GRAFFITI AREA

GRAFFITI AREA
Bab 2 | Keputusan


__ADS_3

Fuyuki menjadi pusat perhatian di kelas 1-B, tak hanya murid dikelasnya yang mengagumi Fuyuki bahkan wali kelas 1-B yang bernama Midoriya Misaki terkagum melihat sosok lelaki yang imut dan berbicara dengan tegas ini. Kecintaan Misaki pada karakter shota dari game otoge membuatnya serasa terpanah saat melihat Fuyuki.


Membuat Misaki ingin memeluknya...


Namun tak ada hal khusus yang disukai Fuyuki saat ia sebutkan pada sesi perkenalannya. Misaki berpikir pasti ada hal yang ditujunya lalu memulai pembicaraan "Oh, kamu anak yang mendapatkan nilai sempurna ya. Apa cita-cita mu?"


"Um..."


Dia masih memikirnnya? jangan bilang tidak punya cita-cita juga.


"Ada, tapi hanya ada satu." Fuyuki menghela nafas dan melontarkan jawabannya "membahagiakan ibuku." Kata Fuyuki dengan membuat senyum ceria.


Seketika hati Misaki tersentuh mendengarnya, tidak cuma imut melainkan anak baik. Misaki membayangkan andai dia punya anak seperti itu.


Midoriya Misaki, 30 tahun.


Wali kelas 1-B saat ini.


Hobi bermain game online.


Guru Matematika


"Baiklah, selanjutnya...!"


****


Sebagian besar orang tidak tahu dimana ibu Fuyuki saat ini, entah dia masih hidup atau sudah meninggal. Mawaru dan Hiyori yang mengetahui sosok asli Fuyuki hanya bisa memasang muka kaku karena sudah pasti senyum dan ekspresi yang ia pasang tadi adalah kebohongan.


Hiyori yang melihat Fuyuki setiap hari tumbuh tanpa mengetahui dimana ibunya pasti membuatnya selalu murung. Terlebih dia bersekolah karena terpaksa, belum lagi tugasnya sebagai pimpinan perusahaan dan misinya untuk melatih mereka berdua. Fuyuki yang sudah menanggung banyak beban, nyatanya bukan seseorang yang selalu ceria.


Senyum diwajahnya hanyalah topeng. Sedangkan peringkat yang ia dapatkan adalah cerminan kerja kerasnya untuk bertahan di dunia ini.


*****


Disaat sesi perkenalan selesai, Wali kelas meminta para murid dikelasnya untuk membentuk struktur kelas. Seseorang yang menjadi pengurus kelas dipilih berdasarkan suara terbanyak.


Struktur kelas tak lepas dari jabatan ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris 1, sekretaris 2 dan bendahara kelas. Tiba-tiba seorang murid 1-B bernama Shinji Akiyama mengangkat tangannya dan mengusulkan sesuatu.


"Anu, Misaki-Sensei!" Panggil Shinji kepada wali kelasnya, Misaki. "Saya punya usul, bagaimana jika Fuyuki Matsuda ditunjuk sebagai ketua kelas? Saya rasa banyak yang akan memilihnya."


"Baiklah usulan diterima." Dalam hati Misaki senang jika Fuyuki yang terpilih sebagai ketua kelas, karena ia berpikir akan saling bertemu saat ada tugas kepengurusan kelas.


Kemudian seorang murid 1-B bernama Madara Madarame mengusulkan dirinya sendiri sebagai ketua kelas. Dia ingin menjadi pemimpin yang bisa menjadi tameng atau pelindung dikelas. Fuyuki merasa menjadi ketua kelas sangatlah mencolok untuk seseorang yang berusaha menyembunyikan jati dirinya. Ia sempat mengundurkan diri dari pencalonan ketua kelas. Namun berdasarkan voting terbanyak, Fuyuki menang tipis antara dirinya dan Madara. Beberapa murid juga kurang yakin Madara bisa memimpin kelas karena latar belakang pergaulannya.


Akhirnya terbentuklah struktur kelas!


*Struktur Kelas 1-B*


Ketua Kelas: Fuyuki Matsuda.


Siapa yang tak kenal Fuyuki Matsuda!? Orang terpopuler saat ini. Ya, beginilah suasananya.


Wakil Ketua Kelas: Madara Madarame.


Konon katanya, Madara adalah mantan gangster di distrik Tenzoku. Wajahnya terkesan tegas dan garang, ia juga menjadi preman di SMP-nya. Kadang ia sering dikunjungi hampir 10 pemalak di sekolah. Sungguh anak yang bermasalah! Tetapi peringkat akademiknya lumayan baik dan sangat atletis.


Sekretaris 1: Asada Yuuki


Asada adalah alumni dari sekolah khusus perempuan. Mempunyai latar belakang pandai bermain catur dan dia pandai merekap semua pertandingan catur. Kabarnya Asada pernah menang melawan pemain tingkat pro. Tapi, setelahnya dia menolak tawaran untuk menjadi pemain catur. Eh, apa hubungannya bermain catur dengan menjadi sekretaris?


Asada sering merekap sesuatu, seperti jadwal atau strategi permainan yang ditulis dalam buku. Mungkin kemampuan menyusun strateginya sama seperti Mawaru. Menurut teman-temannya, rekapan yang Asada tulis cukup rapi dan mudah dimengerti untuk dibaca. Bahkan, teman-temannya sering menyalin buku catatan Asada.


(Sahabat dekat Asada saat ini: Daisy Hanazawa, Ran Mochizuki, Nanoha Tanizaki)


Sekretaris 2: Irie Hatada


Biasa di panggil Hairi. Ia adalah anak yang tampan di kelas selain Hiyori Fujisaki dan Tou Kikumaru. Sejak SMP kelas 2 dia sering membawa gitar ke sekolah. Kebiasaan itu ia bawa sampai SMA dan bertekad masuk klub seni. Dengan penuh kharismanya, ia ingin bergabung dengan klub drama yang ada di sekolah. Dia bercita-cita menjadi artis dan musisi. Hairi terpilih sebagai sekretaris karena ia cepat dalam hal menulis terutama hal-hal yang menjadi insprasinya untuk menciptakan lirik lagu.


Bendahara: Baihaki Kaizan

__ADS_1


Baihaki Teman dekat sekaligus kepercayaan Hairi. Baihaki berasal dari keluarga konglomerat yang mengelola 10 perusahaan besar di Jepang. Walaupun dia kaya raya tapi, dia tidak sombong dan selalu menolong Hairi. Dia memiliki wajah bulat yang lucu, anak gendut yang baik hati.


Begitu sudah terdengar bel istirahat, orientasi pun selesai.


Pada jam pelajaran di hari pertama berikutnya membahas piket dan keperluan kelas.


Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Fuyuki adalah pulang ke rumah. Bagi Fuyuki suasana sekolah itu membosankan dan membuatnya semakin kurang semangat saat menjadi ketua kelas.


"Duh, lagi-lagi harus di posisi merepotkan." Gumamnya.


"Baiklah untuk hari ini cukup sekian, pelajaran akan dimulai besok." Kata Misaki-Sensei.


"Baiiiiiiiiikkk!" Sahut seluruh murid 1-B


"Untuk ketua kelas, silahkan menutup pelajarannya!"


****


Sepulang sekolah, Fuyuki berniat untuk rebahan di rumah. Tetapi, bunyi ponsel berdering dan membuat Fuyuki harus segera mengangkatnya.


[Yamada-san]


"Ada apa?"


"Datanglah keruanganku!"


"Baik."


Fuyuki menutup teleponnya dan menuju ruang kepala sekolah, tempat seseorang menelepon tadi. Namun, langkah kakinya dihentikan oleh seorang lelaki bertubuh besar, dengan rambut diikat ke belakang dan wajah garang ini.


"Eh, Madarame! Bikin kaget saja."


Fuyuki dan Madara saling pandang, wajah imut Fuyuki yang kaget membuat Madara tak memalingkan pandangan sedetik pun.


"A-ada apa Madara– "


"Kau..."


(Bukankah ini terlalu dekat – dalam hati Fuyuki) tiba-tiba memalingkan wajahnya.


"Em... Bisakah kau membantuku?"


"Eh-!?"


Seketika mulut keduanya bergeming


"Anu!" Keduanya saling memulai perkataan


"Silahkan kau duluan." Fuyuki pasrah. Niatnya tidak ingin melibatkan dirinya dalam kehidupan seseorang tapi, malah dimintai bantuan oleh seseorang.


"Aku ingin memintamu untuk membantuku berkelahi. Kamu tahu kan? Kalau aku gangster, sebentar lagi kelompokku akan dihajar habis-habisan oleh kelompok Dorgeia karena itu aku butuh bantuanmu untuk bertarung dengan kelompokku. Jadi bisakah kau­–"


Belum selesai bicara, Fuyuki langsung memotong pembicaraannya "Maaf aku tidak bisa. Silahkan cari yang lain."


Fuyuki kembali melanjutkan langkahnya.


*Tap Tap Tap


Namun Madara menghentikan langkah Fuyuki dengan tangan kanan memegang pundak kirinya.


"Tunggu!"


Fuyuki langsung terdiam.


"Kenapa kau menolak begitu saja?" Cih padahal pilihanku sudah tepat – pikirnya Madara.


Fuyuki diam membisu dan mengabaikan Madara. Ia melanjutkan langkahnya


*Tap tap tap

__ADS_1


"Oi! Tunggu!" Madara meraih pundaknya lagi dan kali ini Ia berada di depan Fuyuki dan menatapnya dengan serius.


"Kurasa kamulah satu-satunya orang­–"


"Silahkan cari yang lain." Fuyuki menjawab dengan mengabaikan tatapan Madara. Ketika Fuyuki akan melangkah lagi, Madara menghalangi jalannya.


"Minggirlah!"


"Aku tidak akan menyerah."


"Pemaksa sekali."


Seketika sorot mata Fuyuki berubah menjadi dingin.


Fuyuki berusaha menggertaknya tetapi, hal itu malah membuat Madara semakin tertarik.


"Aku suka tatapan murnimu itu, bukan yang penuh kebohongan."


Madara melanjutkan bicaranya "Kau kira aku memintamu secara cuma-cuma? Aku tahu kamu orang yang kuat."


"Jangan asal bicara, ya." Fuyuki menanggapinya.


"Aku tidak asal bicara."


Fuyuki hanya diam dengan ekspresi datar


"Dulu pernah ada tiga orang anak terlantar di bawah pohon. Lalu sang kakek menemukan mereka bertiga dan membawanya ke kuil karena kakek itu penjaga kuil. Kakek merawat mereka dan melatih seni bela diri pada ketiga orang anak itu hingga salah satu dari mereka menjadi kuat. Setelah menjadi kuat, anak itu meninggalkan kuil tanpa pamit pada kakek. Setahun kemudian keberadaan anak itu ditemukan, dan dia berada di dunia dimensi yang berbeda. Kakek tahu, suat saat mereka semua akan pergi ke tempat itu. Kakek hanya bisa melatihnya dan mengirim mereka berdua ke tempat yang sama dengan anak yang kuat itu. Dari isu yang kutahu, dia memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Kau pasti tahu siapa dia!? Fuyuki Matsuda."


"Ya, itu aku."


"Akhirnya kau mengaku juga."


"Tapi, aku tidak bisa meladenimu. Silahkan cari orang lain."


"Kau bahkan tidak bertanya darimana aku tahu semua ini."


"...." Fuyuki tidak ada pilihan lain selain diam.


Tetapi, ia menjadi risih dengan Madara yang menghalangi jalannya "Katakanlah!"


"Aku cucu dari sang kakek itu."


"Oh."


"Cuma Oh?"


"Kau mau aku membantumu sebagai balas budiku pada kakekmu? Atau jika aku menolak permintaanmu, kau akan menghakimiku?"


"Tidak keduanya. Ini permintaanku sendiri." Sesaat setelah mengatakannya, raut wajah Madara sedih.


"Kenapa kau hanya meminta bantuan padaku? Bukan dengan kedua anak lainnya?"


"Kau pasti melupakan sesuatu sebelum meninggalkan kakek."


"Apa?"


"Ingatlah!"


Tiba-tiba telepon Fuyuki berbunyi lagi [Yamada-san]


"Madarame minggirlah, aku tidak punya waktu."


Madara mendecik "Cih."


Lalu pergi.


"Kutunggu keputusanmu."


Apa yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


****


__ADS_2