
Mungkin aku tidak bisa bertemu dengannya lagi...
[Narasi oleh Madara Madarame] 5 tahun yang lalu aku mengenalnya. Tatapn lembut dan senyum ceria di wajahnya, kata-katanya waktu itu menjadi panutanku. Hari itu, kami berjanji untuk menjadi teman sejati dan kuat bersama-sama. Namun, ada sebuah alasan mengapa dia harus meninggalkan Tokyo. Kakek bilang, Fuyuki tidak akan pernah datang kembali begitu juga Hiyori dan Mawaru akan segera pergi mengikutinya. Sejak kakek menceritakan kenapa dia pergi, aku memutuskan untuk menenuinya di Osaka.
Setahun kemudian, setelah acara kelulusan di Sekolah Dasar, aku benar-benar pergi ke Osaka. Kakek mengizinkanku tinggal di sana, namun di distrik Tenzoku yang masih jauh dari tempat tinggal Fuyuki di Aikawa. Kakek menitipkanku pada temannya, Haruka Madarame. Dia pemilik dojo dan orang terkuat di distrik ini. Karena aku tinggal bersama keluarga Madarame, nama keluargaku kemudian berubah menjadi Madara Madarame dan masuk ke SMP Tenzoku sebagai anak angkat Pak Haruka dan Bu Taira. Keseharianku merawat dojo dan berlatih dengan ketiga anak-anaknya yaitu Izumi, Shizuka, dan Kaede. Kaede seumuran denganku dan kami bersekolah di tempat yang sama.
Ketika aku masuk SMP, Aku terus mencari info keberadaan Fuyuki, dan tidak adan info yang benar tentang dirinya. Kabarnya Fuyuki masih berada di Rakugaki (Entah di mana dunia pengguna kemampuan spiritual itu berada). Sesaat duniaku di kelilingi oleh orang-orang pengguna spiritual karena terus mencari info keberadaanya. Walaupun tingkat kekuatan mereka rendah, bagiku kemampuan mereka itu luar biasa tidak bisa diremehkan.
Kemudian aku memiliki sahabat dekat Tamako. Dia memiliki kemampuan spiritual sensorik, dia selalu saja bisa menemukanku. Bagi Tamako, kemampuan spiritual adalah anugerah dari sang pencipta meski kemampuannya tidak begitu berguna. Aku jadi teringat pertemuanku dengan Fuyuki, apa dia akan selalu mengingatku?
Suatu hari, Tamako dirisak oleh sekelompok gangster di sekolah. Aku tak memiliki kemampuan spiritual untuk menolongnya. Aku terkejut melihatnya, di belakang gedung sekolah dia bersimbah darah di bibirnya. Dia dihajar mati-matian oleh sekelompok gangster. Lagi-lagi aku tak bisa menolong temanku. Aku hanya menontonnya dari kejauhan dan menutup mataku dengan penyesalan. Aku berlari menaiki tangga, berlari di dalam koridor, memanggil guru untuk membelanya. Tanganku amat gemetaran dan tak sengaja aku bertemu Kaede.
"Apa!? Tamako di hajar habis-habisan!"
Aku terpaksa menceritakannya pada Kaede. Tentu saja Kaede terkejut begitu mendengarnya. "Ikut aku!" Kaede meraih tanganku dan menggenggamnya lalu menuruni tangga, kami berbegas ke belakang gedung sekolah. Hingga akhirnya Kaede menghempaskan mereka (para gangster) dengan tendangan supernya.
WHUUUUUSHHH!!!
Kaede sangat kuat, ia berhasil menolong kami. Benar-benar putri pemilik dojo Madarame.
Kupikir semua masalah akan selesai begitu aku memanggil guru, ternyata tidak seperti itu.
Akhirnya Tamako kuajak ke kediaman Madarame. Dia diberi perawatan untuk mengobati luka-lukanya. Ada guru bernama Miyama-sensei yang sempat datang ke rumah karena mendengar hal ini dari murid di kelasnya.
Kaede meminta Miyama-sensei melaporkan kejadian ini ke kepala sekolah. Miyama-sensei benar-benar melaporkannya dan masalah ini terselesaikan.
Kini hari-hariku kembali menjadi damai seperti biasa, pulang bersama Kaede dan Tamako. Tiba-tiba di gang sempit muncul kedua tangan dari belakang kami dengan sensasi mencengkam lalu membungkam mulut Kaede dari belakang. Kutoleh ke belakang, ada seorang pria dengan postur tubuh besar dan kekar. Kedua lengannya dibalut oleh perban seakan seperti petinju kelas berat. Di sampingnya ada pria bertopeng yang sibuk mengisolasi mulut Kaede. Sementara di belakang mereka banyak pria yang menodongkan senjata tajam pada kami berdua. Jujur saja aku sangat takut, "Pergilah!" Tetapi aku menyuruh Tamako pergi dari sini. Aku tidak berniat menghadapi mereka seorang diri, tapi demi Kaede...! Aku...!!
Ternyata aku kalah, kekuatanku tak sebanding dengan mereka.
Kaede diculik.
Tamako yang tahu aku masih selamat, menghampiriku dan menangis di depanku.
"Maaf, aku melibatkan kalian berdua."
Bagiku mendapatkan teman untuk hidup di dunia ini sangatlah susah.
Aku pulang ke kediaman Madarame. Tamako yang merasa bersalah telah menyeretnya dalam masalahnya memutuskan untuk menjauhiku. Tentu saja di rumah, aku dimarahi habis-habisan. Ini keberapa kalinya aku tak bisa melindungi teman-temanku!? Aku butuh kekuatan! Aku membutuhkan kekuatan.
Aku akhirnya berlatih disebuah dojo Madarame. Aku anak kakek, aku harus bisa kuat seperti kakek juga. Pak Haruka akhirnya membantu latihanku dan dia tidak segan-segan membawa murid yang berlatih bela diri untuk berlatih bersama denganku.
Seminggu tidak ada kabar Kaede kembali.
Sekolah juga tidak ikut campur masalah ini, karena ini masalah eksternal sekolah.
Tamako mulai menjauhiku, bukan karena tak mau berteman lagi tapi dia memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri. Namun, sepertinya usaha Tamako tak membuahkan hasil.
Begitu pula aku yang sedang mencari Fuyuki, tak ada info terbaru lagi darinya.
"Kesampingkan soal Fuyuki, tujuanku saat ini menolong Kaede."
Aku memutuskan untuk berbicara pada Tamako terlebih dahulu. "Tamako, antarkan aku ke tempat mereka. Kau tahu kan di mana mereka saat ini? Biarkan aku melawannya seorang diri. Kali ini aku tidak akan gagal!"
"Baiklah." Tamako menyetujuinya.
Pada malam hari, kami memutuskan keluar rumah untuk mencari Kaede. Dengan kemampuan sensorik Tamako, kami menemukan lokasinya dengan cepat.
"Di sini." Tamako menunjukkan lokasinya dan mengacungkan jarinya di depan bangunan tua berbau bir tersebut.
"Baiklah ayo kita masuk." Aku menggenggam tangan Tamako dengan erat supaya tidak terserang dari belakang lagi seperti Kaede.
"Jangan kaget setelah masuk ke dalam–"
Banyak kumpulan gadis yang dilucuti pakaiannya (sensor untuk bagian ini, cerita tidak akan diperjelas). Para lelaki meminum wine yang disuguhkan oleh gadis waiters dengan pakaian setengah telanjang disana. Kumpulan paha yang seksi, betis yang berkilau dan daging di dada yang serasa kenyal itu... Dalam hati Madara berkata "Pemandangan macam apa ini!?"
"Ibuku adalah manager bar ini." Kata Tamako ucap bisiknya pelan di belakangku.
"Apa!?" Sontak membuatku terkejut dan membawa Kaede keluar.
"Kita bicara keluar!" Kekesalan dalam hati ini mulai membuncah. "Bagaimana bisa?"
"Maaf, begitu aku mendengar ibuku akan berhenti dari tempat ini, mereka menghajarku habis-habisan. Mereka gangster yang disewa oleh bos pemilik bar ini."
"Maksudmu kamu dijadikan sandera?"
"Iya. Namun aku menolak dan mereka mengancam membunuhku. Akhirnya Kaede dan kamu menolongku, tanpa sadar aku memanfaatkan Kaede untuk negosiasi ibuku. Namun itu tidak berhasil dan Kaede malah bekerja di sini."
*Bagaimana saat kau tahu bahwa ibu temanmu adalah pelacur? Kepercayaan Madara makin hancur.*
"Tolong jangan sakiti mereka!" Tamako memohon dengan sangat pada Madara. Mata Tamako berkaca-kaca, jika tidak ada pengganti maka ibunya akan dibunuh.
Madara menepuk kepala Tamako dan mengelusnya. "Tunggulah di sini."
Madara yang saat ini benar-benar kuat berbeda dengan Madara beberapa hari yang lalu. Dia benar-benar memporak-porandakan tempat ini. "Kekuatan macam apa ini?"
....
"Madara!" Ucap lirih seseorang dari kejauhan.
"Kaede!"
Akhinya, mereka berhasil bertemu*
Madara memberikan jaket yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Kaede yang setengah telanjang "Ayo pulang."
__ADS_1
"Um." Kaede mengangguk.
Mereka pulang bersama.
****
Beberapa bulan kemudian, Tamako dan Ibunya mengucapkan banyak terima kasih pada keluarga Madarame terutama Madara. Tak lama kemudian, Tamako pindah sekolah. Tidak lupa Tamako mengucapkan salam perpisahan dan meberikan no.hpnya untuk tetap selalu berkomunikasi. Sejak saat itu, Madara yang kuat dikenal sebagai seorang gangster di sekolahnya. Siapa pun yang mencoba menyakiti teman-temannya di sekolah, ia berani melawan untuk melindunginya.
Setahun kemudian, Madara mendapatkan kabar dari Tamako.
"Fuyuki Matsuda berada di Aikawa. Aku barusan melihatnya di dekat area BANDAI."
(Disaat itu Fuyuki yang sudah melatih kemampuan spiritualnya dan mendapatkan gelar tertinggi memutuskan untuk pulang ke dunia nyata dan berada di kediaman Miyamoto)
Betapa bahagianya Madara saat itu. Meski ia belum tahu Fuyuki ada di mana, ia tetap berkomunikasi dengan Tamako melalui smartphonenya berharap bisa bertemu kembali dengan Fuyuki.
Madara yang bertambah kuat menjadi pimpinan grup gangster yang dapat disewa oleh sejumlah perusahan. Ia memiliki kenalan bernama Toji Morishima di perusahaan Miyamoto yang merupakan staff bagian adminstrasi bawahannya Ashina Miyamoto, kakak angkat Fuyuki.
Berkat info dari Tamako dan Toji, Madara memutuskan untuk bersekolah di SMA Osaka yang sama dengan Fuyuki.
Tetapi, belum berada sebulan di sekolah itu, Madara yang terkenal menjadi gangster di Tenzoku diancam oleh kelompok Dorgeia ketika perjalanan pulang setelah mendaftar di SMA Osaka. Lagi-lagi mereka akan mengancam menculik salah satu keluarga Madarame. Tetapi, kelompok ini memiliki salah satu pengguna kemampuan spiritual.
Ilustrasi saat itu: Madara pulang dari SMA Osaka, perjalanan yang jauh ditempuh sekitar 15 menit dengan shinkansen (kereta api cepat).
Madara keluar dari gerbang SMA itu...
"Akhirnya aku lulus juga. Tesnya tidak lumayan susah sih kalau belajar dengan keras hehem..." Gumamnya sambil melangkah menjauhi sekolah.
Tiba-tiba datang orang di depan Madara dengan jambul khatulistiwa (layaknya preman dikampus gitu) mengisap rokok kemudian mengepulkan asap rokoknya di wajah Madara. Lalu membuang putung rokok itu di depan kaki Madara dan dia menginjaknya hingga asap dari putung rokok itu hilang.
"Oi bocah, wajahmu tampak familiar sekali." Orang dengan jambul itu berkata di depan Madara dengan tatapan meremehkannya.
"Hah!? Siapa kau?" Madara mengerutkan dahinya dan merasakan firasat buruk akan terjadi sebentar lagi.
"Kau tahu kan Dorgeia? Ah, mungkin ini pertanyaan yang bodoh. Bagaimana kalau aku aku ganti em... em...."
(Bicara apa orang ini? – Dalam hati Madara)
"Ah! Mengapa kau berani sekali memijakkan kakimu di sini? Ayo Jawablah hihihihi..." Orang dengan jambul itu nyengir dan mengejeknya.
Madara terdiam membaca situasi pastikan untuk tidak membuat kerusuhan di depan sekolah.
"Aku mencari orang kuat." Jawab Madara singkat sambil mengepalkan tangannya.
"Hmm..." Orang dengan jambul itu menepuk pundak Madara dan maju selangkah membisikkan sesuatu di telinganya "Jika kau masih lama di tempat ini, kami akan akan melayanimu."
Dalam hati Madara berkata "Apa maksudnya!?"
"Dah!" Orang itu mengucapkan selamat tinggal dengan melambaikan tangan.
Satu-satunya yang terpikirkan dalam pikiran Madara saat itu hanyalah "Fuyuki dapat mengalahkannya."
Namun pertemuannya dengan Fuyuki malah menimbulkan kekecewaan, Fuyuki tidak mengingat Madara (Fuyuki memang tidak kenal Madara). Wajah dan tubuh Madara yang dulunya imut dan lebih pendek dari Fuyuki, kini menjadi kekar dan sangar, tatapan dan gayanya juga seperti preman. Sekelompok preman yang didirikan Madara dimaksudkan untuk menolong orang lain sekalipun dengan perkelahian. Tetapi, kini malah berujung ancaman pertarungan.
****
"Madarame! Oi Madarame!" Ucap Fuyuki dengan menggerakkan tangannya di depan wajah Madara. Madara yang duduk terdunduk dengan tatapan mata yang kosong melihat sekotak ubin lantai yang dipijakinya. Kemudian Fuyuki berbisik di telinga Madara. "Oi Ma-da-ra-me...."
Madara yang tertunduk diam cukup lama melihat sekotak ubin itu, kemudian membelalakkan mata menoleh kanan kiri dan melihat ke depan, "Akh! Matsuda! Maaf kau bicara apa?"
"Aku tidak bicara apa-apa kok, hanya memanggilmu." Kemudian Fuyuki menyuguhkan secangkir kopi panas yang dibawa-nya dari dapur dan beberapa kue camilan.
"Terima Kasih." Madara berusaha mengambil cangkir itu kemudian ditepis tangannya oleh Fuyuki "Eh!!"
"Ini untukku." Fuyuki bermaksud untuk menggoda Madara dan berkata dengan sinisnya.
"Eh... Kukira disuguhkan." Madara dengan wajah lesunya menatap Fuyuki.
"Nih untukmu ( Fuyuki menyuguhkan segelas air dingin). Aku tahu kok kamu haus banget." Fuyuki memejamkan mata dan melihatnya dengan salah satu matanya.
Madara memegang tangan Fuyuki dan memegang segelas air dingin tersebut.
Fuyuki bertanya dengan serius dan berkata dengan nada pelan "Apa yang kau lamunkan tadi?"
"Eh? A...aku...aku anu–"
Kemudian terdengar langkah kaki dari dua orang yang menuju ruangan Fuyuki dan Madara berbincang. Kedua orang itu berhenti di belakang tempat duduk mereka.
"Kalian sudah siap?" Kata Fuyuki sambil menoleh ke belakang.
"Iya." Jawabnya seorang gadis manis yang berdiri di belakang, kemudian sang gadis itu melangkah di depan mereka berdua dan ditemani seorang cowok ganteng mengikutinya.
"Kalian kan-!?" Madara tercenggang karena begitu terkejut melihat orang-orang yang tampak dikenalnya.
"Aku Mawaru Yoshioka. Senang bertemu denganmu." Gadis manis itu sedikit menunduk ketika memperkenalkan dirinya.
"Hiyori Fujisaki. Senang bertemu denganmu." Cowok ganteng itu juga sedikit menunduk ketika memperkenalkan dirinya.
Madara yang sedikit canggung berdiri lalu berkata sembari membungkukkan badan "Ak..ah.., Madara Madarame. Salam kenal, senang bertemu dengan kalian."
Rasanya ini seperti reuni dari kisah panjang tanpa akhir.
****
Mawaru dan Hiyori duduk di dekat Madara.
__ADS_1
Suasana berkumpul jadi terasa hening.
....
Suara detak jarum jam lama-lama terdengar semakin keras dan beberapa menit berlalu tanpa ada yang bicara sepatah kata pun.
Madara yang ingin memulai pembicaraan rasanya tidak enak, canggung dan menjadi gugup.
....
Tiba-tiba ada suara langkah kaki melangkah yang terdengar dari arah lorong.
Persaan Dag Dig Dug dalam hati Madara terdengar hingga terbaca di hati Mawaru.
Mawaru menoleh ke Madara, namun Madara memasang muka kaku dan melihat ke arah lorong tanpa memperhatikan tatapan Mawaru.
Di pojok tembok itu, seorang gadis kecil bertelanjang kaki dengan mengenakan dress putih tanpa jahitan lengan memegang boneka yang robek menatap Madara dengan sungguh-sungguh.
Dalam hati Madara berkata "Apa mereka semua tidak melihatnya? Atau cuma aku yang– " Seketika Madara kembali berkeringat dingin.
Kemudian gadis kecil itu berjalan dengan langkah demi langkah kecilnya yang mendekati tempat mereka semua berkumpul.
"Tentu saja kami melihatnya." Bisik gadis manis di dekatnya, yang telah membaca isi hati Madara.
"Eh?" Madara langsung menoleh melihat Mawaru dan mereka berdua tatapan berdekatan.
"Kakak, bisa benerin bonekaku gak?" Kata gadis kecil itu dengan manjanya menyodorkan bonekanya ke Fuyuki. Kemudian Fuyuki menerimanya.
"Eeeeeeeee!" Madara terbelalak dengan begitu terkejutnya ketika gadis kecil yang dilihatnya itu memanggil Fuyuki. Tadinya ia kira benar-benar hantu begitu ingat Fuyuki menjawabnya tidak ada.
"Iya nanti kuperbaiki ya." Kata Fuyuki tersenyum lembut sambil mengelus kepala gadis kecil itu. Seketika gadis itu tersenyum dan mengecupkan bibir di pipi Fuyuki.
Fuyuki kemudian menoleh keheranan melihat ekspresi Madara saat itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Fuyuki.
"Ng..." Kemudian gadis kecil bernama Clara (sekitar 10 tahun) itu melihat ke arah Madara juga.
Fuyuki menurunkan pandangannya ke boneka yang di pegangnya itu. "Oh apa kamu mau membenarkan boneka ini? Hm...." Fuyuki mengangkat boneka itu di depan wajah Madara.
"Hah! Yang benar saja!." Teriak Madara dengan keras, kemudian ia kembali merengutkan dagunya dengan ekspresi kekecewaan "Lawakan macam apa ini!?" gumamnya sembari memalingkan padangan ke lantai ubin yang dipijakinya.
"Dari tadi kau menatap lantai mulu..." Fuyuki berkata dengan nada malasnya.
"Apa kakak ini suka ubin?" Ucap Clara sambil mengacungkan jari telunjuk ditangan kanannya pada Madara.
"Entahlah." Fuyuki menjawabnya dengan menirukan gaya bicara anak kecil yang manja.
"Miris." Dalam pikiran Mawaru dan Hiyori yang sendang melihat Madara dengan tatapan malasnya.
....
"Clara, sebaiknya kamu ke kamar dulu ya. Kakak mau bicara sesuatu dengan kakak-kakak ini." Fuyuki bermaksud mengusir Clara dengan halus karena ini pembicaraan yang tidak boleh didengar oleh anak kecil.
"Baik, kak." Clara pergi menuju kamar menyusuri lorong dan meninggal ruangan itu.
"Madarame, katakanlah apa yang tadi ingin kau katakan. Aku memang tidak bisa membantumu, makanya aku memanggil mereka berdua." Kata Fuyuki kembali membahas permintaan Madara.
"Mungkin kalian semua tak mengenalku, tapi aku mengenal kalian–" Madara bermaksud menjelaskan panjang lebar, kemudian terpotong oleh sahutan Hiyori.
"Ya, Master telah menjelaskannya soal itu." Sahut Hiyori yang menatap Madara
"Master?" Madara heran.
"Maksudku orang berambut perak di dekatmu itu." Kata Hiyori sambil menunjukkan orangnya.
"O...oh Fuyuki Matsuda." Madara tidak terkejut begitu mendengarnya, pikirnya mungkin master itu ahlinya ahli dalam spiritual.
"Bagimu ini terlihat seperti reuni kan?" Kata Mawaru dengan manisnya di dekat Madara. Seketika wajah Madara memerah dan tersipu malu.
"Kenapa kau bisa tahu?" Madara bertanya pada Mawaru yang seolah-olah dapat membaca isi hatinya.
"Karena kemampuanku membaca isi hati seseorang." Mawaru tersenyum manis di hadapan Madara, membuat hatinya berdegup kencang.
....
"Reuni merupakan pertemuan kembali dengan teman sekelas, teman seangkatan, teman sekolah, kerabat atau kawan seperjuangan yang berpisah cukup lama.
"Tujuanmu ke sini bukan untuk reuni kan?" Kata Fuyuki dengan serius menatap Madara.
"Ya, tujuanku kemari untuk meminta bantuan kalian."
"Katakanlah!" Kata Fuyuki mempersilahkannya.
"Aku ingin meminta kalian untuk berkelahi. Alasannya adalah...."
****
Dalam hati Madara:
Aku bersyukur bisa bertemu dengannya lagi.
Aku bersyukur bisa bertemu dengan kalian lagi...
Kakek, aku berhasil menemukan temanku.
__ADS_1