Ayah dan Ibu?. " Aku meminta pendapat dari mereka tentang keinginanku bekerja di sebuah perusahaan bernama Zifar Group.
" Kamu sudah dewasa sekarang, apapun keinginanmu dapat kamu lakukan, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu sayang." Kata Ayah sambil menatapku dengan mata berkaca-kaca.
" Itu benar sayang, yang terpenting adalah jangan lupakan ibadahmu walau sesibuk apapun kamu setelah bekerja nanti, dan ingatlah untuk sering mengunjungi kami. " Air mata membasahi pipi wanita yang telah melahirkanku dan merawatku sejak kecil hingga aku bisa seperti saat ini.
" Ayah... Ibu... " Akupun memeluk mereka berdua dengan sangat erat hingga tak terasa air mata mengalir deras di wajahku. Aku tak tau bagaimana harus berterimakasih pada mereka yang telah mendukung keputusan yang telah kubuat. Aku berjanji akan slalu membuat mereka bahagia.
" Tok tok tok, Assalamualaikum..." Drama kami berhenti setelah mendengar bunyi ketukan pintu dan salam dari luar.
__ADS_1
" Waalaikumsalam... " Ibu membukakan pintu dan menjawab salam mereka. Nampaklah Seorang nenek tua dengan cucunya yang mengenakan jas formal di depan pintu.
" Maaf siapa kalian?." Tanya ibu sambil mengerutkan keningnya karena merasa tak kenal dengan dua orang yang bertamu di malam itu.
" Bisakah kita membicarakannya di dalam?!." Kata seorang nenek tua itu karena merasa tidak sopan jika berbicara di luar. Ibu pun langsung mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu.
" Siapa mereka bu?. " Tanya ayah berbisik dengan Ibu.Ibu hanya menaikkan bahunya tanda dia tak kenal dengan dua orang yang sedang duduk di depan mereka.
" Paman... Bibi... " Seorang pria dengan perawakan tinggi, berkulit putih dan tampan dengan pakaian formalnya berdiri dan mencium tangan kedua orangtuaku.
"Maaf bolehkah kami tau siapa namamu dan apa tujuan kalian kemari?. " Tanya Ayahku langsung pada intinya.
" Perkenalkan Paman, Bibi Aku adalah Zafin Ahmeer dan ini adalah Nenekku Hamida Zain. Kedatangan kami kemari adalah untuk membicarakan tentang pernikahan Putrimu denganku. " Zafin yang memperkenalkan maksud dan tujuannya datang malam itu membuat kedua orang tuaku terkejut mendengarnya, begitu juga denganku. Kedua mataku membelalak seakan tak percaya dengan kata-katanya.
" Paman jika kau izinkan bisakah aku bicara empat mata dengan putrimu? " Mohon Zafin dengan sopan.
" Jawab dulu pertanyaanku! " Ayah sedikit meninggikan suaranya karena takut Aku di apa-apakan.
" Untuk itu biarkan kita mendiskusikannya sebagai orang tua. Saya akan menjelaskan maksud dari perkataan cucu saya tapi bisakah kalian mengizinkannya untuk bicara sebentar dengan cucu saya? " Jawab Nenek Hamida berusaha meyakinkan kedua orang tuaku. Aku dan Ibu pun saling menatap lalu Ayah dan Ibu pun menyuruhku mengikuti seperti kata mereka.
Setelah kami sampai di tempat yang sepi, tidak jauh dari rumahku.Dia berusaha menjelaskan semua maksud dan tujuannya datang padaku malam ini. Kukira perkataannya hanya main-main. Tapi tak kusangka dia benar-benar serius dengan niatnya untuk menikahiku.
" Apa kau tau apa arti dari sebuah pernikahan?. " Aku bertanya karena ingin mengujinya.
__ADS_1
" Tentu saja aku tau. " Jawab Zafin dengan tegas. Dia pun berjalan mendekatiku.
" Fifi Yatwi aku mau kau menjadi istriku. Aku telah jatuh cinta padamu pada saat pertama kali aku melihatmu magang di perusahaanku." Kata Zafin dengan tatapan bagai malaikat yang siap membuat siapapun terlena karena ketampanannya.
Kata-katanya membuatku sadar bahwa pria yang menyatakan cinta padaku itu tak lain adalah presdir dari perusahaan tempatku magang dulu yaitu Zifar Group. Itulah perusahaan yang Kubicarakan dengan orang tuaku tadi.
" Ya Allah takdir macam apa ini? " Kataku sambil memutar bola mataku tak percaya. Akupun mencoba berfikir kembali.
" Jika kau punya syarat maka ajukan saja, aku pasti akan memenuhi syarat dan permintaanmu. Ingatlah! kau tak perlu membalas cintaku, cukup aku saja yang mencintaimu dan tolong jangan hentikan aku untuk mengejarmu. " Kata-kata Zafin yang terdengar serius membuatku sedikit tersentuh.Aku pun menghela nafas sebelum mengatakan jawabanku.
" Dengar!Aku harap semua yang kau katakan tadi adalah benar karena ucapan seorang pria adalah janjinya dan aku ucapkan terima kasih atas pernyataan cintamu. Juga aku minta maaf karena tidak bisa membalasnya. " Kataku tegas memperjelas.
" Jadi apakah kau bersedia menikah denganku? " Tanya Zafin memastikan.
" Itu tergantung dengan keputusan orang tuaku, tapi aku punya syarat jika memang orang tuaku setuju. " Kataku dengan nada pasrah tapi juga tegas.
" Katakan! " Kata Zafin yang menyanggupi syarat itu sebelum Aku selesai bicara.
" Setelah menikah nanti, aku mau bekerja di perusahaan Zifar Group, Kita tidak akan tidur seranjang, dan aku ingin sebuah mahar yang bisa membuat Orang tuaku bahagia karena semua impian mereka tercapai. " Kataku dalam satu tarikan nafas.
" Baik. Tapi aku juga punya beberapa syarat untukmu. Kau harus melayaniku sebagai suamimu dengan sepenuh hati, Aku berjanji tidak akan menyentuhmu tanpa seizin darimu, dan kau harus mau bersandiwara di depan keluarga kita,teman,maupun saudara bahwa kita menikah karena kita saling mencintai. Bagaimana? " Tanya Zafin sambil mengangkat sudut salah satu alisnya.
'Mengapa kita harus melakukan sandiwara itu? Apa maksudnya syaratku tadi hanya berlaku saat kita sedang berdua saja. 'Kataku dalam hati mencoba memahami maksud dari Zafin.
__ADS_1
" Baiklah, Aku akan melakukan itu. " Jawabku sambil menghela nafas. Zafin hanya tersenyum lebar mendengar jawabanku.