Girl With

Girl With
Girl With [ Book ] #1


__ADS_3

“Lu kenapa ga bilang, kalo lu suka baca buku.”


Kalimat itu, awal dari kedekatan yang kujalin bersamanya. Untuk sesaat, aku bahkan tak pernah mengira bahwa kami akan seakrab ini. Menceritakan cerita satu sama lain, beradu argumen bahkan dirinya beralih menjadi tempat aman bagiku.


Mendengarkannya bercerita, seakan-akan ia ingin membuatku tahu segalanya tentang dirinya.


“Apa buku pertama lu?” lagi-lagi ia bertanya.


Apa, ya?


Kurasa buku komik Darren Shan oleh Takashiro Arai. Buku yang pertama kali kutemukan di loteng, pada tumpukan suatu kardus di sana. Ya, itu menjadi buku pertamaku.


Aku lupa dengan detailnya. Namun, seingatku buku itu menceritakan tentang seorang bocah SMA yang memiliki segalanya. Teman, perhatian, hal yang ia sukai, bahkan keluarga yang harmonis. Akan tetapi, sayangnya hal itu tidak bertahan lama. Kehidupannya berubah setelah ia pergi untuk menonton sebuah pertunjukkan sirkus bersama temannya. Sirkus yang cukup aneh dan mengerikan menurutku.


Sepulangnya, ia menjadi haus akan darah, dan perilaku serta sifatnya berubah menyerupai vampire. Aku tidak suka dengan akhir dari buku itu, aku tidak menyukai perpisahan. Namun, kurasa itu adalah realita dunia yang tidak akan pernah bisa dihilangkan. Takdir yang mempertemukan, lalu takdir itu sendiri pula yang memisahkan.


“Komik Darren Shan,” jawabku.


Kulihat wajahnya, ia tampak senang tatkala mengetahui ada seseorang yang memiliki hobi yang sama dengan dirinya.


“Lu ada bukunya? Ayo besok tukeran buku,” ajaknya, dengan ekspresi wajah yang antusias, “gua punya satu buku bagus yang spesial buat lu. Besok gua bawa."


“Bener, ya?” ucapku meyakinkan, yang kemudian dibalas anggukan olehnya.


“Ayo nanti ke sana lagi, Hari Sabtu,” ajakku.

__ADS_1


Tepat setelah aku mengucapkan kalimat tersebut, wajahnya berubah kembali menjadi datar. “Lu ngeledek gua?” tukasnya.


Sementara itu, aku mulai tertawa terbahak-bahak tatkala melihat wajahnya. Wajah yang sangat lawak, pikirku. “Enggak, ini beneran,” ujarku meyakinkan sembari berusaha menghentikan tawa ini.


“Ga bakal dibolehin. Dulu aja gua punya banyak buku, terus sama bapak gua semuanya dibakar. Gua ga tau kenapa,” ceritanya.


Ketika mendengarnya hatiku seakan-akan ikut tersakiti. Meskipun ia menceritakan hal itu dengan penuh senyum dan tawa seolah-olah itu semua adalah hal yang biasa terjadi.


“Gua cabut dulu, ya. Besok bawa bukunya jangan lupa.” Ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkanku. Sementara itu, diriku terus menatapnya dari kejauhan hingga bayang-bayangnya hilang terhalang dinding koridor.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sialan, kenapa alarm brengsek itu tidak berbunyi dari tadi, sih?!


Dua hari yang lalu, Hari Selasa. Aku pergi ke museum dengan maksud menyelesaikan tugas kelompok merepotkan itu, dan museumnya tutup. Kedua, sepulangnya dari sana, bateraiku habis tatkala keluar stasiun yang membuatku hampir tidak bisa pulang ke rumah. Ketiga, masih ada tugas lainnya yang menunggu dengan tenggat waktu esok hari.


3 menit lagi!


Aku berlari menuju gerbang secepat yang kubisa. Sembari berharap bahwa masih ada kesempatan untukku agar tidak terlambat. Dengan napas yang tersengal-sengal, aku berlari memasuki gerbang.


Akhirnya, terasa ada kebebasan dalam hidupku, untung saja masih sempat, pikirku.


Setelah beberapa menit, aku hanya diam berdiri di tempat, membungkuk, berusaha mengatur napasku. Selepasnya, aku melangkahkan kakiku menuju kelas. Kuharap belum ada guru yang mulai mengajar.


“Tiaaa, kupikir kamu ga masuk.” Rani tampak melambaikan tangannya ke arahku.

__ADS_1


Kebiasaan bicaranya belum hilang meski kami sudah akrab, dan kuharap akan terus begitu. Kata ‘Aku — Kamu’ lebih cocok padanya.


Aku membalas lambaian tangannya, melepaskan ranselku dan kemudian duduk di tempatku.


“Arif emang ga masuk? Kok lu duduk di tempatnya,” tanyaku.


“Nanti Arif suruh duduk di tempatku aja,” selak Dera yang tengah duduk di samping Rani.


Aku menatapnya diam, sementara mataku mengelilingi dan menganalisis sekitar. Oh, aku mengerti, ia ingin dekat dengan Rian yang ada di belakangnya. Setelah 6 bulan kami berteman, sepertinya ia selalu seperti ini, ya.


“Selamat pagi!” sapa guru dengan suaranya yang keras, yang cukup untuk membuat seisi kelas terkejut tatkala mendengar suaranya.


Dengan sigap aku membenarkan posisi dudukku. “Selamat pagi, pak,” ucap kelas serentak.


Guru tersebut menampilkan senyuman seperti biasanya hari ini. “Kabarnya gimana? Hari ini siapa yang ga masuk?” tangannya terlihat mengambil sebuah pulpen dan buku absen.


“Arif sama Rajwa, pak,” sahut Dera.


Rajwa, teman sebangkuku sakit hari ini. Sehingga hari ini aku terpaksa duduk sendirian. Sementara, Arif tidak ada kabar sama sekali. Sejujurnya sedari tadi aku menunggunya.


Kenapa ia belum datang juga?


Padahal kemarin ia berjanji untuk bertukar buku denganku.


Apa sesuatu terjadi padanya?

__ADS_1


__ADS_2