Glory Hunt

Glory Hunt
The Ancient Temple


__ADS_3

Keesokan harinya, Celine bersama kedua sahabatnya telah pergi menuju hutan, meninggalkan Zent sendirian di dalam kamar, masih belum terbangun.


Namun, di dalam alam bawah sadar, dia dan Z sama sekali tak beristirahat, masih terguncang dengan yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.


Mereka berdua tak tahu harus bagaimana menerima sebuah pengakuan dari seseorang.


Bukan karena mereka belum pernah pacaran sebelumnya, tetapi karena mereka berdua sadar bahwa mereka masih memiliki sebuah luka yang mungkin takkan pernah dapat tersembuhkan.


Mereka tentu tak dapat menerima perasaan seseorang ketika mereka masih tak yakin terhadap perasaan sendiri dan mereka tak ingin Celine hanyalah sebuah obat saja, tak lebih dari itu.


Karenanya, Z mengajak Zent untuk berbicara mengenai luka di dalam hati yang Z tak ketahui. Meski mereka berdua pada dasarnya orang yang sama, entah disebabkan oleh apa, Z tak dapat mengetahui alasan hati Zent terluka.


Saat ditanya, Zent hanya terdiam, tak mampu menjawab sembari mengingat kembali kenangan yang bagaikan sebuah mimpi buruk.


Seandainya dapat memutar waktu, Zent sangat ingin mengubah segalanya, tapi ia tahu itu tak mungkin.


Inilah jalan yang ia pilih dan yang harus dipertanggung jawabkan.


Tapi.. Ini terlalu berat.


"Aku takkan mengerti jika kau tak menceritakannya padaku. Walaupun kita adalah orang yang sama, terdapat beberapa hal di mana hanya kau seorang yang mengerti, salah satunya adalah sekarang. Jadi, katakan padaku, ada apa?" Pinta Z.


Namun, tentu saja, Zent tak menjawabnya, hanya terdiam di tempat lalu menyunggingkan sebuah senyuman kosong yang sudah terlalu sering dia gunakan.


Z menyerah, menghela napas panjang dan berjalan menuju altar raksasa untuk menenangkan diri di sana. Meskipun ia tak butuh tidur, tetap saja dirinya membutuhkan istirahat.


Zent memerhatikan sosok lainnya itu pergi menjauh, menghela napas berat, tanpa sadar telah mengepalkan kedua tangan dengan kuat yang kemudian dilepaskannya sembari berkata "Kau masihlah orang yang sama"


Zent bangkit berdiri, mengacak rambut frustasi, lalu kembali terduduk di atas rumput, bingung terhadap perasaan yang kini bergejolak di dalam hati. Ia tak tahu apakah harus merasa bahagia atau terbebani dengan pengakuan Sang ksatria.


Dia tak ingin memilih pilihan yang salah dan membuat hati Celine terluka, terlebih karena Celine adalah sosok yang selalu memasang dinding tebal mengelilingi hatinya.


Sesuatu seperti ini sangat jarang terjadi, bahkan mungkin belum pernah.


Dan Celine juga ingin dia membuka hati.


Zent tertawa pahit.


"Aku? Membuka hati?" Ia mendengus geli, menatap rerumputan di bawah "Diriku yang kau lihat itu, bukanlah diriku yang asli.


Kau sama sekali tak mengenalku, bahkan separuh diriku juga tak mengenal sosok yang begitu kubenci, sosok yang sudah lama menjadi duri di dalam daging. Kau hanya menyukai personaku, Celine. Karena itulah aku tak pantas bersamamu yang berani untuk menghadapi perasaan sendiri ketimbang diriku yang terus berlari menjauh"


Zent menutup mata, menghela napas sekali lagi dan menghantam rerumputan di samping dengan tangan kanan "Masihlah orang yang sama Zent, kau masih belum berubah. Hanya seseorang yang berpura-pura layaknya sarung tanganmu itu..


Faker. Ironis"

__ADS_1


.


.


Jauh dari kota, di pedalaman hutan, mereka menemukan sebuah gua besar yang tak terlihat natural, melainkan tampak diciptakan oleh sesuatu.


Mulut gua tersebut berbentuk segitiga dengan puncak datar. Tanaman-tanaman liar tampak tumbuh merambati dinding batu putih tersebut, menandakan bangunan ini telah lama berada di sini.


Tapi kenapa tak pernah ada informasi mengenainya?


Mereka bertiga saling berpandangan, ragu apakah mereka harus masuk atau kembali ke kota.


Namun, membayangkan nona muda yang telah mengeluarkan tenaga untuk menyiapkan pesta, sesuatu yang sudah lama tak dirinya lakukan semenjak kematian Sang ibu, para ksatria mengangguk dan melangkah masuk ke dalam gua gelap tersebut.


Mereka menggunakan sihir api sebagai pencahayaan, menciptakan api melayang di samping kanan mereka.


Di dalam gua buatan itu, mereka terpesona oleh ukirannya yang tampak tak dibuat menggunakan tangan melainkan mesin.


Tampak pola-pola kotak yang saling tergabung seakan seluruh bagian gua buatan ini tercipta dari kumpulan kotak batu putih yang setelah diperhatikan lebih lanjut, kemungkinan besar memang seperti itu.


Namun, tak ada catatan sama sekali mengenai tempat ini atau mengenai peradaban yang menggunakan kotak putih berbahan batu yang tampak licin dan tak licin di saat bersamaan, mengkilap memantulkan cahaya hangat dari api.


Rayven terkejut saat berlutu dan merasakan teksturnya.


Kotak-kotak putih ini bukanlah batu, melainkan sesuatu yang belum pernah mereka lihat atau dengar "Mungkinkah kita menemukan sebuah peradaban yang hilang tanpa sengaja?" Tanyanya penasaran, berusaha mencari tanda-tanda yang berkemungkinan menyimpan informasi mengenai tempat ini.


Mereka bahkan hanya berjalan lurus ke depan tanpa adanya pembelokan sama sekali, seakan gua buatan ini adalah sebuah terowongan dan bukanlah gua.


Mereka masuk makin dalam, berusaha menghiraukan udara dingin lembab yang semakin membuat mereka menggigil seolah mereka memasuki sebuah ruangan penuh akan es.


Celine menggunakan sihir miliknya untuk menciptakan sebuah kubah biru transparan, melindungi mereka dari apapun yang kemungkinan datang menerjang sekaligus mempertahankan tubuh tetap hangat. Mereka sudah masuk sejauh ini, hanya membuang-buang waktu saja jika mereka balik ke kota.


Tak lama, mereka sampai di sebuah ruangan besar yang begitu luas dan tinggi dengan enam pilar besar di kanan-kiri yang membuat mereka berukuran seperti seekor serangga kecil.


Mereka tak percaya akan menemukan sesuatu seperti ini, sesuatu yang tak mungkin adalah ciptaan manusia, terlalu mustahil meskipun menggunakan sihir dan semacamnya. Hanya para Angel atau Demon yang dapat melakukan ini, tapi mereka yakin kedua ras tersebut pun belum pernah melihat bahan yang digunakan.


Ketika tiba di tengah ruangan, sebuah suara terdengar, layaknya sebuah ranting yang patah.


Mereka menjadi waspada, memeriksa sekitar untuk mencari apapun yang mungkin dapat membuat suara tersebut, namun tak menemukan apa-apa.


Hanya saat Celine melihat ke atas, meneriakkan "Menghindar!" Barulah mereka sadar telah masuk dalam sarang seekor laba-laba raksasa yang kini melompat dari langit-langit dan mendarat di depan mereka, menimbulkan kepulan debu tebal, menghalangi pandangan.


Tahu-tahu, sebuah serangan menghantam kubah mana Celine, membuatnya meringis sakit.


Dia menengok kanan-kiri, mencari darimana asal serangan tersebut, tak dapat menemukan lokasi laba-laba raksasa yang sedang bersembunyi.

__ADS_1


Rayven menembakkan beberapa anak panah ke atas.


Pada pangkal anak panah tersebut, terdapat sebuah mana yang memanjang dari telapak tangan kanan Sang ksatria. Rayven menggunakannya untuk mencari laba-laba raksasa, menangkapnya lalu mengikat mahluk tersebut di tengah-tengah ruangan "Aku mendapatkannya! Rio!"


"Aku tahu!" Seru Rio yang kemudian berlari mendekat.


Dia melompat tinggi sembari memutar badan untuk mendapatkan momentum dan menghantamkan palu besar miliknya pada tubuh laba-laba yang kini terlempar menghantam salah satu pilar dengan keras, membuat seluruh bangunan ikut bergetar kuat.


Beberapa kubus putih tersebut jatuh dari atas dalam berbagai ukuran. Untungnya kubah mana Celine masih bertahan, kalau tidak mungkin Celine dan Rayven sudah terluka.


Rio yang berada di luar, berlari menghindari tiap kotak putih dengan bunyi mendentang seakan benda tersebut memiliki berat beribu ton.


Kedua matanya melebar mendengar itu.


Sambil berusaha menekan rasa takut yang perlahan terbentuk, ia bergegas masuk kembali ke dalam kubah tak perduli pada laba-laba besar yang kini meringkik kesakitan.


"Kekuatan kita takkan cukup untuk menembus kulit tebal laba-laba itu! KIta harus mencari cara lain" Tukas Rayven sembari memerhatikan keadaan sekitar, berjaga-jaga jika masih ada musuh yang bersembunyi.


Celine berpikir sejenak, melihat ke arah kubus-kubus putih yang kini berserakan, lalu melihat ke atas "Kita bisa menggunakan kubus-kubus putih tersebut untuk melukainya!"


"Dan memerangkap kita dalam proses? Tidak terima kasih" Balas Rio dengan nada meninggi karena mendengar ringikan laba-laba kini berubah menjadi sebuah raungan menyeramkan, tanda dia marah dan takkan bermain-main lagi dengan mereka.


"Kau punya ide lain?" Seru Rayven kesal mendengar ucapan sahabatnya itu.


Laba-laba tersebut melompat.


Celine tanpa keraguan, menghantam kuat dataran tempat mereka berpijak dengan tangan kanan yang telah diimbuhkan oleh mana berjumlah besar hingga menciptakan ombak energi biru besar.


Laba-laba tersebut terpental ke ujung ruangan sekaligus membuat ruangan bergetar kuat layaknya gempa, menjatuhkan kubus-kubus putih yang berhasil menimpa laba-laba raksasa dan kini mati tertimbun.


Kini, masalahnya adalah bagaimana caranya mereka lolos dari sini.


Jalan keluar satu-satunya telah tertutup dan tak ada jalan lain lagi.


"Kita akan mati!" Jerit Rio.


"Di sana! Aku melihat sesuatu!" Teriak Rayven berusaha mengalahkan suara menggelegar dari kubus-kubus putih berat yang masih berjatuhan, menunjuk ke depan, di mana sebuah cahaya kehijauan berada.


Mereka berlari ke sana mengikuti Celine karena hanya dialah yang mampu membuat kubah mana ini.


Sesudah menghindar dan melompati timbunan yang membuat laba-laba raksasa mati, mereka sampai pada sebuah jalan buntu dengan dinding yang tampak memancarkan cahaya kehijauan redup.


Mereka terperangkap di sana, tak lagi tahu harus melakukan apa dan ketika Celine melihat ke atas, sebuah kotak putih besar jatuh ke arah mereka.


"Zent.. "

__ADS_1


Ucapnya sebelum kubah mana tersebut menghilang di balik timbunan.


__ADS_2