Glory Hunt

Glory Hunt
Under World


__ADS_3

Matahari telah menampakkan diri ketika aku terbangun. Tak terlalu tinggi dan tak terlalu rendah, pagi yang pas bagiku untuk melakukan sesuatu seperti mengunjungi tempat di mana Mr. Ted berada. Yang menurut tuan putri berada jauh di dalam hutan, direbut oleh sesuatu yang tak dapat dirinya lihat.


Karena saat itu terjadi, hari telah malam, gelap dengan sedikit pencahayaan. Tuan putri hanya dapat mendeskripsikan mahluk tersebut sebagai kucing berbadan besar.


Tuan putri sempat meminta untuk ikut bersama kami, mengatakan bahwa dirinya dapat menjaga diri dan menjaga agar kami tetap aman.


Tentu saja kami menolak, mengatakan bahwa Mr. Ted akan jauh lebih setuju jika tuan putri tetap menunggu kedatangannya di rumah yang kutambahkan "Bagaimana kalau tuan putri membuat sebuah pesta penyambutan untuk Mr. Ted? Aku yakin Mr. Ted akan merasa sangat bahagia" Yang diterima tuan putri dengan penuh semangat, berjanji akan membuat pesta terbaik bagi kita semua.


Siangnya, kami mencari informasi mengenai apa saja yang mungkin berada dalam bagian hutan tersebut, agar siap menghadapi situasi berbahaya.


Dalam sebuah bangunan bertingkat tiga yang adalah sebuah guild milik kerajaan, kami menemukan informasi kalau pada bagian hutan itu hanya ditemukan beberapa perkemahan goblin yang seharusnya takkan menjadi masalah bagi tim Celine dengan kekuatan berada pada Tier 6. Sebuah rank yang diciptakan oleh Tower of Fate untuk mengkategorikan kekuatan seseorang sesudah mengakumulasikan data dari tiap dunia.


Begitu keluar dari bangunan tersebut, Celine berhenti melangkah, berpikir sejenak kemudian berbalik menghadapku "Kita harus mencari sesuatu yang dapat kau gunakan untuk melindungi diri karena kami tak dapat selalu melindungimu, terutama jika keadaan menjadi buruk. Tapi, aku tak tahu apa yang harus diberikan pada seseorang tak berkekuatan selain Glory Hunt"


Rio menepuk tangan, tersenyum lebar dengan tatapan yang sedikit mencurigakan "Itulah kenapa kau harus menyisihkan waktu untk mencari informasi di dunia bawah" Ucapnya bangga, lalu ikut menoleh padaku.


"Menurut informasi yang kudengar, terdapat sebuah alat yang dapat memberikan seseorang seperti Zent, kekuatan pinjaman dengan durasi pendek. Aku akui itu terdengar tak begitu bagus, namun jauh lebih baik ketimbang mendatangi hutan tanpa sebuah persiapan!" Jelasnya ceria.


"Kenapa Zent tak menunggu di luar hutan dengan aman selagi kita mencari boneka milik nona muda? Jauh lebih baik, jauh lebih aman dan tak merepotkan" Tukas Rayven tak setuju sembari melipat lengan.


"Ada pilihan itu juga, tapi bukankah nona muda akan jauh lebih bahagia ketika tahu Zent ikut berpatisipasi? Dan Zent telah berjanji pada nona muda, kita tak ingin melihat senyuman pada wajah menggemaskan itu menghilang ketika tahu ternyata janjinya hanyalah sebuah janji palsu saja" Bantah Rio, sedikit defensif, yang untungnya diterima oleh Rayven.


"Kau benar, kita tak ingin membuatnya sedih lagi" Balasnya sesudah menghela napas "Namun, aku masih tak berpikir ini adalah ide yang bagus.


Aku tahu Zent sudah menghadapi para pengikut sesat itu dan menangkap beberapa dari mereka, tapi kita membicarakan monster yang sama sekali tak peduli pada ras lain, terutama para goblin yang licik. Mereka bisa saja menggunakan Zent untuk menghentikan kita ketika tahu Zent tak memiliki kekuatan"

__ADS_1


"Karena itulah kita membutuhkan alat ini" Jawab Rio cepat "Selama Zent menampilkan sedikit kekuatan, aku yakin para goblin itu takkan berani macam-macam"


"Apa kau yakin alat ini setidaknya dapat berfungsi dengan baik? Karena setahuku, belum pernah ada yang dapat menciptakan alat seperti ini, meminjam kekuatan, benar-benar sesuatu yang tak masuk akal"


"Kau terdengar seperti Mr. Anderson" Keluh Rio tak senang.


"Sudah-sudah, lebih baik kita segera mencari alat tersebut karena kita hanya akan membuang waktu dengan terus berdebat seperti sekarang" Ucap Celine menengahi, menoleh pada Sang sahabat yang masih tampak tersinggung "Rio, di mana alat itu berada sekarang?"


Ia menghela napas, mereda amarah, kemudian menjawab "Tak jauh di utara, di luar dinding, terdapat sebuah bangunan tua kosong yang adalah salah satu pintu masuk menuju dunia bawah tanah, tempat para kriminal berumpul. Alat tersebut berada di sana, di tangan seseorang yang sedikit tergila-gila pada teknologi sampai melakukan berbagai cara demi mewujudkan impiannya"


Celine mengangguk mengerti "Baiklah, kita akan mendatangi orang itu sekarang-


"Tak secepat itu sahabatku tercinta" Potong Rio "Peraturan pertama dunia bawah adalah tidak pernah beroperasi ketika matahari masih menampakkan diri. Mereka akan langsung curiga jika kita melakukannya dan kedua, terdapat sebuah password yang akan terganti tiap 3 hari sekali. Kita tentu tak bisa hanya mendobrak masuk begitu saja jika tak ingin mati di tempat.


Ketiga, kita membutuhkan penyamaran, terutama dirimu Celine, ksatria yang sudah dikenal oleh kota ini berkat pencapaianmu meraih Tier 6 ketika tingkatan tersebut hanya diraih oleh orang-orang yang lebih tua dan tidak di umur semuda dirimu.


Akhirnya kamipun memutuskan untuk pergi di jam 10 malam, setelah mencari informasi lebih dan penyamaran yang tak terlalu menarik perhatian, tetapi juga dapat menyembunyikan diri kami dengan baik.


Aku sedikit khawatir karena rambutku yang berwarna putih, untungnya Rio memiliki sebuah wig berwarna hitam yang ketika kupakai, membuatku terlihat seperti seorang tokoh antagonis, terutama dengan sepasang mata merah menyala di balik topeng mata berwarna hitam yang sedikit eksentrik.


Rayven tampil sebagai seorang bangsawan kaya raya dengan jas hitam dan topeng setengah wajah yang membuatnya tampak sedikit angkuh terutama dengan tatapan mata tajam berkat sedikit sentuhan make up Rio yang tak disangka membuat Rayven tampil berbeda. Sulit membayangkan bahwa Rayven ini adalah Rayven Sang ksatria.


Rio pun tampil tak kalah memesona dengan gaun merah yang membuat rambut pirang miliknya terlihat lebih mencolok, berhiaskan sepasang mata hijau dan sebuah cadar merah yang membuat dia seperti seorang tuan putri dari negara asing.


Terakhir adalah Celine yang perubahannya membuat mataku sedikit melebar.

__ADS_1


Celine Sang ksatria kini tergantikan menjadi Celine Sang pembunuh bayaran dengan jas putih, topeng full face polos berwarna sama dan sebuah jubah panjang bertudung putih.


Penampilannya membuat ia terlihat sedikit terlalu menarik perhatian yang kukhawatirkan dapat membawa masalah. Aku tak mengerti mengapa Rio membuat Celine mengenakan itu.


Begitu jam telah menunjukkan angka 10, di saat itulah juga kami sampai di depan bangunan kosong yang disebutkan oleh Rio.


Sebuah bangunan yang dulunya adalah sebuah rumah makan dilihat dari susunan meja dan kursi pada ruang tengah. Entah karena alasan apa, tiap meja maupun kursi itu masih tersusun rapi seakan menunggu seorang pelanggan datang.


Tak begitu jauh dari pintu depan, terdapat sebuah pintu masuk yang terletak sedikit tersembunyi di balik sebuah rak besar dari kayu. Jika seseorang tak masuk lebih dalam, mungkin dia takkan melihat pintu tersebut berkat posisinya.


Mungkin seseorang sengaja membuat pintu ini di sini untuk menyembunyikan pintu masuk menuju dunia bawah, mengingat siapa juga yang akan menghabiskan waktu di bangunan kosong yang tak memiliki apa-apa dan hanya mengeluarkan aura menyeramkan oleh tumbuhan liar yang sudah tumbuh di sana-sini. Tanpa adanya penerangan, hanya mengandalkan cahaya rembulan yang justru membuat tempat ini sedikit horror.


"Kenapa? Kau takut terhadap bangunan kosong? Menyedihkan"


Z? Kau bisa berbicara ketika aku sadar?


"Tentu saja bodoh. Seharusnya kau bisa menebak itu ketika aku menjelaskan bahwa kau adalah laki-laki kaku dan naif yang tak mengerti apa-apa mengenai perempuan.


Kau pikir bagaimana aku bisa stres mengetahui semua hal itu? Menerawang?"


"Zent? Kau baik-baik saja?" Tanya Celine khawatir yang sedikit mengejutkan untuk didengar.


Bahkan kedua sahabatnya pun tampak terkejut, bukan karena ini pertama kalinya Celine menanyakan kabar seseorang, tetapi karena nada yang keluar dari mulutnya. Tak dapat dibayangkan akan keluar dari seseorang seperti Celine. Benar-benar terdengar begitu lembut bahkan sedikit intim yang mungkin tak disadari oleh Celine sendiri.


Sebelum diriku dapat bereaksi, pintu di depan tangga paling bawah telah terbuka, seorang laki-laki berjas hitam muncul di depan, melebarkan tangan dengan senyum lebar, menyerukan "Selamat datang kembali, Red Lily!"

__ADS_1


Kami bertiga terdiam, perlahan menoleh pada Rio yang hanya tertawa gugup di tempat.


__ADS_2