
Musim semi identik dengan sakura, bunga yang mekar setiap setahun sekali. Berbagai aktifitas kantor, perusahaan, dan sekolah diawali dari musim ini. Para muda mudi berjalan mengenakan seragam berjas rapi, celana panjang dan rok mini, dihiasi oleh pemandangan indah berwarna merah muda yang menyusuri jalan menuju gedung sekolah, seolah-olah jiwa muda bersemi kembali.
Semua pelajar ingin kehidupan sekolah yang menyenangkan, mengikuti banyak eksul dan memiliki banyak teman. Tetapi, karena beberapa alasan tertentu beberapa pelajar kurang bisa menikmati masa-masa sekolahnya.
Ada yang hanya berfokus pada karir masa depan, ada yang hanya bersekolah sesuai kewajiban tanpa memiliki tujuan bahkan mencari pacar? bisa jadi suatu alasan mengapa seseorang ingin melanjutkan sekolahnya.
Berbeda halnya dengan Fuyuki Matsuda. Lelaki imut yang memiliki mata hijau dan rambut perak ini, terpaksa harus bersekolah lagi karena perintah ayahnya.
"menyebalkan." itu saja yang bisa dia katakan saat memasuki pintu gerbang SMA Osaka, tak ada hal yang menarik bagi dirinya. Selama tiga tahun ke depan, ia akan menjalani kehidupan bersama Hiyori Fujisaki dan Mawaru Yoshioka yang merupakan teman masa kecilnya.
Karena kecerdasannya yang luar biasa, Fuyuki mendapatkan skor tertinggi saat tes penerimaan murid, nilainya sempurna disemua tes mata pelajaran. Alhasil sebagai murid terbaik nomor 1, ia menjadi superstar di sekolahnya.
"Kenapa malah jadi terkenal? harusnya aku tidak niat saja mengerjakan tesnya." dalam pikiran Fuyuki begitu tahu dirinya sudah menjadi buah bibir seisi sekolah.
"Jangan begitu, harusnya master bersyukur!" Sahut Mawaru yang berjalan mendekatinya lalu meraih bahunya. Disusul dengan Hiyori yang berjalan santai menunduk sambil bermain game di smartphonenya "Terimalah dengan rasa bangga."
Perkataan Mawaru dan Hiyori membuat Fuyuki semakin malas untuk melangkahkan kakinya dan tiba-tiba terdiam. Ia menutup mata, merenungkan kembali tujuannya "Jika dipikir-pikir lagi, aku ada disini karena menjalankan wasiat dari ayah." Jadi, mau tidak mau harus niat sekolah.
Fuyuki yang terdiam mulai mengambil langkah kaki dan maju, "Baiklah!" Gumamnya seraya membuka mata, wajahnya yang tadi lesu sekarang kembali bersemangat.
Hmm...
"Akhirnya dia sadar juga!" Dalam hati Hiyori sambil tersenyum tipis melihat Fuyuki kembali bersemangat.
"Ngomong-ngomong kelas kita dimana ya?" Mawaru kembali menghidupkan suasana.
"Eh-!? Jangan bilang kamu belum melihat papan pengumuman didepan pintu masuk tadi." Hiyori mulai mengacau dengan menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Be-benarkah?" Mawaru sedikit gelisah.
"Apa kau benar-benar tidak tahu, Mawaru?" Fuyuki memandangnya dengan rasa tidak percaya.
"Iya." Mawaru menjawab dengan ekspresi sedatar papan(dalam hatinya - males banget aku kalau harus melihatnya kesana lagi).
"Aku sih di kelas 1-B." Kata Hiyori dengan santainya sambil menunjukkan jari ke ruang kelas yang dimaksud.
"Kalau Master?" Mawaru bertanya kepada Fuyuki yang berharap cemas dengan harapan semoga sekelas.
"Entah." Fuyuki sengaja mengabaikan Mawaru namun menyelonong masuk ke kelas 1-B.
"Kenapa malah masuk situ!?" Mawaru berteriak kesal layaknya kena prank.
Hiyori dan Fuyuki mencari tempat duduk, dan mereka duduk berdekatan sementara Mawaru termenung dipojok pintu kelas.
Hiyori berbisik pada Fuyuki yang melihat Mawaru dari kejauhan.
"Kenapa tidak kau bilang saja kalau dia juga 1-B." Karena diantara mereka bertiga, satu-satunya yang melihat daftar kelas hanyalah Fuyuki.
"Aku menguji kemampuannya." Jawab Fuyuki singkat.
"Apa maksudnya?" Hiyori bertanya keheranan.
Fuyuki menghela nafas sesaat dan menjelaskan alasannya. "Dia memiliki kemampuan membaca pikiran, andaikan dia terlatih untuk kelalaian seperti itu."
"Oh jadi itu alasannya."
"Iya." Fuyuki beranjak dari tempat duduknya dan menuju daun pintu, Ia meraih tangan Mawaru dan membawanya ke dalam kelas sembari Hiyori mengatakan "Alasan lainnya Mawaru memanggilmu master karena mencolok di tempat umum seperti ini, iya kan?"
Fuyuki tersenyum lembut, meletakkan tangan Mawaru di bangku kosong depan Hiyori dan berkata "Jadi, panggil saja namaku seperti biasa."
Mawaru tertunduk dan meraih kursi ditangannya. Ia langsung duduk dengan wajah Mawaru tersipu malu karena tidak bisa membaca situasi. Sesaat gadis manis yang gugup karena kesalahannya ini menoleh ke arah Fuyuki dan mengatakan sepatah kata dengan pelan "Maafkan aku, Fu-fu-fuyuki."
(Dalam hati Fuyuki - Kenapa malah jadi gugup begitu?) "Ya, jangan diulangi lagi!" Kesannya malah jadi canggung.
Awal pertama di kelas ada sesi perkenalan dimana semua murid harus menyebutkan nama, hobi dan alasan masuk sekolah ini.
"Saat giliranku tiba, aku akan menjawab aku ingin masuk ke sekolah karena jaraknya dekat dari rumah." begitulah pikir Fuyuki.
Tetapi sebenarnya, alasan terbesar ia masuk SMA Osaka karena wasiat ayahnya yang menjabat sebagai direktur utama perusahaan Miyamoto dan meninggal 4 bulan yang lalu.
****
Di hari itu, 1 Januari 2012.
Hari Kematian Toushiro Matsuda, ayah Fuyuki. Tepat ketika ia berumur 16 tahun.
*Ilustrasi:
[06.30] Fuyuki yang baru saja bangun tidur beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi.
Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong ibu—
__ADS_1
karena ibu Fuyuki tidak ada, fuyuki merapikan tempat tidur sendiri.
Keseharian Fuyuki ketika pagi hanya menjaga rumah. Ia sudah tidak bersekolah lagi semenjak lulus dari Akademi Rakugaki 2 tahun yang lalu. Diumur 14 tahun, ia mendapatkan gelar sebagai lulusan terbaik nomer 1 di Rakugaki.
________
Rakugaki adalah tempat untuk menampung pengguna kekuatan spiritual. Orang-orang yang memiliki potensi mengendalikan kekuatan spiritualnya dibimbing dan diarahkan untuk memiliki pekerjaan yang sesuai kemampuannya. Biasanya 'mereka' dipanggil RAIZU dan dibagi oleh setiap unit divisi sesuai kemampuan. Ada 9 Unit Divisi utama yang mengatur stabilitas Rakugaki. Divisi lainnya seperti badan eksekutif, unit medis dan kontraktor tidak terikat pada divisi utama dan tergabung dalam divisi khusus. Sedangkan Divisi tertinggi dalam Rakugaki adalah Divisi Nol dengan Kode RAIZU-00. Divisi Nol Hanya memiliki 4 anggota dimana kemampuan tiap-tiap anggota setara dengan 1 Unit Divisi Utama. Salah satunya adalah Fuyuki Matsuda, yang memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa dan elemen es terkuat yang mampu membekukan laut dan daratan. Sayangnya, kekuatannya tidak boleh sembarangan digunakan di dunia nyata dan ada larangan khusus bagi divisi nol sendiri untuk tidak melukai manusia biasa.
Sejauh ini Fuyuki tidak pernah menggunakan kemampuannya untuk berkelahi dengan seseorang. Ia menjadi kurang bersosialisasi dan hanya keluar rumah ketika ada kepentingan atau menjalankan pekerjaan dari divisinya saja.
________
Setelah bersih-bersih, Fuyuki menyiapkan makanan seperti biasa. Ketika menuju dapur, tak sengaja berpapasan dengan ayahnya yang keluar dari kamar mengenakan baju kantor rapi "Mau berangkat sepagi ini?" tanya Fuyuki pada Toushiro sambil melihat wajah ayahnya itu yang begitu ceria.
"Sebentar lagi." Dengan riang Toushiro membalas perkataan Fuyuki. Kemudian Toushiro duduk di sofa menyalakan tv menonton seputar berita pagi."
"Sebaiknya sarapan dulu, aku buatkan bento." Fuyuki begitu perhatian kepada ayahnya.
"Baiklah."
Tumben dia terlihat senang sekali, apakah dia habis menang lotre? atau saham perusahaannya naik? - Aneh.
Selama ini Fuyuki hanya melihat wajah ayahnya yang dirasa sedatar papan kayu. Toushiro orangnya maskulin dan tidak murah senyum, terkadang hanya tersenyum tipis tidak pernah unjuk gigi apalagi tertawa terbahak-bahak bahkan orang-orang perusahaan bilang ia direktur super cool. Tetapi, hari ini rasanya berbeda.
Padahal sifat cool Toushiro tak beda jauh dengan Fuyuki yang teman-temannya juluki bocah sedingin es.
Dengan kemampuan memasaknya, Fuyuki menyiapkan sarapan dengan sangat baik seakan-akan ingin menyantapnya dengan lahap. Tak lain bau masakan yang begitu sedap memikat perempuan berusia 24 tahun keluar dari kamarnya, dia adalah kakak angkat Fuyuki - Ashina Miyamoto.
Nama keluarga mereka dibedakan karena Ashina bukanlah kakak kandung Fuyuki, dia diadopsi oleh ibunya sejak kecil. Keluarga Matsuda hanya menginginkan keturunan asli, maka dari itu ada larangan anak adopsi tidak boleh menggunakan nama keluarganya. Walaupun hanya saudara angkat tetapi Fuyuki sudah menganggap seperti saudara sendiri namun tidak sampai kepercayaan penuhnya karena bagi Fuyuki bisa saja dia menjadi pedang bermata dua bagi keluarganya.
"Bukankah ini waktunya berangkat?" Kata Ashina sambil melihat jam tangannya.
"Benar sekali." Jawab Toushiro sambil melihat arlojinya lalu Fuyuki memberikan sekotak bento pada mereka berdua.
"Terima kasih Fuyuki, Hari ini aku akan pulang jam 8 malam." Pesan Toushiro pada anaknya yang ditinggal dirumah sendirian.
Fuyuki hanya mengantarkan kepergian kakak dan ayahnya sampai depan rumah, mereka naik mobil bersama dan bekerja di perusahaan Miyamoto milik ibunya.
Toushiro sebagai direktur utama memiliki kantor khusus, sementara Ashina pekerja lapangan di bagian administrasi kepegawaian. Mereka sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Jika hanya menunggu kedatangan seseorang saja membuat bosan, Fuyuki memanfaatkan waktunya untuk berlatih kemampuan fisik dan jurusnya.
Ketika dirasa sudah lama latihan, ia berhenti sejenak dan mengambil smartphonenya yang berada di meja dekat tempat latihannya. Ia segera mengecek smartphonenya yang sedari tadi berbunyi kling kling menandakan banyak pesan masuk disosmednya.
Oh ya, aku hampir lupa.... "Selamat Ulang Tahun" banyak ucapan seperti itu pada pesan masuk. Hari ini adalah hari ulang tahunku.
Harusnya aku tadi membuat kue saja untuk merayakan dengan kakak dan ayah (kapan lagi mereka dirumah!? - pikir Fuyuki)
Tanpa pikir panjang Fuyuki bergegas ke dapur membuat kue ulang tahunnya sendiri. Kue tersebut dipoles rapi dan dihiasi buttercream dengan tumpukan strawberry diatasnya.
"Akhirnya sudah jadi."
Kini yang Fuyuki lakukan hanya menunggu kepulangan mereka berdua.
Ia duduk di dekat jendela melihat datangnya mobil yang ditumpangi Ashina dan Toushiro, namun tak kunjung datang.
Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam "mungkin dia lupa." gumam Fuyuki mengingat pesan ayahnya sambil duduk menanti di depan kue.
Ia kembali melihat cuaca diluar, dingin.
Hari ini salju turun dengan lebat.
Lalu...
1 jam kemudian.
*Tok! tok! tok!
(bunyi seseorang mengetuk pintu)
"Kakak sudah pulang!?" Dengan kagetnya Fuyuki melihat Ashina pulang dengan Mondo, Bodyguardnya Toushiro.
"Iya."
"Dimana ayah?"
"Dia menyuruhku pulang duluan, memberikan ini padamu." Ashina sambil menyodorkan kotak putih yang begitu besar
Fuyuki mendecik (Cih!)
"Perasaanku tidak enak."
__ADS_1
Fuyuki meletakkan kotak yang diterima dari Ashina didepannya. "Eh-!? ada apa Fuyuki?" Tanya Ashina keheranan melihat sikap Fuyuki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dengan tatapan matanya yang tajam.
(Apa sikapku membuat dia marah? -dalam hati Ashina, gawat jika dia sampai mengeluarkan kekuatannya tamatlah sudah riwayatku!)
"Mondo, antarkan aku ke tempat ayah." Kata Fuyuki dengan nada tertekan karena kesal menunggu lama kepulangan ayahnya.
Sensasi macam apa ini, hawa membunuhnya serasa hampir mencekik leherku.
Mondo tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginannya. Mondo bergegas memanasi mobil disusul Fuyuki yang berjalan di belakang Mondo.
"Tunggu Fuyuki, mungkin saat ini beliau masih sibuk jadi tunggulah sebentar lagi, pasti akan datang." Ashina berusaha mencegahnya karena tak tega melihat adiknya keluar malam-malam sementara salju turun dengan lebat.
Sorot mata tajam itu menatap Ashina, seolah-olah membuatnya mati rasa dalam sekejap.
"Kakak, hanyalah pemisah antara aku dan ayah." kata-kata kasar dari sang adik amat menusuk hati kakaknya.
Membuat Ashina berkaca-kaca.
Blaam!
Fuyuki menutup pintu dengan keras, pergi mengenakan mantel tebal, masuk ke mobil dan duduk di depan dekat Mondo yang menyetir mobil itu.
"Cepatlah!"
"Baik."
Mondo terpaksa ngebut di jalanan.
Beberapa menit kemudian, sampailah di Perusahaan Miyamoto.
Fuyuki segera mencari kantor ayahnya. Ditemani dengan mondo yang malam-malam harus berpatroli keliling kantor dan menemui bosnya lagi.
"Ini kantornya bos!"
"Benarkah ayahku ada di sini?"
"Iya."
Fuyuki mengetuk 3 kali pintunya tidak ada respon. Kemudian Mondo menyentuh engselnya namun pintu terkunci. Mondo mendobraknya "Ayo kita masuk!" dan ketika mereka masuk, seluruh tempat gelap, "Dimana saklarnya?" tanya Fuyuki sambil meraba-raba dinding di dekatnya, segera Ia menyalakan lampunya. Ruang kerjanya berantakan, banyak kertas berserakan dan pecahan kaca. Di atas meja kerja ada laptop yang menyala, sepotong roti yang hanya dimakan secuil dan canggir sisa minum teh beraroma melati. Fuyuki melangkah pelan mendekati meja kerjanya dan ternyata dilihatnya, Toushiro tergeletak di belakang kursi kerja. Salah seorang karyawan tak sengaja lewat melihat mereka berdua masuk ruangan, kemudian karyawan itu ikut masuk namun dengan situasi yang dia lihat membuat karyawan merinding dan tubuhnya gemetaran.
"Dia sudah tidak bernafas lagi."
Mondo meminta karyawan tersebut ambulan dan polisi. Fuyuki hanya bisa bersaksi atas kematian ayahnya. Fuyuki menolak jenazah ayahnya untuk diotopsi, Ia yakin Toushiro mati bukan karena kecelakaan kerja melainkan dibunuh. Kematian Toushiro membuat Fuyuki percaya bahwa kejadian itu dilakukan oleh pengguna kekuatan spiritual, bukan orang biasa. Maka dari itu, Fuyuki tak ingin melibatkan banyak orang dan meminta polisi memulai penyelidikan secara rahasia.
Saat itu salah seorang polisi menemukan amplop yang bertuliskan "Untuk Fuyuki."
Mondo yang berdiri dibelakang polisi itu melihatnya "Oh ini kan...!"
"Tuan muda kemarilah." Mondo memanggil Fuyuki
"Ada apa Mondo?" Sahut Fuyuki dan berjalan mendekati Mondo, lalu mondo memberikan amplop yang ia pegang.
Toushiro meninggalkan suart wasiat untuk anaknya di lacinya.
Dalam wasiat yang ditulis Toushiro, ada dua hal yang harus Fuyuki jalani.
Yang pertama: Fuyuki harus bersekolah di SMA Osaka
Yang kedua: jika kedua orang tuanya sudah meninggal, Fuyuki harus mewarisi perusahaan Miyamoto.
Namun pemegang kekuasaan tertinggi adalah CEO, seorang pemilik perusahaan hanya Zakura Miyamoto, kakek Fuyuki.
Dia menyerahkan jabatan Toushiro kepada Fuyuki, dia meyakini bahwa Fuyuki bisa menjalankan perusahaan ini, bisa dijadikan juga sebagai bentuk latihannya untuk ketika akan mewarisi perusahaan. Dengan sangat terpaksa Fuyuki menerimanya.
****
Ulang tahun merupakan peringatan hari kelahiran seseorang, menandai hari dimulainya kehidupan di luar rahim. Biasanya, hari ulang tahun adalah saat yang ditunggu-tunggu karena perayaan ulang tahun identik dengan pesta, kado dan makanan enak. Namun apa jadinya ketika hal tragis menimpa dihari ulang tahun?
Bocah yang berumur 16 tahun itu harus melihat kematian singkat ayahnya dan meneruskan jabatan ayahnya sebagai direktur utama sekaligus menjadi pelajar di sekolah. Di posisi yang sesulit itu, sebisa mungkin ia tidak boleh membuat perusahaannya bangkrut dan Ia harus memiliki reputasi yang baik di sekolah.
"Jika kita menginginkan sesuatu namun hanya merenungkan sesuatu tanpa berusaha itu tidak akan ada gunanya."
Di depan makam ayahnya, Fuyuki berjanji suatu saat nanti akan mengungkap kematian ayahnya.
Kali ini, bagi dirinya kini hidup terasa seperti menyelesaikan teka-teki.
Semua dimulai dari awal perkenalan yang singkat ini.
Selanjutnya...
Perkenalkan dirimu!
__ADS_1
"Namaku Fuyuki Matsuda. Keinginanku masuk sekolah ini adalah...."