
“Yah, Monasnya udah tutup. Gimana, dong?” Tia berjalan menghampiri kami dengan tatapan matanya yang sangat pasrah. Wajahnya bahkan sudah terlihat kelelahan. “Berarti kita bikin videonya ambil dari YouTube aja, ya? Gua enggak tau harus gimana lagi,” lanjutnya.
“Sayang banget. Padahal kita udah jauh-jauh ke sini, eh malah tutup,” celetuk Rian.
Tiga bulan yang lalu, guru sejarah kami memberikan tugas untuk pergi ke museum dan mengambil video atau foto sebagai bukti dokumentasi di sana. Serta menampilkan hasil video tersebut di depan kelas. Namun, apa daya, ada saja halangan yang selalu membatalkan kami ke sana.
Bahkan termasuk hari ini, kulihat satu per satu semua wajah yang ada di Kelompok ini, semuanya tampak sudah putus asa dengan keadaan. Pasalnya, tidak mungkin kami kembali besok. Tenggat waktu pengumpulan tugas pun hanya tinggal 2 hari lagi, dan lagi kami belum memproses video yang diambil untuk proses editing. Benar-benar memusingkan.
“Ya udah, ke depan aja dulu, yuk. Nanti dipikirin lagi sambil liat-liat, siapa tau ada museum lagi,” ucap Rian berusaha menenangkan.
Entahlah, kuperhatikan sedari tadi ia selalu berusaha menenangkan semua anggota yang kebingungan dan panik, bahkan sejak sebelum berangkat. Tia yang sedari tadi sudah menggerutu pun selalu ditenangkan olehnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa sifatnya akan seperti ini, sangat perhatian. Seolah-olah tidak ingin satu pun dari teman-temannya khawatir.
Sembari berjalan ke arah pintu keluar, masing-masing dari kami mencari informasi mengenai museum lain di sekitar sini. Berharap bahwa ada masih ada kemungkinan kecil untuk kami menyelesaikan tugas merepotkan ini. Sejujurnya, ini sangat melelahkan.
...----------------...
2 Hari Sebelumnya
Di tengah-tengah jam istirahat, Tia mengumpulkan seluruh anggota kelompoknya termasuk aku.
“Woy, ini beneran pada enggak bisa ikut semuanya? Gila, ya. Lu semua emang gila.” Kekesalannya hampir tidak bisa diredakan tatkala tahu hampir semua anggota tidak bisa ikut untuk menyelesaikan tugas video yang sejak tiga bulan lalu sudah diberikan.
Awalnya, Tia masih bisa mengontrol emosinya, ia juga masih berusaha untuk tidak melewati batas kesabarannya. Namun, sepertinya ia sudah menghabiskan semua stok kesabaran yang ia punya. Tidak, bukan tanpa alasan. Sejak tiga bulan lalu Tia sudah berusaha untuk menyesuaikan jadwal keberangkatan kami ke museum agar semua anggota dapat ikut dan berpartisipasi. Akan tetapi, tetap saja ada beberapa anggota yang selalu memiliki alasan dan menghindar. Itulah yang membuat Tia cukup marah, dan salah satu anggota itu adalah Dera.
Bodohnya, alasan yang dia berikan benar-benar sangat menjengkelkan.
"Kata ayah aku, nanti ke Monasnya sama ayah aja ," perkataannya satu hari yang lalu.
Meskipun aku berteman dekat dengannya, tetap saja alasan itu adalah alasan paling konyol yang sanggup menyulut emosi siapa saja yang mendengarnya. Aku tidak bermaksud menyudutkan teman baikku, tapi siapa yang tidak tersulut amarah ketika dirimu selalu menunda dan menyesuaikan waktu agar semua orang dapat hadir dan menyelesaikan tugasnya. Namun, seseorang itu justru mengeluarkan alasan konyol di saat tenggat waktunya sudah semakin dekat.
“Tolong, ya. Kalo seandainya besok lusa yang bisa cuma gua sama Rani, namanya bukan kerja kelompok. Itu mah kerja gua doang sama Rani, ngedit juga paling 1 - 2 orang doang, sisanya ngapain? Nontonin temen lu ngedit?” ketus Tia.
Mendengar perkataan Tia barusan, kulihat semua anggota tampak diam membisu. Hingga akhirnya, laki-laki dengan penuh kesabaran itu mengeluarkan suaranya.
“Gua bisa, Hari Selasa,” ucapnya tiba-tiba. Sangat aneh, padahal beberapa menit yang lalu ia mengatakan tidak bisa ikut karena tidak diizinkan.
“Ayo gaes, ikut. Kalo yang lagi enggak megang uang, nanti bawa buat masuk ke museumnya aja,” ajaknya.
“Iya, aku udah hubungin ayahku, katanya boleh selama pas pulang aku ada temennya di stasiun,” sambung Aulia. “Tapi, kita mau ke museum mana jadinya?” ia lanjut bertanya.
“Tadi udah gua tawarin banyak museum tapi lu semua pada enggak bisa 'kan. Sekarang coba lu semua yang tentuin mau kemana. Harus dapet, gua tunggu.” Tia pergi tepat setelah mengatakan hal tersebut, yang kemudian disusul dengan aku dan Rajwa.
Kami beranjak meninggalkan mereka semua, saat aku menoleh ke belakang, kudapati mereka semua mulai berdiskusi mengenai tempat yang akan dikunjungi. Meskipun aku tidak mendengar jelas.
Sementara itu, kulihat sedari jauh tatapan Rian yang seakan-akan kebingungan. Aku sedikit khawatir kala itu, tapi kurasa ia akan baik-baik saja.
...ΩΩΩ...
Bel pulang berbunyi, menunjukkan waktu sudah memasuki Pukul 2 siang. Tia kembali mengumpulkan semua anggota kelompok, dan menanyakan hasil dari diskusi mereka.
“Jadi, di mana?” tanyanya singkat.
“Ke Monas aja, Ti. Hari Selasa,” Aulia menuturkan yang kemudian dibalas anggukan pelan oleh Tia.
“Oke, gini. Jadi tadi gua udah nyari-nyari info, dan kebanyakan museum itu tutup jam 3. Seandainya paitnya nanti semua museum udah tutup pas kita sampe sana, gimana?” tutur Tia.
Selama beberapa menit tidak ada yang menjawab, semuanya tampak kembali kebingungan.
“Gua ada saran, kita bisa ambil video dari YouTube. Terus nanti suaranya kita ganti pake suara kita. Cuma, ide ini baru dipake kalo emang kita udah buntu banget. Pada setuju ga?” ucapnya menjelaskan.
“Gua setuju - setuju aja.” Rian mengangguk, yang kemudian diikuti oleh anggukan anggota lain.
...ΩΩΩ...
“Udah pada ganti baju semua?” Tia tampak merapihkan bajunya di depan cermin sejak keluar dari ruang ganti.
“Udah,” jawab Aulia.
“Gua udah,” susul Rajwa.
“Iya, udah,” jawabku.
“Sebentar, dikit lagi,” sahut Lia.
“Kalo udah nanti langsung berangkat aja, takut loket tiketnya keburu tutup. Gua tunggu di depan, ya.” Tia meraih tasnya dan berjalan lebih dulu. Kurasa ia ingin menghampiri Rian dan Arif untuk memberitahu sesuatu.
Setelah beberapa menit, akhirnya Lia selesai dengan pakaiannya. Kami pun bergegas menyusul Tia yang sedari tadi sudah menunggu di depan. Tidak ada lagi basa-basi, kami langsung pergi ke Stasiun menggunakan angkutan umum. Sementara, Arif dan Rian pergi mengenakan sepeda motor yang nantinya akan dititipkan di sana.
__ADS_1
Setelah menaiki angkutan umum, kami duduk dalam diam. Sesekali tertawa kecil di tengah keheningan para penumpang. Tidak menyangka bahwa hari ini benar-benar terjadi. Setelah sekian lama kami menyesuaikan dan selalu membatalkan semua jadwal, pada akhirnya semuanya akan selesai pada hari ini. Walaupun hanya Dera yang tidak ikut serta.
Kurasa hari ini Tia tidak ingin merusak suasana, jadi ia berusaha tertawa dan menjalankan semuanya dengan suasana hati yang bahagia. Meskipun kejadian dua hari yang lalu cukup menjengkelkan, tapi kurasa ia sudah berusaha melupakannya.
Kini, masalah kami satu-satunya adalah waktu penutupan loket tiket museum. Semuanya merasa panik, tentu saja. Perjalanan kami untuk sampai ke sana dapat menempuh waktu dua jam. Sementara, jarak waktu kami dengan waktu penutupan loket tiket hanya satu jam lamanya. Untuk saat ini kami hanya bisa berandai-andai jikalau bahwa hari ini adala hari yang spesial sehingga loket tiket dapat dibuka lebih lama.
Setelah angsur waktu yang cukup singkat, akhirnya kami telah sampai di Stasiun. Bahkan ketika turun, kami sudah dapat melihat Arif dan Rian yang tengah menunggu di depan pintu masuk. Rian dengan tatapan khawatirnya, dan Arif dengan ekspresi wajah datarnya.
“Lama banget,” tukas Arif masih dengan wajah datarnya.
Aku menge -tap kartu keretaku di atas mesin sembari mendengar percakapan mereka. “Ya udah, sih. Salahin abang angkotnya, lah,” jawab Tia dengan nada yang tidak enak di dengar, yang dalam artian itu adalah nada bercanda bagi mereka berdua.
Oh, keretanya sudah datang.
Kami bergegas masuk ke dalam kereta. Untungnya, kereta sore pada saat itu tidak terlalu padat oleh manusia. Sinar matahari senja yang temaram juga menembus jendela kereta, sehingga memberikan kehangatan yang tidak terlalu menyengat.
Selama perjalanan, Tia terus bertanya-tanya dengan ekspresi wajahnya yang panik.
‘Bagaimana jika seandainya loket tiket museum sudah tutup?’
‘Bagaimana jika perjalanan kami sia-sia?’
‘Bagaimana jika kami ketauhan menggunakan video orang lain?’
‘Bagaimana...’
‘Bagaimana...’
Dan lain sebagainya. Aku sudah berusaha menenangkannya, tapi ia selalu menanyakan hal tersebut hampir selama 1 × 10 menit hingga kereta berhenti di stasiun tujuan kami.
“Ayo turun.” Tia melangkahkan kakinya keluar dari kereta.
Kami pun berjalan ke arah luar stasiun. Sembari berjalan, Tia fokus mengecek ponselnya. Membandingkan harga ojek mobil online pada aplikasi satu dengan aplikasi yang lainnya, dan mencari harga termurah dari semua aplikasi tersebut.
“Alamatnya ini 'kan?” tanyanya padaku.
Aku pun melihat dengan seksama alamat yang ia berikan. “Iya betul itu,” balasku.
“Atau mau naik bus aja? Kalo bus cuma Rp3.500,00/orang,” ucapku menawarkan, mengingat bahwa aku memiliki kartu khusus bus di kota ini.
Mendengar itu, Rajwa yang berjalan di sampingku pun ikut bertanya, “Satu kartu emang bisa buat banyak orang? Kalo bisa, mah. Lumayan juga, Ti.”
“Hadeh.” Rajwa tampak menggelengkan kepalanya.
Mesin tap kartu sudah mulai terlihat dari kejauhan, kami semua menyiapkan kartu kereta kami masing-masing dan mulai melewati mesin itu satu per satu.
Dimulai dari Tia, Arif, Rajwa, Aulia, Aku, Rian, dan kemudian yang terakhir adalah Lia.
Lia berjalan dan menaruh kartunya di atas mesin. Namun, sayang, tiba-tiba saja kartunya tidak berfungsi sama sekali. Bisa kulihat raut wajahnya yang panik tatkala melihat yang lainnya sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.
“Bisa, dek?” tanya petugas yang tiba-tiba datang menghampiri. “Enggak bisa, pak.” Lia terus menerus menge -tap kartunya di atas mesin, berharap kartu itu akan segera berfungsi dan kami bisa menyusul Tia yang sudah berada di luar.
“Coba sini kartunya.” Lia menyerahkan kartu miliknya, dan petugas kereta tersebut pun membengkokan sedikit kartu kereta milik Lia. Sama seperti tadi, setelah membengkokkan ujung kartu, petugas tersebut pun menempelkan kembali kartunya ke atas mesin. Beberapa kali petugas itu mencoba, tapi tak juga kunjung berhasil.
“Saldonya udah diisi?” tanyaku memastikan.
“Udah, kok. Ini juga kartunya baru beli," jawabnya dengan ekspresi panik yang berusaha ia tutup-tutupi.
Gawat, jika terus seperti ini kemungkinan kami akan kehabisan waktu. Aku dan Rian kemudian terus menunggu kartu kereta Lia hingga berfungsi. Sementara, yang lainnya sepertinya tidak sadar jika kami bertiga tertinggal di dalam. Namun, mau bagaimana lagi? Kami tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini.
Sembari petugas itu terus mencoba, kelopak mataku tertuju pada siluet seseorang, kulihat seseorang itu kembali masuk ke dalam stasiun. Itu, Tia.
“Kok enggak keluar? Gua nyariin juga,” ucapnya dengan nada khawatir.
Rian yang mendengar suaranya pun langsung menoleh ke arah Tia. “Kartu Lia rusak, Ti. Daritadi enggak bisa keluar,” jawab Rian menjelaskan.
“Kalo pake kartu saya bisa enggak, pak?” lanjutnya seraya menyodorkan kartunya kepada petugas stasiun.
Mendengar hal tersebut Tia bertanya-tanya, “emang bisa lebih dari satu orang per kartu?”
“Coba sini, saya coba dulu.” Petugas itu pun tampak mengambil kartunya, dan untuk kesekian kalinya mencoba menempelkan kembali kartu ke atas mesin. Untunglah, kartu Rian dapat berfungsi dengan baik.
Akhirnya Lia berhasil keluar, dan kami berempat langsung bergegas menyusul yang lainnya.
Wow. Pikirku.
Pada awalnya aku berpikir bahwa ia hanya baik pada orang-orang tertentu. Namun, setelah mengamatinya sekian lama, dan juga pada kejadian hari ini, sepertinya ia selalu baik dan selalu ingin menjaga semua teman-teman yang ada di sisinya.
__ADS_1
Yah, akan tetapi jika kulihat, kebanyakan perempuan yang ia tolong pada akhirnya selalu membawa perasaan. Tidak terkecuali aku, kurasa aku juga menyukainya, tapi lebih baik jika kupendam. Mau bagaimana lagi? Ia sudah dekat dengan Dera, dan aku tidak bisa berbuat banyak.
Tia sudah memesan dua ojek mobil online untuk kami semua menuju Museum Monas begitu keluar. Tidak perlu waktu lama untuk menunggunya, ojek mobil tersebut pun langsung tiba. Kemudian kami terbagi menjadi dua kelompok dan hanya bisa duduk terdiam di dalam mobil sembari menunggu tiba di tujuan kami.
Kecuali Arif, ia selalu berusaha untuk sok akrab dengan bapak supir yang tengah menyetir. Seperti mengajaknya berbicara dan bercanda, untungnya supir itu menanggapi dengan hal yang sama dan tidak ketus.
Singkat waktu, kami sampai di sana. Kemudian Tia dan kami langsung berjalan dengan cepat untuk masuk ke dalam. Setelah masuk ke dalam, kami tidak kunjung menemui loket tiket yang dimaksud. Kami sudah berkeliling mencarinya, hingga akhirnya Tia memutuskan untuk bertanya pada pedagang yang ada di sini.
“Sebentar, ya. Gua tanya dulu sama orang-orang. Lu semua tunggu sini, jangan kemana-mana, jangan misah.” Tia mengatakan hal tersebut sembari berjalan menjauhi kami. Sementara, Rian fokus mendokumentasikan dalam bentuk video selama kami ada di sini. Satu sampai dua menit berlalu, dan dapat kulihat dari kejauhan Tia tengah berjalan menuju kami.
“Yah, Monasnya udah tutup. Gimana, dong?” Tia berjalan menghampiri kami setelah bertanya dengan tatapan matanya yang sangat pasrah. Wajahnya bahkan sudah terlihat kelelahan. “Berarti kita bikin videonya ambil dari YouTube aja, ya? Gua enggak tau harus gimana lagi,” lanjutnya.
“Sayang banget. Padahal kita udah jauh-jauh ke sini, eh malah tutup,” celetuk Rian.
Kulihat satu per satu semua wajah yang ada di Kelompok ini, semuanya tampak sudah putus asa dengan keadaan. Tidak mungkin kami kembali besok. Hal yang mustahil.
“Ya udah, ke depan aja dulu, yuk. Nanti dipikirin lagi sambil liat-liat, siapa tau ada museum lagi,” ucap Rian berusaha menenangkan.
Sembari berjalan ke arah pintu keluar, masing-masing dari kami mencari informasi mengenai museum lain di sekitar sini. Berharap bahwa ada masih ada kemungkinan kecil untuk kami menyelesaikan tugas merepotkan ini.
“Ke Perpusnas aja,” Arif mengusulkan secara tiba-tiba.
“Itu mah Perpustakaan, mana ada museumnya,” tukas Tia yang sudah tampak frustasi, ia tampak memijat pelipisnya.
“Apaan, sih. Orang ada museumnya, percaya sama gua,” Arif berusaha meyakinkan Tia. Namun, Tia tidak menggubrisnya lagi sampai tiba di depan pintu keluar.
“Lia sakit?” tanya Rian secara tiba-tiba, aku bahkan tidak sadar bahwa Lia sakit.
“Izin pulang duluan boleh, ga?”
“Emang bisa pulang sendiri?” Tia bertanya.
“Nanti naik ojek mobil aja sampe ke rumah, gua yang bayar sendiri,” jelas Lia.
Setelah mendengarnya Tia pun mengiyakan, kami menunggu Lia hingga ia naik ke ojek mobilnya.
“Kalo udah sampe rumah kabarin gua, ya.” Mobil itu akhirnya berangkat. Setelahnya, kami kembali memikirkan museum mana yang akan kami kunjungi. Tia terlihat kembali mencari-cari info pada ponselnya.
“Mau ke Kota Tua aja?” Tia mengusulkan.
“Apaan, sih. Dibilang Perpusnas aja. Itu deket tinggal nyebrang.” Sekali lagi Arif berusaha meyakinkan Tia bahwa kita dapat menemukan sesuatu di dalam Perpusnas.
“Beneran ada museumnya, ga? Nanti lu boong lagi.” celetuk Rajwa tampak tidak yakin.
“Et, beneran. Orang gua udah pernah ke sana juga. Udah ayo apa.” Arif pun berjalan mendahului kami.
Tidak yakin dengan perkataannya, aku pun menoleh ke arah Tia, membuat kami saling bertatap-tatapan selama sejenak. Kemudian, Tia menghela napasnya dalam-dalam.
“Coba ikutin aja dulu, yuk. Siapa tau bener,” ucap Rian, membuat perhatian kami teralihkan padanya.
Sekali lagi, Tia kembali menghela napasnya. “Oke, ayo.”
Tia berjalan menyusul Arif yang sudah jauh di depan, lalu diikuti oleh kami semua. Untungnya, tidak terlalu jauh dari tempat awal kami berada, hanya tinggal menyebrangi jalan, dan kami tiba di tempat yang Arif maksudkan.
Aku bisa melihat Arif yang tengah menunggu kami di depan pintu masuk dari kejauhan. Ia benar-benar berjalan secepat kilat.
Sementara itu, Tia menghampiri Arif dengan napas yang tersengal. “Lu kalo jalan jangan cepet-cepet, kek,” ucapnya.
“Lu yang lama, udah ayo masuk,” balasnya. Tadinya ia ingin kembali berjalan masuk dan pergi meninggalkan kami lagi. Namun, suara Tia mencegatnya.
“Tunggu dulu kenapa, sih. Itu masuknya pake tiket, ga?!” ucapnya masih dengan napas yang tersengal.
Arif menoleh dengan tatapan malas. “Kagak, et. Lama lu,” jawabnya lagi-lagi.
Tia dan yang lainnya kemudian kembali mengikuti langkah Arif yang masuk lebih dulu. Sementara itu, aku dan Via masuk dengan langkah perlahan. Awalnya aku tidak berekspektasi banyak dari tempat ini. Namun, setelah memasukinya, dapat kulihat sebuah museum kecil yang cukup tertata.
Kesadaranku seolah terhipnotis, sementara bola mataku fokus mengelilingi tempat ini. Ini cukup. Maksudku, tempat ini lebih dari cukup untuk memenuhi tugas kami. Museum kecil dengan segala sejarah dan penjelasannya, inilah yang kami cari sedari tadi. Meskipun sedikit, tapi setidaknya cukup untuk durasi video kami.
Aku bersyukur Arif dimasukkan ke dalam kelompok kami. Ia benar-benar sangat membantu. Pantas saja sedari tadi ia hanya menunjukkan wajah datarnya di saat kami tengah kepanikan.
Sangat indah. Untunglah, kami tidak perlu lagi cemas mengenai tugas ini.
Aku pun berjalan membuntuti yang lainnya. Sebelum akhirnya mataku tertuju pada satu orang sedari tadi selalu berjalan belakangku.
Ya, itu Rian. Kulihat dirinya yang tengah fokus mengambil video gambar di saat yang lain tengah bebas mengelilingi sana-sini. Aku merasa kasihan padanya, sangat bohong kalau ia tidak merasa lelah setelah merekam semuanya sejak awal.
Dia itu, memang seperti itu, ya?
__ADS_1
Selalu mengutamakan orang lain dibandingkan dirinya?