GEN-X BATTLE

GEN-X BATTLE
Rekor Baru...


__ADS_3

55, 56, 67...


Berlahan tapi pasti, angka digital pada mesin tinju terus berjalan. Semua mata di ruangan itu tertuju pada mesin dengan raut tercengang.


Pada awalnya semua mengira kemungkinan besar pukulan Melvin bahkan tidak menghasilkan poin sama sekali. Tapi siapa sangka, baru kali ini mereka menyaksikan seseorang memukul tanpa kuda-kuda namun hasilnya bahkan jauh melampaui perkiraan.


Sekarang angka pada mesin tinju bergerak semakin lambat. Perubahan setiap angka bahkan memakan waktu hingga tiga detik. Melihat itu, nafas semua orang seakan tertahan.


96..., 97..., 98....


Angka sudah menyamai rekor yang tak terpecahkan sebelumnya. Hingga saat ini, semuanya masih belum percaya. Sebagian bahkan meyakinkan diri bahwa mesin tinju tersebut, rusak.


Lima detik kemudian...


99...


Setelah angka itu muncul, nomor digital pada mesin tinju berkedip-kedip. Menandakan itu adalah skor akhir.


Rekor yang sudah lama tak tergantikan, sekarang terpecahkan.


"Apa...?! Bagai mana mungkin! Aku yakin mesin ini rusak." Protes seseorang.


"Ya, benar...! Mana mungkin orang seperti dia dapat memecahkan rekor hanya dengan pukulan seperti itu." Ucap yang lain, setuju.


Pelayan yang melihat dengan jelas apa yang Melvin lakukan, juga bingung dan bahkan hampir percaya bahwa mesin tersebut rusak. Mungkin karena sudah lama tidak ada yang berpikir untuk memecahkan rekor sebelumnya, apalagi sampai mencoba.


Namun, karena peraturannya hanya boleh sekali pukul,.maka tak ada pilihan lain selain meluluskan Melvin.


"Selamat, tuan... Anda lulus." Ucap pelayan dengan nada masih tak percaya.


"Apa...?! Bagaimana kau bisa meloloskannya... Bukankah ini sebuah kecurangan? Seharusnya mesin itu rusak karena sudah lama tak tersentuh." Orang tadi kembali protes.


"Sesuai peraturan, setiap orang hanya diizinkan memukul sekali saja. Adapun mengenai kerusakan mesin, aku akan melaporkannya pada atasan." Jawab pelayan tersebut.


"Tidak...! Aku akan memukul sekarang dan melampaui orang kumuh itu." Sanggah orang tersebut, tak mau kalah.


"Tidak bisa... Anda tidak boleh memukulnya tanpa persetujuan kami." Larang pelayan.


"Huh...! Apanya yang persetujuan? Jika dia boleh, kenapa aku tidak?" Balas orang tersebut, keras kepala.


"Ya, ya... Aku juga mau melakukannya." Ucap yang lain.


Keributan semakin membesar. Pelayan itu tak mampu lagi membendung protes semua orang. Sepertinya dia harus segera melapor.


Saat dia hendak pergi, terlihat seseorang sudah memukul sasaran tinju pada mesin tinju.


Bug...!


Meski tanpa kuda-kuda seperti yang Melvin lakukan, tapi suara pukulan itu nyaring terdengar.


Akan tetapi....


"Apa ini...! Kenapa poinku hanya lima?" Pekik orang tersebut tak percaya dengan perolehan poin yang dia terima.

__ADS_1


"Ulang...! Aku tadi tidak serius memukul."


"Bukankah sudah aku katakan sebelumnya...? Setiap orang hanya memiliki satu kesempatan." Protes pelayan, namun lega karena orang tersebut gagal.


Bukannya mendengar perkataan si pelayan, orang itu bahkan sudah mengambil posisi kuda-kuda. Sedetik kemudian memukul dengan sekuat tenaga.


Bug...!


Suara pukulan kembali terdengar semakin nyaring.


Tapi apa yang terjadi tidak seperti yang dibayangkan. Angka yang diperoleh hanya melampaui dua poin dari sebelumnya.


Orang itu langsung menundukkan kepala karena malu. Sebab dialah orang pertama yang protes terhadap hasil Melvin.


"Tidakkah kau seharusnya menyingkir? Aku lihat, kau hanya besar mulut saja." Tegur seseorang pada orang itu.


Orang itu melangkah lesu. Selain menahan rasa malu, dia juga telah kehilangan kesempatan untuk memecahkan rekor di kelas dasar dan mendapatkan pelayanan gratis.


Bug...!


7...


Bug...!


5...


Bug...!


9...


"A, apakah mesin ini benar-benar masih bagus...? Itu artinya, orang itu sangat kuat." Gumam semua orang, terhadap Melvin.


Disisi lain, pelayan yang menyaksikan kegagalan semua orang, kini merubah cara pandangnya terhadap Melvin. Dia sampai tak percaya bahwa ternyata pemuda kumuh yang dianggap remeh oleh semua orang, ternyata berlian yang tertimbun lumpur.


Tidak sombong, tidak banyak bicara serta tak peduli apa kata orang. Begitulah penilaian pelayan tersebut terhadap Melvin.


"Tuan... Silahkan ikuti saya." Pinta pelayan.


Melvin berjalan mengikuti pelayan hingga menuju sebuah ruangan megah. Berbagai macam furnitur serta lukisan indah terpampang di ruangan itu.


Kursi berkelas dan empuk, pot yang terbuat dari emas serta masih banyak lagi benda-benda penghias mata yang membuat semua orang yang memandang harus mengagumi dan memujinya.


"Tuan silahkan menunggu di ruangan ini. Akan ada orang yang akan melayani tuan." Ucap pelayan tersebut seraya meninggalkan Melvin.


Tak lama sepeninggalan pelayan, tiga orang wanita dengan rupa dan penampilan serba menawan, memasuki ruangan tempat Melvin berada. Lalu diikuti beberapa pelayan yang membawa berbagai jenis makanan serba mewah dan mahal.


Melihat makanan yang tersaji, takutnya hanya orang dengan saldo tanpa batas yang bisa membeli makanan itu tanpa berpikir dua kali.


Setelah para pelayan saji meninggalkan ruangan, kini hanya Melvin dan ketiga wanita cantik yang tersisa di ruangan tersebut.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Melvin pada ketiga wanita cantik itu.


"Kami akan menghibur tuan..." Jawab salahsatunya, mewakili.

__ADS_1


"Aku rasa, aku tidak memesan hiburan apapun. Mungkin kalian salah orang." Ucap Melvin.


"Tentu saja tuan tidak memesannya, ini sudah sepaket dengan pelayanan khusus yang tuan dapatkan."


"Kalau begitu, tinggalkan saja aku. Aku hanya ingin makan dan tidak ingin diganggu oleh siapapun."


"Tapi, tuan..." Para pelayan tersebut bermaksud menolak.


"Katakan saja pada atasanmu, aku sendiri yang menyuruh kalian." Potong Melvin seakan tau apa yang para wanita penghibur itu khawatirkan.


"Tuan..."


"Sudahlah, aku sedang tidak ingin diganggu. Aku hanya ingin menikmati makananku saja." Kali ini suara Melvin agak terdengar kasar. Membuat para wanita itu sedikit ketakutan.


Tentu saja para wanita itu tidak berani menghina Melvin yang seperti gembel namun menolak keelokan mereka. Bagaimanapun, mereka tahu bahwa orang yang bisa memasuki ruangan itu bukanlah orang biasa.


"Ba, baik tuan..." Ucap mereka, lalu pergi meninggalkan Melvin, sendiri...


Diluar restoran...


Beberapa orang dengan tubuh kekar, terlihat terburu-buru.


"Gale, apakah tidak salah tempat...?"


"Tidak, kakak Alex...! Itu memang disini. Aku sendiri menyaksikan dia memasuki restoran itu." Jawab Gale.


"Kalau begitu, akan lebih mudah... Aku kenal dekat pemilik restoran ini. Ucap Alex agak sombong.


"Wah, kakak memang luar biasa, bisa kenal dengan pemilik restoran sebesar ini." Sanjung Gale.


"Apa kau pikir aku rendah...?!"


"Ah, tidak... Tidak berani. Mana mungkin aku berpikiran begitu terhadap kakak Alex. Tentu saja kakak yang terbaik." Gale kembali menyanjung. Takut orang dihadapannya itu tersinggung.


"Tentu saja... Kau harus tanamkan itu didalam kepalamu." Gale melotot.


"Iya, kakak Alex." Jawab Gale agak ketakutan.


Setelah berbicara singkat, mereka tiba di restoran yang dituju. Mereka masuk dan langsung disambut hangat oleh pelayan yang ada disana.


"Selamat datang, tuan-tuan semua." Sambut pelayan restoran.


"Tidak usah basa-basi...! Aku datang bukan mau makan, tapi aku sedang mencari seseorang." Ucap Alex seraya memandang sinis pelayan wanita yang menyambut mereka.


"Jika demikian, tuan katakan saja ciri-ciri orangnya. Aku akan mencarikan untuk tuan." Tawar pelayan tersebut.


"Tidak perlu...! Aku akan mencari sendiri."


"Maaf, tuan... Dengan orang sebanyak ini, takutnya tuan akan membuat keributan dan menganggu pelayan lain. Dengan berat hati, kami menolaknya." Cegah pelayan.


Mendengar perkataan pelayan, Alex marah. Dia segera mencengkram mulut pelayan wanita itu. "Dengar, aku kenal dekat dengan pemilik restoran ini, jadi aku tidak butuh persetujuanku." Bentak Alex seraya mendorong pelayan tersebut.


Pelayan itu menggigil ketakutan. Dia hanya dapat melarang namun tidak bisa menghentikan orang-orang dengan wajah sangar dan tubuh kekar tersebut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2