GEN-X BATTLE

GEN-X BATTLE
Awal perubahan...


__ADS_3

Siapapun tahu, barang gagal akan selalu mendatangkan bahaya jika digunakan. Mungkin tu juga yang terpikirkan oleh bos dari rombongan orang tak dikenal tersebut.


Sementara itu Ayah Melvin dipenuhi dengan kekhawatiran yang sangat. Bukan karena itu barang gagal, melainkan karena serum itu adalah hasil rekayasa dari beberapa gen binatang terkuat yang berhasil dia buat.


Barang itu sengaja ditempatkan di tempat yang terlihat tak berguna. Sebenarnya, barang itu akan di promosikan hari ini ke pihak pemerintahan, namun siapa sangka akan ada kejadian seperti ini.


Sekali lagi, kekhawatiran ayah Melvin adalah, jika gen sekuat itu disuntikkan kepada seseorang dengan dosis lebih dari satu, maka yang terjadi bisa mengakibatkan ledakan syaraf dan mati.


Jika hal itu terjadi, siksaan yang Melvin terima bisa dikatakan lebih berat dari apa yang telah ayahnya terima. Apalagi jumlah serum itu bukan hanya dua atau tiga, melainkan belasan.


"Padaku... Lakukan padaku!" Teriak ayah Melvin dengan sisa suara yang bisa dia keluarkan.


"Jangan berebut. Kau juga akan mendapat bagian. Sekarang kita mulai dari anakmu dulu." Ucap bos orang asing itu.


Ayah Melvin semakin gusar dan marah, ingin rasanya dia menerjang orang itu. Namun apalah daya, dia sudah tak bisa melakukan apapun.


Bos orang asing itu mulai menyuntikkan satu persatu serum tersebut.


1 suntikan...


2 suntikan...


3 suntikan...


4...,...5,....,....,....


Entah sudah beberapa yang disuntikkan, dan hanya tersisa dua botol saja. Nantinya dua botol itu akan diberikan pada ayah Melvin.


Melvin yang menerima suntikan tersebut, hanya bisa pasrah. Tentunya dia tahu apa konsekuensinya jika dia memberontak, dan dia lebih memilih menahan rasa sakit suntikan tersebut. Padahal jika dia tau, dia akan merasakan siksaan yang berpuluh kali lipat lebih berat dari ayahnya.


"Me, Melvin..." Terdengar suara ayahnya, parau memanggil.


"A... Ayah, tenang saja... Aku masih bisa menahannya." Ucap Melvin, terbata.


"Hmmm... Meski disuntikkan dengan bebagai jenis, sepertinya efeknya memang agak lama. Ucap bos orang asing tersebut.


Sesaat kemudian, "Bos..." Panggilan salah satu bawahan.


Si bos menoleh. Ia melihat anak buahnya memberikan isyarat bahwa waktu mereka sudah habis.


Mengetahui hal itu, si bos langsung mengambil sisa dua botol serum gagal dan menyuntikkannya pada ayah Melvin.


"Ini, sebagai kenang-kenangan antara kita untuk kau ingat di neraka." Ucap bos orang asing tersebut.

__ADS_1


Setelah itu, si bos menyuruh anak buahnya untuk mengangkat koper-koper yang berisi ratusan serum, lalu pergi meninggalkan Melvin dan ayahnya begitu saja.


...***...


5 tahun kemudian...


Dalam lima tahun terakhir, perkembangan zaman berubah drastis. Perubahan itu bagaikan sebuah evolusi tanpa cacat dan jeda waktu.


Setelah ditemukannya sebuah penelitian tentang penyatuan gen antara manusia dan hewan, membuat banyak orang menginginkan benda ajaib tersebut.


Serum yang dulunya sangat rahasia dan terbatas, kini dapat dimiliki oleh siapapun selama memiliki uang. Tentu saja karena harga jualnya yang mahal.


Ya, pemasarannya juga tak dapat di hentikan oleh pihak militer pemerintahan. Tentu karena barang tersebut telah diorganisir oleh pihak tak dikenal, dan juga memiliki kekuatan tempur yang hampir mendominasi.


Dan hal terburuk, karena sudah tidak mampu di antisipasi, bahkan pihak militer ikut andil dalam pemasaran barang yang terhitung tabu tersebut.


Dan yang lebih gila lagi, di beberapa kota sudah berdiri beberapa akademi khusus untuk melatih mereka yang memiliki kemampuan dari gen hewan.


Sementara semua orang berusaha memamerkan kekuatan dari hasil suntikan gen yang mereka beli, seorang pemuda bahkan mencoba menyembunyikan kekuatannya itu.


Ya, namanya adalah Melvin. Anak dari profesor Langga.


Tidak hanya menyembunyikan kekuatannya, dia bahkan berpenampilan layaknya seorang yang tak terurus atau gembel.


Berbagai jenis seni arsitektur dari ratusan bangunan megah, menghiasi tempat yang saat ini Melvin kunjungi.


Tujuannya tidak jelas, yang pasti dia sedang mencari informasi tentang sumber penjualan serum yang saat ini masih sangat minim.


Sudah lima tahun, bertindak sebagai orang biasa dan tak menghasilkan apapun, sepertinya dia harus menaikan sedikit statusnya.


"Hmmm... Agar bisa melacak orang-orang itu, sepertinya harus aku mulai dari memasuki akademi." Gumam Melvin.


Dia melihat sebuah layar iklan yang kebetulan menampilkan sebuah akademi pelatihan.


"Sebelum nafas ini berhenti bertiup, tak satupun dari mereka hidup dengan tenang." Lanjut Melvin


Masih teringat jelas dibenak melvin kenangan pahit lima tahun yang lalu. Saat ibunya terbunuh, saat merasa sakitnya ledakan syaraf dalam tubuhnya akibat penggunaan serum gen yang berlebihan, saat ayahnya lebih memilih menyuntikkan obat penawar untuknya dari pada digunakan sendiri padahal saat itu ayahnya merasakan hal yang sama, Bahakan jauh lebih tersiksa daripada dirinya.


Melvin mengepalkan tinju, padahal wajahnya tetap terlihat tenang dan biasa saja.


Beberapa detik kemudian, Melvin mengeluarkan ponsel dari saku. Lalu mengotak Atik layar, mencari sesuatu.


Setelah menemukan, Melvin menekan sebuah nama dengan nomor yang tertera dibawahnya.

__ADS_1


"Tit...!" Melvin mencoba menghubungi seseorang.


Tak lama kemudian, telpon terhubung.


"Halo, tuan Melvin... Lama tidak berbicara dengan Anda" Terdengar suara orang dari dalam telpon, Berbicara dengan penuh rasa hormat.


"Bagaimana kabar anda, tuan...? Apakah anda baik-baik saja." Lanjut orang di telepon.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Melvin.


"Syukurlah jika begitu. Sepertinya tuan membutuhkan sesuatu. Apakah ada yang bisa ku bantu?" Tanya orang itu menebak.


"Benar... Aku ingin masuk akademi Allego. Bisakah kau membuatkan dokumentasi tentang diriku?"


"Apakah tuan tidak memiliki data Priba..." Suara di telepon terjeda. "Ah, tidak... maksudku, tuan kirimkan saja nama yang ingin tuan gunakan. Aku akan menyelesaikannya dalam sehari dan langsung mendaftarkan anda." Lanjut orang ditelepon.


"Oke, akan aku kirimkan." Jawab Melvin. "Kalau begitu, sudah dulu."


"Sebentar tuan..." Tiba-tiba orang di telepon menahan Melvin yang ingin mematikan ponselnya.


"Ada apa...?"


"Jendral Leonard titip salam, jika ada waktu, beliau ingin berjumpa dengan anda."


"Oh, begitu... Aku akan memikirkannya." Jawab Melvin.


"Baik, tuan... Aku akan menantinya."


"Tit...!" Melvin memutus panggilan.


Setelah mengembalikan ponsel ke tempat semula. Tanpa sadar, dia yang sudah berkeliling sana-sini hingga empat jam lamanya, merasa mulai kelaparan. Tanpa pikir panjang, dia langsung mencari rumah makan ataupun restoran. Yang penting bisa mengganjal perut laparnya.


Tak lama mencari tempat tujuan, Melvin menemukan sebuah gedung yang cukup besar dan megah. Tempat tersebut dia yakini sebagai restoran, karena memang terdapat lambang itu disana.


Namun yang menjadi masalah, pakaian yang ia kenakan, mungkin akan menghambatnya untuk masuk. Sedangkan, dia tak tau harus kemana lagi mengisi perut kosongnya itu.


Karena sudah tak tertahankan, diapun segera menuju pintu restoran. Saat hendak masuk, tiba-tiba sebuah mobil mewah muncul dan berhenti tepat dihadapannya.


"tit,tit...!" Mobil tersebut membunyikan klakson padanya, padahal dia sama sekali tak menghalangi jalan. Bahkan, jalannya menuju pintu restoran itulah yang terhalangi oleh mobil tersebut.


Setelah beberapa kali membunyikan klakson dan Melvin masih tetap terdiam karena jalannya terhalang, akhirnya jendela mobil itu terbuka.


Seseorang mendongakkan kepala seraya berkata, "Minggir, sampah...! Apa kau tak lihat, kami mau lewat."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2