
Dalam perjalanan pulang setelah membeli cincin pertunangan dan pernikahan kami, Aku tak pernah berhenti berpikir tentang sikap Riky saat bertemu di restoran tadi.
'Sebenarnya apa yang mau dia katakan tadi?. 'Batinku sambil mencoba mencari jawaban di otakku.
" Fifi apa yang kau pikirkan? Apa kau baik-baik saja?. " Perhatian Zafin langsung menyadarkanku dari lamunan. Aku pun menoleh ke arahnya dan menganggukkan kepalaku tanda Aku baik-baik saja, sementara Zafin hanya mendesah dengan jawabanku.
" Oh ya,bolehkah Aku tau siapa nama aslimu dalam akte kelahiranmu? Karena sama sepertiku kau juga pasti memakai nama yang singkat dari nama aslimu agar orang lain lebih mudah mengenal dan memanggilmu kan?. " Kata Zafin sambil menatapku.
" Yah itu benar, nama asliku adalah Nafisha Atnar Yatwi. Karena nama itu terlalu panjang jadi Aku menggunakan nama panggilan orang tuaku dan nama belakangku. " Jawabku singkat.
" Bagaimana dengan namamu sendiri?. " Aku bertanya kembali padanya agar suasana tidak kembali canggung, jujur saja Aku kasihan melihat supir yang mengemudi di kursi depan karena sepertinya dia merasa tertekan dengan sikap diam kami.
" Zafinkar Malik Ahmeer. Namamu sangat indah, siapa yang memberimu nama itu?. " Zafin memujiku masih dengan senyuman manis di bibirnya yang membuatku kadang sedikit tertegun saat menatapnya.
" Itu pemberian Kakekku. " Jawabku sambil memalingkan wajah menatap keluar jendela mobil.
" Oh ya, pertunangan kita tinggal 2 hari lagi tapi Aku tidak tau tentang orang tuamu? Apa mereka akan datang?. " Aku mencoba memberanikan diri mengutarakan apa yang sedari tadi kupendam dalam hati.
" Besok kau akan tau, ikutlah bersamaku untuk menjemput mereka di bandara besok pagi. " Ajak Zafin
" Baiklah terserah kau saja. " Jawabku pasrah.Zafin pun mengantarku pulang seperti janjinya pada Ayah dan Ibu lalu dia pun berpamitan pada Orang tuaku dan pergi kembali kerumahnya.
***
__ADS_1
Keesokan paginya seperti kata Zafin kemarin, dia mengajakku pergi ke bandara untuk menjemput Orang tuanya. Kami pun menunggu di kursi tunggu pintu kedatangan internasional. Yah Aku tak tau bahwa Orang tua Zafin tinggal di luar negeri karena yang selalu bersama Zafin hanya Nenek Hamida saja.
" Itu mereka!. " Zafin berdiri dari tempatnya sambil menunjuk pada seorang pria paruh baya yang sedang mendorong bagasi tempat barang bawaannya dengan seorang wanita yang tidak lain adalah istrinya.
" Assalamualaikum Pa... Ma... " Zafin menghampiri Orang tuanya dan mencium tangan mereka secara bergantian, diikuti juga denganku.
" Apakah dia calon menantu Mama sayang?. " Tanya Mama Zafin sambil memegang pipiku. Aku pun hanya tersenyum ramah padanya.
" Pa... Ma... dia adalah Fifi, dia calon menantu Papa dan Mama. " Zafin pun mengenalkanku pada Orang tuanya dengan bangga.
" Bagaimana kabar Paman dan Bibi,Apakah kalian menikmati perjalanannya?. " Kataku mencoba memberi kesan pertama yang baik pada keduanya.
" Alhamdulillah, kami sehat sayang. " Mama Zafin menjawabku dengan tangannya yang masih mengelus pipiku, entah karena Aku cantik atau karena Aku akan segera menjadi menantunya.
Setelah cukup kami berbincang, Zafin segera mengajak Papa dan Mamanya pergi ke rumahnya karena sepertinya Kedua Orang tua itu sangat letih setelah menempuh perjalanan jauh menggunakan pesawat terbang, walaupun kuakui keduanya terlihat masih sangat muda. Bahkan Aku sendiri terkejut di bandara tadi saat mereka mendekat karena baik wajah Mama Zafin maupun Papa Zafin masih seperti orang berumur 25 tahun.
Setelah Zafin menaruh barang-barang Orang tuanya ke dalam kamar, kami duduk bersama di ruang tamu. Ini pertama kalinya Aku pergi ke rumah Zafin dan mataku tak bisa berhenti menatap ke seluruh sudut ruangan di mana semua furniture ditata sedemikian rupa hingga terjalin keselarasan desain interior yang menyejukkan mata.
" Fifi sayang, malam ini undang lah Kedua Orang tuamu untuk makan malam bersama, kita juga bisa membicarakan tanggal pernikahan kalian. " Kata Mama Zafin sambil memegang kedua tanganku.
" Tentu. " Jawabku sambil melempar senyuman kepada Mama Zafin yang duduk di sebelahku.
" Bagaimana awal pertemuanmu dengan Zafin, Fifi?. " Pertanyaan Papa Zafin membuatku terkejut hingga kehabisan kata-kata.
__ADS_1
'Apa yang harus Aku katakan?'Batinku cemas.
" Ehem... Papa Aku harus kembali ke perusahaan sekarang, Aku juga akan mengantar Fifi pulang. " Lagi-lagi Zafin yang membantuku keluar dari situasi seperti tadi.
Setelah Aku berpamitan dengan Papa dan Mama Zafin, kami pun pergi meninggalkan pekarangan rumah Zafin. Selama di perjalanan seperti biasa suasana menjadi sangat hening,tidak ada yang membuka suara untuk berbicara baik Aku maupun Zafin.
" Maaf... "
" Maaf... "
Kami meminta maaf secara bersamaan, itu membuat kami terkejut, tetapi Zafin menertawai sikap kami.
" Aku minta maaf karena Aku selalu membuatmu berada dalam situasi seperti tadi. " Zafin meneruskan perkataannya setelah berhenti tertawa.
" Tidak, Aku juga minta maaf karena Aku tidak pernah bisa menjawab dalam situasi seperti tadi sehingga selalu merepotkanmu. " Kataku karena merasa bersalah dengan sikap diam seribu bahasaku tadi. Zafin sekilas menatapku lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.
" Lupakan saja. " Katanya singkat.
***
Sedangkan Papa dan Mama Zafin merasa sedikit curiga dengan sikapku dan juga Zafin tadi.
" Sayang tidakkah kau merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh putra kita?. " Kata Papa Zafin dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Kau benar Suamiku, sepertinya Aku harus bicara dengan Anak itu nanti. " Kata Mama Zafin yang juga mencurigaiku saat ditanya oleh Papanya Zafin tadi.