
Telingaku berdengung keras, pandangan kabur disertai dada sesak.
Aku sulit mencari tahu di mana diriku berada, namun aku menebak aku berada di salah satu jalan kota, terdampar di sana sesudah terlempar dari istana.
Sebuah pertanyaan muncul dalam kepala, menanyakan,
'Bagaimana bisa aku selamat?'
Yang kemudian di jawab oleh Z.
"Akulah menggunakan perisai mana untuk menyelamatkanmu, memperlembut benturan sehingga tubuhmu tak berantakan layaknya kepingan kaca"
Memperlembut katamu?
Aku merasa tubuhku seperti dihantam berulang kali dan beribu jarum panjang ditusukkan tanpa henti. Kedua kakiku juga tak dapat kurasakan.
Aku sama saja seperti seseorang yang berada di depan gerbang kematian.
"Kau masih beruntung. Aku tak yakin pada bawahan Celine. Kemungkinan mereka sudah berubah menjadi spaghetti di suatu tempat"
Kau kejam mengatakan hal seperti itu pada mereka yang berjuang mempertaruhkan nyawa.
"Maaf, aku rasa stres membuatku sedikit sensitif. Aku benar-benar khawatir. Telat sedikit saja, kita mungkin takkan hidup sekarang. Kau memang memiliki kemampuan regenerasi, tetapi bukan berarti kau aman dari kematian"
Belum sempat membalas, sebuah rasa sakit yang teramat sangat muncul di kedua kaki, membuatku menjerit keras tak mampu menahannya.
Merupakan sebuah keajaiban diriku tak jatuh pingsan selama proses penyembuhan kaki yang seperti dirobek-robek kemudian disatukan kembali secara paksa.
Keringat membasahi tubuh, napas terengah-engah dan degup jantung kencang menemaniku, menyaksikanku perlahan bangkit berdiri layaknya orang mabuk, bergoyang ke kanan dan kiri seperti berdiri di atas sebuah kapal di tengah badai.
Kuraih sebuah kereta kuda tak jauh di depan, menggunakannya sebagai sandaran sementara selagi aku mengembalikan tiap energi yang tersisa untuk mencari di mana letak yang lain berada.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan salah satunya, tergeletak di atas jalan dengan tubuh yang sesuai kata Z, berserakan seperti spaghetti.
Pada dinding sebuah bangunan di sebelah kiri, tampak cipratan darah serta bekas tubuh menghantam.
Sepertinya, siapapun dia, terhempas dalam kecepatan tinggi, telat bereaksi dan akhirnya dinding tersebut menjadi penutup cerita.
__ADS_1
Sebuah kematian yang ganas.
Aku sampai harus menguatkan diri beberapa kali untuk tak muntah di tempat, melihat isi tubuh di jalan.
Sesuatu seperti ini akan menjadi keseharianku di kemudian hari, aku harus mempersiapkan mental atau aku dipastikan kehilangan kendali dan menjadi gila.
"Tenang saja, kau jauh lebih kuat dibanding orang lain yang mungkin sudah muntah-muntah di jalan dengan trauma menghantui seumur hidup. Namun, jangan sampai kau terbiasa, belajarlah untuk memperkuat diri tetapi jangan pernah biarkan dirimu terbiasa terhadap hal ini atau kau akan menciptakan monster"
Seperti yang kau katakan Z, tenang saja. Aku juga takkan mau menjadi monster yang tak lagi menghargai sebuah nyawa.
Itu bukanlah sebuah kehidupan, melainkan mimpi buruk...
Kecuali pada mereka yang berhak mendapatkannya.
Z menggeleng-gelengkan kepala.
Kembali kulanjutkan langkah yang tak lama berubah menjadi lari begitu kurasa tubuhku sudah mampu. Berlari melewati jalanan kosong dengan etalase-etalase toko gelap tanpa pemilik mengingatkanku pada film-film distopia yang sering kutonton dahulu.
Ternyata, seperti inilah rasanya. Sebuah perasaan aneh yang sulit kugambarkan. Campuran antara ketenangan dan keheningan mencekam. Sesuatu yang membuatmu merasa aman tetapi sekaligus waspada.
Tetapi pertanyaan tersebut terjawab tak lama kemudian. Ketika aku tanpa sengaja lewat di jalan utama kota, menemukan barisan kereta-kereta kuda berisi barang-barang serta orang-orang yang tampak gelisah dan takut sembari terus melihat ke arah istana, di mana sebuah cahaya ungu tampak redup di atas sana.
Kemungkinan besar adalah perempuan asing itu.
"Ah! Kau Zent bukan? Prajurit Anderson meminta kami untuk memberitahumu bahwa kota telah dievakuasi namun masih membutuhkan waktu sampai orang-orang tiba dengan aman di perkemahan" Ucap salah satu prajurit kerajaan yang bertugas sembari memberi hormat padaku.
"Bagaimana kau tahu aku Zent?"
"Rambut anda, tak begitu sulit untuk dikenali" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan, lalu menoleh pada barisan yang tampaknya masih membutuhkan waktu cukup lama untuk bergerak dan sebuah helaan napas terdengar "Kami sudah seperti ini semenjak 30 menit yang lalu.
Alasannya karena kami kehabisan tempat di perkemahan dan sementara ini dibangun sebuah area luas di seberang perkemahan untuk menampung para penduduk yang tersisa.
Namun karena terlalu tiba-tiba, kami tak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan area yang kini masih dalam pengerjaan. Mau tak mau, mereka harus menunggu hingga pepohonan ditebang agar mereka mendapatkan tempat"
"Mengapa tak meminta mereka untuk meninggalkan kereta?" Tanyaku penasaran.
Prajurit itu kembali menghela napas "Kami sudah memintanya, tetapi mereka tak mau karena barang-barang berharga mereka ada di dalam. Karena tak ingin membuat keributan yang justru hanya akan membawa masalah lebih besar, kami mengikuti permintaan mereka setelah melihat situasi memungkinkan atau tidak"
__ADS_1
"Dan kalian pikir situasinya memungkinkan? Celine Sang ksatria Tier 5 saja terlempar dari istana dan kalian anggap itu memungkinkan?" Tanyaku dengan nada meninggi, tak menyangka prajurit kerajaan ternyata selembek ini "Apa yang kalian pikirkan?"
"Maafkan kami, tapi kami hanya mengikuti perintah komandan" Balasnya pelan tak mampu menatapku tepat di mata.
"Ada apa Gero? Apa ada sebuah masalah?" Tanya seorang ksatria laki-laki berambut pirang pendek, berjalan dari arah gerbang berada dengan tangan siap pada gagang pedang.
Prajurit di depanku menggeleng, berusaha meyakinkan komandannya "Sama sekali tak ada komandan. Evakuasi berjalan dengan baik, saya hanya menjelaskan situasi pada tuan Zent di sini" Jawabnya, sedikit terlalu keras dan cepat sehingga menarik perhatian beberapa pasang mata.
Ksatria itu memerhatikanku dari atas ke bawah, bergidik ketika melihat pakaian yang bersimbah darah lalu mengucapkan "Kau adalah laki-laki yang disebutkan oleh Celine?"
Oh?
"Kau tak pantas untuknya"
Aku tahu itu.
Tapi mendengar orang lain mengatakannya, membuat darahku sedikit mendidih "Kita tak punya waktu untuk ini. Mereka harus meninggalkan kereta mereka atau nyawa mereka berada dalam bahaya!" Desakku sembari memerhatikan cahaya ungu pada istana yang tampak makin terang.
"Kita aman selama kita memiliki Celine! Dan aku juga ada di sini untuk melindungi mereka. Tak satupun dapat bermacam-macam selama kami masih di dalam ibu kota" Bantahnya yang membuatku benar-benar ingin menghantam wajah dingin dan angkuh tersebut.
"Kau lebih mementingkan ego dibanding keselamatan mereka? Bahkan Celine tak mampu menghadapi dia! Kau pikir orang-orang ini akan aman? Mereka justru akan mati di bawah 'perlindungan'mu itu" Balasku geram sembari berusaha menahan amarah yang sudah berada di puncak.
Aku lebih baik segera ke istana dan mencari tahu apa yang terjadi di sana ketimbang menghabiskan waktu berbicara pada mahluk tak berotak itu.
"Apa yang akan dirimu lakukan? Menjadi beban untuknya?"
Tiba-tiba dari arah istana, cahaya ungu terang tadi meluncur ke atas dan bergerak ke arah sini dengan cepat. Kukerahkan perisai mana ke depan, berusaha untuk perisai tersebut dapat melindungi mereka yang berada di belakang.
Tak sampai sedetik berikutnya, sebuah benturan kuat terjadi, menciptakan gempa berskala besar hingga membuatku berlutut tak mampu menahan keseimbangan.
Para penduduk berlari ke arah gerbang meninggalkan barang-barang mereka dengan histeris, disertai teriakan dan jeritan, tak lagi memedulikan arahan dari para ksatria yang kini bingung harus melakukan apa, takut melihat kekuatan besar yang sedang berusaha menembus perisai.
Sang komandan menarik keluar pedang miliknya, mengerahkan mana berwarna biru terang pada bilah pedang dan menoleh padaku "Akan kutunjukkan bagaimana kekuatan asli seorang ksatria Tier 5" Tukasnya lalu berlari ke depan.
Dia melompat keluar dari dalam perisai dan berhasil membuat sosok tersebut mundur oleh ayunan pedangnya yang mengeluarkan energi biru besar, sama besarnya seperti pedang mana Celine hanya untuk ditepis begitu saja oleh perempuan tersebut.
Dua buah energi biru kembali muncul membentuk huruf 'X' dari ayunan pedang Sang komandan yang dihindari oleh dirinya seperti menghadapi serangan anak kecil dengan tatapan terus mengarah padaku.
__ADS_1