Girl With

Girl With
Girl With [ Silent ] #2


__ADS_3

Jumat, Juli 2022


Hari terakhir masa orientasi di sekolah. Sekolah menutup kegiatan ini dengan acara pentas seni. Yah, semoga saja tidak mengecewakan. Akhirnya, setelah mengikuti lima hari masa orientasi, aku akan resmi menjadi siswa SMA Minggu depan. Semoga saja hari-hariku berjalan dengan baik selama berada di sekolah itu.


Oh, keretanya sudah datang.


Aku beranjak dari tempat dudukku, kemudian berusaha menepis jauh-jauh semua pikiran negatif yang sedari tadi merambat di kepalaku.


‘Seandainya diterima di Sekolah Negeri, seharusnya enggak perlu capek-capek begini 'kan?’


“Heh, ngelamunin apa? Ayo itu pintunya keburu ditutup,” ucap ibuku, memecahkan lamunan yang sedari tadi menjalar di dalam kepalaku.


Aku pun masuk ke dalam kereta, mencari gerbong dengan tempat duduk kosong, yang sekiranya bisa ibu duduki. Untunglah, ada yang berbaik hati menawarkan tempat duduk yang ditempatinya pada ibuku. Setelahnya, kami saling diam hingga kereta tiba di tujuan kami yaitu Stasiun Depok Baru.


Udara segar dan sejuknya pagi kembali menyambutku tatkala keluar dari kereta. Matahari berwarna jingga yang masih mengintip memancarkan sinarnya sedikit demi sedikit, menyinari padatnya orang-orang yang berlalu-lalang.


Di sisi lain, ibuku tengah merogoh tasnya, mencari kartu kereta sembari berjalan menuju pintu keluar.


“Masuknya jam berapa? Belum telat 'kan?” tanyanya.


“Belum, masih lama.” jawabku.


Setelah menempelkan kartu ke mesin dan keluar dari stasiun, kami berjalan menuju pangkalan angkutan umum. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini. Tidak lama setelah itu kami menaiki salah satu angkutan umum. Kemudian duduk dan aku kembali merenungi hal yang sama.


‘Bagaimana jika tidak di sini?'


...----------------...

__ADS_1


Di tempat lain.


Seorang remaja laki-laki tengah mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Pagi itu sangat buruk baginya. Kebanyakan dari temannya lolos dalam seleksi untuk diterima di Sekolah Negeri, dan sayangnya hanya dia.


Ya, seharusnya ia juga ikut berbahagia. Seharusnya ia lolos dan sedang melaksanakan hari terakhir masa orientasinya di sekolah lain, bukan sekolah swasta yang tidak ia inginkan.


Namun, takdir berkata lain. Ada oknum tidak bertanggung jawab yang telah menjual kursi yang sudah susah payah ia dapatkan, seharusnya hanya tinggal daftar ulang, tapi mau bagaimana lagi?


Oknum tersebut bahkan tidak ada niat untuk bertanggung jawab. Hal itu membuat suasana hatinya bercampur aduk.


Kini, ia hanya bisa berdoa semoga saja hari yang ia jalani akan berjalan dengan baik di sekolah ini.


5 meter menuju gerbang sekolah, syukurlah tidak terlambat. Lingkungan sekolah masih terlihat sepi, hanya ada beberapa orang tua wali murid yang terlihat duduk di depan ruang administrasi.


...----------------...


Beberapa menit sebelumnya


Aku mengiyakannya, kemudian berjalan menuju kelas dan menaruh tas ranselku di atas kursi. Tanganku membuka dan merogoh tas tersebut, lalu mengambil sekotak bekal makanan dan duduk memakannya.


Sembari memakannya sesuap demi sesuap, mataku melihat ke arah luar pintu. Menunggu ibuku kembali ke sini.


1 menit.. 5 menit.. 10 menit..


Sudah lebih dari 10 menit berlalu, tapi ibuku tak kunjung kembali.


Setelah beberapa menit kembali menunggu, akhirnya aku beranjak untuk mencarinya. Kudapati ternyata ia tengah berbincang dengan seseorang. Entahlah, kelihatannya seperti remaja laki-laki seumuranku. Saat aku datang menghampirinya, ia bergegas pergi dari tempat itu.

__ADS_1


“Permisi ya, bu. Izin ngambil baju olahraga,” katanya. Setelahnya ia pergi. Aku tak sempat melihat parasnya secara keseluruhan. Namun, saat mendengar suaranya sepertinya ia orang yang baik dan sopan.


Kemudian waktu berlalu, beberapa menit lagi acara pentas seni akan segera dimulai. Aku dan temanku Dera duduk di sisi lapangan. Sementara ibuku, ia sudah pulang.


“Kamu tau ga, si Rian?” Dera bertanya tiba-tiba. Membuatku agak sedikit terkejut sejujurnya.


“Rian? Rian yang mana orangnya?” jawabku kembali bertanya.


Dera tersenyum senang sejenak, wajahnya sangat antusias untuk menceritakan tentangnya dan seolah-olah memiliki ketertarikan lebih padanya.


“Itu, yang pas hari Selasa baru masuk. Sumpah, dia mukanya ganteng banget, terus Dino juga mukanya ganteng banget kayak arab-arab gitu. Tapi tetep, sih. Abi yang paling ganteng.” Pupil matanya memancarkan kesenangan tersendiri baginya tatkala ia menceritakan tentang para laki-laki itu.


Entahlah, berharap salah satunya terpikat dengannya, mungkin?


“Ooohhh, tau aku,” jawabku singkat.


“Iya 'kan. Asli, aku hampir oleng. Untung aku tetep setia sama Abi,” tukasnya. Lalu ia kembali melanjutkan pembahasannya mengenai laki-laki yang ada di kelas sembari menunjuk-nunjuk salah satu dari mereka. Pembahasan itu terus berlanjut hingga acara pentas seni selesai.


Hari sudah semakin terik, seluruh siswa sudah dipulangkan. Di sisi jalan, aku menunggu angkutan umum yang lewat. Di kepalaku bahkan sudah terbesit bayangan ranjang, bantal, dan guling yang nyaman untuk dipeluk saat tidur siang. Namun, sayangnya belum ada angkutan umum yang lewat hingga saat ini.


Beberapa anak pulang dengan kendaraan motornya dan melewatiku. Kuperhatikan satu per satu semua siswa yang keluar dari gerbang sekolah.


‘Apa mereka juga gagal?' Pikirku dalam hati.


Tidak lama setelahnya seorang laki-laki jangkung dengan motornya melewatiku. Rian.


Tampan juga, pikirku. Namun, sepertinya Dera sudah menyukainya lebih dulu. Jadi, kurasa aku harus kembali mengalah lagi. Bukan hal yang berat, toh lagi pula aku akan pindah ke sekolah lainnya begitu semester dua tiba.

__ADS_1


Iya,


Bukan hal yang berat...


__ADS_2