Garis Tangan Tuhan Untukku

Garis Tangan Tuhan Untukku
Bertemu teman lama


__ADS_3

Tak butuh waktu lama makanan kami pun datang, Aku dan Zafin langsung menyantapnya.


" Aku akan pergi ke toilet sebentar, kau tetaplah di sini dan pesan apapun yang kau mau. Ingatlah, jangan segan dan jangan malu padaku. " Kata Zafin dengan senyum mengembang di wajahnya lalu pergi meninggalkanku di meja restoran tempat kami makan siang. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban menuruti kata-katanya.


'Sepertinya Aku harus mulai terbiasa dengan sikapnya yang mengejarku seperti tadi. ' Desahku dalam hati sambil meneguk secangkir Cappuccino latte favoritku.


" Fifi! Apakah itu kau?. " Suara seorang pria yang sedikit familiar di telingaku membuatku berhenti meminum minumanku.


" Riky!. " Sapaku sedikit terkejut dengan kehadirannya. Dia adalah temanku waktu SMP dulu, semasa sekolah Aku pernah menyukainya dan bahkan sudah menyatakan perasaanku padanya tapi yang kudapatkan adalah penolakan yang beralasan dengan hukum islam.


'Betapa bodohnya Aku dulu bisa menyukainya?! Dia bahkan telah berubah dari seorang pria alim menjadi seorang gamers yang kadang lalai dengan ibadahnya. Cihh. ' Umpatku kesal dalam hati.

__ADS_1


" Kebetulan sekali, Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tolong maafkan Aku karena pernah menolak perasaanmu saat masih sekolah dulu. Aku sadar apa yang kulakukan itu salah. " Kata Riky sambil menatapku dengan wajah penuh penyesalan.


" Bisa langsung ke intinya?!. " Kataku karena risih dengan pria di hadapanku itu.


" Fifi, Aku telah jatuh cinta padamu. Maukah kau menik...... " Kata-kata Riky terpotong karena sosok Zafin yang berdiri di belakangnya menepuk pundak Riky.


" Sayang apa yang tadi kalian bicarakan?. " Kata Zafin menghampiriku sambil memeluk pundakku.


" Kenapa kau diam saja sayang, jika dia temanmu maka kau harus mengundangnya ke pernikahan kita bukan?. " Kata Zafin dengan tatapan manisnya padaku.


" Me-menikah?!. " Kata Riky terkejut. Dia tak tau sebelumnya bahwa Zafin akan menjadi calon suamiku.

__ADS_1


" Yah...Riky, ini adalah calon suamiku Zafin. " Kataku memperkenalkan Zafin padanya karena kesepakatan diantara Aku dan Zafin yang harus Aku lakukan.


" Hai Riky, oh ya sepertinya tadi ada perkataan yang belum kau selesaikan, bukan begitu sayang?. " Lagi-lagi Zafin menatapku dengan senyum manis di bibirnya. Yah... sebenarnya Aku tidak memperhatikan kata-kata Riky tadi karena tau Zafin sudah kembali dari toilet. Kami pun menatap Riky menunggunya kembali meneruskan kata-katanya.


" Ti-tidak lupakan saja itu, dan Aku ucapkan selamat kepada kalian berdua. Aku pasti akan datang ke pernikahanmu Fifi. Baiklah, Aku harus pergi sekarang. Assalamualaikum... " Dengan wajah canggung Riky pergi meninggalkan kami di restoran. Pria itu mengurungkan niatnya untuk melamarku karena dia sudah di dahului oleh Zafin dan Riky juga tau sepertinya perasaan yang dulu pernah diutarakan gadis cantik sepertiku waktu sekolah sekarang sudah tidak ada lagi.


Dia tau karena setelah lulus SMP hingga saat ini Aku tidak pernah berkontak dengannya seperti dulu Aku sering sekali menanyakan kabarnya, sedang apa dia, atau dimanakah dia berada. Dia pun merasa tak enak hati karena sepertinya dia tau Aku yang sangat risih terhadap dirinya yang tiba-tiba menyapaku di restoran tadi.


" Waalaikumsalam... " Jawabku dan Zafin.


Setelah selesai makan siang sebelum pulang kami melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di masjid seberang restoran tempat kami makan siang tadi.

__ADS_1


__ADS_2