GEN-X BATTLE

GEN-X BATTLE
Prolog...


__ADS_3

Dalam sebuah laboratorium....


Merah, kuning, biru, ungu, dan masih banyak varian warna dari cairan yang tersimpan dalam puluhan botol dan tersusun rapi dalam sebuah rak.


Itu bukan cairan biasa, melainkan hasil penemuan yang sangat brilian, namun paling kontroversial.


Cairan itu adalah sebuah serum yang mampu memanipulasi gen antara manusia dan hewan, dimana pengguna serum tersebut dapat menggunakan kemampuan maupun kekuatan fisik dari hewan -x.


Akan tetapi, penemuan tersebut tentunya menarik perhatian banyak orang. Mulai pihak pemerintahan dan militer hingga para mafia juga kalangan rakyat biasa.


Terutama kelompok yang menginginkan kekuatan dan kekayaan, tentunya sangat mengincar data pembuatan serum tersebut agar dapat diproduksi secara mandiri. Lalu digunakan sendiri atau dipasarkan dengan harga jual tinggi...


.........


Seorang pria dengan pakaian serba putihnya, terlihat sibuk menata sebuah ruangan. Banyak peralatan yang tak tahu apa namanya, berserakan disana-sini.


Wajar, namanya juga ilmuan sekaligus peneliti. Mungkin terlalu sibuk atau larut dengan pekerjaan hingga membuatnya tak sempat untuk merapikan ruangan yang memang biasanya berantakan.


Jika ada peneliti yang tiba-tiba merapikan ruangan, artinya hari itu akan ada orang penting yang akan berkunjung. Entah itu atasan atau orang pemerintahan.


Benar saja, tak lama kemudian, handphon di saku pria itu, berbunyi. Pria itu segera merogoh sakunya lalu menerima panggilan.


''Tit...!" Pria tersebut menekan tombol terima.


"Halo sayang... Bagaimana, sudah selesai?" Terdengar suara perempuan dari telpon tersebut.


"Iya, ini lagi beres-beres ruangan. Memangnya, Melvin pulang sekolah jam berapa, ma?" Tanya pria itu balik. Sepertinya dia sedang berbicara dengan istrinya.


"Sebenarnya, sore... Tapi aku akan izin ke pihak sekolah agar aku bisa membawanya. Bukankah papa sudah berjanji, diulang tahunnya yang ke 15 kita akan membawanya ke ruang kerja papa. Itu juga permintaanya."


"Iya, sayang... Papa ingat. Karena tadi ada tamu juga, makanya sekarang baru bisa beres-beres."


"Oke, kalau begitu aku akan menjemputnya sekarang. Takutnya kehabisan waktu karena lama diperjalanan." Ucap istrinya.


"Baiklah, hati-hati di jalan..." Pesan pria tersebut seraya mengakhiri panggilan.


Beberapa jam kemudian...

__ADS_1


Sebuah mobil sedan mewah memasuki gerbang dari sebuah gedung tingkat tiga, namun cukup luas.


Dilihat sekilas, area tersebut memang terlihat biasa saja. Tidak seperti tempat penelitian lain, area itu tidak memiliki penjagaan sama sekali. Karena memang area tersebut sengaja dibuat dengan suasana perumahan biasa, sehingga tidak akan ada yang menyadari bahwa tempat itu adalah tempat penemuan terbaik abad ini.


Tentunya jika ada tamu, tidak akan dibawa ke area kerja, melainkan semua tamu akan diterima di tempat yang sangat jauh dari lokasi penelitian dan pembuatan serum tersebut.


Karena yang datang adalah keluarganya sendiri yaitu Melvin dan istrinya, sehingga dia tak perlu takut tempat itu ditemukan oleh orang yang tak diinginkan. Itu juga Karena dia telah berjanji untuk menunjukkan ruang kerjanya pada Melvin di ulang tahunnya yang ke 15.


"Cit...!"Mobil sedan mewah tersebut berhenti tepat didepan gedung.


Seorang wanita dan seorang anak berusia 15 tahun turun dari mobil. Meski tempat itu sangat dirahasiakan namun sebagai istri dari peneliti top, tentunya dia sudah beberapa kali mengunjungi tempat tersebut.


"Ayo, Melvin... Kita temui papa, sepertinya papamu belum sadar akan kedatangan kita. Atau mungkin tertidur karena kelelahan." Ucap ibunya, berbicara pada Melvin.


"Tidak, ma... Sepertinya papa ada tamu." Jawab Melvin.


"Kenapa kau bisa tau...?"


"Lihat, ma... Disana ada beberapa mobil. Bukankah papa hanya sendirian?" Melvin menunjuk ke sebidang area yang terparkir beberapa mobil, namun tidak beraturan.


Mama Melvin melihat kearah yang ditunjuk, lalu mengangguk. "Ya, sepertinya tamu papa juga sedang buru-buru." Balas ibunya.


"Tentu saja tidak... Mama akan memarahi papamu jika sampai kali ini batal. Bila perlu, kita sendiri yang mengusir tamu." Ibu Melvin membela.


Melvin tersentuh dengan perkataan ibunya. Dia merasa sangat bersyukur memiliki ibu yang mengerti perasaannya, dimana banyak orang tua yang menganggap kemauan seorang anak hanya perasaan biasa.


"Terimakasih, ma..." Ucap Melvin, tulus."


Ibunya mengelus kepala Melvin. " Kau tak perlu berterimakasih. Janji papa adalah janji mama juga." Ibu Melvin tersenyum.


Mereka kemudian masuk. Meski ruangan disana sangat banyak dan berliku-liku, namun ibu Melvin tau, ruangan mana yang akan dituju.


Karena memang tempat itu tidak pernah dan tidak akan pernah menerima tamu, wajar jika terlihat sepi.


Disepanjang lorong, hanya cahaya lampu yang menemani mereka. Karena memang tak ada orang atau asisten dari seorang peneliti yang bekerja disana.


Beberapa meter sebelum tiba di ruangan yang dituju, terlihat beberapa pria berjas hitam berdiri tegap tepat di bibir pintu, bertindak layaknya penjaga keamanan.

__ADS_1


Saat melihat situasi itu, Melvin dan ibunya berhenti sejenak. Sepertinya ada keraguan di hati mereka, apakah mereka akan menerobos atau menunggu sebentar lagi.


Mereka juga melihat seorang yang berdiri disisi pintu, langsung masuk keruangan saat melihat mereka dan tak berapa lama keluar lagi. Sepertinya sekedar melaporkan kedatangan mereka.


Setelah berpikir sesaat, akhir ibu Melvin menguatkan tekad. Dia akan masuk dan mengusir tamu didalam, tak peduli sepenting apa tamu itu.


Ibunya lalu menarik tangan Melvin, berjalan Agak cepat. Namun saat tiba di pintu, apa yang mereka lihat sungguh menakutkan.


"Pa... Papaaa....!" Ibu Melvin terika histeris. Dengan respon cepat, segera berlari kedalam.


Apa yang Melvin saksikan saat ini, membuat dia ketakutan setengah mati hingga tak tahu apa yang harus diperbuat.


Didalam, ayahnya sudah dalam kondisi terikat, mulut disekap, dari kepala mengalir deras darah merah yang menggenang di lantai. Yang lebih parahnya lagi, Beberapa jarinya sudah terpisah dari tempat semestinya.


"Sayaaang...! Apa yang terjadi. Mengapa bisa begini?" Ibu Melvin terus berteriak, melihat kondisi ayahnya yang sudah tak berdaya.


Ayahnya ingin mengatakan sesuatu, namun suaranya tidak keluar karena masih tersumpal.


Menyadari akan hal itu, ibunya segera menarik kain yang menyumbat mulut ayahnya.


"Ma, cepat bawa Melvin... Ti, tinggalkan saja aku, tinggalkan tempat ini segera...!" Ayah Melvin bicara terbata-bata namun penuh permohonan.


"Bagaimana mungkin...! Mana mungkin mama meninggalkan papa. Apalagi papa sudah seperti ini. Apa yang terjadi...?!" Ibu Melvin menangis.


"Cepat, ma... Dengarkan papa kali ini saja."


"Tidak, pa... Tidak! Mama akan telpon polisi" Ucap ibu Melvin seraya mengeluarkan ponsel dari tas yang dibawanya.


Sesaat setelah menekan nomor yang dituju dan menaruh ponsel tersebut ditelinga, tiba-tiba sebuah tamparan keras menghantam ponsel tersebut sekaligus menghantam pipi ibu Melvin. Tamparan tersebut berhasil membuat ibu Melvin terpental, bahkan hingga membuat pipinya berdarah akibat beradu dengan gigi.


"Ka, kalian kurang ajaarrr...!" Maki Ayah Melvin terhadap orang yang memperlakukan istrinya dengan kasar.


Namun bukannya berhenti, Orang itu sekali lagi menendang keras bagian perut, tepatnya di ulu hati. Sontak tendangan itu membuat ibu Melvin kehilangan nafas sekaligus kehilangan nyawanya.


Mata Melvin melotot, menyaksikan ibunya yang terkulai dan terdiam sesaat. Rasa takut yang dialaminya semakin besar, namun rasa pedih dihatinya lebih sakit daripada itu semua, saat menyaksikan ibu tercinta tak lagi bersuara.


"Ma, mama, mamaaa...!" Akhirnya Melvin mengeluarkan suara yang sejak awal tertahan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2