
“Rian, sini gantian,” panggilku. Sayangnya, suaraku tertutup oleh banyaknya orang-orang yang berbicara dan berlalu-lalang. Membuat ia tidak bisa mendengarku dengan baik, hingga aku memutuskan untuk menghampirinya dan kemudian menepuk pundaknya. Ia tampak sedikit terkejut, sebelum akhirnya menoleh dan mengalihkan pandangannya padaku. “Rian, sini gantian. Kamu dari tadi udah ngerekam, nanti kamu malah ga masuk ke videonya,” jelasku.
Wajahnya tampak canggung tatkala aku mengajaknya berbicara, mungkin dikarenakan selama ini aku selalu diam dan hampir tidak pernah berbaur ataupun berbicara dengan yang lainnya saat di dalam kelas.
“Eh? Enggak usah, biar Rian aja,” jawabnya sembari mematikan kamera ponselnya sejenak.
“Gantian aja, yang lain udah pada masuk frame video. Tinggal kamu doang yang belum gara-gara dari tadi kamu yang ngerekam.” Aku menyodorkan tanganku, berniat meminta ponselnya.
Namun, setelah beberapa kali meminta ia selalu berusaha menolaknya. Hingga aku meminta untuk kesekian kalinya, dan pada akhirnya ia mengiyakannya.
“Beneran gapapa?” tangannya tampak ragu-ragu untuk memberikan ponselnya. “Udah, deh. Rian aja,” katanya lagi sembari menarik kembali tangannya.
“Enggak papa, sini,” tuturku berusaha meyakinkannya.
“Ya udah, oke. Nanti kalo mau gantian langsung bilang aja, ya.” balasnya seraya memberikan ponselnya padaku dan tersenyum padaku.
“Ayo jalan, aku videoin dari belakang.”
Aku pun membuka kamera ponsel tersebut dan mulai merekam dirinya. Wajahnya tampak sumringah, sudut bibirnya membentuk tawa yang indah.
“Jadi, sekarang kita lagi di museum kecil Perpusnas. Bisa kita liat di sini ada mesin ketik tua—”
Aku mengarahkan kameranya mengikuti ke mana arah tangannya menunjuk, juga diselingi dengan merekam wajahnya sesekali. Hal itu membuatku tersenyum, ia terlihat sangat bersemangat. Kelopak matanya yang menyipit, senyuman lebarnya, semua tentang dirinya seakan-akan memancarkan aura positif yang dapat membuat siapa saja yang melihatnya ikut bahagia.
“Rian, Rani!” panggil seseorang dari kejauhan dengan suaranya yang tak asing di telingaku. Kami berdua pun menoleh tepat setelah mendengar suara itu. Sementara, mataku sibuk mencari siapa pemilik suara tersebut.
__ADS_1
Hingga akhirnya kami menemukan seseorang tengah melambai pada dari kejauhan. “Tia, ya?” tanya Rian, kurasa penglihatan jarak jauhnya tidak begitu bagus.
“Iya, ayo ke sana dulu, yuk,” ajakku, yang kemudian dibalas anggukan olehnya.
Aku berjalan di belakangnya sembari kembali merekam momen-momen sebanyak mungkin untuk bahan tugas kami nanti. Di sebelah kiri, terdapat anyaman-anyaman keranjang kecil yang tertata dengan rapih, sementara pada bagian kanan terdapat beberapa foto momen-momen penting yang dipajangan sepanjang pintu masuk.
“Foto dulu, yuk,” ajak Tia tatkala kami mendekat yang lalu kemudian memandu kami ke tempat di mana semuanya menunggu. “Nih, di sini,” lanjutnya.
“Siapa yang fotoin?” tanyaku sembari mematikan mode video yang sedari tadi menyala.
“Ini di sini aja, terus pake timer nanti. Coba sini handphonenya,” jelasnya searaya mengulurkan tangan. Aku pun memberikan ponsel tersebut, kemudian ia tampak berlari kecil ke tempat yang tidak terlalu jauh dari titik kami berada.
“Ayo atur posisinya,” perintahnya.
Ia terlihat mengatur mode timernya sejenak. “Udah?” tanya Tia.
“Gua nanti di mana?” tanyanya lagi.
“Ini di sini,” jawab Arif sembari menunjuk posisi yang nanti akan ditempati Tia dalam pengambilan foto.
Setelah mendengar hal itu ia langsung menekan tombolnya, lalu kemudian berlari ke arah kami.
“Semuanya bilang ‘Yeay’, yaa.”
3...
__ADS_1
2...
1...
“YEAY!”
Satu foto pertama kami. Kami terlihat sangat bahagia, senang, ceria, dan tertawa layaknya tak ada beban yang harus kami tanggung di atas pundak kami.
Pada awalnya, kami hanyalah seorang remaja yang hanya ingin menyelesaikan tugasnya.
Pada awalnya, kami hanyalah sekumpulan remaja gagal yang ditakdirkan untuk bertemu di satu sekolah.
Dan pada awalnya, kami tidak pernah mengira bahwa interaksi kami hari ini benar-benar berpengaruh bagi takdir yang akan datang.
Seandainya, seandainya perjalanan ini tidak pernah terjadi.
Akankah akhirnya berbeda?
Lebih buruk, atau lebih baik?
...----------------...
“Halo? Tia, kamu di mana?”
“...”
__ADS_1
“Tia?!”