
Dalam ruangan yang di jaga oleh dua orang berbadan tegap, Melvin menangis sejadi-jadinya Saat mendapati ibunya sudah tidak bernyawa.
Tak ada yang dapat dia lakukan. Mau melawan, orang berbadan besar itu tentu bukan tandingannya. Bahkan, dia sudah diliputi rasa takut saat pertama kali melihat ayahnya dipenuhi luka dan darah.
Jiwa Melvin meronta-ronta. Dia tak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, semua seperti bergerak diluar kendali.
Tanpa sadar, Melvin sudah memegang pot bunga dan ingin menghantamkan kepada penjaga pembunuh ibunya.
Dengan mata merah, marah dan bercucuran air mata, pot tersebut diayun. Namun baru saja terangkat sejenak, sebuah pukulan telak bersarang di ulu hati, seperti halnya ibunya.
Bug...
Melvin berlutut di lantai.
Ya, seperti itulah yang dialami ibunya saat menerima pukulan tersebut. Nafas seketika terhenti. Semakin mencoba bernafas, semakin tak ada daya untuk melakukannya. Beruntung Melvin sempat menahan nafas dan memusatkan di perut, membuat dia selamat dari kematian.
Saat hampir tak sadarkan diri, dia sempat melihat beberapa orang keluar dari sebuah pintu rahasia yang disamarkan Dengan membawa beberapa koper besar. Pintu tersebut tepat berada dibelakang ayahnya yang sepertinya ruang kerja tersembunyi. Sedetik kemudian, Melvin pingsan.
Sementara itu, Ayah Melvin yang melihat kejadian itu, mencoba untuk tetap tenang. Meski di hati terasa perih, ia tetap berusaha untuk tidak menyadarkan Melvin. Dia yakin bahwa Melvin hanya pingsan.
Ayah Melvin berharap Melvin tak terlibat lebih jauh dan bisa tetap hidup setelah semua ini berakhir.
Orang-orang tak dikenal tersebut menata koper-koper besar itu di hadapan ayah Melvin. Setelah dibuka, benar saja, semua koper terisi dengan botol-botol kecil yang berisi sebuah cairan dengan varian warna.
"Katakan...! Dimana kau menyembunyikan sebagian arsip yang lain?! Aku tau ini belum lengkap." Seseorang mengancam Ayah Melvin. Sebatang pisau lipat telah menyerempet jari yang hanya tinggal beberapa.
"Dasar bajingan...!".Ayah Melvin mengumpat, marah. " Jangankan hanya sepuluh jari, sampai leher ini berpisah dari badan, aku tak akan memberitahumu." Ayah Melvin memprovokasi agar kematiannya bisa lebih cepat. Ia tak akan mengatakan dimana salinan sebagian data itu disembunyikan, tapi dia juga tak ingin tersiksa lebih lama.
"Huh... Ingin mati dengan cepat? Jangan harap. Aku akan mengiris sedikit demi sedikit setiap bagian tubuhmu sampai kau memberikan arsip lengkap." Ucap orang asing itu, seakan tahu apa yang ayah Melvin pikirkan.
Sesaat setelah berkata demikian...
"Srek...!" Sebuah jari kembali terpisah dari tempat semestinya.
"Arghhh...!" Ayah Melvin berteriak. Ia menahan rasa sakit yang tak terbayangkan oleh siapapun, disitu.
"Ah, salah...! Kenapa aku memotong jarimu satu persatu? Mengapa tidak kita bagi tiga bagian saja, agar lebih terasa?" Orang asing tersebut mengutarakan ide yang lebih menyiksa.
Mendengar ancaman itu, ayah Melvin tak gentar sedikitpun. Tak ada tanda-tanda dia ingin mengatakan. Dia sudah bertekad, penemuan itu hanya dirinya yang bisa membuat dan takkan ada orang kedua.
Beberapa jam kemudian...
__ADS_1
Ayah Melvin sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Mungkin akibat rasa sakit yang tak mampu lagi dibendung.
Sedikit demi sedikit, berlahan tapi pasti. Semua jari yang melekat pada tubuh ayah Melvin, sudah habis. pilihan garis merah bersilangan di sekujur tubuh. Bahkan sebagian telinganya sudah teriris dan terurai kebawah.
"Uhuk, uhuk..." Sebuah batuk terdengar nyaring dari sosok yang dipenuhi Luka itu.
Ayah Melvin sepertinya mulai tersadar.Tak dapat dipungkiri, saat ini ayah Melvin adalah orang yang paling benci dengan batuknya sendiri. Akibat batuk dia tersadar, dan akibat batuk pula para penyiksa itu tahu dia sudah sadar.
"Oh, ternyata sudah sadar...! Kalau begitu kita lanjut ronde selanjutnya." Ucap orang asing tersebut.
Tanpa basa-basi, pisau tipis itu mulai berjalan di sepanjang lengan, meninggalkan sebuah garis merah yang mengeluarkan cairan dengan warna sama tapi lebih pekat dan kental.
"Arghh...!" Erangan dan teriakan itu terdengar kembali dari orang yang sama, memenuhi seisi ruangan.
Dengan kebisingan tersebut, ternyata membuat Melvin tersadar dari pingsannya.
Matanya langsung tertuju pada orang yang tak dapat lagi dikenali dari wajah maupun postur tubuh. Namun dia yakin, itu adalah ayahnya.
"A... Ayah...!" Melvin berusaha berteriak, tapi suaranya pelan dan tersendat.
"Hohoho..." Orang asing tersebut, tertawa kegirangan. "Aku menemukan permainan baru." Ucap orang tersebut, bengis menatap Melvin.
"Kau... Jangan kau sentuh dia, dia tak tahu apa-apa!" Ayah Melvin yang menyadari niat orang asing itu, berusaha menghentikan.
walau dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, ayah Melvin masih sempat memuji kejelian orang asing tersebut. Dia tak menyangka bahwa memang seperti itulah niatnya.
Memang tak dapat disangkal, satu-satunya orang yang bisa berkunjung ketempat kerjanya, tentu hanya anak dan istrinya. Bisa saja dia beranggapan para bajingan itu menyadari hal tersebut. Tapi dia juga masih berharap meski pada kemungkinan sekecil apapun untuk keselamatan anaknya.
Bahkan didalam derita dan siksaan itu, dia hanya berpikir tentang ulang tahun anaknya yang berubah menjadi ulang tahun berdarah.
Orang asing itu dengan kasar, menarik Melvin, lalu menelungkupkan dia tepat dihadapan ayahnya.
Pisau jernih bercorak merah, sudah melekat di batang leher Melvin. Hanya dengan sekali hentakan, pisau itu dapat memutuskan hidup matinya.
Melvin menggigil dan berkeringat dingin karena rasa takut. Tak ada niat memberontak. Dia yang sejak awal takut mati, berusaha diam agar kematiannya bukan karena ulah sendiri. Meskipun tak ada bedanya.
Sementara itu, melihat hal yang akan terjadi pada anaknya, sepertinya ayah Melvin mulai goyah.
"Jangan, tolong jangan lakukan itu. Aku akan memberikan apapun yang kau mau." Ayah Melvin memohon.
"Benarkah...?!" Orang asing itu terlihat mulai kegirangan.
__ADS_1
Ayah Melvin mengangguk.
Namun sesaat kemudian beberapa anak buahnya yang tadi diperintahkan untuk memeriksa semua tempat di gedung tersebut, datang menghampiri.
"Tapi..." Orang asing itu menahan kalimatnya. " Sepertinya terlambat!" Ucap Orang asing itu, lanjut.
Meski berkata begitu, untungnya dia tidak langsung memotong leher Melvin.
"Apa kalian sudah menemukannya?"
"Sudah, bos...." Jawab orang yang ditanya.
Orang itu kemudian memberikan arsip yang dimaksud. Lalu orang yang dipanggil bos itu memeriksa keasliannya.
"Hmmm... Sepertinya memang ini yang kita cari." Ucap bos mereka.
Sesaat kemudian satu orang anggota, muncul. Dia membawa sebuah kotak berisikan belasan botol kecil. Di kotak tersebut tertulis sebuah kata, "Failed" atau gagal.
"Apa yang kau bawa...?!"
"Aku menemukannya di sebuah tempat. Sesuai yang tertulis, sepertinya ini barang gagal, bos." Ucap orang tersebut.
"Lalu, mau kau apakan barang gagal itu?" Si bos sedikit penasaran.
"Bukankah kita ada beberapa peliharaan? Aku akan mencobanya pada binatang itu."
"Apa kau bodoh?! Binatang itu bukan barang murah. Jika mati, memangnya kau bisa ganti?" Si bos marah.
Orang itu menggaruk kepala. "Maaf, bos... Aku akan mencari binatang lain."
"Tidak, tunggu dulu...!" Si bos seperti terpikirkan sesuatu.
"Berikan serum itu. Aku sendiri yang akan mengujinya." Saat berkata demikian, orang yang dipanggil bos itu tersenyum sini sambil menatap sipit kearah Melvin.
Melihat tatapan bosnya, orang itu segera paham apa yang bosnya ingin lakukan. Tanpa banyak menolak, dia langsung memberikan puluhan botol serum gagal itu.
Setelah menerima serum tersebut, sinis kembali berjongkok di sebelah Melvin. Matanya menatap kearah ayah Melvin dengan penuh penghinaan.
"Akibat keras kepalamu itu, bagai mana jika semua serum gagal ini kita suntikkan pada anakmu?"
"Deg...!" Mendengar perkataan orang asing itu, jantung ayah Melvin berdegup kencang.
__ADS_1
Bersambung...