
"Sudah selesai menangisnya?" Goda Rayven sembari menyesap sebuah teh panas dari cangkir, membuat para prajurit tertawa mendengarnya.
Ini benar-benar memalukan.
Namun, aku merasa jauh lebih lega.
Jadi, walaupun aku harus menahan malu yang membuat wajahku terasa begitu panas terutama di tengah-tengah para prajurit tangguh yang sedang duduk bersama kami mengitari sebuah api unggun besar, ini tidaklah begitu buruk.
Aku harus berterima kasih padanya nanti, pada seseorang yang kini sedang menemani kedua goblin muda itu bermain meski masih rada kaku, setidaknya Celine ingin berusaha, sesuatu yang membuatnya terlihat lebih menarik ketimbang sebelumnya.
"Hmm, apakah aku mencium bau-bau cinta?" Ucap Z sambil menahan tawa "Menangis di pelukan orang tersayang, sebuah impian para lelaki di luar sana dan orang tersebut adalah Celine, kau orang yang beruntung Zent. Tak banyak yang seberuntung dirimu, kau harus bersyukur akan itu"
Tanpa perlu kau jelaskan pun aku tahu.
Tapi, tetap saja pendirianku masih belum berubah. Dia adalah seseorang yang tak pantas bersama diriku- Namun, aku hanya perlu menjadi lebih baik saja bukan? Meski membutuhkan waktu yang lama, seperti yang telah kau tahu, aku takkan pernah menyerah dan entah kenapa, aku merasa kalau Celine pasti menunggu.
"Ahh asmara masa muda.. "
Kau mengatakannya seakan-akan dirimu sudah tua.
"Mungkin saja, kau kan tak pernah tahu sudah berapa lama dirimu hidup dan apakah kau benar-benar berasal dari dunia sebelumnya. Hampir semua memori berada dalam diriku, tersegel jauh di sana, di tempat di mana aku sendiri tak dapat mencapainya.
Semakin aku berusaha meraih, semakin menjauhlah mereka. Oleh karena itu, kita takkan pernah tahu sampai nanti kau berhasil membuka segel ini" Jelasnya.
Kita berdua saja tak tahu siapa yang menyegel dan dengan alasan apa. Bagaimana kalau ternyata memori tersebut disegel demi kebaikan kita sendiri?
Atau karena mereka takut akan sesuatu. Seperti yang kau katakan, kita takkan pernah tahu, jadi bukankah lebih baik untuk tak mencari tahu?
__ADS_1
"Apa kau tak penasaran?" Tanyanya sembari tersenyum.
Kau sudah tahu jawabannya.
Ketika aku kembali fokus pada situasi sekitar, aku baru sadar kalau ternyata para prajurit sedang membicarakan sosok raksasa yang kini duduk tak jauh di belakang mereka, memerhatikan dalam diam, membuat para prajurit sedikit merasa waspada seandainya dia tiba-tiba menyerang. Meskipun tahu, golem tersebut adalah golem pribadi milik nona Celina, mereka tak tahu bagaimana bisa ksatria Tier 5 mendapatkan bawahan di Tier 7.
Alasan mereka dapat mengetahuinya adalah karena sesudah membangun perkemahan, para prajurit menantang golem itu untuk mencari tahu seberapa kuatkah dirinya dan tak disangka, golem itu berhasil mengalahkan lebih dari lima puluh prajurit Tier 4 hanya dalam sekali kibasan tangan. Sebuah kibasan yang mampu menciptakan angin kencang hingga merusak hutan berpuluh meter jauhnya.
Sekuat itulah golem milik Celine yang semenjak pertarungan, hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa.
"Tapi, mengapa golem itu menyebut nona Celine sebagai Yang Mulia?" Tanya salah seorang prajurit, menarik perhatian semua orang yang kini menghadap padanya "Sebenarnya, aku sudah lama memikirkan hal ini, tapi bukankah kita sudah tak pernah melihat saja dan ratu semenjak.. Semenjak lama?"
Pertanyaannya itu mengundang anggukan para prajurit, bahkan Rio setuju "Bagaimana kalau ternyata.. " Ia tak menyelesaikan kalimatnya itu, tetapi memandang pada Sang ksatria yang langsung menggeleng cepat.
"Itu tak mungkin. Hentikanlah dugaan tanpa fakta itu atau kita bisa saja membuat sebuah kekacauan besar dalam kota dan kita tak menginginkan itu. Tidak ketika para pengikut sesat sudah memberitakan kedatangan mereka pada dunia" Tukas Celine tegas, membuat para prajurit menyesal sudah berpikir yang tidak-tidak.
Namun, apakah mereka merubah pendirian mereka?
Bagi mereka, kemungkinan Celine adalah Sang penerus tahta asli, tinggi. Terutama, mereka sendiri sadar bahwa raja dan ratu sudah lama tak menampakkan diri bahkan istana yang biasa terlihat penuh akan aktivitas, kini hening layaknya sebuah kuburan. Tak tampak kehidupan di dalamnya.
Celine sendiri sebenarnya sudah merasa ada yang janggal, tetapi berusaha berpikir positif hingga para pengikut sesat itu datang menyerbu.
Tak ada perintah yang keluar dari dalam istana, justru Mr. Anderson lah yang mengambil alih semuanya. Padahal, kalau diingat-ingat, raja Renold adalah seseorang yang paling cepat bereaksi ketika mendengar nama para pengikut sesat.
Namun, sebagai seorang ksatria, Celine tak dapat menerima sesuatu hanya berdasarkan dugaan saja. Ia membutuhkan sebuah informasi konkrit agar dapat mengambil sebuah tindakan yang di mana, itulah yang akan mereka lakukan sekarang.
Salah satu alasan Mr. Anderson menerima permintaan untuk membangun sebuah perkemahan di luar kota, berada di tengah-tengah hutan adalah karena kemungkinan besar mereka harus berperang.
__ADS_1
Siapa musuhnya?
Itulah yang harus mereka cari tahu.
Tentu perang takkan terjadi seandainya semua ini hanya spekulasi semata, tetapi ketika tak hanya satu-dua orang merasakan kejanggalan, maka itu sudah merupakan sebuah bukti kuat bahwa sesuatu sedang terjadi dan selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang. Sudah waktunya untuk menarik gorden, membiarkan cahaya masuk menyinari kota dari bayang-bayang gelap tersebut.
Tak lama kemudian, kami kembali ke tenda masing-masing, beristiraha agar siap menghadapi hari esok, hari di mana misi pertama akan berlangsung, misi yang akan menentukan apakah kami harus menyerang atau kembali dengan tenang ke dalam mansion.
Aku berharap semoga saja tak terjadi hal buruk, tetapi jika ternyata kami harus melalui peperangan demi meraih kebenaran, maka itulah yang akan kami lakukan meski kami harus mengorbankan nyawa dalam proses.
Aku.. Harus siap.
"Zent, apakah kau sudah tidur?" Tanya Celine dari luar tenda.
Tunggu, Celine? Apa yang dia lakukan- "Tidak, aku belum tidur, masuklah ke dalam" Jawabku spontan tanpa dapat kucegah yang membuatku bertanya-tanya, apakah aku ingin Celine berada bersamaku malam ini?
Sang ksatria pun masuk, ksatria yang kini tak mengenakan zirahnya melainkan sebuah pakaian tidur berwarna putih dengan garis-garis keemasan pada tiap pinggirnya.
Celine melangkah mendekat, duduk di sampingku sembari memeluk erat bantal kepalanya, tak mampu melihat ke arahku dengan wajah yang sudah memerah layaknya udang rebus "M-maaf telah mengganggumu. Aku.. " Ia terdiam dengan mulut setengah terbuka, berusaha mengeluarkan sebuah kalimat yang tertahan di leher.
Sebagai seorang laki-laki, aku tentu tak dapat melihatnya kesulitan seperti ini, sehingga tanpa kusadari dan dapat kucegah, tangan kananku sudah menepuk beberapa kali di atas matras, mengundangnya untuk tidur bersama, berusaha tak memedulikan jeritan bahagia Z yang mirip seperti gadis remaja menonton sebuah drama.
Celine awalnya terdiam, membuatku takut telah salah menilai situasi. Tetapi ketika Celine tanpa bersuara merangkak masuk ke dalam selimut, aku merasa lega sekaligus gugup setengah mati dengan jantung yang terus berdegup kencang tanpa adanya tanda akan berhenti.
Sepertinya Celine juga merasakan hal yang sama, terlihat jelas kedua pundaknya menegang dengan posisi kaku yang aku yakin terasa tak nyaman.
Entah karena dorongan apa, akupun meraih tubuhnya, menariknya mendekat dan merangkul tubuh yang mungil namun penuh akan otot.
__ADS_1
Celine tak menolaknya, masih terdiam tak bersuara tetapi bergerak makin dekat untuk ikut merasakan kehangatan yang terasa begitu nyaman.
Tak butuh waktu lama bagi kami untuk terlelap, terutama setelah melalui hari yang begitu panjang dan untuk pertama kalinya, aku tertidur tenang layaknya seorang bayi.