
Kami berlari menuju istana, melompati atap-atap bangunan dalam pakaian serba hitam sehingga aman dari tatapan mata, terlebih ketika bulan kini tak tampak di atas sana, gelap tanpa cahaya seakan memberi kami kesempatan untuk melaksanakan misi yang dapat dikatakan gila ini.
Kenapa katamu?
Karena jika semua ini hanyalah sebuah spekulasi semata, tentunya kami dapat kehilangan nyawa atas dasar penghianatan berencana terhadap kerajaan.
Tetapi, perasaanku mengatakan kami akan menemukan sesuatu di dalam sana, dalam istana megah dan besar yang kini tampak begitu gelap dan menyeramkan.
Jumlah kami tak banyak, hanya 15 orang. Masing-masing membawa sebuah pedang, hanya itu saja yang akan kami gunakan sebagai sebuah pertahanan. Kami tak menggunakan sedikitpun zirah ataupun chainmail karena dapat menimbulkan suara.
Oleh karena itu, pasukan utama sudah siap dalam mansion Anderson, menunggu aba-aba untuk maju menyerang yang di mana kami harap semoga tak terjadi karena dapat membawa sebuah kekacauan besar di dalam kota.
Tentunya kami akan berusaha untuk tak melibatkan para penduduk dengan mengevakuasi mereka terlebih dahulu, salah satu alasan perkemahan dibuat.
Tetapi, tak dipungkiri akan ada korban jiwa, yang dapat kami lakukan hanyalah meminimalisirnya saja dan akan kami kerahkan seluruh tenaga untuk memastikan mereka aman.
Perjalanan menuju istana tak memakan waktu terlalu banyak, terutama karena kami menggunakan atap sebagai jalan lalu turun ke bawah, bersembunyi di sebuah ruangan kecil dalam sebuah gang sempit, di mana seluruh anggota telah berkumpul, siap untuk melancarkan rencana kedua, yaitu menyusup ke dalam.
Dua orang ditugaskan untuk memata-matai istana selagi kami menyusun rencana.
Istana berada pada puncak tertinggi bukit sehingga kami hanya memiliki dua pilihan saja sebagai jalan masuk. Masuk melalui gerbang utama atau memanjat lewat tebing dan masuk melalui halaman belakang istana. Keduanya sama-sama berbahaya.
Begitu kedua orang tersebut kembali, mereka mengucapkan bahwa tak ada seorangpun menjaga gerbang istana, bahkan tak ada yang berjaga di atas dinding.
Kami semua merasa semakin janggal, makin yakin jika sesuatu yang buruk benar terjadi di dalam dan mungkin akan kami hadapi.
"Sekali lagi, ingat, apapun yang terjadi di dalam istana, informasi adalah yang utama. Segera pergi begitu mendapatkannya, jangan pernah berbalik ke belakang. Jika saja ada sesuatu di dalam, kami yang akan menahannya" Perintah Celine sembari mempersilahkan Rio, Rayven dan diriku untuk berdiri di sampingnya yang tak disetujui oleh para prajurit.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin kami pergi dengan aman sementara kalian mengorbankan diri? Kami prajurit Anderson takkan pernah meninggalkan satu sama lain! Itulah yang anda ajarkan kepada kami, nona Celine!" Sahut salah seorang prajurit yang kemudian disambut oleh seruan prajurit lainnya.
Celine mengangkat tangan, memerintahkan mereka untuk berhenti, menghela napas panjang lalu melanjutkan "Benar, akulah yang mengajarkan hal tersebut. Tapi, apa kalian lupa?" Ia menatap para prajurit dengan tajam.
"Pengorbanan tetaplah dibutuhkan terutama dalam situasi seperti sekarang, di saat kita tak memiliki informasi sama sekali tentang musuh. Maka, demi memastikan informasi dapat sampai di tangan yang tepat, kita harus melakukan apapun, salah satunya adalah ini.
Kalian adalah prajurit terbaik yang dimiliki oleh Mr. Anderson, beliau tentu tak ingin kehilangan kalian, termasuk keluarga kalian yang telah menunggu kepulangan kalian kembali ke dalam rumah.
Sebagai seorang pemimpin, aku harus memberikan contoh bahwa prajurit Anderson tak hanya bermodalkan reputasi saja, tetapi kita adalah ksatria yang menjunjung tinggi norma-norma kerajaan! Ksatria yang siap untuk mengorbankan nyawa demi kelangsungan hidup kerajaan! Oleh karena itu, mari kita bawa pulang informasi dan beri kemenangan bagi kerajaan!"
Semuanya menyahut keras penuh semangat.
Untung saja sebelum ini, ruangan telah diberi sihir anti suara sehingga tak satupun suara akan terdengar keluar, kalau tidak, mungkin kami sudah ketahuan dari awal.
Setelah memastikan gang masih sepi, kami bergegas bergerak menuju gerbang depan yang sesuai perkataan kedua prajurit sebelumnya. Gerbang besar dan megah itu, kini tampak kosong tanpa adanya tanda-tanda kehidupan. Tak ada siapa-siapa di sana, seakan tempat ini telah ditinggalkan sejak lama.
"Dingin, terlalu dingin" Ucap Rayven saat menyentuh besi tempat sebuah obor seharusnya menyala.
Betapa ironisnya.
Dari sana, kami keluar di ruangan yang tampaknya adalah sebuah dapur besar. Dari pemandangan tersebut, dapat terlihat dapur sudah tak digunakan sejak lama, bahkan debu mulai tampak di atas meja.
Kami berkeliling sebentar, mencoba mencari tanda-tanda aktivitas di dalam ruangan, namun nihil. Kami tak menemukan apapun selain keheningan.
Dari sini, kami berpisah menjadi tim dua orang. Rio bersama Rayven sementara aku bersama Celine dan prajurit terakhir bergerak sendiri, sungguh seseorang berhati besi.
Kami berpencar, berusaha mencari informasi secepat mungkin tanpa menarik perhatian yang makin lama, membuat kami makin bertanya-tanya.
__ADS_1
Perhatian dari siapa?
Tak ada seorangpun di dalam istana, para pelayan juga tak ada. Tempat yang seharusnya ramai akan orang, justru sama sepinya seperti sebuah kuburan.
Perasaan tak nyaman mulai merayap naik menguasai hati, mengisi kepala dengan berbagai gambaran menyeramkan yang berusaha kami tekan agar tak mengganggu jalannya misi.
Aku dan Celine masuk ke dalam ruang kerja milik raja yang anehnya, tak dikunci.
Di dalam sana, Celine bergegas mencari dokumen-dokumen penting mengenai golem yang ditemukannya dalam hutan. Sementara aku mencari dokumen mengenai kelahiran anak raja dan ratu yang cukup janggal menurut para prajurit. Karena sehari sesudah kelahiran, bayi tersebut menghilang sebelum kembali ditemukan dalam kamar seakan selalu berada di dalam sana.
Kejadian tersebut memanglah aneh, tetapi perlahan terlupakan karena tak ditemukan pelakunya. Tuan putri pun tumbuh normal, seperti seorang tuan putri kerajaan, tetapi selalu ada perasaan aneh hinggap dalam hati setiap kali menatap sepasang mata hijau tersebut.
Para prajurit selalu merasa tatapan tuan putri, tak memiliki kehidupan sama sekali, seakan-akan ia hanyalah sebuah boneka saja.
Tuan putri juga jarang keluar dari dalam istana, hanya menghabiskan waktu dalam kamar kecuali jika terdapat acara penting ditemani oleh Mr. Anderson yang diperintahkan langsung oleh raja untuk menjaga putri mereka mengingat Mr. Anderson adalah ksatria terkuat dalam kerajaan dan juga merupakan sahabat lama Sang raja.
Itulah salah satu alasan Mr. Anderson juga merasa ada yang salah dan memutuskan untuk memeriksa secara diam-diam, tetapi tak dapat bergerak secara bebas karena selalu merasa diawasi oleh sesuatu, membuatnya mengurungkan niat.
Jauh lebih baik mengawasi dari dekat ketimbang tak memiliki akses informasi sama sekali.
Sayangnya, ia tetap tak menemukan apa-apa selama menjaga tuan putri, seolah semua sudah terencana dengan baik.
"Aku menemukannya" Ucap Celine tiba-tiba sembari memegang sebuah dokumen polos tanpa insignia kerajaan "Aku tak tahu mengapa, tapi dokumen ini memancarkan energi yang sama dengan cahaya hijau yang kutemukan saat berada dalam gua"
Buru-buru ia membukanya, menemukan gambar mahluk yang sama dengan golem. Lalu memerhatikan tulisan di samping kiri gambar tersebut "Ini.. Aku tak tahu ini tulisan apa"
"Tulisan itu adalah tulisan Geotran, tulisan dari para pendahulu kita"
__ADS_1
Suara itu..
"Mr. Anderson!"